
Malam menunjukkan pukul 7, Niah dan David berpamitan pulang kepada kedua orang tua Niah.
Setelah berpamitan, David langsung mengajak istrinya untuk segera pulang kerumahnya, tapi ditengah jalan orang tua David menelpon.
David mengangkat telpon dari mamanya.
"Hallo ma?" Sapa David.
"Nak, kamu kerumah ya bersama istrimu menginaplah dirumah mama!" Kata Shinta.
"Iya ma, aku kerumah sekarang." Jawab David.
"Baiklah nak, mama tunggu!" Kata Shinta, ia mematikan saluran teleponnya.
David kembali manaruh telponnya ke dalam saku jasnya. Niah melihat suaminya lalu ia tersenyum padanya.
"Siapa yang menelpon suamiku?" Tanya Niah dengan nada lembut.
"Mama, kata mama kita disuruh kerumah dan menginap disana." Jawab David, ia terus fokus menyetir.
"Baiklah kita kesana dan menginap disana." Kata Niah, ia juga begitu senang.
Akhirnya David mengajak istrinya untuk pergi kerumah orang tuanya.
.
.
.
Kevin dan Valin.
Mereka sedang dikamar, Valin sedang sibuk dengan ponselnya sedangkan Kevin baru keluar dari kamar mandi.
Melihat istrinya terus bermain dengan ponselnya, membuat ia merasa kesal.
"Malah asik-asikan main ponsel, sungguh malang sekali nasibku tidak dapat jatah malam pertama. Padahal malam ini adalah malam terakhir aku dan Valin bulan madu, kira-kira tamu bulanan Valin sudah pergi belum ya, aku coba tanyakan saja pada dia daripada adik kecilku terus mengusikku kan mending dia mengusik goa milik Valin." Batin Kevin dalam hatinya.
Kevin yang tubuhnya masih terlilit dengan handuk, ia berjalan mendekati istrinya ia duduk disamping istrinya.
"Tuan Kevin...." Valin tiba-tiba gugup.
"Gadis lemot, panggil aku suamiku! Kamu kan tahu kita sudah menikah!" Kata Kevin, ia kesal pada istrinya karena suka memanggil dirinya dengan sebutan tuan.
Valin kadang lupa kalau bos-nya itu sudah menjadi suaminya sahnya, jadi dia sering sekali menyebut Kevin dengan sebutan tuan.
"Suami istri, tapi berasa bawahan dan atasan." Valin tertawa dalam hatinya.
__ADS_1
"Iya maafkan, aku suamiku!" Valin tersenyum manis pada suaminya.
Valin melihat tubuh mulus Kevin hanya memakai handuk, sungguh membuat darah Valin mengalir lebih cepat dari biasanya. Diam-diam Valin menelan ludahnya dengan kasar.
"Aish, Kevin kamu membuatku ingin berbuat nakal padamu." Pikiran Valin mulai traveling kemana-mana.
"Istriku, apa datang bulanmu sudah pergi?" Tanya Kevin dengan nada menggoda.
"Semalam baru selesai, aku juga habis keramas tadi." Jawab Valin, ia tersenyum pada suaminya.
"Apa, kita sudah bisa melakukan malam ini?" Kevin mendekatkan wajahnya pada wajah Valin. Membuat Valin semakin deg-deggan.
"Melakukan apa?" Tanya Valin, yang tidak berani menatap wajah tampan suaminya.
Kevin mengambil dagu istrinya dengan satu tangannya, lalu mendekatkan dengan wajahnya.
"Tataplah aku istriku, aku ingin melakukan malam ini!" Kevin mencium bibir Valin, perlahan-lahan Valin menikmati ciuman dari suaminya. Ia membuka sedikit mulutnya agar suaminya bisa memperdalam ciumannya.
"Emmhh..." desah Valin, Kevin melepaskan ciumannya, bibirnya mulai bergerilya kemana-mana membuat Valin terus mendesah penuh kenikmatan.
Nafas Kevin terus memburu, ia terus melanjutkan aksinya, tangannya melepaskan kancing baju istrinya dan Valin juga ikut membantunya.
Kevin melepaskan baju Valin, lalu ia membuangnya kesembarang tempat.
Kevin membenamkan wajahnya, di gunung kembar sang istri lalu ia melepaskan pengait bra milik istrinya dan membuangnya kesembarang tempat.
Kevin merebahkan Valin diatas kasur, lalu menindihnya, dibagian bawah sana Valin merasakan ada benda tumpul yang sedang bermain-main dengan miliknya dengan lembut. Ia Kevin menggesek-gesek miliknya ke milik Valin.
Valin menganggukkan kepalanya, ia hanya bisa merintih dan mendesah karena permainan sang suami.
"Apa punyamu besar?" Tanya Valin malu-malu, ia tersenyum tapi ia juga penasaran karena beberapa hari menikah Valin dan Kevin sama-sama belum membuka benda keramat mereka satu sama lain.
"Kamu mau melihatnya?" Kevin menghentikan aktivitasnya diatas tubuh Valin, lalu ia membuka handuk yang melilit tubuhnya.
Kini miliknya sudah terlihat sempurna dan sudah tegang, membuat Valin cenat-cenut tidak sabar ingin goyang malam ini.
Kevin memegang miliknya dengan bangga.
"Malam ini, kamu akan terpuaskan." Kevin tertawa dalam hatinya.
Karena miliknya sudah sangat tegang, Kevin langsung melepaskan cd milik istrinya dan langsung membuangnya kesembarang tempat.
Kini ia memulai aksinya dan langsung memasukkan miliknya, ke dalam milik istrinya ia terus berusaha hingga akhirnya masuk dengan sempurna kedalam milik istrinya.
Valin terus mengerang, tangannya sudah menggegam erat sprei yang malam ini akan menjadi saksi cinta suci mereka.
Setelah dua-duanya sama-sama mencapai puncaknya, akhirnya Kevin mengeluarkan semuanya di dalam rahim Valin, cairan hangat itu mengalir dengan sempurna dan bercak darah suci menjadi saksi cinta mereka malam ini.
__ADS_1
Kevin menjatuhkan tubuhnya disamping Valin, lalu ia mencium kening Valin dengan hangat.
"Terimakasih istriku." Kata Kevin, yang kini sudah membawa Valin masuk ke dalam pelukannya.
Malam semakin larut, dan malam ini Kevin melakukannya lebih dari satu kali. Akhirnya Kevin mendapat jatah malam pertamanya.
.
.
Niah dan David.
Kini Niah dan David sudah sampai dirumah orang tua David. Mereka tidak langsung tidur melainkan mereka menonton televisi bersama sambil mengobrol.
"Niah, kamu sudah tahu jenis kelamin anak kamu nak?" Tanya Mama Shinta, ia tersenyum pada menantunya itu.
"Anak aku kembar ma, tapi untuk jenis kelamin masih rahasia ma." Jawab Niah, ia membalas senyuman dari mama mertuanya.
Dimas dan Shinta saling menatap bahagia.
"Papa, cucu kita kembar." Kata Shinta.
"Sungguh nak? Wah anak papa hebat sekali tanjap jadi dua, sungguh topcer." Dimas menepuk bahu David, David hanya bisa tersenyum malu-malu di depan kedua orang tuanya itu.
Mendengar kabar bahagia ini, Shinta langsung memeluk tubuh Niah dan mengajak Niah untuk tidur berdua dikamarnya.
"Niah, malam ini tidur dengan mama ya!" Pinta Shinta, ia sungguh ingin bercurhat ria dengan anak menantunya itu.
Niah hanya tersenyum, ingin menolak pun tidak enak pada mama mertuanya.
Dimas hanya senyam-senyum, melihat senyum masam di wajah tampan putranya.
"Mama, tidak lihat mendengar mama mengajak Niah tidur dengan mama. Wajah David langsung berubah masam." Dimas tertawa dalam hatinya.
David mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal seolah-olah memberi isyarat pada istrinya agar menolak tidur bersama mamanya.
"Niah, kalau kamu tidur dengan mama lalu siapa yang puk-puk aku malam ini?" David merasa sedih dalam hatinya.
"Mama, Niah kan ada suaminya. Kasian David kalau Niah tidur dengan mama." Larang Dimas, ia tahu anaknya ingin melakukan protes pada mamanya tapi tidak berani jadi Dimas mewakili anaknya.
"Papa, kan hanya malam ini. Mama ingin mengobrol dengan menantu mama," Jawab Shinta dengan nada lembut.
Shinta melihat kearah anaknya, ia memasang wajah memohon kepada David. Membuat David tidak tega pada mamanya.
"Suamiku, apa aku boleh tidur dengan mama malam ini?" Tanya Niah.
"Hmmm...."
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊