
Malam menujukan pukul satu malam, dan Vano masih terjaga. Ia sedang memikirkan pernikahannya yang tinggal tiga hari lagi.
"Tidak terasa, sebentar lagi aku akan punya istri dan pastinya aku tidur tidak sendirian lagi." Kata Vano, ia tersenyum sambil melihat foto-foto dirinya bersama Vina.
"Vina, aku akan mencintaimu dan Niah aku sudah bisa melupakanmu. Aku sudah sudah punya Vina yang akan menemani hidupku," Kata Vano, ia bersyukur karena akhirnya ia bisa melupakan Niah.
Vano juga sudah menyiapkan semuanya untuk pernikahannya, jadi ia tenang biarpun Orang tuanya sedang pergi berlibur tapi kalau untuk pernikahannya sudah siap semua itu tidak masalah untuk Vano.
"Mama, papa, mereka paling besok sore pulang, kalian akan segera punya menantu." Batin Vano dalam hati.
Vano membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, lalu ia memejamkan matanya berharap malam ini ia bermimpi bertemu dengan Vina.
Vina.
Vina masih terjaga, ia sedang memikirkan kalau sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang istri dari Vano Hardiyanto.
"Akankah aku bisa menjadi istri yang baik untuk Vano?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Vina mungkin ragu, ia kadang tidak yakin apakah dirinya akan bisa menjadi istri yang baik untuk Vano. Tapi Vina akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Vano.
"Vano, aku tidak sabar menunggu tiga hari lagi. Akhirnya kita akan sah." Vina senyam-senyum sendiri, ia membayangkan saat malam pertama nanti.
"Malam pertama, kata teman-temanku itu akan terasa sakit. Aduh aku jadi ngilu, pasti benda tumpul milik Vano itu besar." Vina cengengesan dalam hatinya, pikirannya mulai mesum.
Karena tidak terlalu jauh memikirkan semuanya, dengan cepat Vina membuang pikiran mesumnya jauh-jauh. Dan ia langsung menuju ke atas ranjang tempat tidur untuk segera tidur.
"Aduh, pikiran aku semakin kacau, bahkan aku memikirkan milik Vano yang begitu tegang menusuk-nusuk lubang goaku." Batin Vina mulai meronta-ronta.
Dengan hayalannya yang begitu mesum, Vina memilih untuk tidur agar dan berharap bermimpi bertemu dengan Vano.
Kevin dan Valin.
Jam menunjukkan pukul dua pagi, Valin terbangun dari tidurnya. Ia tiba-tiba mendorong Kevin agar lepas dari pelukan sang suami.
Kevin yang merasakan pergerakan istrinya, ia juga ikut terbangun perlahan-lahan ia membuka matanya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Kevin, yang melihat Valin sudah duduk dan memangku kedua tangannya sambil memanyunkan bibir mungilnya.
__ADS_1
Kevin merubah posisinya menjadi duduk, dan Valin tiba-tiba memeluknya dengan erat seolah-olah ia tidak mau melepaskan Kevin dari pelukannya.
"Kamu, kenapa sayang?" Tanya Kevin, ia merasa kawatir karena tiba-tiba Valin memeluknya dengan erat.
"Aku mimpi buruk, aku mimpi kamu punya wanita lain dan aku tidak rela kalau itu sampai terjadi." Valin menangis dipelukan Kevin, membuat Kevin terkekeh ia mengusap-usap rambut panjang Valin berusaha menenangkan sang istri.
"Itu hanya mimpi sayang. Aku tidak pernah punya wanita lain ataupun punya wanita lain dibelakangmu." Kevin terus menyakinkan Valin.
Biarpun Kevin dulu terkenal playboy dan suka sekali memberikan tumpangan pada para gadis-gadis cantik dimobilnya. Tapi setelah menikah dengan Valin, Kevin tidak pernah melakukan hal itu lagi. Dan dihatinya hanya adalah Valin seorang.
"Masih malam, kita tidur lagi ya!" Ajak Kevin, ia masih merasa mengantuk. Tapi Valin menggelengkan kepalanya, dan Kevin memegang kedua pipinya.
"Sayang, itu hanya mimpi dan percayalah aku akan selalu setia," Kevin mencium kening Valin dengan penuh cinta.
Valin menatap Kevin penuh arti, lalu ia tersenyum pada suaminya.
"Kenapa kamu tersenyum, apa kamu bahagia?" Tanya Kevin penuh selidik, ia merasa bingung saja pada istrinya tadi menangis dan sekarang tersenyum bahagia.
"Dasar, istriku labil." Batin Kevin dalam hatinya.
"Sayang, ayo kita punya anak!" Valin dusel-dusel manja, membuat Kevin tersenyum geli.
"Serius, lagian kitakan sudah menikah. Aku sudah siap sayang punya anak," Valin mulai merayu suaminya dengan genit.
Kevin senyam-senyum, akhirnya Valin sudah siap untuk punya anak.
"Baiklah sayang, mari kita buat adonan kita biar cepat jadi." Kevin tertawa dalam hatinya.
"Cup...." Kevin mulai mencium bibir mungil Valin, tangannya mulai menyusup ke dalam gunung kembar Valin, membuat Valin merasa keenakan karena merasakan sentuhan demi sentuhan dari suaminya.
Kini Kevin merebahkan tubuh Valin dan ia langsung menindihnya, pergulatan demi pergulatan terjadi, desahan demi desahan juga keluar dari mulut mereka.
"Ahhh, sayang kamu siap ya aku mau mengajak anu kamu bertempur dengan milikku!" Kevin berusaha memasukkan miliknya kedalam milik Valin, ia menusuk-nusuknya hingga miliknya masuk dengan sempurna.
Kevin mulai menggoyangkan pinggulnya dengan pelan, mendengar Valin mendesah penuh kenikmatan, Kevin semakin mempercepat goyangannya. Kini keduanya sama-sama mendesah dan erangan juga keluar dari kedua mulut mereka.
Setelah beberapa lama, akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncaknya. Setelah puas Kevin menjatuhkan tubuhnya disamping Valin, kini ia terbaring lelah, Valin juga sama ia sangat kelelahan.
__ADS_1
"Terimakasih istriku." Kata Kevin, ia mencium kening Valin dengan hangat.
Beberapa jam berlalu, dan Kevin memulai kembali aksinya. Malam ini Kevin dan Valin memadu cinta mereka berulang kali.
Biarpun Kevin dapat jatahnya harus menunggu dengan sabar, dan akhirnya malam ini Kevin mendapat jatah berulang kali dari istrinya.
Niah dan David.
Niah dan David sudah sama-sama bangun, tapi hari ini Niah sedang manja ia tidak mau lepas dari pelukan sang suami.
"Papa, aku pingin dielus-elus." Kata Niah dengan manja.
"Anak papa, iya papa ini sudah elus-elus kalian nak. Sehat-sehat ya nak di dalam perut mama." David terus mengelus-elus perut Niah yang sudah terlihat besar.
David bahagia, apalagi ia dikaruniai anak kembar. Pasti nanti akan lucu dan rumahnya akan rame.
"Sayang, ajak aku jalan-jalan dong aku jenuh dirumah terus. Kalau tidak besok pagi jam 9 kita ke perpustakaan ya!" Rengkek Niah dengan manja.
Setiap hari dirumah membuat Niah sangat jenuh, bahkan kadang Niah juga merasa bosan. Apalagi semenjak dirinya hamil David melarang ini dan itu, alhasil Niah hanya duduk manis saja sambil menunggu David pulang kerja.
"Baiklah, aku akan mengajakmu jalan-jalan." Jawab David dengan senyum manisnya.
Niah tersenyum, ia bahagia karena suaminya selalu menuruti apa yang ia mau.
"Kamu tidak mau meminta sesuatu dariku, sayang?" Tanya David tiba-tiba.
"Sesuatu apa?" Niah balik bertanya, karena ia merasa bingung.
"Sesuatu ya seperti hadiah atau liburan berdua, kamu tidak menginginkan itu?" Jawab David, ia terus mengelus-elus perut Niah dengan lembut.
"Bagaimana, kalau kita pergi bulan madu kedua?" Cetus Niah tiba-tiba.
"Bulan madu kedua? Akan aku pikirkan, apalagi saat ini kamu sedang hamil besar." Jawab David, ia membawa Niah masuk ke dalam pelukannya.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1
Maaf ya baru sempat up 🙏