
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Niah yang masih dipusingkan dengan masalah kado buat Vano kini sudah tenang, karena suaminya sudah membelinya tapi Niah tidak tahu apa yang David beli? David juga tidak memberitahukan pada Niah isi kadonya.
Niah sebenarnya kesal, tapi iya Niah percaya saja pada sang suami. Lagian tidak mungkin juga jika David memberikan kado sembarangan buat Vano.
Niah sedang duduk di sofa, sambil membaca novel dan David tiba-tiba datang tanpa permisi ia langsung mendaratkan pantatnya disamping Niah.
"Sayang, katanya mau ke tempat mama. Tapi mas berantakan itu juga masih pakai daster," David menggelengkan kepalanya, ia istrinya hari ini beda dari biasanya.
"Iya sayang, pakai daster saja kan mau naik mobil. Lagian kan mau kerumah mama ini, aku hari ini lagi males ngapa-ngapain." Jawab Niah, ia enggan berganti baju.
"Biar aku yang gantikan pakaianmu." Tawar David, ia tersenyum tentu saja pasti ia punya ide licik.
"Tidak mau! Kalau kamu yang mengantikan pakaianku yang ada aku malah digarap diatas ranjang," tolak Niah, ia tahu ide licik suaminya.
David tersenyum malu, karena idenya ternyata sudah ketebak oleh sang istri. Akhirnya David membiarkan Niah hanya memakai daster dan ia langsung membopong Niah masuk ke dalam mobilnya.
Kini David langsung menyalakan mesin mobilnya untuk menuju kerumah mamanya.
Diperjalanan Niah tiba-tiba cemberut, ia merasa lapar tapi ia tidak bilang dengan David dan ia malah cemberut, membuat David bingung.
"Kamu, kenapa cemberut?" Tanya David, ia melirik Niah dengan gemas.
"Aku tiba-tiba lapar, tapi aku pingin makan masakan buatan suamiku." Jawab Niah, ia sangat manja pada David.
David melepaskan satu tangannya dari setir mobilnya, lalu mengusap rambut Niah dengan lembut.
"Nanti aku masakin, kalau sudah sampai rumah mama." Jawab David, ia paling tidak tega kalau istrinya sudah cemberut.
Mendengar jawaban David, Niah langsung tersenyum lebar. Ia merasa bahagia karena perhatian suaminya itu tidak pernah berubah dan justru lebih perhatian.
Sesampainya di depan rumah Ana, David langsung memarkirkan mobilnya dan ia turun dari dalam mobilnya, lalu membukakan pintu mobilnya untuk sang istri.
Kini mereka sudah turun dari mobil dan David sudah mengandeng tangan Niah. Mata Niah terus menatap kerumah Vano, iya dirumah Vano begitu rame karena malam ini Vano mengundang Kevin dan Valin, Kenan dan Ralin, barbequean di depan rumahnya.
"Kak Vano, kalau kamu sudah menikah, kamu jangan pindah ya kak." Kata Kenan, ia sedang memakan sosis yang dibakar oleh dirinya sendiri.
"Iya kak, biar kita bisa seperti orang tua kita, lihat mereka bersahabat sampai sekarang dan mereka juga mempunyai rumah bertetanggaan." Jawab Ralin, ia merasa bahagia dan berharap persahabatan mereka bisa seperti orang tua-orang tua mereka.
__ADS_1
Valin dan Kevin, mereka berdua sibuk makan iya mereka dari tadi hanya makan. Sedangkan Vano iya duduk sendirian sambil menikmati kopi buatannya.
"Tunggu, kita sudah membakar berbagai macam sate, tapi masa tinggal sedikit." Protes Ralin, ia merasa kesal padahal dari tadi ia bekerja keras membantu Kenan membakarnya.
Ralin melirik kearah suaminya dan ternyata suaminya juga sedang asik makan sosis.
"Sayang, kamu juga makan sosisnya. Lalu aku sibuk membolak-balik sate ini. Kak Vano kamu gantian yang bakar, Kak Kevin kamu juga jangan makan saja!" Raline marah-marah, matanya membulat dengan kesal.
Sebelum urusannya makin panjang, Vano langsung meninggalkan kopinya dan ia langsung bergabung ikut membakar, Kevin juga langsung beranjak dari tempat duduknya dan ikut bergabung.
"Kalian yang bakar, Kenan ayo gantian kita yang pacaran!" Ralin menarik tangan suaminya dan kini mereka sudah datang berduaan sambil sandar-sandaran.
Niah langsung menarik tangan suaminya, ia langsung mengajak suaminya ke depan rumah Vano.
"Sayang, bukankah kamu mau makan masakanku?" Tanya David, ia menahan tangan istrinya.
"Aku sudah tidak lapar, aku mau ikut bergabung dengan mereka, ayo pasti seru!" Jawab Niah, ia kembali menarik tangan suaminya.
David akhirnya mengikuti langkah kaki Istrinya, kini mereka sudah berada di depan rumah Vano.
"Valin, Ralin," Panggil Niah.
"Kak Niah..." Valin dan Ralin, mereka beranjak dari tempat duduknya dan langsung berlari memeluk Niah, Niah juga membalas pelukan mereka, kini mereka seperti Teletubbies yang sedang berpelukan.
"Hay bro, sini ikutan gabung jadi tukang sate kita malam ini." Ajak Vano, ia langsung merangkul pundak Vano.
Kini David sudah bergabung dengan mereka, Biarpun Vano pernah punya perasaan pada Niah tapi itu sudah hilang, dan saat ini Vano hanya mencintai Vina.
"Ken, apa kamu akan duduk saja? Kemarilah ikut dengan kami menjadi tukang sate." Ajak Kevin, ia langsung menarik tangan Kenan.
Malam ini, para laki-laki itu menjadi para tukang sate tampan. Dan Niah, Valin dan Ralin, mereka sedang asik bergosip.
"Kak Niah, ceritakan pada kita, saat hamil apakah suami kita akan terus memperhatikan kita?" Tanya Valin dan Ralin, mereka sangat antusias.
Valin dan Ralin, mereka memang sedang sama-sama berjuang untuk segera punya anak.
"Tentu saja, suami kita jadi semakin perhatian bahkan dia akan lebih sayang pada kita, itu yang aku rasain selama hamil." Jawab Niah dengan senyum bahagia.
__ADS_1
Valin dan Ralin jadi memikirkan jika mereka hamil nanti, kira-kira Kenan dan Kevin akan seperti apa? Pasti Kevin dan Kenan akan kuwalahan menghadapi istri-istrinya itu.
Kini mereka asik mengobrol, sambil menikmati cemilan yang ada dan berbagai minuman kaleng.
David, Vano, Kenan dan Kevin, mereka sambil membakar sambil asik bercanda dan mengobrol.
"Vin, Ken, bagaimana apa istri-istri kalian sudah ada tanda-tanda hamil?" Tanya David pada kedua adik iparnya itu.
"Belum kak, tapi semalam aku habis bekerja keras mudah-mudahan jadilah adonan aku." Jawab Kenan, ia senyam-senyum tentu saja ia sedang membayangkan betapa nakalnya Ralin diatas ranjang semalam.
"Sama kak, aku juga masih berusaha." Jawab Kevin, ia fokus membolak-balikan berbagai sate yang sedang dibakar biar tidak gosong.
Vano merasa kesal, apalagi mereka membicarakan tentang kehamilan sedangkan dirinya jelas masih lajang. Dan keris milik Vano tentu saja belum pernah dicelupkan di dalam goa kenikmatan.
"Siapa tahu, aku nikah belakangan adonannya jadi duluan." Cetus Vano, dengan tertawa meledek, membuat semuanya ikut tertawa.
"Dasar Kak Vano, sudah nikah dulu saja!" Cela Kevin, ia tertawa cekikikan membuat Vano merasa kesal.
"Dasar Kevin, sombong dia mentang-mentang sudah nikah." Gumam Vano dalam hatinya.
"Iya, tunggu sebentar lagi aku juga akan punya istri seperti kalian." Vano memasang wajah sombong.
"Sudah matang semuanya, ayo kita makan!" Teriak Kevin tiba-tiba, dan kini sate-sate itu sudah di sajikan diatas piring dengan rapi oleh Kevin.
"Iya ayo kita makan ini bersama-sama, jarang-jarangkan kita bisa kumpul seperti ini." Ajak Kevin, dan kini mereka semua langsung menuju ke istri-istri mereka sedang duduk.
Malam ini mereka sangat bahagia, karena bisa berkumpul bersama-sama. Mereka makan dengan penuh tawa dan canda.
Niah dan David main suap-suapan, Kevin dan Valin juga suap-suapan, Kenan tidak kalau juga tidak mau kalah, ia juga makan suap-suapan dengan suaminya.
Malam ini hanya kasian hanya Vano, karena pasangannya tidak ada. Sabar ya Vano sebentar lagi halal.
"Aku cuma bisa ngiler." Batin Vano dalam hatinya, melihat para sahabatnya bahagia dengan istri-istri mereka. Sungguh Vano juga tidak sabar menunggu hari pernikahannya dengan Vina.
Kalau melihat persahabatan mereka, pasti akan ingat dengan para orang tua mereka dulu.
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊