
"Kamu tidak apa-apa istriku?" tanya David.
"Suamiku, jangan dekat-dekat denganku!" pinta Niah yang tiba-tiba tidak mau dekat-dekat dengan suaminya.
"Tapi kenapa?" Tanya David dengan tatapan bingung.
"Semalam minta dipeluk, sekarang malah tidak mau dekat-dekat denganku." Gerutu David yang ternyata di dengar oleh istrinya.
"Bukan aku yang mau, tapi anak kamu yang tidak mau dekat-dekat dengan papanya." Jelas Niah agar David mau mengerti.
Dalam hati David, nak kenapa sih kamu itu mintanya biar mama minta manja-manjaan terus sama papa.
Dengan wajah lesu, David meninggalkan istrinya yang masih berada di dalam kamar mandi.
"Aku sekalian mandi." Kata Niah dari dalam kamar mandi.
"Iya mandilah yang bersih," Jawab David yang sudah duduk di tepi ranjang tempat tidurnya.
Setelah beberapa lama Niah keluar dari dalam kamar mandi, David hanya diam saja dan terus memperhatikan sang istri.
"Istriku kamu membuatku adik kecilku terusik." Batin David dalam hatinya.
Siapa yang tidak terusik melihat Niah hanya terbalut dengan handuk saja.
"Suamiku, kenapa kamu bengong?" tanya Niah dengan tatapan bingung.
Niah tidak paham kalau sang suami sedang memperhatikan dirinya yang terlihat begitu sexy.
"Suamiku?" panggil Niah dengan nada lembut.
"Ehh iya sayang, ada apa?" tanya David gugup, membuat Niah cengengesan tidak jelas.
"Gantilah pakaian, ayo ikut denganku aku tiba-tiba pingin makan rujak." kata David sambil melihat Niah.
"Ini masih pagi, tukang rujak belum buka sebaiknya kamu mandi dulu gih." Niah tersenyum pada suaminya.
"Ada-ada saja David ini, pagi-pagi minta makan rujak." Batin Niah dalam hatinya.
Niah berganti pakaian, sedangkan David langsung pergi menuju ke kamar mandi untuk segera mandi. Karena jika tidak segera mandi pasti istrinya akan sangat bawel.
.
.
Pagi yang cerah ini Ana dan Rama sudah sama-sama duduk diruang keluarga, kali ini mereka menunggu Kevin keluar dari kamarnya.
"Kok tumben Kevin belum bangun?" tanya Rama pada Ana.
"Mungkin karena libur kali pa, jadi Kevin bangunnya siang." Jawab Ana dengan nada lembut.
Rama dan Ana sama-sama sudah tidak sabar, mendengar jawaban dari Valin apakah dia mau menikah dengan Kevin atau tidak.
.
.
10 menit telah berlalu, akhirnya Kevin keluar dari kamarnya dengan setelan kaos oblong dan celana pendek.
"Mama, papa..." sapa Kevin dengan sopan.
__ADS_1
"Akhirnya anak mama bangun juga." Ana tersenyum dan langsung menarik Kevin agar duduk disebelahnya.
"Ada apa ma?" tanya Kevin penasaran, karena tidak biasanya mamanya begitu antusias saat melihat dirinya keluar dari kamarnya.
"Vin katakan pada kita bagaimana jawaban Valin, apa dia mau menikah denganmu?" tanya Rama tanpa bertele-tele.
"Valin mau pa menikah dengan Kevin," Jawab Kevin tentu saja dengan senyum manisnya.
Kevin duduk disebelah sang mama, kini dirinya merebahkan kepalanya di bahu mamanya dengan manja.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya Rama pada Kevin.
"Barengin sama pernikahan Ralin sama Kenan saja pa." Cetus Ana dengan raut wajah bahagia.
"Aduh mama, kenapa harus bareng dengan bocah bawel itu sih." Protes Kevin tidak terima dengan ide sang mama.
"Biar rame nak, kita gelar pernikahan kalian barengan saja." Jawab Ana.
"Baiklah ma, Kevin ikutin mama dan papa saja." Jawab Kevin pasrah.
.
.
David dan Niah sudah rapi dan kini mereka berjalan kaki menuju depan komplek, untuk mencari tukang rujak.
"Niah haruskah jalan kaki?" tanya David.
"Iya, kan sekalian olahraga sayang." Jawab Niah yang terus melangkah kakinya.
Dalam hati David, olahraga yang jam 9 pagi hanya Niah saja yang melakukan olahraga jam 9 pagi. Mana panas sekali lagi kalau dia sedang tidak hamil, pasti aku akan mengomelinya.
"Istriku jangan berlari nanti jatuh." Larang David, tapi Niah tetap berlari menuju ke tukang rujak.
.
.
Sesampainya ditukang rujak David hanya memesan satu porsi rujak, membuat Niah menatapnya dengan tatapan bingung.
"Hanya satu porsi?" tanya Niah kesal.
"Satu sayang, kan aku yang pingin makan rujak." Jawab David dengan senyuman.
Dalam hati Niah, apa-apaan suamiku ini? Aku yang hamil aturan aku yang makan rujak eh ini malah dia yang makan rujak dan hanya pesan 1 porsi rujak lagi.
"Lalu aku?" tanya Niah dengan polos.
"Lalu kamu, ya cukup lihatin suamimu makan saja sayang!" David senyam-senyum pada Niah, sungguh Niah merasa geram sekali pada suaminya.
Setelah pesanan rujak sudah jadi, David menikmati rujak itu begitu nikmat dan Niah hanya melihat saja.
"Papa jahat ya nak, papa malah yang makan rujak mama suruh lihatin doang." Batin Niah dalam hatinya, Niah mengelus-elus perutnya.
David yang sedang menikmati rujak pesannya, melirik ke sang istri lalu tersenyum.
"Makanlah!" David menyuapi rujak ke mulut Niah, membuat Niah yang tadinya manyun langsung tersenyum senang.
"Sudah jangan manyun lagi! Ayo kita makan rujak berdua nanti kalau kurang aku beliin lagi." Kata David sambil tersenyum.
__ADS_1
David dan Niah menikmati rujak berdua. Setelah selesai makan rujak David mengajak Niah pulang kerumah.
.
.
Sesampainya dirumah, Niah langsung duduk di teras depan rumahnya sambil meselonjorkan kakinya.
"Suamiku, kakiku pegal sekali." Niah memijat kakinya sendiri.
"Lagian, kamu dibilang jangan jalan kaki ini malah minta jalan kaki jadi pegelkan kakinya." David duduk lalu memijat kaki sang istri.
David terus memijat kaki istrinya, sambil mengobrol hingga tidak terasa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang.
David mengajak Niah masuk ke dalam rumah, Kini mereka duduk diruang tengah sambil menonton televisi.
"Sayang..." panggil David dengan manja.
"Iya kenapa?" Niah menoleh kearah David.
"Tiba-tiba aku pingin makan ayam pedas buatan kamu." David menatap Niah dengan tatapan begitu manja.
Niah tertawa kali ini ia sungguh dibuat bingung oleh suaminya sendiri.
"Perasaan aku yang hamil tapi dari tadi kamu yang pingin rujak, sekarang kamu pingin makan ayam pedas." Niah geleng-geleng kepala karena tidak percaya.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba aku pingin gitu saja." Jawab David dengan tatapan lembut.
"Baiklah, aku buatkan." Niah beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi menuju ke dapur.
David juga langsung mengekor dibelakang Niah, sesampainya di dapur Niah menyiapkan semua bahan-bahan yang akan dimasaknya.
Niah memulai memasak, sedangkan David hanya memperhatikan istrinya yang sedang memasak ayam pedas yang ia inginkan.
"Ternyata istriku bisa masak." Kata David yang memperhatikan Niah sedang memasak.
"Tentu saja, namanya juga wanita." Jawab Niah agak sedikit kesal.
.
.
Setelah beberapa lama, akhirnya ayam pedas yang David inginkan sudah jadi.
Niah membawa ayam pedas yang sudah ditata dipiring, ke meja makan.
"Makanlah!" Kata Niah dengan lembut.
David tersenyum, lalu memulai memakan ayam pedas buatan sang istri sedangkan Niah hanya melihat sang suami menikmati ayam pedas buatannya.
"Aku yang hamil, tapi suamiku yang pingin makan ini dan itu." Batin Niah dalam hatinya.
Tapi Niah senang, setidaknya suaminya ikut merasakan masa ngidamnya.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Baca juga yuk karya teman Author 🙏
__ADS_1