Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
248. Akhirnya gool juga.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Dirumah Bagas dan Alena.


Alena baru saja bangun dari tidurnya, tiba-tiba merasakan mual banget lalu langsung berlari menuju ke kamar mandi.


"Huek...huek..." Suara Alena muntah.


"Kepalaku pusing sekali" keluh Alena, sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding.


Kini Alena terdiam krena merasa lemas dan sangat pusing. Bagas yang mendengar Alena muntah-muntah langsung pergi menuju ke kamar mandi.


"Alena, Kamu kenapa?" tanya Bagas, karena melihat Alena begitu lemas dan wajahnya pucat.


Alena tidak menjawab pertanyaan dari Bagas, lalu Bagas langsung mengangkat tubuh Alena keatas ranjang.


Tanpa pikir panjang Bagas, langsung menelpon Dokter Hendri, untuk segera datang kerumahnya.


Bagas menelpon Dokter Hendri.


"Hallo Dok, bisa datang kerumah Saya sekarang?" tanya Bagas tanpa basa-basi karena sudah merasa kawatir pada Alena.


"Iya Saya akan segera datang" jawab Dokter Hendri.


Bagas langsung mematikan saluran teleponnya. kini Bagas duduk disamping Alena sambil terus memegang tangan Alena.


"Kamu kenapa sih sayang?jangan bikin Aku takut!" kata Bagas, dengan nada yang begitu kawatir.


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Dokter Hendri sampai dirumah Bagas.


"Tok..tok..." Suara ketukan pintu.


Bagas langsung pergi membukakan pintu rumahnya.


"Ceklek" Bagas membuka pintu.


"Dokter, untung Anda cepat datang" kata Bagas, yang masih dengan nada panik.


Bagas langsung mengajak Dokter Hendri, masuk kedalam kamarnya untuk memeriksa keadaan Alena.


Setelah sampai dikamar, Dokter Hendri langsung memeriksa Alena dengan teliti. setelah selesai pemeriksaan Bagas langsung bertanya pada Dokter Hendri.


"Istri Saya kenapa Dok?" tanya Bagas.


"Tidak apa-apa, istri Anda sedang hamil, nanti langsung cek ke Dokter kandungan saja untuk memastikannya" jawab Dokter Hendri.


"Sungguh Dok?" Bagas masih belum percaya.


"Iya, nanti langsung cek ke Dokter kandungan saja ya biar lebih akurat hasilnya" jawab Dokter Hendri.


Setelah selesai memeriksa Alena dan memberikan beberapa obat untuk Alena, Dokter Hendri langsung pamit.


"Ini obatnya, nanti diminumkan secara teratur, ini untuk mual, pusing, Vitamin, untuk mualnya diminumkan kalau mual saja, untuk pusing juga diminum ketika merasa pusing saja, yang penting Vitaminnya diminum secara teratur ya" kata Dokter Hendri.


"Baik Dok, terimakasih" jawab Bagas, sambil menerima obatnya.


"Ya sudah, saya pamit dulu ya" pamit Dokter Hendri.


"Iya Dok, mari Saya antar ke depan" jawab Bagas.


Setelah mengantarkan Dokter Hendri, sampai kedepan rumahnya Bagas langsung kembali masuk kedalam kamarnya.


"Sayang, akhirnya usahaku berhasil, adonanku sudah jadi" kata Bagas dengan raut wajah yang begitu senang.


Alena tersenyum pada Bagas, lalu Bagas langsung memeluk Alena.


"Ayo Kita pergi kerumah sakit, Kita ketemu Via biar lebih akurat lagi hasilnya, Via kan Dokter kandungan" kata Bagas dengan begitu bawelnya.


Bagas dan Alena langsung bersiap-siap untuk menuju kerumah sakit, tempat Silvia berkerja.

__ADS_1


Setelah keduanya Siap, Bagas langsung mengandeng istrinya menuju kedepan, lalu Bagas langsung membukakan pintu mobilnya untuk Alena.


"Masuklah Sayang, hati-hati ya" kata Bagas dengan begitu lembut.


Alena masuk kedalam mobil, Bagas langsung menutup pintu mobilnya, kini Bagas sudah berada disamping Alena dan langsung menyalahkan mesin mobilnya untuk menuju kerumah sakit.


Didalam mobil.


Bagas menelpon Rama.


"Hallo Bagas..." sapa Rama.


"Tuan, hari ini Saya izin tidak masuk kantor ya Soalnya Saya mau mengantarkan Alena kerumah sakit" kata Bagas.


"Iya baiklah, Apa Alena sakit?" tanya Rama.


"Tadi kata Dokter Hendri, Alena hamil jadi Saya mau mengeceknya langsung" jawab Bagas.


"Selamat ya, Akhirnya usahamu selama ini sukses" Rama mengucapkan selamat pada Bagas.


"Iya terimakasih Tuan" jawab Bagas.


Setelah mengucapkan selamat pada Bagas Rama langsung mematikan saluran teleponnya, sedangkan Bagas kembali fokus menyetir mobilnya.


Dirumah Rama dan Ana.


Keesokan harinya, seperti biasanya Rama dan Rehan setelah selesai sarapan mereka langsung berangkat ke kantor, hari ini Ana sedang mehias kamar bayi calon Anaknya bersama Ayu.


"Suami-suami kita sudah berangkat ke kantor, kadang kangen kerja kaya dulu lagi" kata Ana, yang sedang duduk disamping Ayu.


"Iya, dulu mah kita punya kesibukan sekarang mah jadi Nyonya gini pengangguran dirumah" jawab Ayu, yang sebenarnya juga merasa jenuh tiap hari dirumah.


Ana terdiam sambil berpikir, lalu Ana mengajak Ayu untuk menghias kamar Bayi Ana yang akan segera lahir.


"Yu, bantu Aku menghias kamar calon Bayi Aku ya" pinta Ana, dengan begitu antusias.


"Boleh, ayo daripada kita tidak ada kerjaan" saut Ayu, sambil tersenyum kepada Ana.


"Kakak Ipar, ini pasang disini keliatan sangat bagus" kata Ayu, sambil memasang aneka boneka kecil dididing kamar tersebut.


"Boleh, sama boneka-boneka ini dirapiin disitu aja Yu" pinta Ana, sambil memberikan boneka-boneka kecil yang ada ditangannya pada Ayu.


Setelah memasangkan hiasan didinding, Ayu langsung menerima boneka-boneka tersebut dari Ana, kini keduanya begitu asik menghias kamar tersebut dengan berbagai hiasan.


"Kenapa tidurnya tidak satu kamar saja Anak kalian nanti kan masih Bayi?" tanya Ayu.


"Iya nanti kalau malam, Anakku tidur di kamarku" jawab Ana, apalagi masih butuh asi jadi harus siaga 24 jam penuh.


Ayu melihat kamar yang sudah dihias begitu indah.


"Aku jadi pingin cepat-cepat punya Anak" kata Ayu, sambil membayangkan kemana-mana.


"Mudah-mudahan Kamu segera hamil" doa Ana untuk Ayu.


Setelah selesai menghias kamar Bayi, mereka tertidur dikamar Bayi yang sedang dihias karena merasa sangat lelah sekali.


Dirumah sakit.


Bagas dan Alena sudah sampai dirumah, Via yang sedang berjalan menuju ruangannya melihat Bagas dan Alena langsung menghampirinya.


"Bagas, Alena" sapa Via pada mereka.


"Via, kebetulan sekali Aku mau bertemu denganmu" kata Bagas dengan begitu antusias.


"Ada apa? ayo kita masuk keruangku saja!" ajak Silvia.


Silvia melangkahkan kakinya menuju ruangannya, Bagas dan Alena mengikuti langkah kaki Silvia.


Diruang Silvia.

__ADS_1


Silvia duduk kursi kerjanya.


"Duduklah" Silvia mempersilahkan Bagas dan Alena untuk duduk.


Kini Bagas dan Alena sudah duduk.


"Katakan ada apa?" tanya Silvia dengan masa begitu lembut.


"Aku mau meriksakan kehamilan istriku, tadi sudah diperiksa oleh Dokter Hendri, tapi katanya biar lebih akurat langsung ke Dokter kandungan saja" kata Bagas, yang menjelaskan tadi perintah dari Dokter Hendri.


Silvia melihat kearah Alena, lalu tersenyum.


"Akhirnya gool juga" kata Silvia, sambil tersenyum.


"Karena usahaku tiap malam" saut Bagas, yang diiringi senyum bahagianya.


"Bagas, jangan membuka aib ih" omel Alena, yang merasa malu.


"Tidak apa-apa, dulu Aku sama Rian saja nancapnya hampir tiap malam" cerita Via pada Alena dan Bagas.


Diantara mereka sudah tidak ada rasa malu, obrolan seperti itu sering terjadi disaat mereka sedang berkumpul. mereka yang semuanya sudah menikah jadi sama-sama paham.


Kini mereka bertiga saling melempar tawa.


"Alena, ayo Aku periksa dulu!" ajak Via.


Kini Alena dan Via menuju keruangan pemeriksaan, Alena sudah membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur pasien, Via memeriksa Alena dengan begitu teliti.


"Sudah selesai, ayo turun" kata Silvia.


Kini Alena turun dari tempat tidur pasien, Keduanya langsung menuju ke Bagas.


"Bagaimana?" tanya Bagas, ingin tau.


"Alena hamil, sekarang kandungan sudah masuk dua bulan" Via menjelaskan pada Bagas.


"Semuanya sehat, tapi kalau masalah seperti mual itu biasa terjadi pada Ibu hamil, jadi Kamu tidak perlu terlalu kawatir" Via menjelaskan lagi.


"Oh iya boleh Aku lihat obat dari Dokter Hendri?" tanya Via.


Bagas langsung memberikan obat yang diberikan oleh Dokter Hendri pad Silvia.


"Ini Obat untuk mual, pusing, dan juga Vitamin, nanti diminumkan secara teratur ya, tapi Kalau tidak merasa mual atau pusing tidak usah yang penting Vitaminnya saja diminum ya" kata Via pada Bagas dan Alena.


"Iya Vi, terimakasih" jawab Alena.


"Sama-sama Len" jawab Silvia.


"Akhirnya sebentar lagi Kita jadi Ibu ya Len" kata Via, yang saat ini dirinya juga sedang hamil.


"Iya Vi, mudah-mudahan Anak-anak kita nanti jangan seperti Bapak-bapak mereka Ya Vi, yang selalu berdebat setiap kali kumpul" Doa Alena.


"Namanya Anak Len, pasti tidak jauh-jauh dari bapaknya nanti" jawab Via.


Bagas menatap Alena dengan tatapan kesal.


"Itu Anak Aku, itu Aku yang buat, jadi tidak masalah kalau mirip denganku" protes Bagas.


Alena kembali menatap Bagas.


"Aku yang mengandungnya, Aku juga ikut capek" protes Alena tidak mau kalah dari Bagas.


Via hanya tertawa melihat Alena dan Bagas yang tidak mau saling mengalah satu sama lain.


"Sudah-sudah asalkan jangan mirip sama tetangga aja nanti Anak kalian" ledek Via, sambil tertawa.


"Via.... mana mungkin mirip tetangga" Alena merajuk.


"Becanda Len, Jaga kandunganmu dengan baik ya" kata Via, sambil tersenyum.

__ADS_1


Bersambung 🙏


__ADS_2