
Keesokan hari kemudian.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi, kini Rama, Ana, Rehan, Ayu, Mami Diana dan Papi Revan. Akan menuju ke pusat perbelanjaan untuk membeli perlengkapan Bayi untuk Anaknya Rama dan Ana. Kebetulan ini hari Sabtu jadi mereka semua bisa pergi bersama. karena Rama dan Rehan juga sedang libur kerja, sedangkan Ayu sudah keluar dari tempat kerjanya karena Rehan menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya.
Semuanya sudah siap, Dan kini semuanya hanya naik satu mobil. karena sengaja biar bisa ngobrol bareng dan bisa lebih dekat dengan keluarga. Kali ini Rehan yang menyetir mobilnya, Rama duduk didepan sebelah Rehan, Mami dan Papi berada dijok bagian tengah sedangkan Ana dan Ayu duduk dibelakang.
Betapa bahagianya keluarga Ardiyansyah hari ini, karena bisa menghabiskan waktu libur bersama.
"Ana..!" panggil Alena, yang sedang berdiri dihalaman rumahnya.
Ana menengok kearah Alena.
"Alena, iya ada apa?" tanya Ana, yang sedang berdiri menunggu suaminya keluar dari rumah.
Alena menghampiri Ana, kini Alena sudah bersama Ana.
"Kalian mau kemana?" tanya Alena, yang melihat Ayu dan Rehan baru keluar dari rumahnya.
"Kita akan membeli perlengkapan Bayi, sekalian jalan bareng mumpung semuanya libur" jawab Ana, dengan senyuman manisnya.
Rama tiba-tiba keluar dari rumah.
"Alena, Bagas mana?" tanya Rama tiba-tiba.
"Senangnya, mudah-mudahan Aku cepat hamil biar nanti Anak-anak kita bisa main bermain bersama" ucap Alena, yang penuh harapan.
"Rama, Bagas ada dirumah tadi sedang mandi" Alena menjawab pertanyaan Rama.
"Bilang pada Bagas, usahanya dditingkatkan biar cepat jadi adonannya" ledek Rama, yang mendengar ucapan Alena pada istrinya.
Ana hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya karena melihat suaminya begitu jail pada Alena.
"Akan ku katakan nanti" jawab Alena.
"Kamu, mau ikut dengan kami tidak?" tanya Rama, menawarkan pada Alena.
"Tidak, Aku ada acara ini aja mau pergi sebentar lagi" jawab Alena.
"Kalian pergilah hati-hati dijalan" ucap Alena.
Rehan melihat Alena dengan senyum jailnya.
"Aku, pulang dulu ya Na, sebelum mulut jail Rehan menggangguku" pamit Alena, yang sudah melihat lirikan jail dari Rehan.
Ayu dan Ana kini saling melempar tawa, sedangkan Alena langsung pergi meninggalkan mereka pulang kerumahnya.
Setelah beberapa menit akhirnya Mami dan Papi keluar dari rumah, sekarang semuanya sudah siap naik ke dalam mobil.
Rehan langsung menyalahkan mesin mobilnya dan segera menuju ke pusat perbelanjaan terbesar dikotanya.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mereka sampai dipusat perbelanjaan terbesar dikotanya.
Di pusat perbelanjaan terbesar (Mall).
Mami begitu antusias untuk berbelanja perlengkapan Bayi. Mami langsung mengajak Ana ke toko perlengkapan Bayi terlengkap yang ada di mall itu.
"Ana, Ayu, ikutlah dengan Mami!" ajak Mami, Ana dan Ayu mengikuti langkah Mami mertua mereka.
__ADS_1
Mami langsung mengajak Ana ke masuk kedalam toko yang begitu besar dan barang-barang semua disitu semuanya bermerk.
Rama dan Rehan juga tidak kalah antusias, kini keduanya sudah memilih-milih apa yang mereka suka, tanpa berpikir akan berguna atau tidak untuk sang Bayi.
"Ana, ini begitu cantik" ucap Mami Diana, yang memang menginginkan cucu perempuan.
"Ana, ini sangat bagus sekali" timpal Ayu, yang disudah mengambil setelan baju untuk Anak laki-laki.
Kali ini Ana hanya terdiam.
"Kira-kira Anakku perempuan atau laki-laki, Aku sengaja tidak mengeceknya karena Aku mau ini jadi rahasia saja" gumam Ana, sambil memikirkan apa yang harus dibeli.
"Mami, Ayu, kita beli yang netral saja soalnya Ana belum tau jenis kelamin Anak Ana" ucap Ana, karena tidak mau nantinya tidak dipakai.
Akhirnya Mami dan Ayu menuruti ucapan Ana, kini mereka mengambil beberapa baju yang bisa digunakan untuk Anak perempuan atau laki-laki.
Papi hanya duduk disebuah sofa yang sediakan oleh toko tersebut untuk para pelanggan, sambil menunggu mereka semua berbelanja, kini Rama dan Rehan sedang beradu pendapat.
"Kak, untuk apa kakak membeli banyak mainan seperti ini? Anak kakak belum bisa memainkan semua ini" kesal Rehan, karena Rama membeli banyak mainan untuk Anak perempuan dan Anak laki-laki.
"Rehan, Aku tidak tau Anakku nanti perempuan atau laki-laki. jadi ada baiknya Aku membeli semuanya saja" jawab Rama, yang saat ini menunjukkan wajah polosnya.
"Kakak taruh, kita tidak perlu semua ini!" Rehan menyuruh Rama, menaruh kembali semuanya mainan yang Rama beli.
Namun Rama tidak mau, dan tetap mengambil apa saja yang Rama mau.
"Aku tidak mau, lagian kalau ini tidak ke pakai nantikan bisa buat Anak kamu atau Anak kedua Aku nanti" Rama menolak menaruh kembali semuanya, dengan alasan yang masuk akal.
"Dasar kakak Rama, sudahlah daripada berdebat" kesal Rehan dalam hatinya.
"Terserah kakak saja, Ayo kita lihat box Bayi saja" ajak Rehan, sambil mendorong troli yang berisi banyak mainan yang dipilih oleh Rama.
Mami, Ana,dan Ayu kini mereka bertiga sudah selesai membeli, apa saja yang diperlukan dengan tidak berlebihan karena Ana melarangnya.
"Mami, baju, botol susu, bedak, sabun dan keperluan lainnya sudah kita beli semuanya" ucap Ana, sambil membawa beberapa baju pilihannya.
"Baiklah nak, Ayo kita cari box Bayi" ajak Mami.
"Ana, ini lucu sekali" ucap Ayu, sambil membawa beberapa sepatu Anak bayi.
Mami dan Ana saling melempar senyum.
"Kita beli saja, Nak" ucap Mami pada Ayu.
Ayu langsung menaruh sepatu-sepatu yang Ayu bawah kedalam tas belanjaan.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Ayu.
"Cari box Bayi, sayang" jawab Mami dengan nada lembut.
Sampailah ditempat box Bayi.
Betapa terkejutnya Ana melihat Rama dan Rehan, membawa troli yang berisi banyak mainan Anak-anak.
Mereka bertiga menghampiri Rama dan Rehan.
"Sayang, ini apa?" tanya Ana, yang sudah melihat kearah suaminya.
__ADS_1
Rama tersenyum pada Ana.
"Aku membelikan semua ini, untuk Anak kita sayang" jawab Rama, dengan nada polosnya.
Ana hanya menggelengkan kepalanya.
"Tapi Anak kita belum membutuhkan semua ini, Rama" ucap Ana dengan nada begitu lembut.
"Rehan, sudah bilang kak tapi kak Rama, tetep kekeh pingin membeli semua itu" Rehan mengadu pada Ana.
Mami dan Ayu saling melempar tawa.
"Sudah-sudah, kita beli semua ini" ucap Mami, karena tidak mau Anak-anak sampai memperdebatkan masalah sepele.
"Itukan Mami aja boleh" ucap Rama penuh kemenangan.
Akhirnya mereka mengakhiri perdebatan mereka, kini mereka sama-sama memilih box Bayi.
"Beli yang warna netral aja sayang" pinta Ana, karena tidak mau suaminya membeli lebih dari satu.
"Coklat atau abu-abu itu bagus" ucap Rehan.
"Warna pink, ini cantik sekali" ucap Mami, yang berharap cucunya perempuan.
"Kita pilih yang warna putih saja" celetuk Papi, atau semuanya tidak mau kalah dengan pilihannya masing-masing.
Akhirnya mau tidak mau, jadinya membeli warna putih sesuai keinginan Papi Revan.
Setelah semuanya terbelih, Rama langsung membawa belanjaannya ke kasir.
Rama berniat mengeluarkan ATM tanpa batasnya dari dompetnya. namun tidak perbolehkan oleh Papi.
"Papi saja Ram, yang membayar semua ini! inikan cucu Papi" ucap Papi, yang langsung memberikan ATM tanpa batasnya kepada pelayan kasir.
Rama tersenyum pada Papinya.
"Papi terimakasih ya" ucap Ana, dengan begitu sopan.
Setelah proses pembayaran selesei, kali ini Rehan dan Rama membawa barang belanjaan mereka, namun untuk box Bayi akan diantar kerumah langsung oleh pegawai ditoko itu.
"Sama-sama Nak, ini semuanya untuk calon cucu Papi" jawab Papi, yang dengan senyum bahagianya.
"Ayu.." panggil Papi Revan.
"Iya Pi?" jawab Ayu, dengan lembut.
"Kamu tidak boleh iri ya Nak, nanti kalau kamu kamu hamil. Papi juga akan melakukan hal yang sama untuk Anak kamu nanti" ucap Papi, karena tidak mau Ayu sampai menyimpan rasa iri di dalam hatinya.
"Iya Pi, Ayu sama sekali tidak iri Papi, Ayu senang melihat Ana sekarang bahagia" jawab Ayu, Ana langsung memeluk Ayu dengan erat.
"Kalian berdua, Adalah menantu terbaik Mami dan Papi" ucap Mami, dengan penuh rasa syukur.
"Teruslah, hidup rukun seperti ini Nak" pinta Papi Revan.
Akhirnya mereka selesei berbelanja perlengkapan Bayi, karena semuanya sedang berkumpul akhirnya mereka memutuskan untuk pergi berlibur ke villa keluarga.
Bersambung
__ADS_1