Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
230. Menagih janji.


__ADS_3

Rehan dan Ayu.


Keesokan harinya.


Sesuai janji Ayu, Akhirnya Rehan langsung menangihnya janjinya waktu habis bangun tidur.


Rehan membelai-belai wajah Ayu dengan tangannya, kini Rehan menciumi wajah Ayu dengan bibirnya.


Ayu yang merasa sangat kegelian karena ulah suaminya, Akhirnya terbangun dari tidurnya.


Ayu membuka matanya.


"Rehan, apa yang kamu lakukan?" tanya Ayu dengan nada begitu manja.


Rehan kembali menciumi wajah istrinya.


"Apalagi, kalau bukan untuk menagih janjimu tadi malam" Rehan mulai menggoda Ayu.


Ayu tersenyum pada Rehan.


"Apa sebaiknya kita tidak mandi dulu?" tanya Ayu, dengan nada memohon.


"Tidak, mandinya nanti saja kalau udah selesai" jawab Rehan, yang langsung ******* bibir Ayu agar tidak terus bicara.


"Emmhh Rehan" desah Ayu, yang nafasnya mulai tersengal-sengal.


Rehan melepaskan ciumannya dari bibir Ayu.


"Sayang, Aku lakukan sekarang ya?" Rehan meminta izin pada Ayu.


Ayu menganggukan kepalanya.


"Tunggu, tapi lakukanlah dengan pelan! suruh Ayu, dengan nada pelan.


"Siap, kamu nikmati saja nanti permainanku sayang" jawab Rehan, yang langsung memulai aksinya. kini Rehan sudah kembali ******* bibir Ayu, tangan Rehan mulai masuk kedalam baju Ayu dan langsung meremas-remas gunung kembar Ayu dengan pelan, bibir Rehan mulai menelusuri leher Ayu.


"Ahhhcchhh Rehan, pelan-pelan" desah Ayu, karena remasan tangan Rehan begitu keras.


Rehan mengalihkan tangannya ke perut Ayu, sedangkan bibirnya sibuk memberikan bekas merah disetiap bagian tubuh Ayu.


Desahan demi desahan keluar dari mulut keduanya, permainan makin panas erangan juga mulai terdengar dari mulut Ayu.


"Tahan ya sayang!" pinta Rehan, yang sudah sibuk dengan sl*kangan Ayu.


"Pelan-pelan sayang!" pinta Ayu, dengan diiringi desahan dari mulutnya.

__ADS_1


Rehan tidak mendengarkan kata-kata Ayu, Dan tanpa terasa Rehan sudah memasukan anu nya kebagian sensitif Ayu.


"Punya Ayu masih sempit sekali" ucap Rehan, yang agak susah memasukkan bagian anunya. tapi akhirnya masuk juga dengan sempurna.


Ayu langsung menjerit agak keras, sambil memegang sprai dengan kedua tangannya begitu kuat, bercak merah disprai menjadi saksi cinta mereka.


Buliran air matanya jatuh membasahi pipi Ayu, erangan dan desahan keluar dari mulutnya hingga keduanya sama-sama mencapai puncaknya.


Rehan langsung terkulai lemas menjatuhkan tubuhnya disamping Ayu. Rehan yang melihat buliran air mata dipipi Ayu langsung menghapus dengan tangannya dengan begitu lembut.


"Sudah selesai sayang, terimakasih ya" ucap Rehan, sambil mencium kening Ayu.


"Punyamu masih sempit, jadi maafkan Aku jika Aku melakukannya agak kasar" ucap Rehan, dengan nada bersalah.


Ayu tersenyum bahagia.


"Tidak apa-apa sayang, Aku bahagia sudah melakukan tugasku sebagai istri" jawab Ayu, yang langsung memeluk tubuh Rehan dengan hangat.


"Kamu istirahatlah, kita jalan-jalannya nanti saja" ucap Rehan, yang sudah membalas pelukan Ayu dengan begitu hangat.


Pagi ini keduanya sama-sama melanjutkan tidurnya, karena sangat lelah karena olahraga pagi hari yang mereka lakukan.


Dirumah Rama dan Ana.


Padahal Rama sudah bilang pada Ana, anak buahnya yang akan mengurus semua keperluan tujuh bulanan Anak pertamanya. namun Ana menolak dengan alasan Ana ingin menyiapkan semuanya sendiri dengan bantuan sahabat-sahabatnya. Akhirnya mau tidak mau Rama menuruti kemauan istrinya.


Tumpukan sembako untuk diberikan kepada panti asuhan sudah disiapkan, kini mereka sedang menyiapkan bingkisan snack untuk anak-anak panti dan berbagai perlengkapan sekolah untuk semua anak-anak yang ada dipanti asuhan.


"Ana, kita akan bikin berapa bingkisan?" tanya Alena, yang sedang memasukkan berbagai macam snack dan yang lainnya.


"Kita cuma bikin 50, Len" jawab Ana, yang memang anak dipanti asuhan itu ada 50 Anak.


"Nanti, Aku ikut menyumbang berbagai Vitamin dan baju-baju untuk mereka ya Na, Aku sudah menyiapkan dirumah" timpal Via.


"Iya Vi, boleh banget" jawab Ana.


"Apalagi kira-kira yang dibutuhkan mereka, biar aku membelinya?" saut Alena.


"Apalagi ya Len, Aku binggung?" jawab Ana, sambil berpikir.


"Mungkin kita, kumpulkan uang saja buat membantu mereka!" saran Via.


"Boleh itu, ide bagus" jawab Ana.


"Baiklah, nanti kumpulkan semua uang dari kita dan suami-suami kita. kita sumbangkan untuk anak-anak panti" ucap Via, dengan senang hati.

__ADS_1


"Siap, nanti kita kumpulkan uangnya ke siapa?" tanya Alena.


"Ke Via saja, Len" jawab Ana, karena Ana pasti akan sibuk sekali jadi memutuskan Via yang akan mengumpulkan uang sumbangan untuk panti.


"Ana, aku senang sekali Kamu mengelar acara tujuh bulanan Kamu dipanti asuhan, jadi kita bisa bersama-sama berbagi dengan mereka semua" ucap Alena dan Via, yang merasa sangat senang biarpun mereka terlahir dari keluarga yang kaya namun mereka tetap rendah hati.


"Iya, dulu Aku sering berkunjung ke panti asuhan itu. Waktu Aku masih kerja pasti setiap libur kerja Aku berkunjung ke panti untuk bermain dan mengajari Anak-anak panti belajar" cerita Ana, yang menceritakan masa lalunya kepada kedua sahabatnya.


Via dan Alena saling membalas senyum.


"Ana, kalau boleh tau orangtuamu kemana?" tanya Alena dan Via, yang memang tau tentang Orangtua Ana.


Ana tersenyum menahan air matanya.


"Orangtuaku sudah meninggal, Ayahku meninggal sebelum aku lahir sedangkan ibuku meninggal setelah melahirkanku. Aku tidak pernah tau seperti apa wajah orangtuaku" cerita Ana, yang sudah meneteskan air matanya.


Via dan Alena langsung mendekat ke tempat Ana duduk, mereka berdua memeluk Ana secara bersamaan.


"Ana maafkan Kita, gara-gara Kita kamu jadi sedih" sesal Via dan Alena, sambil menghapus air mata dipipi Ana.


Ana berusaha tersenyum, karena tidak mau Kedua sahabatnya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Aku hanya merindukan kedua orangtuaku. Mungkin jika mereka masih ada pasti mereka akan bahagia melihat Aku hidup bahagia seperti ini, dikelilingi oleh banyak orang menyayangiku" ucap Ana, yang berusaha menahan air matanya.


"Kita semua sayang denganmu, Na" ucap Alena dan Via, yang memang sungguh menyayangi Ana dengan tulus.


Meskipun mereka kenal belum lama, tapi mereka bersahabat sangat dekat. mereka bertemu semuanya tidak sengaja, tapi liburan bersama waktu itu membuat mereka Akhirnya bersahabat seperti sekarang ini.


Via dan Alena, melepaskan pelukannya dari tubuh Ana.


"Sudah-sudah pokoknya Ana tidak boleh sedih! nanti bayi kamu juga ikut sedih" hibur Via, sambil tersenyum manis pada Ana.


"Via benar, kamu tidak boleh sedih Na!" timpal Alena, yang ikut memancarkan senyum manisnya.


Ana membalas senyum pada kedua sahabatnya.


"Ayo lanjutkan ini lagi kita buat anak-anak panti semuanya bahagia" Hibur Via dan Alena, agar Ana tidak sedih lagi dan kembali semangat.


Ana tersenyum bahagia, karena kedua sahabatnya saat ini.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan" jawab Ana, dengan nada semangat.


Akhirnya mereka bertiga kembali melanjutkan membuat bikisan, untuk semua anak-anak panti dengan penuh kebahagiaan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2