
Satu bulan kemudian, kini Ana kembali menjalani hidupnya dengan penuh semangat karena Ana sadar kalau Niah, Kevin dan Rama masih sangat membutuhkannya.
Jadi kalau Ana terus larut dalam kesedihan pasti mereka bertiga akan kasian.
Malam yang sunyi Ana terus melihat kedua Anaknya yang sedang tertidur begitu dengan pulas.
"Anak-anak Mama, Mama sayang sama kalian." kata Anak sambil tersenyum melihat kedua Anaknya yang sedang tertidur.
Rama yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Ana masih belum tidur langsung menghampirinya.
"Kok belum tidur?" tanya Rama dengan nada lembut pada Ana sambil mengusap rambut Ana dengan tangannya.
"Aku belum mengantuk." jawab Ana sambil melihat kearah Rama.
Rama duduk disamping Ana, lalu menarik kepala Ana agar bersandar di bahunya.
"Katakan padaku, Apa ada masalah?" tanya Rama.
"Tidak ada, Aku mau bicara sesuatu padamu suamiku." jawab Ana tanpa melihat kearah Rama.
"Ingin bicara apa? katakan saja!" pinta Rama.
Ana terdiam sambil berpikir.
"Apa Aku harus mengatakan pada Rama? kalau Aku ingin mewujudkan impian Siska untuk membuat perpustakaan untuk Anak-anak yang kurang mampu dan membuat toko kue di dekat perpustakaan tersebut."Pikir Ana.
Mengingat dulu Siska pernah bercerita tentang impiannya yaitu Siska ingin membuat perpustakaan untuk Anak-anak yang kurang mampu dan toko kue disamping perpustakaannya pada Rama dan Ana, waktu itu Rama juga bilang Rama siap menjadi donatur tetap untuk impian Siska. jadi Ana berani membicarakan hal ini pada Rama.
"Suamiku, Aku ingin mewujudkan impian Siska untuk membuat toko kue dan perpustakaan untuk Anak-anak yang kurang mampu." kata Ana dengan begitu hati-hati.
Rama langsung menatap wajah Ana, lalu tersenyum pada Ana.
"Ana mari Kita wujudkan impian Siska bersama!" Gumam Rama.
"Istriku, ayo Kita wujudkan mimpi Siska bersama-sama, agar Kevin juga tahu kalau Ibunya adalah wanita yang berhati mulia." jawab Rama yang diiringi senyum bahagianya.
"Sungguh! terimakasih Suamiku, Aku mencintaimu." kata Ana yang langsung memeluk tubuh Rama.
Rama juga langsung membalas pelukan dari Ana dengan penuh kebahagiaan.
Malam semakin larut bahkan diluar hujan lebat, Ana dan Rama tidur disamping Anak-anak mereka dan sekarang kedua Ana mereka ada ditengah-tengah mereka.
"Niah, Kevin jika kalian sudah besar nanti, kalian harus selalu akur ya Anak-anak Mama." kata Ana pada kedua Anaknya.
"Kalau mereka ribut terus kalau ketemu juga tidak apa-apa, biarkan saja biar rumah kita rame nanti." sambung Rama.
__ADS_1
"Jangan dengarkan ajaran dari Papa kalian ya Nak." kata Ana yang langsung memejamkan matanya.
Melihat ketiga penyemangatnya semua sudah tertidur, Rama tersenyum dengan penuh bahagia.
"Kelak Papa hanya akan memberikan kalian kebahagiaan dalam hidup kalian." gumam Rama.
Dirumah Reha dan Ayu.
Rehan dan Ayu tidur diatas ranjang, kini Rehan sedang mengelus-elus perut Ayu yang sudah makin buncit.
"Anak Papa, cepat lahir ya! Papa sudah pingin gendong Kamu." kata Rehan pada bayi yang ada diperutnya Ayu.
Ayu tersenyum mendengar suaminya berkata seperti itu.
"Jangankan Kamu Aku aja ingin segera menggendong Anak kita." gumam Ayu.
"Sabar ya Pa, sebentar lagi Aku akan lahir ke dunia ini." jawab Ayu yang seolah-olah menjadi Anak yang sedang Ayu kandung.
Ayu membelai-belai rambut Rehan, lalu Ayu bertanya pada Rehan.
"Apa Kamu sudah menyiapkan nama untuk Anak Kita?" tanya Ayu tiba-tiba.
"Tentu saja sudah Istriku, tapi Anak kita laki-laki atau perempuan ya?" kata Rehan sambil berpikir.
Untuk jenis kelamin Anaknya, Ayu tidak pernah mempermasalahkannya karena bagi Ayu bisa mendapatkan keturunan saja itu sudah menjadi kebahagiaan di dalam rumah tangganya. mengingat dulu Ayu dan Rehan yang paling lama mendapatkan keturunan dan akhirnya Ayu hamil itu membuat Rehan sangat bahagia dan begitu menantikan kelahiran Anak pertamanya.
"Sayang, Aku tidurnya mau dipeluk tapi dari belakang." kata Ayu tiba-tiba.
"Tiap malam juga dipeluk Istriku." protes Rehan.
Ayu tidur dengan posisi membelakangi Rehan, lalu Rehan memeluk Ayu dari belakang sesuai keinginan Ayu.
Dirumah Via dan Rian.
Via dan Rian mereka belum tidur, karena Vano yang makin aktif dan akhir-akhir ini Vano
cengeng sekali.
"Vano sudah malam tidur ya." kata Via sambil menyusui Vano.
"Lihat Nak, Papamu malah asik main game mulu." kata Via yang melihat Rian dari tadi asik main game.
"Suamiku, Kamu gantian jagain Vano saja! daripada Kamu main game mulu." protes Via dengan raut wajah yang begitu kesal.
Iya gimana tidak kesal, Via dari tadi nenangin Vano, lah Rian malah cengengesan sambil asik main game, pasti sebagai seorang Istri Via emosi jiwa melihat suaminya main game mulu dari tadi.
__ADS_1
"Baik-baiklah, Aku tidak main game lagi." jawab Rian yang langsung menaruh ponselnya diatas nakas dekat tempat tidurnya.
Setelah setengah jam kemudian, akhirnya Vano tertidur. Via langsung menghela nafasnya dengan pelan lalu langsung memejamkan matanya tanpa memperdulikan Rian.
"Sayang, kok Kamu tidur?" tanya Rian.
"Masa Vano doang yang diurusin, Papanya juga mau diurusin." protes Rian sambil memainkan pipi Via.
Dalam hati Via, Via merasa sangat kesal pada Rian karena Rian dari tadi sibuk main game.
"Urusin saja itu gamenya Suamiku!" jawab Via yang enggan membuka matanya.
"Kamu marah padaku?" tanya Rian.
"Tidak, hanya saja sedang males dengamu." jawab Via sambil memejamkan matanya.
Rian langsung mendekat kearah Via, lalu mencium pipi Via.
"Cup..." Rian mencium pipi Via, lalu berkata pada Via jangan marah lagi padaku.
"Tidurlah, sekerang sudah malam!" jawab Via.
Malam ini Rian dicuekin sama Via, gara-gara sibuk main game mulu terus dari tadi jadi Via nya kesal pada Rian.
Dirumah Bagas dan Alena.
Bagas dan Alena, kini mereka masih asik bermain dengan Kenan, mereka sedang bercanda ntah apa yang mereka candakan pada seorang Bayi, hanya mereka yang tahu.
"Kenan, lihat ini Nak!" kata Alena sambil memegang mainan yang berbunyi.
Kenan sekali-kali tersenyum kecil pada kedua orangtuanya, setelah beberapa lama bermain akhirnya Alena langsung menyusui Kenan agar Kenan tidur, karena hari sudah semakin larut.
"Kenan, itu dulu milik Papa! sekarang sudah menjadi milik Kamu bahkan Mama saja sekarang tidak memberikan itu pada Papa." kata Bagas yang melihat Kenan sedang nyusu.
Dulu sebelum ada Kenan, gunung kembar Alena adalah bagian kesukaan Bagas setiap kali mereka memadu kasih diatas ranjang.
"Sekarang gantian sama Anakmu Suamiku." jawab Alena sambil mencubit pipi Bagas.
"Auh sakit..." keluh Bagas.
Bagas dan Alena kini saling menatap dengan tatapan kesal, namun Alena memilih tidur daripada meladeni Suaminya.
Bersambung 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1