
Malam harinya Alena dan Bagas sudah berada dirumah Rama, Rian dan Via juga sudah datang.
"Tumben, Kamu menyuruhku datang malam-malam Ram?" tanya Rian, yang sudah duduk di sofa.
"Itu para cecungkuk minta camping bersama" jawab Rama, sambil mengarahkan matanya kearah Rehan dan Bagas.
Bagas dan Rehan saling menatap bingung.
"Apa para cecungkuk itu kita?" tanya Rehan dan Rama secara bersamaan.
Rama dan Rian saling melempar tawa.
"Dasar bodoh mereka itu, Ian" ledek Rama dengan tertawa penuh kemenangan.
"Hahaha memang mereka itu lemot Ram" celetuk Rian dengan tawanya.
Rehan dan Bagas langsung menatap kesal pada Rama dan Rian.
"Dasar kalian ini" kesal Rehan dan Bagas yang langsung memukul Rama dan Rian secara bersamaan.
"Hentikan...sana kalian bikin tenda" kata Rama, sambil mendorong Rehan dari atas tubuhnya.
"Iya cepetan bikin tendanya, nanti kemalaman" timpal Rian, yang sama mendorong tubuh Bagas agar berhenti memukulinya.
Rehan dan Bagas, memukul Rian dan Rama dengan pelan dan tidak sungguh-sungguh.
sekarang mereka saling tertawa bersama.
"Kalian juga Ayo, bikin tenda!!" pinta Rehan dan Bagas, sambil menarik tangan Rian dan Rama kehalaman belakang.
Kini mereka berempat sedang sibuk membuat tenda dihalaman belakang rumah Rama, untuk mereka semua bercamping malam ini. sedangkan istri-istri mereka sedang menyiapkan cemilan dan makan malam untuk makan malam bersama nanti.
"Sebenarnya apa yang mereka ributkan?" tanya Silvia, yang sedang mengambil piring untuk mereka makan bersama nanti.
"Ntahlah, mereka itu ada saja yang diributkan" jawab Ana, sambil menggelengkan kepalanya.
tring...tring... ponsel Ana berdering.
Pesan dari Siska.
"Ana, Aku sedang hamil. kata dokter kandungan sudah 2 bulan"
Ana membaca pesan dari Siska.
Ana membalas pesan Siska.
"Selamat ya, Aku senang sekali mendengarnya. Akhirnya kita akan segera punya Anak"
Siska membalas pesan Ana.
"Terimakasih saudaraku"
Ana membalas pesan Siska.
"Sama-sama, kamu jagalah kandunganmu dengan ya Sis"
Siska membaca pesan dari Ana, dengan senyum yang begitu bahagia.
Ana tersenyum bahagia, dalam hatinya mengucapkan rasa penuh syukur.
"Kak ipar, Kamu kenapa?" tanya Ayu, yang sekarang sudah menjadi Adik ipar Ana.
"Ayu, ada kabar bahagia! Siska sekarang sedang hamil" jawab Ana, dengan begitu senang hati.
__ADS_1
"Sungguh, Akhirnya Siska hamil juga" kata Ayu dengan begitu bahagia.
"Iya,Kamu segeralah hamil" pinta Ana, sambil tersenyum pada Ayu.
"Siap, doakan saja semuanya sedang dalam proses" jawab Ayu, dengan begitu antusias.
Via sudah selesai menyiapkan piring, Alena juga sudah selesai memotong buah-buahan.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Via.
"Sudah Vi" jawab Alena.
"Tapi tendanya sudah jadi belum ya?" tanya Ayu.
"Kamu lihat saja Yu" Alena menyuruh Ayu melihat kehalaman belakang.
Ayu langsung melangkahkan kakinya menuju kehalaman belakang.
"Apa tendanya sudah jadi?" tanya Ayu.
"Sudah, kita sedang menyalakan api unggunnya dulu" saut Rian, sambil menata kayu yang akan dibakar.
"Oke siap" jawab Ayu.
Ayu kembali ke dapur, untuk memanggil yang lainnya.
"Ayo, kita ke halaman belakang! tendanya sudah siap" ajak Ayu.
Akhirnya mereka berempat jalan menuju ke halaman belakang, dengan membawa makanan, piring, minuman kotak, dan berbagai macam cemilan untuk mereka bercamping.
"Sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama" kata Ana, sambil berjalan menuju halaman belakang.
"Iya, Akhirnya bisa kumpul bareng lagi" timpal Silvia, yang sekarang sudah membawa beberapa piring ditangannya.
Bahkan mereka sudah menyiapkan beberapa jagung untuk dibakar dan dimakan bersama.
Kini mereka semuanya duduk di depan Api unggun, Rian bermain gitar sambil bernyanyi, Rama juga ikut bernyanyi sedangkan Bagas dan Rehan sibuk membakar jagung.
"Jadi ingat jaman Sekolah Dasar dulu" kata Via, sambil membayangkan waktu dirinya masih Sekolah Dasar.
"Pingin kembali ke masa kecil lagi" timpal Alena, dengan senyum manisnya.
"Bayangkan saja jika kita semua sudah punya Anak, pasti akan sangat menyenangkan" saut Ana, sambil menghayal.
Tiba-tiba Rama mencium pipi istrinya.
"Rama, kenapa kamu melakukannya di depan semua orang" kesal Ana, dengan wajah begitu merah.
"Tidak apa-apa, mereka ada istri-istri mereka ini sayang" saut Rama.
"Dasar pasangan labil" celetuk Ayu dengan nada bercanda.
Rama melirik Ayu dengan tatapan meledek sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar pasang ingusan" Rama meledek Ayu.
Rama mengatai Ayu dan Rehan sebagai pasangan ingusan, karena Rehan dan Ayu adalah pasangan yang paling muda diantara mereka.
Rehan dan Bagas datang membawa jagung bakar yang sudah matang.
"Ini sudah matang jagungnya" kata Rehan dan Bagas dengan nada penuh semangat.
Ayu memajulurkan lidahnya kearah Rama.
__ADS_1
"Biarin pasangan ingusan" saut Ayu, sambil menjulurkan lidahnya.
"Sayang, Apa obat nyamuk ini menganggumu lagi" kata Rehan, yang menatap kearah Rama.
"Hey dasar Adik kurang ajar" omel Rama, sambil menjewer telinga Rehan dengan pelan.
Ana yang melihat pertunjukan didepannya, langsung menghela nafasnya. lalu memegang tangan suaminya untuk melepaskan tangannya dari telinga Rehan.
"Rama..." panggil Ana dengan lirikan tajam, sambil memegang tangan Rama.
Akhirnya Rama melepaskan tangannya dari telinga Rehan.
Rian mengambil satu jagung yang dibakar oleh Rehan dan Bagas.
"Bagas, Rehan, Apa kalian bakar jagung tidak berdoa dulu sampai gosong seperti ini?" keluh Rian, sambil menggelengkan kepalanya.
Rehan dan Bagas saling melempar kesalahan.
"Itu salah kak Bagas, gara-gara liatin Kak Alena mulu dari tadi" Rehan menyalahkan Bagas.
Bagas menatap Rehan dengan tatapan kesal.
"Hey kau, kenapa kamu menyalahkanku? bukankah kamu yang dari tadi melihat Ayu dengan tatapan mesummu itu" bela Bagas, yang tidak mau disalahkan oleh Rehan.
"Sudah jangan saling menyalahkan!" pinta Silvia, dengan senyum manisnya.
"Kapan kalian akan akur sih?" kesal Alena.
"Tau ribut mulu, nanti bagaimana Anak-anak kalian?" timpal Alena dan Via.
"Asal Anak-anak kita jangan seperti bapak-bapaknya!" saut Ana, sambil membayangkan Anak-anak mereka jika mengikuti sifat-sifat banyaknya yang suka berdebat kapan saja.
"Sudahlah ini nikmatin jagung bakarnya saja semuanya" kata Rehan, yang sudah main-main suap-suapan dengan istrinya.
Rama, Rian dan Bagas menatap Rehan dengan tatapan jijik.
"Apaan sih kalian sok-sokan romantis" ledek Rian.
"Mau cari sensasi pasti mereka" goda Bagas.
"Apaan sih kalian sirik aja, udah sayang anggap saja mereka nyamuk" kata Rehan, yang kembali menyuapkan jagung ke mulut istrinya.
Akhirnya Rama dan yang lainnya dengan kompak, menyoraki Rehan.
"Huuuu dasar Anak ingusan!!!" Kata Rama, yang diiringi sorokan oleh yang lainnya.
Ayu dan Rehan, hanya saling menatap penuh senyum.
"Nyamuk-nyamuk itu pada berisik banget" keluh Ayu, dengan nada meledek.
"Biarkan saja sayang" saut Rehan, sambil mengecup pipi Ayu.
"Apa kita camping hanya untuk melihat Rehan dan Ayu gila seperti itu!" keluh Bagas.
"Biarkan saja, maklum masih pengantin baru" celetuk Silvia.
Camping mereka malam ini penuh dengan tawa canda yang begitu hangat, biarpun Rehan dan Ayu malam ini jadi bahan candaan Rama dan yang lainnya. namun Rehan tidak mempermasalahkan semua itu.
Malam semakin larut, makan yang disiapkan oleh istri-istri mereka juga habis kini semuanya merasa ngantuk dan langsung masuk kedalam tenda untuk segera beristirahat.
Bersambung
Kakak-kakak semuanya, disini author membuat cerita yang lurus-lurus saja ya tidak terlalu banyak konflik, karena author ingin menceritakan sebuah persahabatan yang begitu indah 😊🙏
__ADS_1