Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
295.Ngobrolin orang ketiga.


__ADS_3

Pagi hari yang begitu cerah, semuanya sudah baik-baik saja bahkan masalah game yang kemarin sudah saling memaafkan.


Pagi ini Rama menjalankan aktivitas seperti biasanya, Papi dan Mami juga hari ini berangkat keluar negeri karena harus mengurus perusahaan disana, dalam ini Papi Revan tidak mungkin menyuruh salah satu Anaknya untuk mengurus perusahaan yang ada diluar negeri, karena Rama dan Rehan masih punya Anak-anak yang masih kecil, istri-istri mereka juga belum terbiasa hidup diluar negeri, jadi Papi Revan mengalah Papi Revan mengurus perusahaan yang ada diluar negeri sendiri dengan dibantu oleh orang-orang kepercayaannya Papi Revan.


Setelah Rama berangkat ke kantor, Mami Diana dan Papi Revan juga sudah berangkat ke bandara dengan diantar supir, kini Ana dan Ayu menjalankan aktivitasnya seperti biasanya.


"Kak maafin Rehan ya, gara-gara kejailan Rehan Kakak Ipar pasti ribut sama Kak Rama." Ayu meminta maaf pada Ana karena kejailan suaminya kemarin.


Ana hanya tersenyum, iya karena dalam hal menurut Ana Rehan juga tidak salah, justru Rehan benar karena sudah memberitahukan kalau Rama itu main game bukan jagain Anak-anaknya.


"Tidak apa-apa Yu, justru Suamimu itu benar, Aku malah berterimakasih padanya, Aku juga sudah hapus semua aplikasi game diponselnya." jawab Ana yang diiringi dengan senyum manisnya.


Kevin dan Niah sedang tidur di kasur yang ada di depan TV, sedangkan Ralin sedang tidur di box bayi dekat tempat Ayu duduk.


"Tahulah Kak, kadang suamiku itu suka iseng kan kasihan Kak Rian, Kak Bagas juga." keluh Ayu dengan raut wajah yang begitu malas.


"Aku yakin Via dan Alena hanya mengomel saja, mereka tidak akan jambak-jambakan dengan suami-suami mereka." sambung Ana yang diiringi tawa kecilnya.


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu.


"Tok...tok...tok..." suara ketukan pintu.


"Pasti itu Via dan Alena." tebak Ana.


Ayu langsung menuju ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.


"Ceklek.." suara gagang pintu.


Ternyata benar yang datang adalah Alena dan Via, Ayu langsung menyuruh Via dan Alena masuk.


"Masuklah!" pinta Ayu.


Kini mereka bertiga masuk, lalu mereka duduk diruang tengah, Alena duduk sambil memangku Kenan, Via duduk sambil memangku Vano.


"Kalian tahu, gara-gara game kemarin Aku dapat keuntungan banyak dari suamiku." kata Alena dengan begitu antusias.


Via, Ayu dan Ana mereka saling melempar tatapan dengan raut wajah bingung, mereka berpikir keuntungan apa yang Alena dapat.


"Kamu dapat keuntungan apa Len?" tanya Via mewakili kedua sahabatnya juga.


"Keuntungannya adalah, Aku mendapat satu set perhiasan keluaran terbaru." jawab Alena dengan tawa bahagianya.


Ana hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar Alena, pintar juga dalam memanfaatkan situasi kemarin." gumam Ana.


"Dasar Kamu Len matre." ledek Via sambil memasang wajah jailnya.


"Matre sama Suami tuh harus Vi." jawab Alena yang tidak mau salah.


"Besok Aku mau matre jugalah sama Rehan." sambung Ayu.


"Ayu selama masih menjadi istri-istri satunya, Kita harus menjaga suami Kita dengan baik, Kita juga harus matre sama Suami, kalau suami-suami Kita ketahuan matrein wanita lain, Aku akan menjambak wanita itu nanti." nasehat Alena buat Ayu.


Via dan Ana hanya menggelengkan kepalanya, lalu Ayu menjawab nasehat dari Alena.


"Kalau Rehan sampai main wanita dibelakangku, Aku pastikan Dia tidak akan melihat Ralin lagi dalam hidupnya." jawab Ayu dengan tegas.


Iya biarpun bagaimanapun Ayu tidak akan mau rumah tangganya, sampai ada orang ketiga.


"Sama Yu, Aku juga kalau Rian punya wanita lain mending Aku bawa Vano ke luar negeri, biarkan saja Rian tidak melihat Anaknya." sambung Via dengan tegas.


Ana hanya terdiam, Ana yakin suaminya tidak akan melakukan hal seperti.


"Sudahlah jangan berpikir macam-macam, Kita tahu seperti apa suami-suami Kita mereka tidak akan selingkuh dibelakang Kita." kata Ana yang berusaha meyakinkan ketiga sahabatnya, salah satunya adalah Adik Iparnya.


Via, Alena dan Ayu kini mereka saling melempar senyum, benar apa yang dikatakan oleh Ana, kalau suami-suami mereka tidak akan berselingkuh dibelakang mereka.


Tapi ya namanya manusia tidak luput dari kesalahan, jadi ya itu semua masih rahasia Authornya.


Hari semakin siang, Ana, Via, Alena dan Ayu mereka masih asik ngobrol sambil menjaga anak-anak mereka.


Dikantor Rama.


Jam menunjukkan pukul 12 siang, kini Rama, Rehan dan Bagas langsung pergi makan siang bersama.

__ADS_1


Setelah memesan makanan, mereka bertiga langsung duduk disalah meja pelanggan.


Rehan senyam-senyum pada Rama dan Bagas, Bagas dan Rama hanya menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya, Rehan sudah gila." kata Bagas pada Rama.


"Mungkin, Dia sudah tidak waras." sambung Rama sambil menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana, kemarin terjadi perang tidak?" tanya Rehan dengan penuh kejailan.


Rehan senyam-senyum sendiri, Karena membayangkan para seniornya diomelin oleh istri-istri mereka.


"Gara-gara Kamu, Aku jadi harus membelikan Alena set perhiasan keluaran terbaru." omel Bagas dengan tatapan sinis.


"Baru perhiasaan Kak, belum mobil baru." sahut Rehan sambil menjulurkan lidahnya.


"Alena memang pintar." Rama memuji Alena.


"Dasar kalian sama saja." tegas Rehan.


Makan mereka baru saja datang, namun belum sempat memakan makanan pesannya Bagas langsung berpamitan pada Rama dan Rehan.


"Tuan Rama, Rehan, Aku pamit pergi dulu ya." Bagas berpamitan dengan Rama dan Rehan.


"Kamu mau kemana? terus makananmu?" tanya Rama sambil melihat kearah Bagas.


"Makananku buat Rehan saja, mumpung jam makan siang, Aku mau ke toko perhiasan." jawab Bagas.


"Baiklah, hati-hati dijalan." jawab Rama.


Bagas langsung pergi menuju ke toko perhiasan langganan Istrinya, sedangkan Rama dan Rehan melanjutkan makan siang mereka.


Selesai makan siang Rama langsung kembali keruang kerjanya, mendengar ponselnya berbunyi Rama langsung mengangkatnya.


"Ana menelpon." gumam Rama.


"Hallo sayang." sapa Rama yang langsung duduk dikursi kerjanya.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Ana.


"Sudah tadi bareng Ayu." jawab Ana.


Setelah mendengar Rama sudah makan siang, Ana langsung mematikan saluran teleponnya.


Siang ini Ana menelpon hanya untuk menanyakan suaminya sudah makan siang atau belum.


Sesampainya ditoko emas langganan Istrinya, Bagas langsung membeli set perhiasan keluaran terbaru seperti apa yang Alena mau.


Setelah selesai membeli perhiasan tersebut, Bagas langsung kembali ke kantor.


Bagas baru saja dikantor, kini Bagas sedang melanjutkan pekerjaannya.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore, Bagas, Rama dan Rehan, mereka kembali dari kantor bersama hanya saja Rehan memakai mobil yang berbeda dengan Rama dan Bagas.


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi, agar segera sampai dirumahnya.


Sesampainya dirumah, Bagas langsung memberhentikan mobilnya, Rama langsung masuk ke dalam rumahnya begitu juga dengan Bagas yang langsung pulang kerumahnya.


Dikamar Alena dan Bagas.


Dengan senyum bahagianya, Bagas langsung menghampiri Alena yang sedang duduk dikursi meja rias, Bagas langsung mencium rambut Alena lalu tersenyum pada Alena.


"Kamu sudah pulang suamiku?" tanya Alena dengan nada lembut.


"Sudah, Aku pulang dengan membawa ini." jawab Bagas, sambil menunjukkan paper bag yang dirinya tenteng.


Melihat paper bag tersebut, Alena langsung membalikkan tubuhnya, lalu melihat wajah tampan suaminya.


"Apa ini untukku?" tanya Alena pelan.


"Tentu saja untukmu, memang boleh Aku berikan ini pada wanita lain?" jawab Rehan sambil menggoda Alena.


"Awas saja jika Kamu berani, Aku akan mencabik-cabik dirimu." ketus Alena dengan tatapan yang begitu garang.


Bagas tersenyum, lalu berjongkok dihadapan Alena.

__ADS_1


"Ini untukmu istriku, sesuai janjiku kemarin perhiasan satu set keluaran terbaru." kata Bagas dengan begitu lembut.


Alena langsung mengambil paper bag tersebut dari tangan Bagas, lalu membukanya.


"Waahhhh indah sekali." kata Alena yang sudah membuka kotak perhiasan tersebut.


"Berkilau sekali." kata Alena lagi.


"Iya berkilau seperti cintaku padamu sayang." sambung Bagas yang berusaha mengombali Alena.


Alena menaruh set perhiasan tersebut, diatas meja riasnya, kini Alena langsung mengalungkan tangannya ke leher Bagas.


Bagas langsung mendaratkan bibirnya ke bibir mungil Alena.


"Cup..." satu ciuman mendarat dibibir Alena.


Bagas melepaskan ciumannya, lalu bertanya pada Alena.


"Apa Aku boleh melanjutkannya?" tanya Bagas memastikan.


Alena melihat kearah ranjang tempat tidurnya, dan Alena melihat Kenan sedang tertidur. lalu Alena tersenyum pada Bagas.


"Boleh, nampung Kenan sedang tidur." jawab Alena dengan nada menggoda.


Bagas langsung kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Alena, hingga tanpa sadar Bagas dan Alena sama-sama terbuai, namun disaat Bagas sudah mulai membuka kancing baju Alena, tiba-tiba Kenan menangis.


"Eeaah..eaahh.." suara tangisan Kenan.


Bagas langsung menghentikan aksinya, lalu Alena langsung berjalan menuju ke tempat tidurnya untuk menenangkan Kenan.


Bagas hanya bisa berdecak kesal, sambil bergumam.


"Kenan, kenapa harus menangis sekarang sih? gagal deh Papa buatin Adek untuk Kamu." gumam Bagas sambil berdecak kesal.


Dikamar Rama dan Ana.


Ana baru saja selesai mandi, sedangkan Kevin dan Niah mereka sedang tertidur begitu pulas.


Ntah mengapa Ana tiba-tiba langsung memeluk Rama, membuat Rama begitu kaget.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Rama sambil mengusap-usap punggung Ana dengan tangannya.


"Aku hanya ingin memelukmu." jawab Ana.


"Apa Kamu ada masalah?" tanya Rama lagi.


"Tidak ada, apa tidak boleh memeluk suamiku sendiri." tanya Ana sambil memanyunkan bibirnya.


Rama langsung memperat pelukannya, dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Tentu saja boleh, Kamu meminta lebih juga Aku siap." jawab Rama sambil membenamkan wajahnya dileher Ana.


Ana merasakan geli pada bagaian lehernya, namun Ana membiarkannya.


"Dasar mesum." omel Ana.


"Aku cuma merasa baper, karena obrolan tadi siang bersama sahabat-sahabatku." gumam Ana.


Mungkin diantara yang lain, Ana tidak terlalu menanggapi obrolan tadi siang, namun seketika melihat wajah tampan suaminya, jujur Ana sangat takut kehilangan dan sangat takut Rama tergoda wanita lain.


Rama tidak menghiraukan Omelan Ana, namun Rama langsung melepaskan Ana dari pelukannya.


"Kita lanjutkan nanti." bisik Rama, yang langsung melepaskan pelukannya.


Bersambung 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Baca juga karya Author yang kedua ya "Perjodohan karena hutang"



Baca juga karya teman Asti 😊


__ADS_1


__ADS_2