
Valin mulai memejamkan matanya.
"Apa dia akan menciumku seperti malam itu lagi?" Pikiran Valin sudah traveling kemana-mana.
Hampir saja mereka berciuman, tiba-tiba pintu ruangan Kevin ada yang membukanya.
"Kevin......." Panggilnya.
Aish Kevin langsung berdecak kesal, sedangkan Valin langsung mengalihkan tatapan wajahnya.
Rama dan Ana sama geleng-geleng kepala, melihat tingkah anak dan calon istrinya itu.
"Papa, aku rasa pernikahan mereka dipercepat saja! Lihat anakmu pa dia persis seperti dirimu selalu mengambil kesempatan dikalah sedang berduaan." Ana tersenyum, Rama mencubit pinggang Ana membuat Ana merasa kesal.
"Mama...." celetuk Rama dengan mata yang sudah memberikan kode pada istrinya, agar tidak membuka aib nya lebih dalam lagi.
"Lihatlah pa tingkah anakmu dan calon istrinya." Ana melihat Kevin yang sedang memangku Valin, Valin dengan cepat bangun dari pangkuan dari Kevin.
"Aduh rasanya malu sekali, kepergok sama calon mertua." Gumam Valin, ia langsung salah tingkah wajah putihnya sudah menjadi merah seperti kepiting rebus gara-gara merasa malu.
"Om, Tante...." sapa Valin dengan nada lembut.
"Calon menantu mama, kamu tidak usah malu-malu seperti itu! Tenang saja mama dan papa akan mempercepat pernikahan kalian." Ana tersenyum melihat calon menantunya wajahnya sudah merah, karena merasa malu.
Valin tersenyum pada calon mama mertuanya, kini ia berasa digrebek dan tiba-tiba akan dinikahkan.
"Ini semua gara-gara Tuan Kevin, aku jadi malukan di depan kedua calon mertuaku." Batin Valin dalam hatinya.
"Ah mama bisa saja, tapi tidak apa-apa ma. Lebih cepat lebih baik daripada Kevin hilaf." Kevin senyam-senyum, membuat Valin merasa kesal.
"Apa-apaan dia ini, seenaknya saja dia main bicara seperti itu dihadapan Tante Ana dan Om Rama." Valin menggerutu dalam hatinya.
"Iya Vin, benar katamu nak lebih cepat lebih baik." Rama setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kevin.
"Minggu depan kalian menikah!" Ana menegasakan perkataannya.
"Minggu depan?!" Kevin dan Valin sama-sama terkejut.
"Iya minggu depan nak, sekarang kalian lanjutkan urusan kalian! Ayo papa kita pergi dari sini!" Ana mengandeng tangan Rama dan langsung pergi meninggalkan ruangan kerja Kevin.
.
.
Setelah kedua orang tuanya pergi dari ruangannya, Kevin dan Valin saling menatap satu lain. Kevin menatap wajah cantik Valin dengan senyum bahagianya sedangkan Valin menatap Kevin dengan tatapan marah.
__ADS_1
Siapa yang tidak marah, gara-gara ulah Kevin sekarang Valin harus menahan rasa malunya dihadapan kedua calon mertuanya.
"Sudah jangan melihatku." Valin mengerucutkan bibirnya, dan enggan melihat wajah tampan calon suaminya.
"Dasar kamu ini, sudahlah minggu depan kita akan menikah lagian beruntung juga pagi ini tiba-tiba mama dan papa datang ke kantor." Kevin mengeluarkan tawanya, membuat Valin rasanya ingin menjewer telinganya.
"Mimpi apa aku dapat calon suami seperti dia?" Valin geleng-geleng kepala, dan berlalu pergi dari hadapan Kevin.
Kevin terus melihat Valin yang sedang berjalan kembali ke sofa, kali ini pikiran Kevin begitu mesum.
"Lihat jalannya, aku yakin dia masih perawan." Batin Kevin dengan tatapan mesumnya.
Valin kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Kevin matanya terus tertuju pada wajah cantik Valin.
.
.
Raniah.
Niah sedang menonton televisi sendirian, karena mama dan papanya sedang pergi ke kantor adiknya.
Niah terus menggeser layar ponselnya, rasanya bosan sendirian dirumah tapi kalau Niah pergi jalan-jalan sendiri Niah juga takut apalagi ia sedang hamil jadi Niah takut ada apa-apa dijalan.
"Nak papa kerjanya lama sekali ya, mama kangen sama papa." Niah terus mengelus-elus perutnya.
Niah membuka galeri foto diponselnya, tiba-tiba Niah mengembangkan senyumnya melihat foto ia dan Vano.
"Vano, kamu apa kabar? Kamu tidak pernah menelponku sama sekali." Niah sedih matanya berkaca-kaca mengingat dulu Vano dan ia begitu dekat, sekarang sudah jauh bahkan setelah keberangkatan Vano ke luar negeri. Vano tidak pernah memberikan kabar pada Niah lagi.
Sedang terus menatap foto ia dan Vano, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata Vano menelponnya.
Niah melihat ditelpon tertulis nama Vano, ia yang tadinya sedih langsung tersenyum bahagia.
"Vano menelponku." Gumam Niah, yang langsung menggeser tombol warna hijau diponselnya, lalu ia menaruh ponselnya ditelinganya.
Dalam hati Niah, baru dipikirkan ini langsung menelpon saja. Aduh seperti punya kontak batin yang kuat.
"Hallo Niah, aku tahu kamu pasti sedang merindukanku." Kata Vano dari sebrang sana.
"Bisa-bisanya dia tahu, kalau aku sedang merindukannya." Batin Niah dalam hatinya.
"Kamu sok tahu, oh iya bagaimana kabarmu diluar negeri sana?" Elak Niah yang langsung mengalihkan pembicaraan Vano.
"Aku tahu, karena aku juga sedang merindukanmu. Kabar aku baik." Jawab Vano dengan jujur.
__ADS_1
"Niah seandainya kamu belum menjadi milik laki-laki lain, dikalah aku merindukanmu pasti aku akan terbang langsung untuk menemuimu." Batin Vano dalam hatinya.
Vano membuat Niah jadi senyam-senyum sendiri, untung saja tidak ada suaminya dirumah coba kalau ada pasti sudah terjadi perang.
"Pulanglah, kalau kamu merindukanku!" Jawab Niah.
"Aku akan pulang, kalau aku sudah menemukan calon istri." Kata Vano.
"Dasar kamu ini, semangatlah mencari calon istrinya biar cepat pulang." Jawab Niah.
"Baiklah, aku tutup dulu ya telponnya! Ingat kamu jangan terus-terusan merindukanku, atau suamimu akan marah padamu." Canda Vano sebelum mematikan saluran teleponnya dan setelah mengatakan hal itu, Vano mematikan saluran teleponnya.
Vano kembali menaruh ponselnya diatas meja kerjanya, setelah menelpon Niah tiba-tiba perasaannya menjadi senang dan begitu lega.
"Maafkan aku Niah, aku baru berani menelponmu sekarang." Kata Vano pada dirinya sendiri.
"Jika aku sudah menemukan calon istri, pasti aku akan langsung pulang dan menemuimu. Aku akan mengenalkan calon istrimu nanti padamu Niah gadis yang pernah aku cintai, tapi sampai sekarang kamu tidak pernah tahu." Vano terus berbicara pada dirinya sendiri.
"Sudahlah yang penting aku sudah dengar kabar Niah, kalau dia baik-baik saja." Vano kembali melanjutkan pekerjaannya.
Akhirnya hari ini Vano berani menelpon Niah, setelah sekian lama tidak mengabari Niah.
.
.
Setelah selesai mitting, David kembali keruangan kerjanya, David langsung mengambil ponselnya dari dalam saku celananya untuk menelpon istri tercintanya. Tapi no ponsel istrinya dari tadi dihubungi hanya berbunyi no yang telpon sedang berada dipanggilan lain.
David yangsedang duduk dengan raut wajah kesal. Ia beranjak dari kursi kerjanya, ia terus mondar-mandir karena dari tadi Niah ditelponin terus sibuk sedang berada dipanggilan lain.
"Niah itu kemana?" tanya David pada dirinya sendiri.
"Siapa yang Niah telpon siang-siang begini?" David terus mengoceh seperti burung beo.
David kembali menelpon sang istri dan akhirnya no ponselnya sudah dihubungi, Niah langsung mengangkat telpon dari suaminya.
"Hallo suamiku?" Sapa Niah dengan lembut.
"Siapa yang habis kamu telpon? No ponselmu berada dipanggilan lain terus dari tadi?" Tanya David tanpa bertele-tele.
"Suamiku..."
"Aku harus jawab apa pada David?" Gumam Niah dalam hatinya.
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊