Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
392.Nyebar undangan S2


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, dan akhirnya Vano menyebar undangan pernikahan dirinya dengan Vina.


Hari ini Vano dan Vina datang kerumah Niah, ia mereka datang untuk mengantarkan undangan pernikahannya.


Diperjalanan menuju kerumahnya Niah, Vina mengajak Vano mengobrol.


"Apa, kamu dengan Niah sangat dekat? Ini saja undangan kamu yang langsung mengantarnya." Tanya Vina, ia memegang undangan pernikahannya.


Vano paham, mungkin melihat kedekatan dirinya dan Niah. Pasti banyak pertanyaan yang muncul di otak Vina dan tentunya Vina juga sering berpikir macam-macam, bahkan ia pernah menebak-nebak kalau Vano itu pernah menjalin hubungan dengan Niah. tapi pada saat itu Vina tidak punya keberanian untuk bertanya pada Vano langsung.


Ingat sekali waktu mereka menghadiri pernikahan Kevin dan Valin, Kenan dan Ralin, saat itu Vina sadar kalau tatapan mata Vano itu tidak biasa pada Niah, bahkan Vano sekali-kali milirik Niah diam-diam.


"Aku dan Niah, kita itu sahabat dari kecil dan orang tua kita juga bersahabat." Jawab Vano dengan jujur.


"Sahabat?! Tapi kalau boleh jujur sorot matamu itu sepertinya kamu menyukai Niah." Cetus Vina, ia terus menatap wajah tampan Vano yang sedang menyetir mobil.


Dalam hati Vano, apa mataku masih terlihat menyukai Niah? Vina aku harus jawab apa? Tapi lebih baik aku jujur saja. Daripada Vina harus tahu dari mulut orana lain.


"Aku akan menjawabnya jujur, tapi berjanjilah kamu tidak akan marah jika aku jujur padamu!" Kata Vano, dengan begitu serius.


"Baiklah, aku tidak akan marah." Jawab Vina.


"Untuk apa juga aku marah? Undangan pernikahan kita sudah disebar. Dan aku hanya ingin kamu jujur saja padaku." Batin Vina dalam hatinya.


"Dulu aku pernah menyukai Niah, tapi aku tidak berani jujur pada dirinya pada saat itu. Dan akhirnya Niah dijodohkan dengan David, tapi setelah Niah menikah, aku sungguh berusaha melupakan dia dan sekarang aku mau membuka lembaran baru bersama kamu Vina sayang." Cerita singkat Vano pada Vina, di dalam hati Vano sekarang hanya ada Vina seorang.


"Baguslah, aku tidak mau ada embel-embel orang ketiga dalam rumah tangga kita!" Tegas Vina pada Vano.


Vano tertawa kecil melihat Vina agak manyun, apalagi ini pertama kalinya Vina mau bertanya tentang Niah pada dirinya.


"Vina, Niah sudah menjadi laki-laki lain dan aku juga akan menjadi suamimu, jadi aku pasti sudah melupakannya dan aku akan membuka lembaran baru denganmu." Batin Vano dalam hatinya.


"Itu tidak akan pernah terjadi sayang, percayalah aku hanya akan mencintaimu sampai akhir hayatku!" Jawab Vano dengan tegas, membuat Vina tersenyum manis.


.


.


Sesampainya dirumah Niah, Vano turun dari mobilnya lebih dulu lalu ia membukakan pintu mobilnya untuk Vina gadis yang akan menjadi calon istrinya.


Vano mengandeng tangan Vina menuju rumah Niah, sesampainya di depan pintu Vano langsung mengetuk pintu rumah Niah dengan hati-hati.


"Tok....tok... Niah!" Panggil Vano sambil mengetuk pintu rumah Niah.

__ADS_1


Niah yang sedang berbaring di sofa sambil menonton televisi, ia langsung beranjak bangun dan berjalan ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.


"Siapa, yang datang? tidak mungkinlah David jam segini sudah pulang kerja." Tanya Niah pada dirinya sendiri.


"Ceklek..." Niah membukakan pintu, melihat ternyata Vano dan Vina yang datang Niah langsung tersenyum bahagia.


"Kalian masuklah!" Niah mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Niah, apa kabar?" Vina membalas senyum dari Niah, lalu ia memeluk Niah.


Biarpun tadi di mobil Vano sudah menceritakan tentang Niah pada dirinya, dan sesuai dengan janji Vina ia tidak akan marah. Lagian ia tahu kok cinta Vano hanya untuk dirinya seorang.


"Kabar, aku baik." Jawab Niah, ia membalas pelukan Vina.


"Kalian mau terus berpelukan?" Cetus Vano tiba-tiba, membuat Niah dan Vina cepat-cepat melepaskan pelukan mereka.


Niah mengandeng tangan Vina masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Vano berjalan tepat dibelakang mereka.


"Niah, kamu dirumah sama siapa?" Tanya Vano yang melihat rumah Niah begitu sepi.


"Aku sendirian, David sedang bekerja." Jawab Niah.


"Duduklah, aku buatkan minum dulu!" Niah menyuruh Vina dan Vano duduk, lalu ia pergi menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mereka.


"Niah, kamu ditinggal dirumah sendirian seperti ini betah?" Batin Vina dalam hatinya.


Ia membayangkan jika dirinya ditinggal kerja oleh Vano, pasti ia akan merasa kesiapan di rumah sendirian.


"Van, kalau kita sudah nikah jangan sering-sering tinggalin aku sendirian dirumah ya!" Kata Vina tiba-tiba, membuat Vano menatap calon istrinya itu dengan tatapan bingung.


"Memangnya kenapa sayang?" Tanya Vano.


"Aku tidak mau kesepian, lihat Niah dirumah sendirian pasti sangat jenuh sekali." Jawab Vina, ia melirik ke dapur dan Niah sedang berjalan menuju ke mereka duduk sambil membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


Vano tersenyum melihat Vina. Niah menaruh minuman dan cemilan yang ia bawa di atas meja.


"Nikmatilah!" Kata Niah dengan nada lembut.


"Iya, terimakasih Niah!" Jawab Vina dan Vano secara bersamaan.


Niah duduk, dan ia melihat kearah Vano dan Vina.


"Kalian mau berkunjung kok tidak ngabarin dulu sih?" Tanya Niah ia tersenyum pada Vina dan Vano.

__ADS_1


"Niah, kita kesini hanya untuk memberikan undangan pernikahan kita padamu." Jawab Vano dan Vina langsung memberikan undangan yang ia pegang dari tadi di tangannya.


Niah menerimanya dengan senang hati, ia bahagia akhirnya Vano menemukan satu wanita yang yang akan menjadi teman hidupnya nanti.


"Kalian akan menikah, bukankah satu bulan lagi?" Niah membaca undangan itu.


"Aku percepat, karena para cecungkuk terus menjadikanku bahan ledekan." Jawab Vano, ia tersenyum malu-malu pada Niah dan Vina.


"Dasar kamu ini, berati kamu menikahi terpaksa gara-gara ledek-ledekan dari sahabat-sahabatmu itu?" Vina menatap kesal Vano, dan Niah tersenyum simpul karena melihat Vina dan Vano sama-sama memancarkan sinar mata bahagia.


Vano tersenyum ia menggelengkan kepalanya, kini ia duduk mendekati Vani.


"Aku menikahimu, karena aku mencintaimu!" Tegas Vano, ia tidak mau kalau Vina sampai berpikir macam-macam.


"Percayalah Vin, Vano adalah laki-laki yang baik dan aku yakin dia pasti akan menjagamu dan mencintaimu sepenuh hatinya." Kata Niah, ia tersenyum pada Vina.


Vina berpindah tempat duduk, dan sekarang ia duduk disebelah Niah. Ia meraih tangan Niah lalu menggegamnya.


"Niah, apa aku bisa menjadi sahabatmu seperti Vano?" Tanya Vina dengan nada lembut.


Niah tersenyum, lalu ia melepaskan tangannya dari tangan Vina. Ia membawa Vina kedalam pelukannya.


"Tentu saja boleh," Jawab Niah sambil memeluk Vina.


Vano tersenyum melihat calon istrinya dan sahabat wanitanya bisa akur dan mereka mau menjalin persahabatan.


Niah melepaskan Vina dari pelukannya, lalu mereka saling melempar senyum bahagia mereka.


"Kalian, jangan pulang dulu ya! Kita makan malam bersama dan aku mau mengajak Vina masak bareng." Kata Niah dengan antusias.


"Baiklah, ayo kita masak bersama!" Jawab Vina.


"Masak yang enak-enak ya!" Cetus Vano dengan senyum meledek.


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Maaf baru sempat up 🙏


Baca juga yuk karya-karya teman Asti 😘


__ADS_1



__ADS_2