Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
235. Mami dan Papi.


__ADS_3

Setelah pulang berbelanja Rama dan yang lainnya langsung menuju ke villa keluarga, untuk berlibur sekalian menghabiskan waktu bersama dengan keluarga.


"Mami, Papi mumpung semuanya kumpul. kita pergi ke villa keluarga ya" ajak Rama, yang kini sedang menyetir mobil.


"Boleh itu, Ram" saut Mami, dengan begitu antusias.


"Papi ikutin kalian saja" jawab Papi, dengan begitu pasrahnya. apalagi Istrinya sudah menyetujuinya. itu membuat Papi Revan tidak ada jawaban lain selain mengikuti mau Istri dan Anak-anaknya.


"Tapi kita tidak membawa baju ganti" kata Ana dan Ayu secara bersamaan.


"Itu masalah mudah" jawab Rama, apalagi hanya masalah baju.


"Nanti, Aku akan mengajakmu dan kakak ipar shopping Yu" timpal Rehan, dengan begitu sombongnya.


"Aku juga mau Han, dibelanjain!" timpal Rama.


"Wahh Kakak Rama, nanti yang bakal belanjain kita" ucap Rehan, dengan senyum jailnya.


"Nyesal Aku nimpali omonganmu, Han. jadi Aku yang kena lagi" kesal Rama.


"Sudah kalian jangan berdebat, nanti Papi yang akan belanjain kalian semuanya" saut Papi, agar Anak-anaknya mengakhiri perdebatannya.


Dengan begitu kompak, semuanya langsung memuji Papi Revan dengan begitu manis.


"Papi memang yang terbaik" kata Mami, Rama dan Rehan secara bersamaan.


Rama melanjutkan perjalanan, kini Rama agak mempercepat laju mobilnya.


"Ana, Apa setiap hari mereka berdebat hal sepele seperti ini?" tanya Ayu, dengan suara lirih karena takut suaminya mendengar.


"Iya Yu, pokoknya tidak ada habisnya" jelas Ana, yang tau kalau suaminya dan Rehan sering sekali memperdebatkan hal sepele.


Ayu hanya menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Akhirnya Rama dan yang lainnya sampai di villa keluarga yang begitu dikelilingi dengan pemandangan yang begitu indah.


Semua turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam kamar masing-masing, untuk segera istirahat terlebih dahulu.


Rama dan yang lainnya duduk disofa, yang ada di villa untuk merebahkan tubuhnya sebentar karena terlalu lelah menempuh perjalanan yang jauh.


"Ram, ajaklah istrimu ke kamar biar istirahat istirahat! kasian Dia pasti kecepaen" Mami menyuruh Rama, mengajak Ana untuk masuk ke dalam.


Rama beranjak dari tempat duduknya, Dan langsung mengangkat tubuh Ana dengan kedua tangannya.


"Iya Mami" jawab Rama.


"Sayang, Ayo kita ke kamar" ajak Rama,yang sudah mengangkat tubuh Ana.


"Rama, turunkan Aku" rengkek Ana.


"Diamlah! atau kamu akan terjatuh" jawab Rama, sambil mencium bibir Ana dengan begitu lembut.


Ana langsung menatap Rama, dengan tatapan begitu kesal.


"Jangan lakukan itu" kesal Ana.


"Kita lakukan dikamar saja" goda Rama.


Rama dan Ana sudah berada dikamar, kini Rama langsung menaruh Ana diranjang tempat tidur.

__ADS_1


"Rehan, kamu juga ajak istrimu istirahat" Mami menyuruh Rehan mengajak Ayu istirahat.


"Iya Mami" jawab Rehan, kini Ayu dan Rehan bergandengan tangan menuju kamar mereka.


Ayu langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur, Rehan juga langsung merebahkan tubuhnya disamping istrinya.


Mami dan Papi.


"Sudah lama ya Pi, kita tidak menghabiskan waktu dengan Anak-anak kita" kata Mami, yang kini sudah menyadarkan kepalanya di bahu Papi Revan.


Papi Revan, membelai pipi Mami dengan penuh kelembutan.


"Iya Mi, kini mereka sudah besar dan sudah punya istri. tidak terasa ya Mi" jawab Papi, yang merasa waktu cepat berlalu. kini keduanya putra sudah besar dan sudah menikah.


Papi Revan dan Mami Diana, menikah karena cinta. Mami Diana juga berasal dari keluarga biasa, namun Papi Revan dari keluarga kaya raya. tapi keluarga Papi Revan menerima Mami Diana dengan begitu baik, Itulah yang membuat Mami Diana tidak pernah mempermasalahkan mendapatkan menantu dari kalangan orang biasa atau orang miskin.


Jadi bukan karena tidak punya alasan Mami Diana, menerima Ana dan Ayu dengan baik. karena Mami Diana juga sama dengan dengan mereka hanya dari keluarga biasa.


"Terimakasih, untuk cinta dan kasih sayang yang Papi berikan pada Mami" kata Mami, yang kini telah meneteskan air mata bahagianya.


Papi langsung menghapus air Mata, Mami.


"Sama-sama, itu sudah tugasku sayang" jawab Papi, sambil menghapus air mata istrinya yang sudah membasahi pipinya.


Mami dan Papi kini saling berpelukan dengan penuh kasih sayang.


Skip..


Malam hari kemudian.


Semuanya sudah berkumpul ditaman halaman depan villa, kini mereka semua sedang pesta BBQ an sambil mengobrol, penuh tawa canda.


Mami menatap kedua Anaknya dengan tatapan tajam.


"Dasar kalian, tentu Papi kalian itu begitu setia" omel Mami pada Rehan dan Rama.


"Nak, Papi sangat mencintai Mami kalian jadi Papi tidak pernah mendua dibelakang Mami kalian" Papi menjelaskan pada Rehan dan Rama.


Rehan dan Rama saling melempar senyum, Ana dan Ayu langsung memeluk Mami mertua mereka.


"Kita percaya pada Papi" jawab Rama dan Rehan dengan begitu kompak.


Mami membalas pelukan dari Ana dan Ayu.


"Mam, mudah-mudahan suami-suami kita setia. seperti Papi" kata Ana dan Ayu penuh harap.


"Tentu Nak, katakan pada Mami jika suami kalian ada yang macam-macam dibelakang kalian! biar Mami jewer telinga mereka nanti" jawab Mami, dengan penuh ancaman.


"Aku akan selalu setia, Kamu lupa waktu pertama kali kita ketemu. Aku memaksamu menikah denganku" kata Rama, yang mengingatkan awal-awal pertemuannya dengan Ana.


"Aku ingat, betapa menyebalkanmu waktu itu!" jawab Ana, dengan nada kesal karena waktu itu Rama selalu memaksanya.


Papi menatap Rama, dengan tatapan tajam.


"Kamu memaksa, Ana menikahimu denganmu Ram?" tanya Papi memastikan.


Rama tertawa penuh salah.


"Lagian Ana dulu sangat keras kepala Pi, jadi Rama memaksanya" Rama menjelaskan pada Papinya.

__ADS_1


Mami dan yang lain tertawa mendengar penjelasan dari Rama.


"Sayang, itu satenya gosong" kata Ana, berusaha mengalihkan pembicaraan Rama.


Rama langsung kembali fokus ke sate dan aneka makanan yang lainnya, yang sedang Rama bakar.


"Pasti dulu kalian, sangat lucu sekali" ledek Mami, sambil membayangkan Rama dan Ana.


"Rehan, ceritakan pada Mami dulu pertama kalian bertemu dimana?" tanya Mami, yang merasa penasaran.


"Dipernikahan kak Rama Mi, kalau tidak salah" jawab Rehan.


"Tapi Ayu, dulu begitu sombong dan jual mahal. jadi Rehan agak sulit mendapatkannya" cerita Rehan.


Mami menatap kearah Ayu.


"Ayu, Mami setuju denganmu perempuan itu harus seperti itu jual mahal" kata Mami, sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Ayu tersenyum pada Maminya.


"Haha iya Mi, lagian Rehan dulu menyebalkan sekali Mi" jawab Ayu, yang mengaduh Maminya.


Papi menatap kedua putranya, kini Papi menggelengkan wajahnya tidak percaya.


"Apa Anak-anak Papi, mendapatkan istri-istri mereka dengan cara memaksa semuanya?" timpal Papi, sambil menjewer telinga Rama dan Rehan.


Rehan dan Rama memegang telinga mereka.


"Aduh Pi, sakit" rintih Rama dan Rehan.


"Lepaskan Pi" rengek Rama dan Rehan.


Papi melepaskan telinga mereka.


"Papi memaksa atau tidak, yang penting mereka sudah menjadi istri sah kita. Iyakan Han" kata Rama, yang kini meminta persetujuan dengan Rehan.


"Haha, Aku tidak memaksa Ayu kak! semua ini berkat dari ketampananku" jawab Rehan dengan begitu jailnya.


Akhirnya Mami dan yang lainnya menatap Rehan, dengan tatapan tajam mereka.


"Rasanya bahagia sekali, Akhirnya hidupku dikelilingi dengan orang-orang yang sangat menyayangi dan mencintaiku" rasa, syukur Ana dalam hatinya.


"Rehan memaksa Mi, hampir setiap hari Dia menganggu Ayu" Ayu mengaduh pada Maminya.


"Haha, sudah Han kamu mengaku saja" ledek Rama, dengan tawanya.


"Ayu, kenapa kamu tidak membela suamimu!" kesal Rehan, yang kini sudah memanyunkan bibirnya.


"Hahaha, kalian itu begitu lucu" kata Mami, dengan diiringi tawanya.


Seperti biasa Papi, berusaha menjadi penengah diantara mereka.


"Sudah-sudah yang pating perjuangan kalian ada hasilnya, Dan kini kedua gadis cantik ini sudah menjadi Menantu Papi" kata Papi, agar perdebatan ini tidak berlanjut.


Akhirnya mereka berhenti berdebat, Dan sekarang mereka langsung menikmati Apa yang dibakar oleh Rama dan Rehan dengan penuh nikmat.


Papi terdiam, melihat kebahagiaan ini dengan rasa yang penuh syukur.


"Terimakasih, Sudah memberikan keluarga yang begitu bahagia untukku" Rasa syukur Papi dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2