
Setelah beberapa hari, Valin dan Ralin sama-sama pulang dari rumah dengan jago-jagoan kecil mereka.
Ana dan Rama sangat bahagia menyambut kedatangan cucu baru keluarga Ardiyansyah. Sayangnya Mami Diana dan Papi Revan tidak bisa datang, karena mereka sedang sama-sama kurang sehat.
"Valin, berikan Gavin sama mama nak!" Pinta Ana dengan begitu antusias.
Valin memberikan Gavin ke pangkuan Ana, betapa bahagianya ana akhirnya dia punya cucu lagi.
"Lihat pa, Gavin mirip dengan siapa?" Tanya Ana, Rama melihat wajah tampan cucunya dia memperhatikan dengan lekat.
"Lebih mirip Kevin ma, hidungnya saja mirip dengan Kevin." Jawab Rama, dia juga sangat bahagia karena kelahiran cucu barunya.
Kevin melihat kedua orang tuanya begitu bahagia, seketika hati Kevin teringat pada kedua orang tuanya yang sudah tidak ada di dunia ini. Matanya berkaca-kaca seandainya orang tuanya masih ada pasti mereka akan bahagia melihat Kevin sudah menikah dan sekarang sudah punya anak, tapi itu tidak mungkin karena Siska dan Kevin sudah pergi untuk selamanya.
Niah dan David langsung pergi ke rumah orang tuanya, untuk melihat keponakan barunya. Mereka juga tidak kalah bahagia akhirnya keluarga Ardiyansyah punya jagoan juga.
"Mama, papa." Panggil Niah, karena pintunya terbuka lebar jadi Niah dan David langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Pada kemana? Kok sepi?" Batin Niah dalam hatinya.
Kevin, Valin dan kedua orang tuanya sedang duduk di di halaman belakang, jadi biarpun ada orang masuk pasti tidak akan ke dengaran.
Melihat wajah Kevin tampak lesu, bahkan sorot matanya terlihat sedih membuat Ana dan Rama sama-sama bingung.
"Vin, kamu kenapa nak?" Tanya Ana dengan penuh perhatian.
"Ma,pa, andai saja orang tua Kevin masih ada pasti mereka akan bahagia berada disini, melihat aku sudah menikah dan punya anak." Jawab Kevin, matanya tampak berkaca-kaca bahkan buliran air mata membasahi pipinya.
Valin agak terkejut, dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh suaminya?
"Maksudnya Kevin apa? Orang tua Kevin masih ada, bukankah orang tua Kevin adalah Mama Ana dan Papa Rama?" Batin Valin dalam hatinya.
"Nak, yakinlah pasti kedua orang tuamu bahagia di surga sana. Dia melihat kamu yang tubuh tampan, istri yang cantik dan anak yang tampan. Percayalah nak mama dan papamu bahagia di surga sana," tutur Ana dengan lembut, membuat Kevin agak sedikit lega.
"Mama, papa, biarpun Kevin tidak melihat seperti apa wajah kalian? Tapi percayalah Kevin sangat menyayangi kalian." Batin Kevin dalam hatinya.
__ADS_1
Niah dan David yang ternyata dari tadi mendengar percakapan mereka, sungguh Niah tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
"Apa, itu tandanya Kevin bukan adik kandungku?" Tanya Niah pada hatinya.
"Mama, papa," Panggil Niah tiba-tiba, wajah Ana tampak terkejut.
"Niah, kapan kamu datang?" Tanya Ana dia agak sedikit gugup.
"Apa, Niah mendengar semuanya? Tapi mungkin ini saatnya aku jujur pada Niah dan juga Valin. Valin juga harus tahu, aku tidak bisa terus-terusan sembunyikan semua ini." Batin Ana dalam hatinya.
"Mama, jelaskan padaku! Apa Kevin bukan adik kandungku?" Tanya Niah dengan lembut, dia sudah duduk di samping sang mama.
David juga ikut duduk sambil menjaga anak-anak mereka, yang anteng di dalam dorongan bayi.
"Mama, katakan saja pada Kak Niah yang sebenarnya!" Pinta Kevin, dia juga tidak mau menutup-nutupi semuanya.
"Iya nak, Valin juga harus tahu nak. Pasti dari tadi Valin juga penasaran dengan apa yang kita bicarakan." Jawab Ana sambil melihat Kevin.
Ana menceritakan semuanya pada Valin, Niah siapa yang sebenarnya Kevin? Ana bercerita panjang lebar kalau Kevin adalah anak dari saudaranya yang sudah meninggal dunia. Dan Ana dan Rama yang merawat Kevin selama ini dengan penuh kasih sayang.
"Vin, biarpun kamu bukan adik kandung Kakak. Tapi kakak sayang sama Kevin." Kata Niah disela-sela pelukannya.
"Terimakasih kak, Kevin juga sayang sama Kakak." Jawab Kevin, dia memeluk kakaknya dan istrinya dengan erat.
David hanya bisa tersenyum bahagia, melihat Niah bisa menerima dengan baik biarpun ternyata, Kevin itu bukan adik kandungnya sendiri.
"Istriku, aku mencintaimu." Batin David dalam hatinya.
Akhirnya rahasia yang selama ini Ana dan Rama tutupin, hari ini semuanya tahu kalau Kevin adalah bukan anak kandungnya dan bersyukurnya Niah tetap menyayangi Kevin sebagai adiknya sendiri.
Ana dan Rama sangat bersyukur, mempunyai anak-anak yang baik dan saling menyayangi satu sama lain.
Valin dan Kenan
Mereka sedang menikmati menjadi orang tua baru, Ayu dan Rehan juga tampak bahagia melihat kekompakan anak dan menantunya dalam mengurus anak mereka.
__ADS_1
Iya biarpun kadang mereka suka berdebat dan tentunya Kenan yang sering mengalah pada istrinya.
"Ken, kamu gantikan pampres Raka dulu! Aku mau ke dapur ambil air putih." Kata Ralin, dia berlalu pergi menuju ke dapur.
Kenan yang sedang berbaring, dia bergegas bangun dan langsung melaksanakan apa yang disuruh oleh istri tercintanya.
"Dasar, mamamu itu ya nak. Bukannya gantiin pampres kamu dulu, ini malah mikirin air putih." Kenan ngedumel sambil menganti pampres Raka.
Untuk Kenan itu sudah banyak belajar dari internet, jadi dia paham bagaimana cara mengurus anaknya.
Vina dan Vano.
Vano sudah tidak sabar menunggu kelahiran anaknya pertamanya, apalagi anak Kevin dan Kenan sudah lahir beberapa hari yang lalu.
Vina yang sedang duduk di sofa, tiba-tiba Vano mengelus-elus perutnya yang sudah besar.
"Nak, kapan kamu lahir? Sayang, apa perlu kita menyiram benih kita lagi?" Tanya Vano.
Vina tidak habis pikir, bisa-bisanya suaminya memikirkan untuk menyiram benihnya lagi. Padahal perut Vina sudah besar dan buat tidur juga sudah susaj, bayangkan saja jika Vano menyiram benihnya pasti Vina akan kuwalahan mengimbangi permainan sang suami.
"Tunggu pa sebentar lagi, tidak usah di siram lagi! Aku tidak kuat jika harus melayanimu di atas ranjang disaat perutku sebesar ini." Jawab Vina, sambil mengusap rambut sang Suami.
Dalam hati Vano, padahalkan Vina cukup diam saja. Biarkan saja aku yang yang bermain di atasnya, dia cukup nikmati permainanku saja! Tapi sudahlah daripada Vina ngamuk lebih baik aku menurut saja.
"Baiklah istriku." Jawab Vano tangannya terus sibuk mengelus-elus perut istrinya.
"Nak, lihat papamu dia sudah tidak sabar menunggu kelahiranmu." Batin Vina dalam hatinya.
"Sayang, setelah anak kita lahir kita buat lagi ya!" Ajak Vano, membuat Vina tertawa ngakak sejadi-jadinya.
Dasar Vano satu saja belum brojol, ini sudah minta nambah lagi.
BERSAMBUNG🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1