
Semua mata tertuju pada mereka, sorokkan demi sorokkan terus diteriakan.
"Terima!!!"
"Terima!!?"
"Terimaaaa...."
Ntahlah hari ini Ralin harus bagaimana? Apakah Ralinsyah akan menerima pernyataan cinta Kenan dihadapan semua orang?
"Calon suamiku......" Ralin melihat di sekitarnya banyak orang menyaksikan dirinya dan Kenan.
"Aku malu ayo kita pulang!" Ralin menarik tangan Kenan, tapi Kenan terus menahan tangan Ralin agar tidak pergi dari tempatnya.
Sorot mata Kenan terus menatap Ralin dengan tatapan meminta jawaban. Sungguh Ralin merasa malu karena banyak sekali yang menyaksikannya.
"Terima saja Nona, laki-laki itu sangat tampan." teriak salah satu orang yang sedang melihat Kenan menyatakan cintanya pada Ralin.
"Jika Nona tidak mau, sama saya saja Tuan Tampan!"
"Aku juga mau punya kekasih setampan, Tuan Tampan itu."
"Ayolah Nona terima-terima!!!"
"Terima.....!!"
"Terima.........!!!"
Semuanya kembali bersorak dengan lantang, Ralins membalas tatapan dari Kenan lalu mengembangkan senyumnya yang begitu manis.
"Aku tidak mau...." kata-kata Ralin terpotong.
"Tidak mau apa? Jangan bilang kamu menolakku dihadapan banyak orang." sambung Kenan yang sudah memasang wajah memelas.
Ralin rasanya kesal sekali pada Kenan, karena Ralin belum menyelesaikan perkataannya tapi Kenan langsung memotongnya begitu saja.
"Diamlah jangan memotong perkataanku!" Ralin menatap Kenan dengan tatapan kesal.
Kenan masih menunduk dihadapan Ralin, kini dirinya sudah pasrah.
"Jika kamu menolakku, aku akan pergi menyusul Kak Vano ke luar negeri." Batin Kenan dalam hatinya.
"Katakan jawabanmu!" pinta Kenan dengan suara pelan.
"Aku menerimamu, karena aku juga mencintaimu." jawab Ralin malu-malu, Kenan menatap Ralin dengan senyum bahagianya.
"Katakan sekali lagi!" pinta Kenan yang membuat wajah Ralin semakin memerah.
"Dengan suara yang keras." pinta Kenan semakin ngelunjak.
Ralin menarik nafasnya dengan pelan, lalu menghembuskan kembali dengan pelan juga.
"Kenan Putra Bagas, aku mencintaimu!" Ralin mengatakannya dengan lantang, membuat semua orang bertepuk tangan dengan riang.
Kenan merubah posisinya kini dirinya sudah berdiri.
__ADS_1
"Terimakasih calon istriku." Kenan langsung menarik Ralin ke dalam pelukannya.
Akhirnya cinta dan Kenan bersemi dan di saksikan banyak orang. Siapa yang sangka Kenan yang tadinya keceplosan akhirnya dengan sungguh-sungguh menyatakan perasaannya cintanya pada Ralin.
"Terimakasih semuanya." Kenan dan Ralin menyapa semua orang yang menyaksikan pertunjukannya tadi.
Ralin dan Kenan meninggalkan tempat yang menjadi saksi cinta mereka. Para penonton tadi juga sudah pada bubar.
"Kita mau kemana untuk merayakan hari jadian kita?" Tanya Kenan yang kini sudah mengandeng tangan Ralin.
"Aku mau pulang, aku malu banyak orang yang melihatku gara-gara ulah kamu." Ralin menundukkan kepalanya, karena gara-gara kejadian tadi banyak orang yang membicarakan dirinya. Biarpun mereka hanya membicarakan sebuah pujian tapi tetap saja Ralin malu-malu.
Kenan tersenyum lalu memberhentikan langkah kakinya, membuat Ralin juga ikut menghentikan langkah kakinya.
Kenan mengangkat dagu Ralin dengan kedua tangannya.
"Berjalanlah dengan percaya diri! Mana Ralin aku yang menggemaskan seperti biasanya?" Kenan mencubit dua pipi Ralin dengan jail.
Ralin menganggukkan kepalanya, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Ntah Kenan mau membawa Ralin kemana untuk merayakan hari jadian mereka.
Kevin.
Kevin langsung pergi kerumah Valin setelah pulang dari rumah David dan Niah.
Kevin masih diam di dalam mobil, sorot matanya terus tertuju dengan satu tatapan yang membuat dirinya merasa sangat kesal.
Sosok wanita yang kini mau dirinya temui ternyata sedang bersama laki-laki lain. Mereka sedang duduk dikursi teras depan rumah Valin. Mereka terus tertawa bercanda dengan begitu dekat.
"Singkirkan kecoanya aku takut!" pinta Valin dengan tatapan jijik.
Arya adalah tetangga Valin. Mereka sering bertemu, jajan bareng, kemana-mana juga kadang bareng. Bagi orang yang gak tahu pasti bakal mengira bahwa Arya adalah kekasihnya Valin.
"Arya buang kecoanya! Kamu jorok sekali." Valin terus mengomel pada Valin.
Mereka asik bercanda, Valin tidak sadar ada sorot mata yang terus memperhatikannya.
"Ehem...ehem...." suara deheman, yang ternyata Kevin sudah turun dari mobilnya dan kini dirinya sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya ke dada.
Valin dan Arya langsung menghentikan candaan mereka. Lalu Valin melihat siapa yang berdehem, sungguh Valin terkejut melihat siapa yang dilihat di hadapannya.
"Tuan Kevin." sapa Valin dengan gugup.
"Siapa laki-laki itu?" Bukannya menjawab Kevin malah menanyakan laki-laki yang bersama dengan Valin.
Arya menatap Kevin dengan senyum tapi Kevin malah menatapnya dengan tajam.
"Aku...." kata-kata Arya terpotong.
"Aku tidak bertanya padamu." sambung Kevin dengan sorot mata tidak suka.
Arya langsung diam, lalu Valin tersenyum merasa bersalah pada Arya.
"Arya, kamu pulang dulu ya aku ada urusan dengan bos besar." bisik Valin ditelinga Arya, Arya menganggukkan kepalanya dan langsung berlalu pergi dari hadapan Kevin dan Valin.
Kini sorot mata Kevin terus menatap Valin seolah-olah meminta penjelasan kepada Valin.
__ADS_1
"Jangan terus menatapku seperti itu tuan!" pinta Valin dengan nada lembut.
"Aku tanya siapa laki-laki itu?" tanya Kevin dengan raut wajah kesal.
"Dia Arya, dia adalah tetanggaku." jelas Valin yang langsung ditatap kesal oleh Kevin.
Dalam hati Valin, kenapa Tuan Kevin menatapku seperti itu sih?
"Oh..." jawab Kevin singkat, Kevin duduk dikursi, Valin juga ikut duduk.
Kini Valin merasa canggung karena duduk berdekatan dengan Kevin.
"Ayo ikut denganku!" ajak Kevin yang langsung menarik tangan Valin.
"Mau kemana?" Tanya Valin, tapi Kevin tidak menghiraukannya dan terus menarik tangan Valin.
"Mau kemana sebenarnya dia mengajakku?" Batin Valin dalam hatinya.
Niah dan David.
Niah dan David kini mereka sudah saling diam di atas ranjang tempat tidurnya. Mungkin mereka kelelahan gara-gara habis memperdebatkan flim drama korea.
"Istriku..." panggil David dengan nada lembut.
"Kenapa?" Jawab Niah malas karena masih kesal pada sang suami.
"Ayo kita coba ini." David menunjukkan titipan dari Kakek Revan.
Niah mengambil bara tersebut dari tangan David, lalu mengamatinya dengan teliti.
"Ini itu sebenarnya apa?" Batin Niah dalam hatinya.
"Apa kamu sudah selesai datang bulan?" Tanya David sambil membenarkan posisinya menjadi duduk.
"Sudah, tumben bulan ini cepat selesai biasanya kan bisa 1 minggu lebih." jelas Niah tanpa sengaja.
David tersenyum lalu tiba-tiba mencium pipi Niah dengan gemas, membuat Niah agak kesal.
Bagaimana David tidak bahagia, David yang sudah ngebet banget pingin punya anak dari Niah. Akhirnya datang bulan Niah hari ini selesai jadi itu suatu kebahagiaan untuk David.
"Nakal ih." Niah mencubit lengan tangan David.
"Sayang aku tidak nakal, aku hanya merasa senang dan nanti malam aku beruntung karena bisa mencoba resep dari Kakek Revan." David terus mengembangkan senyum bahagianya.
Sungguh Niah merasa kesal pada sang suami. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan resep dari Kakek Revan.
"Resep apa sih sayang?" Tanya Niah penasaran.
"Kita tunggu nanti malam, nanti malam kamu akan tahu istriku." jelas David yang langsung memasukkan Niah ke dalam pelukannya.
"Kakek memberikan resep apa sih pada suamiku, sepertinya dia semangat sekali?"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1