
Beberapa bulan kemudian, Mami Diana dan Papi Revan sudah pulang dari luar negeri dari beberapa hari yang lalu.
Kini Mami, Papi, dan Ana sedang duduk diruang keluarga sedangkan Rama sudah berangkat kerja dari pagi seperti biasanya.
"Ahh.. perut Ana mules sekali Ma." rintih Ana yang tiba-tiba merasakan perutnya mules.
Mami dan Papi mulai panik satu sama lain.
"Pi, telpon Ambulan! mungkin Ana mau melahirkan." kata Mami dengan nada panik.
Mami terus duduk disamping Ana, sambil terus memegang tangan Ana.
"Tahan ya Nak.!" pinta Mami.
Sedangkan Papi baru saja menelpon ambulan.
"Tunggu Mi, sebentar lagi ambula akan datang." kata Papi.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Ambulan datang dengan cepat petugas ambulan langsung membawa Ana masuk kedalam ambulan, Mami Diana dan Papi Revan langsung ikut naik kedalam Ambulan.
Didalam Ambulan.
Ana terus merintih kesakitan, Mami terus memegang tangan Ana.
"Tahan ya Nak, sebentar lagi sampai dirumah sakit." pinta Mami, dengan raut wajah yang sangat kawatir.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya sampai dirumah sakit.
Skip..
Ana langsung dibawa masuk kedalam ruang persalinan, kali ini Silvia langsung yang menangani Ana pas lahiran. biarpun kehamilan Silvia sudah terhitung besar namun Silvia belum ambil cutti untuk melahirkan karena masih beberapa bulan lagi.
"Ana, terus Ana, bernafas Ana lalu keluarkan pelan-pelan!" Silvia membimbing Ana untuk mengatur nafasnya.
Ana terus mengikuti bimbingan dari Silvia, sampai beberapa jam kemudian akhirnya Anak Ana lahir.
"Ehh ahh...eehh ahh..." Suara tangisan Bayi.
Kini dengan bantuan time medis lainnya, akhirnya Ana melahirkan Ana perempuan yang begitu cantik.
salah satu suster langsung mengurus Anak Ana sedangkan Ana masih pingsan karena merasa sangat lemas.
Diluar ruangan Mami Diana dan Papi Revan, terus mondar mandir di depan ruangan.
"Pi, telpon Rama sekerang!" suruh Mami Diana, dengan perasaan yang begitu kawatir.
Papi Revan langsung mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
Menelpon Rama.
"Hallo Pi." sapa Rama.
"Ram, datanglah kerumah sakit sekarang Istrimu sedang melahirkan." kata Papi, dengan suara yang masih begitu kawatir.
"Apa Pi? baik Pi Rama akan sekarang datang, dirumah sakit mana Pi?" tanya Rama.
"Dirumah sakit milik kakeknya Silvia." jawab Papi.
Rama langsung mematikan saluran teleponnya.
Dikantor Rama.
Kini Rama langsung menuju keruang Rehan, lalu mengabari Rehan bahwa Ana sudah melahirkan.
"Han, Aku mau kerumah sakit istriku melahirkan." kata Rama.
"Aku ikut kak." jawab Rehan.
Akhirnya Rama dan Rehan langsung pergi menuju Kerumah sakit, kali ini Rehan yang menyetir mobilnya menuju Kerumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Rehan dan Rama sampai dirumah sakit.
Rama langsung turun dari mobilnya, lalu segera masuk kedalam rumah sakit sedangkan Rehan masih memarkirkan mobilnya.
Rama terburu-buru menuju masuk kedalam rumah sakit, melihat Mami dan Papinya masih mondar-mandir didepan ruangan akhirnya Rama langsung menghampiri mereka.
"Mi, Pi, bagaimana keadaan Ana?" tanya Rama, dengan raut wajah yang begitu kawatir.
"Dokter belum keluar Ram." jawab Mami.
Tiba-tiba suara pintu terbuka, Rama dan kedua Orangtuanya langsung segera menghampiri Dokter yang keluar.
"Vi, bagaimana keadaan istriku?" tanya Rama, dengan perasaan yang begitu kawatir.
__ADS_1
"Ana baik-baik saja, dan akan segera dibawa keruang perawatan." Silvia menjelaskan pada Rama.
"Lalu bagaimana dengan Bayinya?" tanya Rama lagi.
"Bayinya sehat semuanya normal dan Bayinya perempuannya." Silvia kembali menjelaskan pada Rama dengan senyum manisnya.
Ntah Rama harus senang atau tidak, yang jelas perasaan Rama campur aduk sekarang dan ingin segera bertemu dengan Istri dan Anaknya.
"Sebentar lagi, akan dibawa keruang perawatan tunggu saja ya." kata Silvia.
"Vi, terimakasih ya Nak." Papi Revan dan Mami Diana mengucapkan terimakasih pada Silvia.
"Sama-sama Om, Tante," jawab Silvia dengan begitu senang hati.
Rehan datang menghampiri Rama dan kedua Orangtuanya.
"Rehan." panggil Mami.
Mami langsung menghambur ke pelukan Rehan.
Rehan memeluk Maminya dengan begitu erat.
"Akhirnya Mami menjadi seorang nenek," kata Mami yang penuh dengan rasa syukur.
"Iya Mi, akhirnya Rehan punya ponakan." saut Rehan.
Mami melepaskan pelukannya dari tubuh Rehan.
"Kak Rama selamat ya." Rehan mengucapkan selamat pada Rama karena sudah resmi menjadi Orangtua.
"Iya Han, terimakasih." jawab Rama sambil menyunggingkan perasaan bahagianya.
"Kamu sudah mengabari Ayu?" tanya Mami Diana.
"Belum Mi, nanti Aku kabari." jawab Rehan.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Ana sudah dipindahkan kedalam ruangan perawatan kini Rama dan yang lainnya langsung menemui Ana.
Diruang Rawat.
Rama langsung menghampiri Istrinya yang masih terbaring lemas, karena masih pingsan.
"Ana, Ini Aku sayang." sapa Rama sambil memegang tangan Ana lalu menciumnya.
Suster masuk kedalam ruangan rawat Ana, lalu memberikan Bayi yang sudah dibersihkan terlebih dahulu pada Mami Diana.
"Nyonya, Ini Bayi Nona Ana." kata suster.
Dengan senang hati Mami Diana langsung menerimanya.
"Berikan pada Saya Sus!" kata Mami Diana.
Suster tersebut memberikan Bayinya pada Mami Diana, kini Bayi Ana sudah ada digendong Mami Diana.
Suster langsung pamit keluar dari ruangan rawat Ana.
"Saya permisi ya Nyonya." pamit Suster.
"Iya Sus, terimakasih." kata Mami Diana.
Suster langsung keluar dari ruangan Ana, Mami langsung menghampiri Rama untuk menunjukkan Anaknya padanya.
"Ram, ini Anak Kamu." kata Mami Diana.
Rama melihat kearah Mami, lalu melepaskan tangannya dari tangan Ana.
"Mi, biarkan Rama menggendongnya." pinta Rama dengan senyum bahagianya.
Mami memberikan Bayinya pada Rama, Rama langsung menerimanya dengan begitu senang hati.
"Cantik ya Mi, mirip sekali dengan Ana." kata Rama sambil terus melihat Bayinya yang sedang digendong.
"Iya Ram, Kamu mau kasih nama siapa?" tanya Mami.
Pelan-pelan Ana mulai membuka matanya.
"Rama..." panggil Ana.
Papi dan Rehan menghampiri Rama dan Maminya.
"Sayang, Kamu sudah sadar." kata Rama, yang kini kembali duduk dikursi samping Ana.
Ana tersenyum pada Rama, lalu langsung menanyakan Anaknya.
__ADS_1
"Anak Aku mana?" tanya Ana.
Rama langsung memberikan Anaknya pada Ana, Ana menerima Anaknya kini Anaknya sudah ada dipelukan Ana.
"Akhirnya Aku sudah menjadi seorang Ibu." kata Ana dengan senyum bahagianya.
Mami, Papi, dan Rehan, saling melempar senyum bahagia mereka.
"Iya Nak, selamat ya." kata Mami Diana, lalu mencium kening Ana dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, Kasih nama untuk Anak Kita." pinta Ana, agar Rama memberikan nama pada Putri pertamanya.
"Namanya, Raniah Putri Ardiyansyah." kata Rama sambil tersenyum.
"Nama yang bagus, Niah Anak Mama dan Papa." kata Ana yang penuh rasa bahagia.
"Ana, Papi juga pingin gendong Cucu Papi." kata Papi.
"Niah mau digendong sama Kakek ya." kata Ana yang langsung memberikan Niah pada Papi Revan.
Papi Revan menggendong Niah dengan begitu senang.
"Akhirnya Aku jadi kakek, Han kapan Kamu bikinkan Cucu untuk Papi." tanya Papi pada Rehan.
"Iya Han, Mami juga pingin gendong Cucu dari Kamu dan Ayu." timpal Mami Diana.
"Secepatnya akan launching Mi, Pi, sekarang masih dalam proses pembuatan." jawab Rehan yang diiringi dengan senyum manisnya.
"Kabari Ayu dulu Han." suruh Rama.
Rehan langsung menelpon Ayu.
"Hallo sayang." sapa Rehan.
"Iya ada apa Han?" tanya Ayu.
"Datanglah kerumah sakit Kakak Ipar sudah melahirkan, minta diantar supir ya." kata Rehan.
"Sungguh Baiklah, Aku akan segera datang." kata Ayu dengan begitu girang.
Ayu langsung mematikan saluran teleponnya, lalu langsung bersiap-siap untuk menuju kerumah sakit.
Skip..
Kini Ayu sudah berada dirumah sakit, lalu segera masuk keruangan Ana dirawat.
"Ayu.." sapa Via.
"Vi, Aku mau keruangan Ana." kata Ayu.
"Mari Aku antar, Aku juga mau kesana." jawab Via.
Via dan Ayu langsung menuju keruangan Ana dirawat.
Kini mereka berdua sudah sampai didalam ruangan Ana.
"Kak Ana..." panggil Ayu, yang langsung berlari memeluk Ana yang sedang berbaring ditempat tidur pasien.
Ana membalas pelukan Ayu.
"Selamat ya udah jadi Ibu." kata Ayu.
"Terimakasih ya Yu." jawab Ana.
Ayu melepaskan pelukannya dari Ana, kini Ayu langsung melihat ponakannya yang sedang digendong oleh Papi Mertuanya.
"Pi, biarkan Ayu melihatnya." kata Ayu.
"Iya , kemarilah Nak." jawab Papi.
Ayu menghampiri Papi Revan, Ayu menyentuh Pipi lembut Niah.
"Cantik sekali.." puji Ayu.
Via duduk disamping Ana, lalu mengucapkan selamat pada Ana.
"Selamat ya Na, akhirnya jadi seorang Ibu." Via mengucapkan selamat pada Ana.
"Terimakasih Vi." jawab Ana.
Kini diruangan tersebut hanya ada kebahagiaan, karena telah lahir Cucu pertama dari keluarga Ardiyansyah.
Yang diberikan Nama Raniah Putri Ardiyansyah, Anak dari Rama dan Ana.
__ADS_1
Bersambung 🙏