
"Kalian, jangan pulang dulu ya! Kita makan malam bersama dan aku mau mengajak Vina masak bareng." Kata Niah dengan antusias.
"Baiklah, ayo kita masak bersama!" Jawab Vina.
"Masak yang enak-enak ya!" Cetus Vano dengan senyum meledek.
Niah tersenyum, Vina juga tersenyum, kini mereka langsung menuju ke dapur untuk memulai menyiapkan apa saja yang akan mereka masak untuk makan malam bersama nanti.
Vano duduk sendirian di sofa sambil menonton televisi, sekali-kali ia melirik Niah dan Vina yang terlihat begitu akrab.
"Vina, biarpun Niah pernah ada dalam hatiku percayalah itu semua hanya dulu." Batin Vano dalam hatinya.
Vano fokus menonton televisi, ia tertawa sendiri bahkan suka kesal sendiri, ntah apa yang sedang Vano tonton?
Di dapur.
Niah dan Vina sedang bekerja sama dalam menyiapkan apa saja yang akan mereka masak hari ini.
"Niah, biasanya suamimu pulang kerja jam berapa?" Tanya Vina, ia sedang memotong bawang bombay.
"Jam 7 malam, tapi kalau lagi tidak tahu kenapa? Pasti dia akan pulang cepat Vin." Jawab Niah dengan senyum manis disudut bibirnya.
"Kamu, sendirian dirumah tidak kesepian?" Tanya Vina lagi.
"Kesepian pasti, tapi mau bagaimana lagi kan suami kerja. Jadi aku harus ditinggal," Niah mengambil piring untuk menaruh bawang yang sudah ia potong.
"Kamu sebelumnya pernah memasak Vin?" Tanya Niah, disela-sela kegiatannya yang sedang memindahkan potongan bawang ke piring yang tadi di ambilnya.
"Aku jarang memasak, selain aku tinggal sendiri aku juga kerja jadi tidak sempat untuk memasak." Jawab Vina.
Mereka berdua asik memasak sambil mengobrol, hari ini mereka berdua membuat ayam lada hitam, udang balado dan tumis kangkung.
Di kantor David.
David baru saja menyelesaikan pekerjaannya, karena jam sudah menunjukkan pukul 6 sore David bersiap-siap untuk segera pulang.
Randi yang masih sibuk dengan laptopnya, membuat David tersenyum jail.
"Ran, aku pulang duluan ya! Dan kamu lanjutan kerjaanmu, kalau aku mau melanjutkan tugasku sebagai suami siaga." Kata David, dengan senyum meledek.
"Tuan, kita ke club malam yuk! Kita sudah lama loh tidak kesana. Tuan tidak merindukan para j*l*ng-j*l*ng tuan disana?" Randi balas meledek, ia sengaja agar David kesal.
"Lupakanlah mereka, aku sudah tidak tertarik pada mereka semua. Dan kamu tahu dirumahku sudah ada wanita cantik yang setiap hari menungguku, tidak seperti dirimu yang jomblo setiap hari pulang kantor dan malamnya pasti tidur dengan bantal guling." Tolak David, dan ia kembali meledek Randi. David itu tidak pernah ada habisnya untuk menjaili sekretarisnya yang masih jomblo itu.
Biarpun David dari dulu terkenal playboy dan punya banyak wanita j*l*ng. Tapi David selalu menjaga keris berharganya di dalam sana.
Dan tentunya pertama kali ia mencelupkan keris pusaka miliknya itu pada istrinya.
__ADS_1
"Sudahlah tuan, sana pulang! Aku males tuan selalu meledekku." Randi mengusir David secara halus.
Sambil cengengesan David keluar dari ruangan kerjanya, ia meninggalkan Randi sendirian di dalam ruangannya.
Randi melanjutkan pekerjaannya, sedangkan David langsung pulang karena ingin segera bertemu dengan istri tercintanya.
David melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi, karena ingin buru-buru sampai di rumahnya.
.
.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, akhirnya David sampai dirumah dan ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu rumahnya lebih dulu, Karena pintu rumahnya juga tidak dikunci.
"Niah, dia tumben tidak mengunci pintu rumah?" Tanya David pada hatinya.
David melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, ia mencari-cari sosok sang istri tapi belum melihatnya juga.
"Niah, kamu dimana sayang?" Panggil David, dengan sorot mata mencari kestiap ruangan.
Mata David membulat dengan sempurna, melihat laki-laki yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Brengsek, berani sekali dia menemui istriku saat aku sedang dirumah!" Batin David langsung menggebu-gebu.
David berjalan kasar menuju Vano sedang duduk, dan tanpa melihat kearah dapur tiba-tiba David mencengkeram kerah kemeja Vano membuat Vano terkejut.
"Berani, sekali kamu menemui Niah dibelakangku!" Sentak David, dengan sorot mata penuh amarah.
"Pasti, sih bodoh ini sudah salah paham." Batin Vano dalam hatinya.
"David, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah salah paham. Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan!" Vano berusaha menahan tangan David, agar tidak sampai menjotosnya.
Mendengar keributan membuat Vina dan Niah sama-sama menoleh ke sumber keributan tersebut. Betapa terkejutnya mereka melihat para lelaki mereka akan melakukan baku hantam.
"David...." Niah mematikan kompor, dan langsung berlari ke ruang tengah.
Vina juga menghentikan kegiatannya, dan langsung menyusul Niah ke ruang tengah.
"Vano...." Teriak Vina.
Mendengar suara Vina, David melepaskan cengkraman tangannya dari kerah kemeja Vano.
"Vina, Niah...." Kata David.
Niah langsung menarik tangan suaminya, lalu menghela nafasnya dengan pelan.
"Sayang, apa yang kamu lakukan pada Vano?" Tanya Niah, ia agak kesal pada sang suami.
__ADS_1
"Pasti David cemburu, dasar suami cemburuan." Batin Niah dalam hatinya.
"Aku kira sih brengsek itu datang sendiri tadi." Jawab David, masih dengan sorot mata cemburunya.
Niah jadi merasa tidak enak Vano dan Vina.
"Vina, Vano, maafkan suamiku aku yakin dia sudah salah paham!" Niah mewakili suaminya untuk meminta maaf pada Vina dan Vano.
"Tidak apa-apa Niah, aku tahu suamimu itu memang sangat cemburuan." Jawab Vano, ia tersenyum pada David.
"Iya Niah, sudahlah lagian ini hanya salah paham." Timpal Vina, ia tersenyum pada Niah.
"Suamiku, minta maaflah pada Vano!" Suruh Niah dengan tegas.
Karena David memang salah, ia langsung menuruti apa kata sang istri. Ia langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Vano.
"Van, maafkan aku. Aku sudah salah paham!" Kata David, dengan penuh sesal.
"Iya tidak apa-apa!" Jawab Vano, ia membalas uluran tangan David dan mereka saling bersalaman.
Vina dan Niah sama-sama tersenyum, lalu mereka kembali menuju ke dapur.
"Kalian duduklah! Ingat jangan sampai main baku hantam lagi!" Niah melirik suaminya dengan sorot mata tajam..
David menganggukan kepalanya, ia sudah duduk disebelah Vano sedangkan Niah dan Vina sudah kembali ke dapur.
Di dapur mereka kembali sibuk memasak untuk makan malam.
"Van, kamu tumben datang kesini?" Tanya David penasaran.
"Aku, kesini untuk mengantarkan undangan pernikahan aku dengan Vina." Jawab Vano, ia fokus melihat televisi.
"Baguslah, kamu menikahlah! Biar tidak terus-terusan melirik istriku." Kata David, lagi-lagi ia menunjukkan rasa cemburunya.
"Tenang saja, aku sudah relakan Niah untuk kamu dan tugasmu adalah membahagiakan Niah." Jawab Vano, dengan jujur membuat David tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu, tenang saja! Aku pasti akan membuat Niah sebagai wanita yang paling bahagia." Jawab David dengan penuh keyakinan.
Mereka asik mengobrol sambil menonton televisi.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, akhirnya semua masakan sudah siap dan mereka makan bersama.
Mereka makan malam bersama dengan penuh kebahagiaan, senyum Vano malam ini juga terlihat bahagia mungkin karena ia sudah menemukan wanita yang benar-benar akan mengisi hidupnya.
Setelah selesai makan malam, Vina dan Vano langsung berpamitan pulang dengan Niah dan David.
Setelah Vina dan Vano pulang, Niah dan David langsung masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊