
Satu minggu kemudian, Ayu dan Rehan sudah pulang dari bulan madunya dari sehari yang lalu.
Hari ini adalah acara tujuh bulanan Ana, semua keluarga Ana, sahabat-sahabatnya, Siska, Kevin dan Bibi Rani mereka juga sudah datang.
Mami dan Papi juga sudah siap semuanya, kini mereka semuanya langsung menuju ke panti asuhan.
Ana, Rama, Mami dan Papi satu mobil, Bibi ikut mobilnya Kevin dan Siska, sedangkan semua sahabat-sahabat mereka membawa mobil masing-masing, termasuk Rehan dan Ayu.
Kini mereka semuanya melajukan mobilnya menuju panti asuhan tempat acara
Di dalam mobil Rama.
"Nak, sebentar lagi kalian akan jadi orangtua" kata Mami Diana, yang penuh rasa syukur.
"Iya, Mami benar! Ram, mulai sekarang kamu tidak hanya menjaga istrimu saja tetapi anakmu juga" kata Papi, dengan begitu penuh kelembutan.
"Mami, Papi tidak perlu kawatir Aku akan selalu menjaga Istriku dan Anak-anakku nanti dengan baik" jawab Rama, dengan penuh keyakinan.
"Anak-anak? apa kamu ingin punya lebih dari satu Anak?" tanya Mami Diana, dengan begitu antusias.
Rama tersenyum penuh kemenangan.
"Setelah Anak pertamaku lahir, Aku akan segera membuatnya satu lagi Mam" jawab Rama, dengan penuh semangat.
"Rama, jangan buatku malu di depan Mami dan Papi" omel Ana, dengan lirikan tajamnya.
Mami dan Papi saling melemparkan senyum.
"Tidak apa-apa Nak, kenapa harus malu" kata Mami, dengan begitu lembut.
"Iya, Papi dan Mami juga pernah muda" timpal Papi, dengan begitu jailnya.
Semua sembako dan bingkisan untuk anak-anak panti, sudah dikirim lebih dulu oleh orang suruhan Rama, dekorasi juga sudah disiapkan oleh Bagas sesuai keinginan Rama.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Akhirnya mereka semua sampai dipanti asuhan milik Bu Yuni.
Ana dan semuanya langsung turun dari mobil, Anak-anak, semua pengurus panti termasuk Bu Yuni juga sudah siap, untuk menyambut kedatangan Ana dan semua keluarganya.
Semuanya sudah turun dari mobil, Rama mengandeng tangan Ana untuk masuk kedalam panti. kali ini acara diadakan ditaman panti yang begitu luas.
Anak-anak yang melihat Ana dan Rama datang, langsung berlari menghambur ke pelukan Ana dan Rama.
"Kak Ana, Kak Rama, kita semua merindukan kalian" ucap semua Anak panti dengan begitu semangat.
Ana dan Rama tersenyum pada semua Anak-anak yang memeluknya secara bersamaan.
"Kita juga merindukan kalian semua" jawab Rama dan Ana dengan begitu semangat.
"Ayo, Anak-anak berdiri Kak Ana dan Kak Rama jalan biar masuk" pinta Bu Yuni dengan begitu lembut.
Anak-anak langsung menyebar menjadi dua bagian dengan begitu rapi, Ana langsung menghampiri Bu Yuni dan langsung memeluknya.
"Bu Yuni, terimakasih karena panti asuhan ini sudah membawa Ana ke kehidupan yang begitu bahagia" ucap Ana, yang mulai meneteskan air matanya.
Panti asuhan ini, menjadi saksi pertemuan Ana dan Rama untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Bu Yuni, melepaskan pelukannya.
"Kamu tidak boleh menangis, Ini adalah hari bahagiamu jangan buat anak yang sedang kamu kandung jadi sedih" ucap Bu Yuni, yang begitu tulus dan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba Bibi Rani menghampiri Ana dan Bu Yuni.
"Ana, jangan menangis Nak" pinta Bibi Rani, yang kini sudah memeluk Ana dengan penuh kasih sayang.
Mami dan Papi menghampiri mereka.
"Ana sayang, Ayo segera masuk! kasian Anak-anak sudah menunggu acaranya!" pinta Mami dan Papi.
Rama tersenyum bahagia melihat pemandangan di depannya.
"Kelak hanya kebahagiaan yang akan kamu dapatkan dariku, istriku" gumam Rama.
Mami, Papi, Bibi Rani, dan Bu Yuni kini-kini sama-sama menuntun Ana untuk pergi ke tempat acara.
Rama dan yang lainnya mengikuti dari belakang.
Ayu tiba-tiba meneteskan air matanya, karena teringat masalalu Ana yang tidak bahagia dan selalu di siksa oleh Bibinya dan saudaranya.
Namun melihat keadaan sekarang ini, Ayu juga merasa bahagia karena akhirnya Ana hidup bahagia dan dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayangi Ana.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Rehan, yang langsung menghapus air mata Ayu yang sudah membasahi pipinya.
"Aku menangis karena teringat masalalu Ana, tapi Aku juga bahagia melihat Ana sudah hidup bahagia" jawab Ayu, yang memang seperti apa yang dirasakan saat ini.
Rehan merangkul bahu Ayu.
Kini semuanya sudah berada ditempat acara, berbagai ritual acara tujuh bulanan dilaksanakan, setelah selesai semua proses ritual tujuh bulanan.
Mereka semua menikmati makan bersama, dengan penuh kebahagiaan.
Semua bingkisan yang Ana buat dengan sahabat-sahabatnya pun sudah dibagikan untuk semua Anak-anak panti.
Rama, Rian, Bagas dan Rehan berserta istri-istri mereka kini sedang mengobrol bersama.
mereka juga mengabadikan momen ini. Siska dan Kevin juga hadir diacara tujuh bulanan Ana.
"Akhirnya, kamu akan menjadi seorang ibu, Na" ucap Kevin.
Ana tersenyum pada Kevin dan Siska.
"Kalian segeralah menyusulku!" ucap Ana, dengan nada begitu lembut.
"Siap Na, Ana Aku dan Siska langsung pamit pulang ya. soalnya masih ada acara" pamit Kevin, karena ada acara kantor yang harus dihadari.
"Siska, apa kamu juga ikut?" tanya Ana.
"Iya aku ikut, Tapi ibu disini menemanimu" jawab Siska, yang kini sudah memeluk Ana.
"Baiklah kamu hati-hati ya" ucap Ana, Siska melepaskan pelukannya dari tubuh Ana.
"Semuanya, kita pamit ya" pamit Siska dan Kevin.
__ADS_1
"Siska, hati-hati dijalan" ucap Ayu, dengan senyum manisnya.
Setelah berpamitan Siska dan Kevin langsung meninggalkan tempat acara, sedangkan Ana kembali berkumpul dengan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Ciee sebentar lagi jadi Papa" goda Rehan.
"Kamu segeralah menyusul, Han" pinta Rama.
"Rehan baru kemarin, Bagas saja yang lebih dulu dari Rehan belum jadi-jadi" ledek Rian.
Semuanya tertawa secara bersamaan.
"Belum saatnya, masih usaha" saut Bagas.
"Sayang, lebih semangat lagi" Alena memberikan semangat pada suaminya.
Tidak sungkan-sungkan Rehan langsung, mencium pipi Alena.
"Akan aku lakukan sayang" jawab Bagas, penuh kemenangan.
"Rehan, bagaimana kalau kita pergi berlibur untuk melakukan bulan madu kita yang kedua" tawar Bagas, sengaja membuat Rama kesal karena Bagas tau bos nya itu selalu gagal jika mau bulan madu.
"Boleh kak, atur saja" jawab Rehan, setuju dengan semangat.
"Kalian mau bikin anak bareng!" timpal Ana.
"Setidaknya kita bisa janjian" saut Alena.
"Iya, nanti kalau sudah lahir Anak kalian, kalian jodohkan" canda Rian, yang kini diringi oleh tawa dari semuanya.
"Aku rasa ide bagus, pasti akan lucu jika kita besanan nanti kak Bagas" saut Rehan, dengan begitu antusias.
Alena menatap Rehan dengan begitu manis.
"Haha, males ah besanan sama kamu, Han" canda Alena, jika mereka beneran besanan makan Rehan dan Bagas bisa berdebat setiap hari karena ulah anak-anaknya nanti.
"Belum jadi Len, sudah ditolak mentah-mentah" celutuk Via, dengan candaannya.
"Vi, bayangin saja kalau Aku sampai besanan dengan Rehan pasti bukan Anak-anak kita yang bikin masalah, tapi Papa mereka yang akan selalu berdebat setiap hari" jawab Alena, yang sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Tapi Alena, bener juga Vi! lihat saja Papa mereka selalu berdebat dikalah ada kesempatan" timpal Ana.
"Sekarang kita kompak jadi bahan olok-olokan mereka kak" Aduh Rehan ke Bagas.
Bagas hanya tertawa mendengar aduhan dari Bagas.
"Biarkan saja, mereka sirik dengan kita" jawab Bagas, dengan tawa kemenangannya.
Acara demi acara sudah diselesai, kini tinggal acara penutupan yaitu memberikan bantuan uang yang sudah mereka kumpulkan.
Mereka langsung menghampiri Bu Yuni, yang kini sedang asik berbincang dengan Mami, Papi dan Bibi Rani. bantuan sudah diberikan setelah selesai memberikan bantuan.
Kini mereka mengambil foto bersama, untuk kenang-kenangan.
Akhirnya acara selesai dan semuanya segera pulang kerumah masing-masing.
__ADS_1
Bersambung