
Setelah beberapa hari Niah pulang dari rumah sakit, kedua orang tuanya, kedua mertuanya dan para sahabatnya sudah menanti Niah dan David dirumahnya.
Hari ini mereka berkumpul dirumah David dan Niah untuk menyambut kedatangan Niah, David dan sih kembar yang baru keluar dari rumah sakit.
Vina sudah membawa kado, Valin juga sudah menyiapkan kado untuk kedua ponakannya itu, Ralin juga tidak kalah dengan mereka bahkan ia menyiapkan banyak kado ia juga membeli banyak mainan masak-masakan. Padahal Kenan sudah bilang padanya jangan beli mainan, karena sih kembar belum bisa bermain, tapi yang namanya Ralin selalu keras kepala, ia membeli apa saja yang ia mau. Dan Kenan hanya bisa membiarkannya saja yang penting istrinya bahagia.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Vano, ia tidak lupa memakai jam tangannya.
"Jam 10 pagi kak." Jawab Kevin, ia melihat jam tangannya.
Kini mereka semua duduk di teras depan rumah Niah dan David.
Valin, Ralin dan Vina, mereka asik mengobrol sambil menikmati cemilan yang mereka siapkan sendiri.
"Alin, kamu kasih kado apa buat sih kembar?" Tanya Vina, ia merasa penasaran karena Ralin hari ini membawa banyak kado.
Hari ini Alin membawa 10 kado, isinya macam-macam dan tentunya semua itu pilihan Ralin untuk kedua keponakan kembarnya.
"Aku beli gaun-gaun cantik, aku membeli bermacam-macam sepatu, dan aku membeli banyak mainan masak-masakan." Jawab Ralin, Kenan yang mendengar hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Cuma istriku, yang anak baru lahir dibelikan mainan masak-masakan." Batin Kenan dalam hatinya.
Kevin dan Vano sama-sama tertawa mendengar jawaban Ralin, Mereka melihat kearah Kenan secara bersamaan.
"Ken, istrimu itu ada-ada saja. Masa anak baru lahir dibelikan mainan masak-masakan." Kevin tertawa, Vano juga ikut tertawa.
"Saat pergi berbelanja dengan Ralin, aku hanya pasrah kak percuma sudah aku kasih tahu, ia juga akan tetap membelinya." Jawab Kenan, ia tidak mau ambil pusing buat ia istrinya memang seperti itu jadi ya harus bisa menerimanya.
Shinta dan Ana sudah tidak sabar, mereka sudah sangat ingin menggendong cucu-cucu mereka.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya David dan Niah sampai dirumahnya. David turun dari mobilnya lalu ia membukakan pintu untuk istrinya, Ana dan Shinta langsung berlari untuk mengendong cucu-cucu mereka.
Kini Ana sudah mengendong Khalisa dan Shinta sudah mengendong Shakila. Sedangkan David sudah menuntun Niah untuk masuk ke dalam rumah.
Semuanya masuk ke dalam rumah, Kini mereka semua sudah duduk diruang keluarga. Niah tersenyum bahagia melihat banyak kado yang tertata rapi diatas sofa.
"Kadonya banyak sekali." Kata Niah, ia bersyukur karena banyak memberikan kado untuk sih kembar.
"Ini semua buat sih kembar, Niah." Jawab Vina mewakili semuanya.
Shinta dan Ana asik mengajak cucu-cucu mereka mengobrol, ntah apa yang mereka obrolkan dengan bayi yang masih merah itu hanya mereka yang tahu.
Hari ini mereka mengobrol sambil bercanda, sedangkan Niah sibuk membuka kado dari mereka semua.
"Dari Kevin dan Valin." Kata Niah, ia membuka kado dari Kevin dan isinya adalah sepatu kembar yang begitu lucu dan gaun-gaun cantik kembaran.
"Wah lucu, sekali terimakasih Tante Valin dan Om Kevin." Kata Niah, ia kembali membuka kado-kado yang lainnya.
__ADS_1
"Sama-sama kak." Jawab Valin dan Kevin.
"Ini dari Vano dan Vina." Niah membuka kado dan ternyata isinya beberapa set pakaian bayi kembaran.
"Terimakasih Tante Vina dan Om Vano." Kata Niah, ia melanjutkan membuka kado dari Ralin dan Kenan.
"Ini banyak sekali," Niah membuka satu persatu kado-kado itu. Melihat isinya adalah bermacam baju-baju kembar, sepatu-sepatu kembar dan banyak sekali mainan masak-masakan.
David tertawa, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Diantara yang lain, memang Ralin yang paling lucu. Ralin anak-anakku saja belum bisa apa-apa, terus kamu membelikan kado mainan sebanyak itu." David tertawa dalam hatinya.
"Tante Alin dan Om Kenan, terimakasih kadonya." Kata Niah sambil tertawa.
"Sama-sama Kak Niah." Jawab Ralin dengan senang hati.
Setelah membuka semua kado, Mereka melanjutkan ngobrol mereka. Sungguh hari ini Ralinsyah dan Kenan menjadi bahan candaan mereka, gara-gara kado yang Ralin beli.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, mereka semua berpamitan untuk pulang. Shinta dan Dimas juga pulang karena hari ini mereka mau pergi ke acara pernikahan anak rekan bisnisnya Dimas.
Sedangkan Niah dan Rama malam ini menginap dirumah Niah dan David, untuk membantu Niah menjaga sih kembar.
.
.
David membaringkan hendak membaringkan tubuh disamping Niah, tapi belum sempat berbaring tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.
"Tok..tok..." suara ketukan pintu.
"Sayang, buka pintunya mungkin itu mama dan papa." Kata Niah, David beranjak pergi untuk membukakan pintu kamarnya.
"Ceklek...." suara gagang pintu.
"Mama, papa, masuk!" David mempersilahkan kedua mertuanya masuk ke dalam kamarnya.
Ana dan Rama sama-sama masuk ke dalam kamar David dan Niah, mereka melihat Niah sedang berbaring di atas ranjang.
"Nak, sih kembar rewel tidak?" Tanya Ana, ia kawatir apalagi Niah sebelumnya belum pernah merawat seorang bayi.
"Mereka sudah tidur ma, habis nyusu." Jawab Niah, ia membenarkan posisi menjadi duduk.
"Kamu juga istirahatlah, kalau ada apa-apa telpon mama atau papa saja ya! Mama dan papa tidur dikamar sebelah." Kata Ana sambil memegang bahu Niah dengan tangannya.
"David, kamu jaga anak-anak dan istrimu ya! Dulu papa juga sering begadang gara-gara Niah dan Kevin." Kata Rama, membuat David tertawa kecil.
Rama ingat sekali, dulu ia juga membantu Ana menjaga kedua anaknya setiap malam. Tapi itu tidak menjadi masalah buat Rama dan tentunya Rama selalu menjadi suami yang siap siaga.
__ADS_1
"Siap pa, David siap begadang untuk mereka." Jawab David dengan begitu tegas.
Ana dan Rama keluar dari kamar Niah dan David, mereka kembali ke kamar mereka. Setelah kedua mertuanya keluar David kembali menutup pintu kamarnya lalu menguncinya.
"Lelahnya hari ini." David merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk.
"Pasti, kamu sangat capek. Tidurlah suamiku," Pinta Niah, ia memijat lengan tangan suaminya.
David memejamkan matanya, belum berapa menit memejamkan matanya tiba-tiba salah satu dari anaknya menangis.
David kembali membuka matanya, ia bergegas mengambil anaknya dari dalam bok bayi.
"Khalisa, kenapa kamu menangis nak?" Tanya David, ia menggendong Khalisa tapi tangisnya tidak berhenti juga.
"Coba cek, mungkin Khalisa pup atau pampersnya sudah penuh." Tutur Niah, dan David menuruti apa kata sang istri.
Ia membaringkan Khalisa diatas kasur, ia mengecek pampersnya dan benar ternyata Kahlisa pup.
"Bau sekali sayang." Keluh David, ia menutup hidungnya dengan satu tangannya.
Niah tersenyum, ia tahu suaminya baru pertama kali mengurus seorang bayi.
"Namanya juga pup, biarkan aku saja sayang." Tawar Niah, ia hendak bangun dari tidurnya tapi dengan cepat David mencegahnya.
"Tidak usah, aku bisa!" Cegah David, ia berusaha meyakinkan istrinya.
Niah menganggukan kepalanya, ia hanya memperhatikan suaminya bagaimana sang suami menganti pampers anaknya. Dan ternyata David begitu pandai membuat Niah terkejut.
"Kamu bisa?" Niah tidak percaya.
"Tentu saja, aku kan ingin punya anak jadi aku harus siap jadi suami siaga." Jawab David, ia begitu tengil membuat Niah tertawa.
Setelah menganti pampers Khalisa, David menggendongnya sampai Khalisa tertidur. Khalisa sudah tidur, David menaruh Kahlisa kembali ke dalam bok bayi.
"Anak-anak papa, kalian jangan rewel ya! Papa capek sekali. Biarkan malam ini papa istirahat dulu." David mencium pipi Anak-anaknya secara bergantian.
Malam semakin larut, David melihat Niah sudah lelap tertidur. Dan ia juga langsung berbaring disamping Niah.
"Terimakasih istriku, kamu sudah melahirkan keturunan untukku." David mencium kening Niah dengan hangat, ia tidur sambil memeluk Niah dengan penuh cinta.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Mampir yuk ke karya-karya baru Author, siapa tahu pada suka 😘😊
__ADS_1