
Mereka semuanya sudah masuk kedalam tenda masing-masing, kini rasanya seperti sedang camping beneran.
Ditenda Rian dan Via.
Rian dan Via sedang sedang saling asik mengobrol dengan begitu bahagia.
"Vi, Ayo kita pergi bulan madu untuk kedua kalinya" ajak Rian, sambil memainkan pipi istrinya dengan begitu lembut.
Via mencubit lengan suaminya dengan begitu keras.
"Aduh sakit" rintih Rian.
"Apa yang kamu lakukan, Jika yang lain mendengarnya pasti mereka akan berpikiran yang tidak-tidak" omel Rian, dengan nada pelan.
"Apa? lagian kamu Anak satu aja belum brojol minta pergi bulan untuk kedua kalinya" kesal Via, dengan suara yang pelan juga.
"Aku kan pingin punya 7 Anak cewek Vi, biar rumah kita rame" kata Rian, dengan begitu santai.
Via menatap Rian dengan tatapan begitu kesal.
"Kalau gitu kamu saja yang hamil!!" pinta Via.
"Aku yang bikin aja Vi, kamu yang hamil" saut Rian tidak mau kalah dengan istrinya.
Via memejamkan matanya.
"Sana bikin saja sama kucing" ledek Via, sambil memejamkan matanya.
Rian memainkan pipi Via lagi, agar Via tidak tertidur.
"Sayang bangun, nyamuknya banyak" keluh Rian dengan nada manja.
"Lalu Aku harus apa?" tanya Via, yang sudah kembali membuka matanya.
"Kamu harus tidur memelukku" pinta Rian, yang sudah menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Didalam selimut ntah apa yang mereka lakukan, hanya Via dan Rian yang tau.
"Rian jangan macam-macam, sakit ih, jangan ditekan terlalu keras!!" kata Via dengan suara begitu pelan.
"Hanya sebentar sayang, tahan saja" jawab Rian, dengan suara yang begitu pelan juga.
Ditenda Rehan dan Ayu.
Rehan dan Ayu masih terjaga, kini keduanya sedang bercerita tentang masalalu mereka.
"Nyamuk banyak sekali" keluh Ayu.
"Kamu pakai ini saja" jawab Rehan, sambil menunjukkan lotion anti nyamuk.
Rehan membuka tutup lotion tersebut, lalu mengoleskan ke bagian tubuh istrinya, seperti tangan dan kaki agar tidak digigit oleh nyamuk.
"Rehan, katakan padaku! apa kamu pernah pacaran sebelumnya?" tanya Ayu ingin tau.
"Sepertinya tidak Aku lupa, hanya saja banyak wanita yang menyukaiku karena ketampananku ini?" jawab Rehan, dengan begitu sombong.
"Jawab yang benar, Han" rengkek Ayu.
"Itu udah benar, Aku memang lupa" Rehan mempertegas jawabannya.
"Males sama kamu" Ayu ngambek.
__ADS_1
Rehan memegang kedua pipi Ayu dengan tangannya.
"Sayang, pernah pacaran atau tidak aku di masalalu. yang penting adalah siapa yang sekarang menjadi istriku, aku tidak suka mengingat masalalu ku. apalagi dihadapkan wanita yang Aku cintai dan sekarang sudah menjadi istriku" kata Rehan, yang berusaha memberikan pengertian pada istrinya.
"Bagiku masalalu tidaklah penting, bukannya Aku tidak ingin bercerita dengamu tapi Aku ingin membuka lembaran baru tanpa bayangan dari masalaluku" kata Rehan lagi.
Ayu tersenyum mendengar perkataan suaminya, ternyata suaminya benar-benar sangat mencintainya.
"Terimakasih sayang" kata Ayu, yang sudah meneteskan air matanya karena merasa terharu.
Rehan langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu, lalu langsung mencium bibir Ayu dengan begitu lembut, Ayu membalas ciuman Rehan dengan penuh kenikmatan.
Setelah beberapa lama akhirnya keduanya sama-sama melepaskan bibur mereka.
"Jangan pernah membahas masalalu lagi" kata Rehan, yang langsung mencium kening istrinya dengan begitu lembut.
Rehan menarik Ayu kedalam pelukannya, Ayu membalas pelukan Rehan dengan penuh kehangatan.
Mereka kembali berciuman dan kini lebih lama dari yang barusan mereka lakukan.
Ditenda Bagas dan Alena.
Bagas dan Alena sedang berdebat untuk menonton film, namun mereka tidak tau flim apa yang akan mereka tonton.
"Sayang flim ini saja ya" rengkek Bagas, sambil menunjukkan flim romantis dewasa.
Alena menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau, dasar mesum" omel Alena, dengan suara pelan.
"Kenapa, ini flimnya bagus" kata Bagas dengan nada merayu.
"Aku tidak mau, nanti Kamu meminta Aku mempraktekkan di dalam tenda ini" kesal Alena, yang paling tau dengan otak suaminya.
"Cup..." satu kecupan dibibir Alena.
"Sekarang, istriku sudah mulai pintar" puji Bagas, dengan senyum jailnya.
"Sudah, Kita tidak usah nonton flim saja" protes Alena, sambil merebut ponsel yang ada ditangan suaminya.
Bagas tidak mau memberikan ponselnya, sampai akhirnya terjadi rebutan hingga Alena jatuh dengan cepat Bagas langsung menindih tubuh istrinya.
"Kamu mau apa?" tanya Alena.
Bagas sudah memasukkan tangannya kedalam baju Alena, kini tangannya sedang m*r*mas-m*r*mas gunung kembar Alena.
"Ahh sakit.." rintih Alena dengan pelan.
"Tapi enakan.." goda Bagas dengan begitu jailnya.
"Bagas, jangan lakukan ini ih..!!" kesal Alena.
Bagas langsung memberhentikan aktivitasnya, lalu mengeluarkan tangannya dari baju Alena. kini Bagas sudah membenarkan posisinya.
"Iya Aku tidak akan melakukannya disini, Aku hanya menyapanya sebentar saja" jawab Bagas, dengan tawanya yang begitu imut.
Alena membenarkan posisinya, kini Alena Berada disamping Bagas tidur.
Ditenda Rama dan Ana.
Rama dan Ana masih terjaga, mereka belum bisa tidur, kini Rama sedang duduk sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
"Sayang, Aku tidak menyangka dikehidupanku yang sekarang dikelilingi dengan banyak cinta dan banyak sahabat" kata Ana, sambil memegang lengan tangan Rama.
Rama tersenyum, lalu mencium tangan Ana yang sedang dirinya pegang.
"Cup..." Rama mencium tangan Ana.
"Seperti janjiku Aku akan menjadikanmu wanita yang paling bahagia di dunia ini" jawab Rama, yang kembali mencium tangan Ana.
Ana menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Dan Aku sudah menjadi wanita yang paling bahagia, terimakasih suamiku" kata Ana, yang diiringi senyum manisnya.
Rama mengelus-elus rambut Ana dengan begitu lembut.
"Sama-sama istriku" jawab Rama, yang juga membalas senyuman dari Ana.
Ana dan Rama saling melempar senyum.
"Apa yang lain sudah pada tidur?" tanya Ana.
"Aku juga tidak tau, coba aja lihat kedepan" jawab Rama, lalu Ana langsung membuka tendanya.
Ana melihat-lihat di depan ternyata sudah sepi, hanya Ada bekas makanan yang belum mereka bereskan dan api unggun yang sudah mereka padamkan.
"Seperti sudah pada tidur, diluar sudah sepi" Kata Ana.
Ana kembali kepelukan suaminya.
"Sayang, Ayo kita luar lihat pemandangan malam yang begitu indah" ajak Ana.
Akhirnya Rama dan Ana keluar dari tenda mereka.
Kini keduanya sedang duduk, sambil melihat bintang yang begitu banyak dan bulan yang begitu terang malam ini.
"Apa persahabatan kita akan selalu seperti ini? biarpun nanti kita semua sudah punya Anak?" tanya Ana, sambil menatap kearah langit yang begitu terang benderang malam ini.
Ana duduk sambil menselonjorkan kakinya, kini Rama tiduran dengan beralaskan paha Istrinya, dengan lembut Ana membelai rambut suaminya.
"Nanti kalau kita semua sudah punya Anak, persahabatan ini bisa menjadi cerita untuk Anak-anak nanti" kata Rama, sambil menatap wajah cantik istrinya.
"Asalkan kita masih terus bersama, pasti Akan selalu seperti ini" Rama menjawab pertanyaan istrinya.
"Mudah-mudahan Kita semua diberi umur panjang, agar nanti kita semua bisa menceritakan pada Anak-anak kita" Doa Ana untuk semuanya.
"Aamiin" jawab Rama.
"Rama, Apa Kamu perah menyesal menikah dengan gadis miskin sepertiku?" tanya Ana tiba-tiba.
Rama menatap Ana dengan tatapan kesal.
"Tidak, ini adalah pilihanku" jawab Rama dengan begitu tegas.
Rama bangun dari tidurnya, lalu menghadapkan wajahnya pada wajah istrinya. kini Rama sudah memegang kedua pipi istrinya.
"Cuppp.." ciuman yang begitu lama mendarat dibibir Ana.
Rama melepaskan ciumannya.
"Jangan pernah menanyakan hal bodoh, seperti tadi lagi" omel Rama, yang kini sudah mengelap bekas ciumannya dengan tangannya.
Ana tersenyum pada Rama, lalu memeluk Rama dengan begitu hangat.
__ADS_1
Malam ini hanya ada kebahagiaan diantara mereka semuanya, biarpun pedebatan, candaan, olok-olokan terjadi diantara mereka namun tidak membuat mereka bosan dengan persahabatan mereka.
Bersambung