
Bagas baru saja sampai dirumah, dengan perasaan yang begitu semangat Bagas langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Alena..Alena, kamu dimana?" panggil Bagas, sambil mencari Alena disetiap ruangan.
Bagas mencari disetiap ruangan, namun tidak menemukan istrinya.
"Kemana Alena ini?" kesal Bagas.
Alena, baru saja pulang ntah darimana Alen pergi?
"Bagas, kamu sudah pulang?" tanya Alena.
"Kamu darimana?" tanya Bagas.
"Habis dari membeli bubur ayam, aku pingin makan bubur tiba-tiba" jawab Alena.
"Aku temenin kamu makan ya" Bagas menawarkan dirinya.
"Tidak usah!" jawab Alena dengan jutek.
Bagas mengambil bubur yang ada ditangan Alena, lalu menaruhnya dimeja.
Bagas langsung mengangkat tubuh Alena, untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Dikamar
Bagas mengunci pintu kamarnya.
"Kamu mau apa?" tanya Alena.
"Mau membuatmu tidak marah lagi padaku" jawab Bagas, yang sudah membaringkan Alena ditempat tidur.
Bagas melepaskan jasnya membuang kesembarang tempat, lalu langsung menindih tubuh Alena dengan tubuh kekarnya.
"Bagas, awas Aku mau makan!" kesal Alena.
"Sebelum kamu makan, biar Aku yang memakanmu terlebih dahulu" ancam Bagas.
"Mana boleh kamu memakan siang hari seperti ini" omel Alena, sambil berusaha menyingkirkan tubuh Bagas dari atasnya.
Bahas tersenyum jail pada Alena, lalu mengecup bibir Alena dengan pelan.
"Cup" satu kecupan dari Bagas.
"Kamu lucu sayang, tidak ada yang melarang seorang suami itu memakan istrinya disiang hari" jawab Bagas, yang lagi-lagi kembali mencium bibir Alena.
"Cup..cup..cup..!" berulang kali Bagas menghujani bibir Alena dengan kecupan.
"Bagas hentikan!" kesal Alena.
"Tidak akan, sebelum kamu berhenti cemburu padaku" jawab Bagas, sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar menyebalkan, lagian siapa yang tidak cemburu wanita itu terus menggodamu dengan begitu genit" kata Alena, yang langsung memanyunkan bibirnya.
Bagas menjatuhkan dirinya, kesamping Alena karena tangannya merasa lelah menahan tubuh kekarnya.
"Belum apa-apa sudah tumbang" ledek Alena, yang diiringi dengan tawanya.
"Apa kamu masih marah?" tanya Bagas.
"Sedikit" jawab Alena singkat.
Bagas beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengambil jas nya yang tadi dibuang kesembarang tempat.
Bagas kembali ke ranjang tempat tidurnya.
"Kenapa, apa kamu mau berangkat ke kantor lagi?" tanya Alena, yang sekarang sudah membenarkan posisinya menjadi duduk.
"Tidak" jawab Bagas singkat, Bagas mengeluarkan kotak kecil dari jas nya lalu memberikan pada Alena.
"Ini hadiah untukmu, sayang" kata Bagas, dengan menujukan senyuman manisnya.
"Ini apa?" tanya Alena.
"Buka saja!" jawab Bagas.
__ADS_1
Alena membuka kotak kecil tersebut, lalu Alena langsung memancarkan senyumnya manisnya.
"Ini sungguh untukku?" tanya Alena, yang langsung mengambil kalung yang begitu imut dengan liontin hati.
"Memangnya untuk siapa lagi? Apa boleh Aku memberikan pada wanita lain?" Bukannya menjawab pertanyaan Alena. Bagas malah balik bertanya pada Alena.
Alena melirik Bagas dengan tatapan begitu tajam.
"Awas saja kalau berani" ancam Alena dengan tegas.
"Sayang, pakaikan dileherku!" pinta Alena dengan begitu manja.
Bagas langsung memakai kalung tersebut ke leher Alena.
"Apakah terlihat cantik?" tanya Alena, sambil memegang kalung yang ada dilehernya.
"Cantik sayang" jawab Bagas.
Alena langsung memeluk tubuh Bagas dengan lembut, lalu mencium pipi Bagas dengan begitu menggemaskan.
"Sayang terimakasih hadiahnya" kata Alena, dengan menunjukkan senyum manisnya.
"Sama-sama, maafkan kejadian kemarin dipesta ya" jawab Bagas.
"Aku maafkan, tapi jangan diulangi lagi" pinta Alena dengan mania.
"Siap istriku" jawab Bagas dengan senang.
Akhirnya perjuangan Bagas membuahkan hasil, saran dari Rama juga membuat Alena langsung memaafkannya.
Dirumah Rama dan Ana.
Ana dan Ayu sedang duduk ditaman belakang rumah sambil mengobrol.
"Rehan belum menelpon juga?" tanya Ana.
"Belum, mungkin Dia sibuk sekali" jawab Ayu, dengan nada sedih.
"Coba telpon Mami saja!" Ana menyuruh Ayu menelpon Mami Diana.
"Kamu hanya sibuk memikirkan Rehan sih" omel Ana, dengan diiringi tawa.
Ayu langsung mengambil ponselnya lalu menekan no ponsel Mami Diana.
Menelpon Mami.
"Hallo Mi, apa Mami sudah sampai diluar negeri?" tanya Ayu.
"Hallo juga Nak, Mami sudah sampai! Apa Rehan belum mengabarimu?" tanya Mami.
"Belum Mi" jawab Ayu dengan nada sedih.
"Nanti Mami bilang Rehan agar segera mengabrimu Yu" jawab Mami.
"Rehan tidak ada dirumah Mi?" tanya Ayu.
"Sedang pergi sama Papi, katanya ada urusan penting" jawab Mami.
"Nak, sudah dulu ya Mami ada urusan" kata Mami, yang langsung mematikan saluran teleponnya.
Ayu kembali menaruh ponselnya dimeja.
"Bagaimana?" tanya Ana.
"Rehan sibuk, katanya pergi sama Papi ada urusan penting" jawab Ayu, dengan nada lesu.
"Sudah, nanti Rehan juga akan menelponmu" Ana berusaha menghibur Ayu.
"Ayu, antarkan Aku cek kandungan aja ayo!" ajak Ana, agar Ayu tidak sedih terus gara-gara kangen sama suaminya.
"Boleh" jawab Ayu, yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Ana dan Ayu langsung menuju Kerumah sakit tempat Silvia berkerja.
Skip...
__ADS_1
Ana dan Ayu sampai dirumah sakit, mereka langsung masuk ke dalam ruangan Silvia karena memang Silvia sekarang sudah menjadi dokter kandungan Ana.
"Tok..tok.." Ana mengetuk pintu ruangan Silvia.
"Masuk, pintunya tidak dikunci!" saut Silvia.
Via yang melihat ternyata Ayu dan Ana yang datang, langsung bangun dari tempat duduknya.
"Ana, Ayu, Aku kira tadi suster yang datang, maaf ya" kata Silvia yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Vi, maaf kita tidak bikin janji dulu" jawab Ana, yang sama-sama merasa tidak enak karena tidak membuat janji lebih dulu dengan Silvia.
"Duduklah" pinta Silvia.
Ayu dan Ana duduk, di kursi yang ada di depan meja kerja Via.
"Katakan padaku ada yang bisa aku bantu?" tanya Silvia dengan nada lembut.
"Aku hanya ingin memeriksakan kandunganku Vi" jawab Ana.
Via membawa Ana untuk berbaring ditempat pemeriksaan. Via memeriksa Ana dengan begitu teliti.
"Ana, apa kamu tidak ingin jenis kelamin Anakmu?" tanya Silvia.
Ana hanya tersenyum.
"Tidak Vi, biarkan saja menjadi rahasia" jawab Ana, yang memang tidak pernah mempermasalahkan apa jenis kelamin anaknya nanti.
"Turunlah, sudah selesai pemeriksaannya" kata Silvia, dengan nada lembut.
Ana kembali duduk dikursi.
"Semuanya sehat, tidak ada masalah" kata Silvia.
"Vi, kira-kira Aku bisa lahiran dengan normal tidak?" tanya Ana.
"Kemungkinan bisa" jawab Silvia.
"Oh iya Yu, segeralah menyusul kita untuk segera hamil" kata Via pada Ayu.
"Menikah saja belum ada dua minggu Vi" jawab Ayu, yang memang pernikahannya belum ada seumur jagung.
"Tapi Rehan, semangatkan bikinnya" ledek Via.
"Dia mah jangan ditanya Vi, rengek mulu tiap malam" jawab Ayu.
"Udah kaya bayi minta susu aja" timpal Ana.
"Tapi ini Rehan, sedang ada kerjaan jadi kita libur produksi" kata Ayu dengan nada lesu.
"Dikira pabrik libur produksi" saut Via.
"Kamu ada-ada saja Yu" timpal Ana.
"Kembali aktif produksinya lagi kapan?" tanya Ana, yang diiringi dengan tawanya.
"Tunggu Rehan pulang dari luar negeri" jawab Ayu, yang juga ikut tertawa.
"Ini obat untukmu Na, diminum yang teratur ya" pinta Via.
"Siap Dokter Silvia" jawab Ana.
"Kita langsung pamit pulang ya" kata Ana dan Ayu.
"Baiklah, kalian hati-hati dijalan" jawab Via, dengan senyum manisnya.
Pemeriksaan sudah selesai, Via juga sudah memberikan obat untuk Ana.
Ana dan Ayu langsung menuju pulang kerumahnya.
***Bersambung.
Buat yang suka cerita perjodohan boleh ya mampir ke karya author yang kedua Kakak-kakak semuanya ๐๐
Disini juga sama ada Visualnya๐๐***
__ADS_1