
Rehan dan Rama menemui Istri mereka yang sedang berada diruang tengah.
Rehan langsung duduk disamping Ayu sedangkan Rama langsung duduk disamping Ana.
"Sayang, Aku mau juga dong gendong Niah." kata Rehan.
Ayu melihat kearah Rehan, lalu memberikan Niah pada Rehan.
"Sayang, Kamu sudah pantas sekali jadi Papa." kata Ayu dengan senyum yang mengembang dibibirnya.
"Niah dengar Mami Ayu bilang, katanya Papi Rehan sudah cocok menjadi Papa." Rehan mengadu pada Niah.
Ana dan Rama hanya menggelengkan kepalanya.
"Sabar ya Papi Rehan sebentar lagi pasti Papi, bakal punya Anak." jawab Ana yang seolah-olah menjadi Niah.
Kini mereka berempat asik bercanda dengan Niah dengan begitu bahagia.
Dirumah Bagas dan Alena.
Pagi ini Bagas dan Alena ada acara pesta dikantor Alena. namun untuk menghadiri acara kantor, gaun-gaun cantik Alena sudah tidak muat karena berat badan Alena yang makin bertambah karena kehamilannya.
"Sayang, yang ini sudah sangat sempit." keluh Alena sambil melempar bajunya keatas ranjang tempat tidurnya.
Alena kembali memilih baju yang lain yang menurut Alena masih muat dipake, namun ternyata dibagian dada Alena sudah sangat sempit.
"Ini juga sempit."
Alena mencoba baju yang lainnya lagi.
"Yang ini sudah tidak muat lagi." kata Alena sambil mengayunkan bibirnya.
Karena merasa kesal akhirnya Alena murung sambil menyangga dagunya.
"Sekarang mana yang akan Aku pake, semuanya sudah sangat sempit." kata Alena sambil melihat kearah Bagas.
Bagas hanya menggelengkan kepalanya, lalu menghampiri Alena yang sedang duduk.
"Aku belikan baju sekarang ya." kata Bagas.
"Ini sudah jam berapa? waktunya tidak akan cukup kalau harus pergi membeli baju." keluh Alena dengan raut wajah yang begitu sedih.
Bagas mgusap pipi Alena, lalu memeluk Alena.
"Terus sekarang mau Kamu bagaimana?" tanya Bagas dengan nada lembut.
Alena beranjak dari tempat duduknya, lalu menarik tangan Bagas.
"Kita mau kemana?" tanya Bagas, karena Alena sudah menarik tangannya.
"Aku punya solusi, Ayo Kita kerumah Ana sekarang. Aku yakin dia pasti punya gaun hamil untuk acara pesta." kata Alena dengan penuh semangat.
Alena langsung menarik tangan Bagas, untuk segera menuju Kerumah Ana, kini mereka berdua berjalan menuju rumah Ana.
Sampailah mereka didepan rumah pintu Ana.
"Tok..tok..." Alena mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya Ana.
"Biar Aku bukakan pintu dulu sayang." kata Rama.
Rama pergi menuju ke depan untuk membukakan pintu.
"Ceklek." suara gagang pintu.
__ADS_1
Melihat Alena dan Bagas yang datang Rama merasa bingung.
"Alena, Bagas, masuklah." Rama mempersilahkan Bagas dan Alena untuk masuk.
Alena masuk lebih dulu, untuk menemui Ana sedangkan Bagas ditinggal oleh Alena di depan pintu.
"Istrimu kenapa?" tanya Rama.
"Dia mau bertemu dengan Nona Ana, Tuan." jawab Bagas.
Rama yang melihat Bagas hanya berdiri saja, lalu menarik tangan Bagas.
"Masuk bodoh, kenapa berdiri saja?" tanya Rama, yang sudah menarik tangan Bagas untuk masuk kedalam rumahnya.
Kini Rama dana Bagas berjalan menuju keruang tengah, Ana yang melihat kedatangan Alena bingung lalu bertanya.
"Alena, Kenapa?" tanya Ana.
"Ana, pinjamkan Aku gaun hamil untuk ke pesta." kata Alena.
Ana beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Alena yang sedang berdiri.
"Ayo ikutlah ke kamarku!" ajak Ana.
"Ayu, Rehan, jagain Niah dulu ya." Ana menitipkan Niah pada mereka.
"Siap kak." jawab Ayu dan Rehan dengan begitu kompak.
Ana mengajak Alena masuk kedalam kamarnya, Rama dan Bagas yang baru datang lalu mereka duduk sofa.
"Mereka mau kemana?" tanya Rama sambil melihat kearah Ayu.
"Urusan wanita itu Kak." jawab Ayu.
Rama mengangguk mengerti, Bagas melihat Rehan menggendong Niah dengan begitu jailnya langsung meledeknya.
"Sabarlah Kak Bagas, Aku sedang produksi dulu bibit unggul Aku." jawab Rehan yang diiringi dengan tawanya.
Ana dan Alena, sibuk memilih gaun dikamar Ana, Alena sudah memilih satu gaun yang berwarna salem untuk dirinya kenakan ke acara pesta nanti.
"Ana, Aku yang ini saja deh." kata Alena sambil menunjukkan gaun warna salem yang dirinya pegang.
"Baiklah, hanya satu saja?" tanya Ana memastikan.
"Iya satu saja." jawab Alena.
Ana dan Alena kini keluar dari kamar Ana, lalu menuju ruang tengah.
Diruang tengah, Alena langsung mengajak Bagas untuk pulang.
"Ayo pulang, kitakan mau pergi ke pesta." ajak Alena.
Bagas beranjak dari tempat duduknya.
"Aku pulang dulu ya semuanya." pamit Bagas.
"Ana terimakasih ya." Alena mengucapkan terimakasih pada Ana.
"Iya sama-sama, hati-hatilah dijalan." jawab Ana.
Bagas dan Alena langsung pulang kerumahnya, sedangkan Ana dan yang lain kembali sibuk bercanda dengan Niah lagi.
"Lihat Tante Alena, selalu saja rempong kalau mau kemana-mana." kata Ana pada Niah.
"Memangnya Lena, mau kemana Kakak Ipar?" tanya Ayu sambil melihat kearah Ana.
__ADS_1
"Mau ngadirin pesta katanya." jawab Ana.
Dirumah Bagas dan Alena.
Alena langsung bersiap-siap kini Alena memakai gaun yang dipinjam dari Ana, setelah memakai gaun Alena merias dirinya secantik mungkin.
Biarpun Alena sedang berbadan dua namun kecantikan Alena masih tetap terpancar.
Alena mengambil salah satu sandal hak tinggi yang Alena suka, namun Bagas kembali menaruhnya kembali.
Alena melihat kearah Bagas, lalu bertanya pada Bagas.
"Kenapa ditaruh lagi?" tanya Alena dengan raut wajah tidak suka.
Bagas melihat Alena, lalu mengandeng Alena untuk duduk ditepi ranjang. kini Alena sudah duduk ditepi ranjang.
"Wanita hamil tidak boleh memakai sandal tinggi seperti itu, duduklah biar Aku yang pilihkan sandal untukmu." jawab Bagas.
Alena hanya duduk menuruti apa kata Suaminya.
"Ternyata Bagas begitu perhatian." puji Alena dalam hatinya.
Bagas kembali membawa sandal teplek yang berbentuk sepatu, untuk dipakai Istrinya.
"Pakai sandal ini saja, lebih aman." kata Bagas.
Alena menganggukan kepalanya, lalu Bagas langsung memakai sandal pilihannya dikali Alena.
"Sudah, Istriku Kamu begitu cantik." Bagas memuji Alena setelah memakaikan sandal dikaki Alena.
"Terimakasih Suamiku." Alena mengucapkan terimakasih pada Bagas.
Bagas mencium kening Alena, lalu memeluk Alena, terus Bagas melepaskannya.
"Ayo berangkat sekarang." ajak Bagas.
Alena beranjak dari tempat duduknya, lalu Bagas mengandeng tangannya menuju ke mobil.
Skip...
Kini Bagas dan Alena sudah sampai di acara kantor Alena, semua pegawai Alena menyapa Bagas dan Alena dengan begitu sopan.
"Apa kabar Nona Alena." sapa Adit.
"Baik Dit, oh iya bagaimana perkembangan kantor selama Aku serahkan padamu?" tanya Alena.
"Semuanya berjalan lancar Nona, bhakan kantor kita juga menjadi salah pemegang saham terbesar." Adit menjelaskan pada Alena.
Adit adalah orang kepercayaan Alena yang selama ini ditugaskan oleh Alena, untuk mengurus kantornya.
"Syukur allahamdulillah, kalau semuanya lancar." jawab Alena.
"Aku pergi, temui yang lain dulu ya Dit." pamit Alena.
Kini Alena dan Bagas menemui tamu lainnya yang hadir diacara pesta kantornya.
"Itu Suami Nona Alena?"
"Dia tampan sekali ya, pantesan Nona Alena rela melepaskan jabatannya."
"Padahal Suaminya hanya seorang sekretaris diperusahan Rama Group."
"Tapi tetap saja Dia tampan."
Berbagai perkataan keluar dari mulut pegawai kantor Alena.
__ADS_1
Bersambung.