Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
254. Pulang dari RS.


__ADS_3

Tiga hari setelah dirawat dirumah sakit, akhirnya Ana pulang kerumah, semua sahabat-sahabatnya, termasuk Kevin, Siska, dan Bibi Rani juga sudah berada dirumah Rama untuk menyambut kepulangan Ana dan Anak Ana dari Rumah sakit.


Kini semuanya sudah berkumpul diruang tamu.


Suara mobil terdengar dari luar rumah.


"Sepertinya itu suara mobil Rama." kata Rian yang sedang duduk sambil melihat ponselnya.


"Iya, ayo kita keluar!" ajak Alena yang sudah begitu antusias.


Akhirnya mereka semua keluar dari rumah, lalu menuju kedepan rumah.


Ana turun dari mobilnya sambil menggendong Anaknya, Rama menuntun Ana dengan pelan, Mami Diana, Papi Revan, Rehan dan Ayu berada dibelakang Rama.


"Selamat ya Ana, atas kelahiran Anak pertamamu." ucapan selamat untuk Ana dari semuanya dengan begitu kompak.


Ana tersenyum bahagia melihat apa yang ada didepannya saat ini, Bibi Rani langsung menghampiri Ana.


"Terimakasih semuanya." jawab Ana dengan begitu bahagia.


"Nak, boleh Bibi gendong Anakmu." tanya Bibi Rani pada Ana.


Ana tersenyum pada Bibi Rani, lalu memberikan Niah pada Bibi Rani.


"Tentu saja boleh Bi." jawab Ana, yang langsung memberikan Anaknya pada Bibi Rani.


Dengan perasaan yang begitu senang Bibi Rani, langsung menerima Niah dari tangan Ana.


Siska langsung menghampiri Ibunya, karena ingin melihat ponakannya.


"Cantik sekali ya Bu." puji Siska untuk Bayi Ana.


"Iya Sis, sebentar lagi Kamu juga akan jadi seorang Ibu." kata Bibi Rani sambil tersenyum melihat Siska.


"Ayo kita lanjutkan ngobrolnya didalam." pinta Rama.


Akhirnya semuanya masuk kedalam rumah Rama dengan begitu bahagia.


Kini semuanya sudah berada diruang keluarga, mereka semua sudah pada duduk bahkan Rehan, Bagas, dan Rian lebih memilih duduk dilantai karena kursi ruang keluarga sudah penuh.


"Ana nama Anak Kamu siapa?" tanya Bibi Rani yang belum tau namanya Anaknya Ana dan Rama.


"Namanya Raniah Putri Ardiyansyah, Bi." jawab Ana sambil tersenyum pada Bibinya.


"Nama yang bagus, mudah-mudahan kelak Kamu jadi Anak yang berbakti kepada kedua Orangtuamu ya Nak." doa Bibi Rani untuk Anak Ana.


Rama melihat kearah Bibi, lalu tersenyum pada Bibi Rani.


"Terimakasih doanya ya Bi." kata Rama.


"Sama-sama Nak Rama." jawab Bibi.


"Niah tidur, Ana." kata Bibi Rani pada Ana.


"Bawah ke kamar saja Nyonya Rani, ayo." ajak Mami Diana.


Bibi Rani beranjak dari tempat duduknya, yang diikuti oleh Mami Diana dan juga Papi Revan.


"Ana, Kamu disini saja temanin yang lain ya. Mami dan Bibi ajak Niah ke kamar dulu." kata Mami Diana dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Iya Mi, makasih ya." jawab Ana.


Mami, Bibi, dan Papi langsung pergi menuju kamar Bayi.


Sedangkan Ana dan semua sahabatnya asik mengobrol.


"Sayang, Kamu istirahat saja ya dikamar." Rama menyuruh Ana untuk istirahat.


"Tidak sayang, Dirumah sakit kemarin kan sudah berbaring terus selama beberapa hari." jawab Ana.


Bagas dan Rian melihat kearah Rama.


"Rama siap-siap puasa olahraga malam ya." kata Rian dengan begitu jailnya.


"Yang penting sudah jadi satu, nanti tinggal proses yang kedua." jawab Rama sambil tersenyum pada Rian.


"Baru lahir kemarin, udah mikirin yang kedua saja." keluh Bagas, sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku belum jadi." keluh Rehan yang terus gagal membuat adonannya.


"Belum beruntung." timpal Rian.


"Coba lagi." saut Bagas.


"Semangat, usaha terus Han!" Via memberikan mereka semangat untuk Rehan.


"Kita lihat Niah dikamar saja yuk." ajak Alena dengan begitu antusias.


"Ayo, kita kamar Niah saja." saut Ayu.


Akhirnya Ana, Ayu, Via, Siska,dan Alena meninggal suami-suami mereka kedalam kamar Bayi.


"Punyaku belum jadi-jadi ya padahal Aku sering menggarap Ayu tiap malam." keluh Rehan dengan wajah penuh kesedihan.


"Sembarangan Kak Rian, Ayu saja sampai merem melek kok masa loyo." jawab Rehan yang merasa tidak terima.


"Perlu kerja extra berati Han." timpal Kevin yang kini sedang asik memakan cemilan.


"Benar kata Kamu Vin." Rehan setuju dengan Kevin.


Rian dan Bagas saling melempar tawa mereka, sedangkan Rama hanya menggelengkan kepalanya.


Dikamar Bayi.


Mami, Bibi, dan Papi sedang asik menjaga cucu mereka. wajar cucu baru satu jadi dijagain terus.


Tiba-tiba Ana dan yang lainnya datang.


"Kalian, kok pada kesini?" tanya Mami Diana pada semuanya.


"Pingin lihat Baby Niah, Tante." jawab Alena.


"Aku pingin gendong." saut Siska.


"Aku juga mau gendong." rengkek Ayu.


"Ganti-gantian, nanti jatuh." kata Mami Diana.


Kini Baby Niah, digendong oleh Alena namun tiba-tiba menangis.

__ADS_1


"Eeaah..eeahh.." suara tangisan Niah.


"Ana kok nangis." tanya Alena bingung.


Ana hanya tertawa lalu mengambil Niah dari gendongan Alena.


"Mungkin Dia haus, Len." jawab Ana.


Akhirnya Ana duduk sambil memangku Niah lalu menyusuinya, setelah disusui oleh Ana sekarang Niah langsung berhenti menangis.


"Dia langsung diam." kata Siska, yang kini sudah duduk didepan Ana sambil membelai lembut Pipi Niah.


"Sebentar lagi, Kamu juga akan punya Baby ya Sis." kata Ana sambil tersenyum.


"Iya Na, Aku sudah tidak sabar menantikan kehadirannya." jawab Siska.


"Kalau Kita sudah punya Anak semua pasti lebih seru." kata Via dan Alena secara bersamaan.


Kini Ayu hanya terdiam karena memang diantara yang lain Ayu yang belum hamil.


Mami yang melihat Ayu terdiam, langsung menghampiri Ayu lalu memeluknya.


"Tidak apa-apa, nanti kalau sudah waktunya pasti Kamu akan hamil Nak." kata Mami Diana untuk menghilangkan rasa sedih Ayu.


Ayu membalas pelukan dari Mami mertuanya.


"Iya Mi, terimakasih ya Mi. maaf Ayu belum bisa kasih cucu buat Mami." kata Ayu.


"Tidak perlu minta maaf Nak, Mami doakan agar Kamu segara hamil." doa Mami untuk Ayu.


"Aamiin, terimakasih Mi." Ayu mengucapkan terimakasih pada Mami Diana.


"Aamiin, Ayu semangat." Via, Alena,Ana dan Siska mereka memberikan semangat pada Ayu.


"Terimakasih semuanya." jawab Ayu.


Kini Ayu kembali tersenyum bahagia, karena banyak yang memberikan dukungan dan memberikan Doa agar dirinya segera hamil.


Baby Niah sudah diam, kini Ayu meminta izin pada Ana untuk menggendongnya.


"Kakak Ipar, Aku boleh gendong ya biar cepat ketularan." kata Ayu pada Ana.


Ana tersenyum pada Ayu.


"Tentu saja boleh Yu." jawab Ana.


Ana memberikan Niah pada Ayu, kini Niah sudah berada digendongan Ayu.


"Kakak Ipar, Niah boleh panggil Aku Mami saja jangan Tante ya." Ayu meminta izin pada Ana.


"Tentu saja boleh Yu, terus panggil Rehan dengan sebutan Papi ya." jawab Ana.


"Iya benar Mami Ayu dan Papi Rehan." kata Ayu yang diiringi dengan tawa bahagianya.


"Niah, doain Mami Ayu cepat hamil ya." kata Ayu pada Baby Niah.


Semuanya bahagia karena kehadiran Raniah ditengah-tengah mereka semua, kini tinggal Ayu yang sedang menanti kehamilannya.


Sedang Via sedang menanti kelahiran Anaknya yang tinggal beberapa bulan lagi karena memang selisih dua bulan dengan Anak Ana.

__ADS_1


Siska dan Alena juga sedang menanti kelahiran Anak mereka.


Bersambung 🙏


__ADS_2