Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
347.Main colet-coletan upil S2.


__ADS_3

Niah meminum air putih yang diberikan oleh suaminya.


"Apa kamu bilang?" Tanya Niah memastikan.


"Ayo kita punya anak secepatnya!" David mengulang kata-katanya.


"Punya anak?" Niah mengulangi perkataan sang suami.


David menatap Niah, Tangan David mengambil tangan Niah yang ada dimeja lalu memegangnya dengan erat.


"Niah kita sudah menikah dan apa salahnya jika secepatnya punya anak?" Tanya David dengan sorot mata penuh arti.


David sengaja meminta hal itu dari Niah, Karena perasaan David terlalu cemburu pada Vano. David takut jika Niah bermain-main dengan Vano dibelakangnya, Jadi pikir David kalau Niah punya anak itu akan membuat Niah terus ada disampingnya.


"Kita bahas masalah ini nanti kalau sudah dirumah ya." Jawab Niah dan langsung melepaskan tangannya dari tangan David.


"Apa kamu sudah mencintaiku? Kamu meminta aku memberikan anak padamu tapi kamu saja tidak pernah menyatakan rasa cintamu padaku." Batin Niah dalam hatinya.


Dalam hal ini mungkin Niah masih ragu untuk segera punya anak apalagi David tidak pernah menyatakan rasa cintanya pada dirinya, Tapi Niah juga sadar Niah sudah melakukan ehem-ehem sama suaminya jadi kemungkinan hamil juga cukup besar.


"Baiklah, Tapi aku minta kamu jangan terlalu dekat sama Vano." David menganggukan kepalanya, David juga melarang Niah dekat dengan Vano. Sebagai seorang laki-laki David tahu tatapan Vano pada istrinya itu menunjukkan bahwa Vano itu mempunyai perasaan khusus buat Niah.


"Aku dan dia hanya sahabat." Jelas Niah agar sang suami tidak salah paham pada dirinya dan juga pada Vano.


"Kamu lihat sendiri tatapan laki-laki itu padamu, Dia itu menyukaimu dan aku melihatnya dari sorot mata dia." Bantah David dengan lantang membuat Niah begitu kaget.


"Vano menyukaiku?" Pikir Niah dalam hati.


Untung saja mereka hanya berdua dirumah jadi tidak ada yang tahu, Jika mereka berdua sedang berdebat gara-gara masalah Vano.


"Itu hanya perasaanmu saja suamiku, Selama ini aku dan Vano hanya sebatas sahabat tidak lebih dan dia juga tidak pernah bilang kalau dia itu menyukaiku." Niah kembali berusaha menjelaskan pada David, Dengan lembut Niah mengambil tangan David lalu memegangnya.


"Aku ini istrimu dan kalaupun Vano itu menyukaiku, Aku bisa apa? Apa kamu akan melepaskanku buat Vano?" Dengan begitu lembut Niah terus bertanya pada suaminya.


"Mungkin dulu aku pernah berharap laki-laki yang menikah denganku itu Vano, Tapi takdir sudah menentukan aku harus menikah dengan David." Niah kembali membatin dalam hatinya.


"Aku tidak akan melepaskanmu aku akan membuat kamu terus berada di sisiku." Dengan tegas David menjawab pertanyaan Niah, Niah mengusap pipi suaminya dengan tangannya lalu tersenyum.


"Aku tahu kamu sedang cemburu suamiku." Dengan nada meledek Niah tersenyum penuh ketulusan, David juga ikut tersenyum lalu menarik Niah kedalam pelukannya.


"Tetaplah disampingku!" Pinta David tepat ditelinga Niah.


"Sudah jangan cemburu, Ayo kita ke kamar, Aku mau mandi dan dandan yang cantik." Ajak Niah yang perlahan melepaskan pelukan dari tubuh suaminya.


"Kamu tidak usah dandan saja sudah cantik istriku, Ingat jangan berdandan untuk laki-laki lain karena hanya aku yang bisa menikmati kecantikanmu setiap hari." David melarang Niah berdandan membuat terkekeh dalam hatinya, Ternyata suaminya ini begitu cemburuan.

__ADS_1


Niah beranjak dari kursi tempat duduknya lalu menarik tangan suaminya agar ikut kedalam kamar.


"Masih siang jangan main dikamar nanti aku hilaf." Tolak David dengan manja, Tapi Niah tidak memperdulikannya dan terus menarik tangan suaminya.


Akhirnya David menuruti apa mau sang istri, Kini keduanya masuk kedalam kamar dan meninggalkan ayam pedas manis yang sedang Niah makan tadi.


Keluarga kecil Ayu dan Rehan.


Ayu dan Rehan sedang duduk diruang tengah sambil menonton televisi, Ralin baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri kedua orangtuanya.


"Mama, Papa, Ayo kerumah Kak Niah!" Raline merengek mengajak kedua orangtuanya ke rumahnya Niah.


Melihat anak semata wayangnya merengek dengan manja membuat Rehan geleng-geleng kepala.


"Istriku dulu kamu ngidamnya apasih? Sih Ralin bisa manja banget seperti itu?" Tanya Rehan yang ditatap kesal oleh Ralinsyah.


"Ihh Papa kok gitu sama Alin." Ralin memanyunkan bibirnya membuat Rehan tersenyum begitu gemas.


"Aku tidak bisa membayangkan jika Ralin sudah menikah nanti, Pasti rumah ini akan sepi." Batin Rehan dalam hati.


"Sudah-sudah jangan berdebat, Suamiku ini semua salah kamu dari kecil kamu selalu memanjakan Ralinsyah jadi ya wajar kalau dia terus-terusan bersikap manja seperti itu." Ayu melerai anak dan suaminya agar tidak sampai berdebat.


Rehan memang sangat menyayangi Ralinsyah dari kecil, Bahkan bisa dibilang Rehan begitu memanjakannya kadang gara-gara Rehan terlalu memanjakan Ralinsyah Ayu sering sekali protes tapi Rehan selalu bilang pada Ayu, Dia itu anak satu-satunya kamu ingat bagaimana dulu mendapatkan Ralinsyah itu sangat susah sekali.


"Iya iya salah aku istriku." Rehan mengalah dan membiarkan sang istri menyalahkannya.


"Papa sama mama mau tidak kerumah Kak Niah?" Tanya Ralinsyah yang mengulangi kata-katanya.


"Iya ayo kesana." Jawab Ayu dan Rehan bersamaan.


Ayu, Rehan dan Ralinsyah mereka langsung pergi menuju ke rumah Niah. Hanya butuh beberapa langkah akhirnya mereka sampai dirumah Niah.


"Tok...tok..." Rehan mengetuk pintu.


"Ceklek." Suara gagang pintu.


"Pintunya tidak dikunci," Rehan masuk begitu saja Ayu dan Ralinsyah juga ikut masuk kedalam rumah Niah.


"Pada kemana? Sepi sekali." Rehan duduk diruang tengah.


Ana dan Rama baru pulang dari rumah Alena dan Bagas, Melihat pintu rumahnya terbuka mereka langsung masuk.


"Niah, David." Panggil Ana dengan suara agak kencang.


"Kalian? Niah dan David mana?" Tanya Rama yang melihat Rehan, Ayu dan Ralin sedang duduk diruang tengah.

__ADS_1


"Kita kesini tapi tidak ada orang kak, Jadi aku main masuk saja." Jelas Rehan dengan jujur.


Ana dan Rama ikut bergabung duduk di sofa, Kini mereka menonton televisi bersama sambil mengobrol.


"Niah dan David disini Kakak ipar?" Tanya Ayu pada Ana.


"Iya mereka disini, Tadi juga sedang menonton televisi tapi sekarang tidak tahu kemana?" Jawab Ana dengan nada lembut.


"Namanya pengantin baru kak, Dimana lagi kalau bukan dikamar." Cetus Rehan biasa dengan pikiran mesumnya.


Rehan itu dari dulu suka jail dan selalu saja otaknya itu penuh kemesuman.


"Hushh jangan membahas seperti itu ada Ralin!" Ayu mengomeli Rehan mengingat ada anaknya yang juga duduk bersama mereka Ayu sangat melarang Rehan bicara yang mesum-mesum.


Padahal mah Ralin dari tadi tidak mendengar obrolan pada orang tua, Kini dirinya sedang asik menyumpel telinganya dengan headset sambil mendengarkan lagu kesukaannya.


Niah dan David yang baru saja keluar kamar terlihat kaget melihat diruang tengah begitu rame.


"Kan lihat Niah saja jam segini sudah mandi basah." Ledek Rehan yang melihat Niah Habis keramas.


"David ini masih jam 3 sore tapi kamu sudah mengajak istrimu main basah-basahan." Rehan terus meledek David dan Niah.


Niah berjalan menuju sofa bergandengan dengan David.


"Papi Niah main basah-basahan jam segini karena tadi rambut Niah dikasih upil sama David, Niah merasa jijik jadi Niah mandi sekalian mencuci rambut Niah." Jelas Niah pada Rehan.


"Lagi kamu colet-colet aku pake lipstik, Siapa tadi yang mulai." David tidak terima Niah menyalahkan dirinya.


Jadi tadi pas mau mandi David itu menggoda Niah terus, Membuat Niah kesal Niah terus mencolet-colet David dengan lipstik miliknya membuat David kesal, Akhirnya agar Niah tidak terus mengusiknya David menaruh upil dirambut Niah membuat Niah dan merasa jijik akhirnya mandi basah gara-gara kejailan David.


"Dengarkan papi lain kali jangan main colet-coletan upil ya, Mending main colok-colok itu lebih enak." Rehan kembali meledek Niah dan David.


Ayu geleng-geleng kepala, Rama melempar kacang yang ada ditangannya ke arah Rehan, Rehan malah senyam-senyum, David dan Niah saling menatap ntah apa yang mereka berdua pikiran saat ini?


"Main colok-colokan? Apa Papi Rehan menyuruh David mencolok mataku?" Pikir Niah dalam hatinya.


"Tok...tok.....tok..." Suara ketukan pintu.


"Sudah-sudah ada orang jangan lanjut obralan kalian ini!" Omel Ana dan segara pergi ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.


"Siapa yang datang jam segini?"


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2