
Ayu begitu senang menggendong Niah, tiba-tiba Rehan masuk kedalam kamar Bayi.
Rehan berdiri diambang pintu, kini Rehan melihat Istrinya yang sedang menggendong Baby Niah.
Rehan terdiam, sambil melipat kedua tangannya ke dada.
"Sabar ya sayang, mudah-mudahan Kamu secepatnya hamil." doa Rehan dalam hati.
Ana yang melihat Rehan berdiri diambang pintu, langsung menyuruh Rehan untuk masuk kedalam.
"Rehan, kenapa berdiri saja sini masuk!" pinta Ana, sambil menyunggingkan senyum pada Rehan.
Rehan membalas senyum Ana, lalu langsung masuk kedalam kamar Baby Niah.
"Iya Kakak Ipar, Aku masuk." jawab Rehan.
Ayu melihat kearah Rehan dengan wajah yang begitu bahagia.
"Sini sayang, lihat Niah begitu lucu." kata Ayu, sambil mencium pipi Niah.
Rehan duduk disamping Ayu, lalu membelai lembut pipi Baby Niah dengan tangannya.
"Mudah-mudahan Kamu juga segara punya Anak ya Han." doa Mami untuk Rehan.
"Sayang, Niah panggil Kamu Papi ya terus panggil Aku Mami." kata Ayu pada Rehan.
"Memangnya boleh Kak?" tanya Rehan pada Ana.
"Tentu saja boleh, Han." jawab Ana.
Rehan tersenyum bahagia, lalu meminta Baby Niah dari gendongan istrinya.
"Ayu, biarkan Aku menggendongnya." pinta Rehan.
Ayu merasa ragu, takut Rehan tidak bisa menggendong Bayi.
"Memangnya Kamu bisa?" tanya Ayu.
"Bisa sayang, Aku mau belajar dari sekarang." jawab Rehan penuh semangat.
Akhirnya Ayu memberikan Niah pada Rehan, kini Niah sudah berada digendongan Rehan.
Alena dan Via saling melihat kearah Ayu dan Rehan.
"Sudah cocok." kata Via.
"Calon papa muda." timpal Alena.
Siska yang juga ikut menimpali pembicaraan mereka.
"Ayu, Rehan, tingkatkan kerja keras kalian." timpal Siska, sambil mengacungkan jempolnya.
"Jangan diragukan lagi Sis, Aku sudah kerja keras namun belum gool." jawab Ayu sambil tersenyum malu-malu.
"Udah kaya bola aja Yu." sahut Ana.
"Haha ini mah lebih dari bola Kak." jawab Rehan.
"Ayu." panggil Mami Diana.
"Iya Mi," sahut Ayu.
"Lakukan progam hamil saja Nak, jika Kamu mau." nasehat dari Mami Diana.
"Iya Mi, nanti Aku bicarakan dulu sama Rehan ya Mi." jawab Ayu.
Via melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 6 sore, akhirnya Via pamit pulang pada Ana.
"Tante, Om, Bibi, Ana, sudah jam 6 sore Aku pamit pulang ya. oh iya kado buat Niah Aku taruh diruang tamu tadi." kata Silvia.
"Iya Nak Via." jawab Mami, Bibi dan Papi Revan.
"Rumah dekat ini, kenapa buru-buru pulang Vi?" tanya Ana.
"Sudah sore ternyata, tidak sadar sangking asiknya ngobrol." jawab Via.
"Alena juga pamit pulang ya semuanya, kado buat Baby Niah Aku taruh dimeja tamu Na." kata Alena.
__ADS_1
"Baik-baiklah, terimakasih ya." jawab Ana.
Akhirnya Via, Alena, Bagas dan Rian pulang lebih dulu.
Skip..
jam sudah menunjukkan menujukan pukul 8 malam, kini semuanya sudah berada diruang makan untuk makan malam.
Dimeja makan.
"Ana, Aku dan Kevin pamit pulang ya." kata Siska sambil melihat Ana.
"Kalian tidak menginap saja?" tanya Ana.
"Besok Aku ada metting pagi-pagi sekali Na." sahut Kevin, yang sedang menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Oh iya, Kado buat Baby Niah tadi Aku taruh diruang tamu ya." kata Siska.
"Iya terimakasih ya Sis." jawab Ana.
"Oh iya Sis Ibu ikut pulang denganmu ya." kata Bibi Rani.
"Iya Bu." jawab Siska.
"Apa Bibi tidak menginap saja?" tanya Ana.
"Tidak Nak, kan dekat ini jadi nanti Bibi datang lagi." jawab Bibi Rani.
"Iya Bibi," jawab Ana.
"Nyonya Diana, Pak Revan, Nak Ayu, Nak Rehan, Nak Rama, Bibi pamit pulang dulu ya." Bibi Rani berpamitan pada semuanya.
Mami Diana memeluk Bibi Rani.
"Iya Nyonya Rani, terimakasih ya." jawab Mami Diana mewakili semuanya.
Setelah selesai makan, Siska, Kevin, dan Bibi langsung pulang.
Rama dan Rehan mengantarkan Bibi kedepan rumahnya, lalu setelah mobil yang dikendarai Kevin sudah tidak terlihat Rama dan Rehan kembali masuk kedalam rumah.
Dikamar Rama dan Ana.
Rama tiduran disamping Putri kecilnya, Ana juga tidur disamping Putrinya. kini Niah berada ditengah-tengah mereka.
"Katakan lebih mirip siapa sayang?" tanya Rama.
"Mirip denganku, Aku kan Ibunya." jawab Ana yang terus memandangi Niah dengan sorot mata yang begitu bahagia.
Rama membelai-belain pipi Niah dengan tangannya.
"Sayang, kapan rencananya bikinin Adik untuk Niah." tanya Rama, dengan tatapan mata yang begitu jail.
Ana terdiam bingung sambil berpikir.
"Anak aja baru lahir kemarin udah nanyain kapan bikinin Adik." gumam Ana.
"Nanti tunggu Niah agak gedean baru kita bikin satu lagi." jawab Ana, sambil mencubit hidung Rama.
Rama tersenyum pada Ana.
"Sayang, Aku sudah menahannya begitu lama bahkan sekarang Aku juga harus puasa untuk menahan hasratku." keluh Rama dengan nada sedih.
Ana hanya tertawa mendengar keluhan dari Suaminya.
"Siapa yang dulu ngotot pingin punya Anak?" tanya Ana, sambil tersenyum.
"Aku dulu." jawab Rama.
"Ya sudah, sekarang Kamu tidak boleh mengeluh." omel Ana.
Tiba-tiba Niah menangis.
"Eeaah eeaah.." suara tangisan Niah.
Ana bangun untuk mengecek pampers Niah, namun Rama menahannya.
"Biar Aku saja, kamu cukup berbaring saja." kata Rama, yang langsung bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Memang Kamu bisa?" tanya Ana.
"Aku bisa, Aku sudah belajar banyak dari internet." jawab Rama.
Rama pergi mengambil pampres dan semua kebutuhan yang akan digunakan, kini Rama mengecek pamper Niah ternyata Niah buang air kecil makanya nangis.
Rama segera melepaskan pampresnya, terus membersihkan bagian sensitif Anaknya lalu langsung menganti pampresnya.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya Niah sudah berganti pampers.
"Itu lihat Aku bisakan." kata Rama dengan penuh bangga.
"Papamu memang hebat Nak." puji Ana, yang langsung mencium pipi Niah.
"Aku yang hebat, kenapa Niah yang dicium oleh Ana." gumam Rama.
"Sayang, Kamu tidak adil." kata Rama dengan nada bete.
"Tidak adil apanya?" tanya Ana.
"Aku yang hebat, tapi Niah yang dicium olehmu." protes Rama.
Ana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Suaminya yang seperti Anak Kecil.
"Apa sekarang Kamu sedang cemburu dengan Anakmu." tanya Ana.
"Aku juga mau dicium." rengkek Rama.
Akhirnya Ana beranjak dari tempat tidurnya, lalu memegang kedua pipi Rama, terus Ana mencium bibir Rama.
Rama dan Ana kini berciuman didepan Anaknya yang sedang tidur.
Ana melepaskan ciumannya, lalu tersenyum pada Rama.
"Apa sekarang Aku sudah adil?" tanya Ana.
"Sayang, Kamu membuatku punyaku tegang." keluh Rama sambil memegang miliknya.
Ana hanya tersenyum mendengar keluhan Rama.
"Kamu tadi yang merengek minta dicium." Ana menyalahkan Rama.
Akhirnya Rama pergi menuju kedalam kamar mandi, ntah apa yang Rama lakukan didalam kamar mandi hanya Rama yang tahu.
Dikamar Rehan dan Ayu.
Ayu dan Rehan belum tidur, kini keduanya sedang saling mengobrol.
"Sayang, Kamu tidak apa-apakan Aku belum hamil." tanya Ayu, yang kini sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Rehan.
"Tidak apa-apa, nanti Kita usaha lagi ya." jawab Rehan.
"Terimakasih, maaf Aku belum bisa kasih keturunan buat Kamu." Ayu merasa bersalah.
Rehan mengangkat wajah Ayu, lalu menghadapkan ke wajahnya.
"Hush Kamu tidak boleh bicara seperti itu." kata Rehan yang langsung memeluk Ayu.
"Malam ini Kamu istirahatlah, sudah jangan pikirkan apa-apa lagi." pinta Rehan.
Rehan merebahkan tubuhnya, lalu membiarkan Ayu berbaring menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
"Kamu tidak mau melakukannya malam ini?" Ayu bertanya pada Rehan.
"Melakukan apa?" tanya Rehan.
"Membuat adonan." kata Ayu tanpa bertele-tele.
Rehan membelai pipi Ayu, lalu menjawab pertanyaan Ayu.
"Besok saja sayang, Aku lelah sekali hari ini." jawab Rehan.
Ayu tahu Suaminya sangat kelelahan, karena mereka berdua ikut menjaga Ana dirumah sakit kemarin.
akhirnya Ayu tertidur begitu saja, Rehan juga tertidur sangat pulas.
Bersambung 🙏
__ADS_1