
Keesokan harinya, kini mereka semuanya keluar dari tenda secara bersamaan.
"Aduh badanku pada pegal semuanya" keluh Bagas, sambil mimijat tekuk lehernya.
"Sama Aku juga" timpal Rian.
"Nanti sampai rumah pada main pijit-pijitan aja sebelum tidur" saut Rehan, sambil mengedipkan matanya.
Ana dan Alena saling menatap, Ayu dan Silvia saling menggelengkan kepalanya.
"Kita bikin sarapan aja ayo!" ajak Ana.
"Iya ayo, capek dengerin mereka paling sebentar lagi juga berdebat" saut Silvia, sambil melirik kearah Suaminya, yang pagi ini terlihat begitu tampan menurut Silvia.
"Rian Kamu tampan sekali pagi ini" puji Silvia dalam hatinya.
Ana dan Via pergi menuju dapur, Alena dan Ayu membersihkan bekas-bekas makanan semalam.
"Aku dan Alena beresin sampah ini ya, sekalian nanti bawah piring-piring kotor ke dapur" kata Ayu, yang sudah membawa kantong kresek untuk memunggut sampah yang yang ada disitu.
Alena mulai menumpuk piring-piring yang kotor lalu membawanya ke dapur, untuk dicuci. biarpun dirumah Rama ada ART namun setiap hari Minggu pasti ART nya libur. akhirnya pagi ini mereka bekerja sama untuk membereskan semuanya.
"Han, itu bekas api unggun kamu bersihkan ya" suruh Ayu, yang melihat kearah Rehan.
Rehan menghampiri Ayu.
"Iya sayang, Aku bereskan" jawab Rehan, yang kini sudah memegang sapu lidi dan tempat sampah ditangannya.
Alena keluar dari dapur, kini merasa kesal karena Suaminya kini malah asik mengobrol dengan Rama dan Rian.
"Bapak-bapak harap mengobrolnya dilanjutkan nanti lagi ya, itu tenda-tenda belum dibereskan" sindir Alena dengan suara yang begitu lantang.
Ayu dan Rehan saling menatap, lalu saling melepar senyum.
"Apa telinga Kak Bagas, tidak pecah ketika mendengar Kak Alena berteriak seperti itu" kata Rehan dengan suara yang pelan.
Ayu mencubit pipi Rehan.
"Jangan menghibah pagi-pagi!" omel Ayu pada Rehan.
Rama, Rian dan Bagas yang mendengar suara lantang Alena langsung bergegas membereskan semua tenda-tenda bekas semalam.
"Iya sayang ini mau Aku bereskan" jawab Bagas, yang langsung mulai membereskan.
"Haduh pagi-pagi berasa ada petir yang menyambar telingaku" keluh Rian, sambil melihat kearah Alena.
"Dikasih makan apa sih Gas, istri Kamu itu suaranya udah kaya petir aja" timpal Rama.
Bagas menatap kearah Rama sambil tersenyum.
"Dikasih makan nasilah, Tuan Rama" jawab Bagas apa adanya.
"Kirain dikasih makan cabe Gas, suaranya bisa lantang seperti itu" saut Rian.
Rehan dan Ayu sudah selesai membersihkan semuanya, kini keduanya langsung duduk sambil minum air putih yang ada dibotol.
"Sayang, nanti malam pijitin Aku ya" pinta Rehan dengan begitu manja.
"Iya, nanti malam Aku pijitin" jawab Ayu, dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Senyummu manis kaya gula" Rehan gombalin Ayu.
Bagas dan Rama mendengar gomblan Rehan untuk istrinya, akhirnya ikut menimpali.
"Senyum Alena lebih manis kaya madu" timpal Bagas, sambil tertawa.
"Senyum Ana lembut kaya sutra" timpal Rama, yang juga diiringi dengan tawanya.
Rehan langsung menatap kesal kearah Bagas dan Rama.
"Apaan sih kalian, ikut-ikutan saja" saut Rehan, dengan wajah kesalnya.
Kini semuanya sudah rapi, sampah sudah dibersihkan, bekas api unggun juga sudah dibersihkan, semua tenda-tenda juga sudah dirapikan semuanya.
Silvia keluar dari rumah Rama, karena semua makanan untuk sarapan sudah siap.
"Ayo semuanya, sarapan dulu!" pinta Silva.
Rama dan yang lainnya langsung masuk kedalam rumahnya, kali ini mereka sarapan tanpa mandi dulu hanya cuci muka saja.
Dimeja makan.
Semuanya sudah duduk, kini para istri-istri sibuk meladeni suaminya.
"Rian, Kamu mau makan pake apa?" tanya Via, sambil mengambil nasi menaruh dipiringnya.
"Aku mau sayur sama telur ceplok" jawab Rian.
"Tidak mau pakai Ayam?" tanya Silvia.
"Tidak sayang, itu saja" jawab Rian.
"Kamu tidak makan?" tanya Rian, karena Silvia tidak mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Aku belum lapar" jawab Silvia.
Rian melihat kearah istrinya, lalu membelai pipinya dengan lembut.
"Kamu harus makan, kasian Dede bayi yang ada diperut kamu nanti kalau tidak makan" pinta Rian, yang penuh dengan nasehat.
Tanpa mendengarkan jawaban dari istrinya, Rian langsung menyuapkan nasi kemulut istrinya dengan sendok.
Alena yang melihat Rian menyuapin Via, akhirnya dengan begitu manjanya merengek pada suaminya untuk minta disuapin juga.
"Bagas Aku mau kaya gitu" rengkek Alena.
Bagas melihat Alena dengan tatapan bingung.
"Kaya gitu apa sayang?" tanya Bagas, sambil melihat kearah Rian yang sedang menyuapi istrinya.
Bagas menghela nafasnya, lalu mengerti maksud istrinya.
"Apa kamu Aku suapin?" tanya Bagas dengan begitu lembut.
"Sudah beberapa hari ini, Alena selalu bersikap manja" gumam Bagas.
"Iya sayang, tapi Aku tidak mau pake sendok Aku mau kamu nyuapin Aku nya pake tangan kamu aja" rengek Alena, dengan begitu manja.
Rehan yang mendengar rengekan Alena, langsung tertawa lalu menimpalinya dengan ledekan.
__ADS_1
"Kak, pake mulut saja biar lebih enak! nanti kan jadi bisa main gigit-gigitan manja gitu" timpal Rehan, dengan ledekan begitu jailnya.
Bagas melirik kesal kearah Rehan.
"Lempar aja Gas, pake sendok!" timpal Rama.
"Piring sekalian Gas!" saut Rian, sambil tertawa.
Bagas sudah tidak mendengar berbagai timpalan ledekan dari para sahabatnya, kini Bagas hanya fokus menyuapin Alena dengan tangannya sendiri.
"Sudahlah Ram, jangan terus mengganggu mereka" omel Ana, yang kini duduk disamping Rama.
Rama membelai rambut Ana dengan tangannya.
"Senang saja sayang, kalau mengganggu mereka" jawab Rama, sambil tersenyum.
Rehan kembali membuat Aksi-aksinya yang menyebalkan.
"Sayang, Aku juga mau disuapin!" rengek Rehan dengan begitu manjanya.
Bukannya malah dengerin rengkekan Rehan, kini Ayu malah mencubit lengan tangan Rehan.
"Aahhh sakit sayang" rintih Rehan, dengan nada yang dibuat-buat.
"Jewer aja Yu" kata Bagas, sambil melihat kearah Rehan dan Ayu duduk.
"Nanti Kak, dikamar Aku jewer Dia" jawab Ayu.
"Kalau dikamar lain lagi Yu, bukan telinga yang dijewer tapi Adik kecilnya Rehan yang dijewer nanti" goda Rian, dengan begitu jail.
"Rian, jangan gitu!" omel Via, sambil melihat kearah suaminya yang kini sedang duduk didepannya.
"Iya lain lagi kalau udah dikamar nanti" timpal Bagas, dengan tawa jailnya.
"Ahh kalian tau saja" jawab Rehan, bukannya malah kesal malah dengan senang hati menerima ledek-ledekan dari yang lain.
Kini mereka saling bercanda melempar tawa tanpa rasa canggung.
"Tancep terus Han, biar adonannya cepet jadi" kata Rian, sambil mengangkat jempolnya kearah Rehan.
"Siap Kak, Aku menggarapnya hampir tiap malam Kak" jawab Rehan, sambil tertawa.
Ana dan Rama hanya saling menatap penuh kebahagiaan.
"Kapan mereka akan akur?" keluh Ana.
"Jangan dipikirkan sayang" pinta Rama, karena tau mereka pasti tidak bisa akur.
Kini Ayu hanya makan tanpa memperdulikan suaminya mengobrol dengan yang lainnya.
Kuping Ayu sudah tebal, dengan ulah suaminya jadi Ayu tidak pernah memasukkan kedalam hati.
Akhirnya semua selesai makan, kini Ana dan yang lainnya langsung membereskan semua bekas makanan mereka lalu mencucinya.
Setelah semuanya selesai, mereka bareng-bareng kumpul menonton televisi untuk menghabiskan hari minggu bersama.
Kini diantara mereka hanya canda tawa mereka yang begitu bahagia.
Bersambung
__ADS_1