
Perlahan-lahan Niah membuka matanya dan langsung tersenyum pada David.
"Aku dengar seseorang ingin menyatakan cintanya padaku." kata Niah dengan lirih.
"Niah....."
David langsung salah tingkah kini dirinya gelagapan, Niah terus menatap David dengan tatapan yang begitu tulus.
"Apa suamiku sedang menyembunyikan rasa malunya dihadapan istrinya sendiri?" Batin Niah dalam hatinya.
"Istriku akhirnya kamu bangun juga, kamu tahu tadi aku sangat takut sekali." David berusaha mengalihkan pembicaraan Niah.
"Iya aku tahu pasti kamu takut kehilanganku kan!" seru Niah dengan tatapan dibuat-buat.
"Terus saja bercanda!" omel David dengan wajah pura-pura kesal.
Niah tersenyum lalu menatap David dengan tatapan penuh arti.
"Aku dengar tadi ada seseorang yang mau menyatakan perasaannya padaku." Niah mengulangi kata-katanya, membuat David tidak berkutik.
Dalam hati David haruskah aku menyatakan perasaanku pada istriku? Haduh dulu aku yang mati-matian menentang perjodohan ini, ehh ini malah aku yang klepek-klepek duluan dasar David sekarang kenakan batunya. Akhirnya David Pratama lebih dulu jatuh hati pada Raniah Putri Ardiyansyah.
"Ya sudah kalau tidak mau mengatakannya, aku tidak mau punya dari kamu." Niah membalikkan badannya kini posisi membelakangi David.
David merasa kesal karena sang istri sudah berani mengacamnya.
"Baiklah aku akan menyatakan perasaan cintaku padamu, tapi dengan satu syarat." kata David yang membuat Niah langsung membalikkan badannya menghadap ke David.
Niah senyam-senyum penuh kemenangan, saat ini hatinya begitu puas melihat wajah tampan sang suami.
"Aku tahu kamu cinta tapi gengsi." Batin Niah dalam hatinya.
"Katakan syarat apa Tuan David Pratama!" Pinta Niah dengan sorot mata yang berbinar-binar.
"Syaratnya setelah kamu sembuh dan datang bulan kamu selesai, aku mau kita fokus membuat adonan. Aku tidak mau kamu sampai menunda kehamilan." Kata David yang terus menatap mata Niah dengan serius.
"Baiklah aku tidak akan menundanya." jawab Niah pasrah dengan iklhas.
Lagian buat Niah punya anak secepatnya itu juga tidak akan menjadi masalah buat Niah, apalagi Niah sangat menyukai anak-anak jadi tidak ada alasan untuk segera punya momongan dari pernikahan.
Mungkin pernikahan mereka belum lama tapi yang namanya cinta itu bisa datang kapan saja. David yang awalnya sungguh tidak bisa menerima perjodohan ini akhirnya dirinya duluan yang jatuh hati lebih dulu pada Niah.
"Baiklah kita sepakat ya istriku!" David mengucungkan jari kelingkingnya lalu Niah mengaitkan jari kelingking Niah ke jari kelingking milik David. Itu adalah lambang janji yang mereka buat.
David dan Niah sama-sama tersenyum, kini keduanya sungguh dimabuk cinta. David melepaskan jarinya dari jari Niah, lalu David berpindah tempat duduk kesamping Niah.
Niah juga bangun dari tidurnya kini posisi Niah duduk tepat dihadapan David.
"Aduh kenapa jantungku berdetak dengan kencang, apakah ini rasanya mau ditembak oleh suamiku sendiri." Hati Niah mulai meronta-ronta.
"Raniah Putri Ardiyansyah aku mencintaimu." David menghadapkan wajahnya Niah tepat ke wajah dirinya.
Kini sorot mata keduanya sama-sama menatap dengan penuh ketulusan.
"Katakan sekali lagi!" Pinta Niah dengan sorot mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Dia adalah suami pilihan papa." Batin Niah dengan sorot mata penuh arti.
"Raniah Putri Ardiyansyah aku mencintaimu!" David mengulang kata-katanya dengan sorot mata serius.
"Apa kamu sungguh mencintaiku?" tanya Niah memastikan.
David menjetikan jarinya di jidat Niah, membuat Niah merintih kesakitan.
"Dasar Niah jelek." Ledek David dengan jail.
"Niah aku sudah mencintaimu sejak pertama kita bercinta." jelas David dengan senyum penuh kemenangan.
Niah memayunkan bibirnya, David tersenyum lalu mengecup bibir mungil Niah.
"Cup....." Biar tidak manyun lagi.
"Kenapa tidak mengatakannya waktu itu?" tanya Niah penasaran.
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku." jelas David.
"Sekarang katakan padaku! Apa kamu juga mencintaiku?" David berbalik bertanya pada Niah.
"Iya aku juga mencintaimu suamiku." jawab Niah yang langsung memeluk David dengan penuh kasih sayang.
Setelah menjalanin pernikahan yang belum terlalu lama, akhirnya cinta Niah dan David sudah sama-sama tubuh dalam hati mereka.
"Kamu istirahat lagi sekarang masih jam 4 pagi, biar kamu cepat sembuh." Pinta David, David melepaskan Niah dari pelukannya lalu David kembali membaringkan tubuh Niah diranjang tempat tidur pasien.
"Tidurlah, cup..." David menyuruh Niah tidur dan juga memberikan ciuman di kening Niah.
Pagi hari jam 7 David sudah duduk di sofa yang ada dikamar pasien. David duduk sambil memperhatikan Niah yang masih terlelap tidur.
"Uhuk..uhuk..." Niah tiba-tiba batuk.
David langsung bangun dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Niah.
"Sayang minumlah!" David menyodorkan satu gelas air putih pada Niah.
Setelah minum Niah duduk, David menatap Niah penuh rasa kawatir Niah hanya tersenyum simpul pada sang suami.
"Tok..tok..." suara ketukan pintu.
"Masuklah!" sahut David.
Dua suster masuk kedalam ruang rawat Niah membawa makanan dan obat buat Niah.
"Selamat pagi nyonya, selamat pagi tuan, ini sarapan Nyonya Niah dan ini obatnya." dengan sopan suster menaruh obat dan makanan diatas nakas dekat tempat tidur Niah.
"Terimakasih Sus." Niah dan David sama-sama mengucapkan terimakasih pada kedua suster tersebut.
"Sama-sama, kita permisi dulu ya." pamit kedua suster dengan sopan.
Setelah suster pergi dari ruangan Niah, David beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Niah yang melihat David sudah berdiri.
__ADS_1
"Aku mau ambil air hangat untuk mengompres badanmu." jawab David dengan lembut.
"Kenapa tadi tidak menyuruh suster saja?" tanya Niah lagi.
"Sayang, kalau hanya sekedar mengompres badanmu biar aku saja yang melakukannya. Aku tidak mau orang lain sampai menyentuh tubuhmu." jelas David agar Niah tidak terus bawel bertanya.
Kali ini Niah benar-benar merasakan diperhatikan oleh suaminya.
"Aku akan menyiapkan air hangat, kamu diamlah! Nanti setelah selesai kamu baru sarapan terus minum obat." dengan bawel David terus berkicau seperti burung beo.
Niah menganggukan kepalanya mengerti.
"Bukankah dia hari ini ada kerjaan penting." Pikir Niah yang teringat kalau David hari ini ada kerjaan penting.
Setelah beberapa menit David keluar dari kamar mandi membawa peralatan untuk mengompres sang istri.
Untung saja dirumah sakit ini pelayanan bagus dan semua yang dibutuhkan oleh pasien disediakan oleh rumah sakit. Bahkan setiap ruangan ada tempat khusus air hangat juga jadi pasien akan lebih muda jika mau mengkompres atau hal lainnya.
David berdiri disamping Niah kini dirinya sedang sibuk mengompres badan istrinya dengan telaten.
"Suamiku bukankah kamu hari ini ada kerjaan penting?" tanya Niah disela-sela kesibukan sang suami.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan ada Randi yang mengurus semuanya." Jelas David dengan lembut.
Setelah mengompres Niah David mengantikan pakaian Niah dengan sabar.
"Aku malu." kata Niah.
"Hush aku ini suamimu, jika kamu tidak mau berganti pakaian nanti gatal." David terus membujuk Niah dengan lembut.
Akhirnya Niah mau digantikan pakaian oleh David. Setelah berganti pakaian David menaruh pakaian kotor Niah diranjang tempat pakaian kotor yang disediakan oleh rumah sakit.
"Sudah selesai saatnya sarapan terus minum obat." Kata David yang sudah memegang mangkok berisi bubur ditangannya.
Lagi-lagi dengan kesabaran dan penuh kasih sayang, David terus menyuapi Niah dengan telaten. Sampai beberapa kali suapan akhirnya Niah meminta udahan karena sudah kenyang.
David menaruh mangkok berisi bubur sisa ke atas nakas meja, lalu mengambil obat dan air putih.
"Minum obat sekerang! Lain kali jangan makan makanan pedas lagi!" David menyodorkan obat dan air putih pada Niah, tapi David juga terus bawel pada Niah.
Niah meminum obatnya lalu kembali memberikan gelas yang berisi air putih pada David lagi.
"Sudah selesai, sekarang aku akan temanin kamu mengobrol biar kamu tidak jenuh." David sudah duduk disamping Niah, Niah juga sudah menyandarkan kepalanya di bahu David.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Niah dengan lembut.
"Tentu boleh." jawab David.
"Apa kamu pernah berpacaran sebelumnya?" tanya Niah dengan serius.
"Eemmhhh... apa tidak ada pertanyaan lain?" Tanya David dengan lembut.
"Apa ada yang dirahasiakan dariku?" Tanya Niah lagi, membuat David kembali tidak bisa berkutik.
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊