Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
256. Doa Ayu dalam hati.


__ADS_3

Keesokan harinya, Rama dan Ana sudah bangun karena Niah terus menangis.


"Sayang, kenapa Niah terus menangis?" tanya Rama.


Ana sedang berbaring ditempat tidur sambil menyusui Niah.


"Mungkin Dia haus, Kamu bersiaplah untuk berangkat ke kantor." kata Ana, sambil melihat kearah Rama.


"Iya sayang." jawab Rama.


Rama langsung menuju ke kamar mandi, untuk segera mandi. setelah beberapa menit akhirnya Rama selesai mandi.


Ana yang melihat Rama keluar dari kamar mandi, langsung bangun dari tidurnya menghampiri Rama, kini Niah sudah tidur jadi saatnya Ana mengurus Suaminya seperti biasanya.


"Bajunya sudah Aku siapkan." kata Ana.


Rama yang mengerti maksud Istrinya, langsung mengambil baju yang sudah disiapkan oleh Istrinya lalu langsung memakainya.


"Aku sudah selesai, oh iya Kamu mau pake Baby Sister tidak untuk membantu menjaga Anak kita?." tanya Rama pada Ana.


Ana mengambil dasi dilaci khusus dasi, setelah mengambilnya Ana langsung memakaikan dasi tersebut pada Rama.


"Tidak usah pake Baby sitter, lagian Aku kan juga hanya dirumah saja sayang." jawab Ana, sambil merapikan dasi yang sudah Ana pakekan pada suaminya.


Rama mengusap rambut Ana dengan tangannya.


"Ternyata Aku tidak salah memilih Istri." kata Rama dengan raut wajah yang begitu bahagia.


Setelah selesai Bersiap-siap, kini Rama dan Ana langsung menuju kebawa untuk sarapan, Rama sengaja membawa bok bayi keruang bawah, Ana juga langsung mengangkat Niah dalam gendongannya karena tidak mau meninggalkan Niah didalam kamarnya sendirian.


Diruang bawah.


Rama menaruh BOK bayi diruang keluarga, lalu Ana langsung menaruh Niah ke dalam BOK bayi tersebut.


Mami yang baru keluar dari kamarnya, langsung menghampiri Ana dan Rama.


"Kok dibawah kesini?" tanya Mami Diana yang melihat Niah dibawa keruang keluarga.


Rama melihat kearah Mami Diana, lalu menjawab pertanyaan Mami Diana.


"Iya Mi, dikamar takut nangis tidak kedengaran." jawab Rama.


"Oh gitu, ayo kalian sarapan dulu." ajak Mami Diana pada Ana dana Rama.


"Mi, Papi ada acara reuni bersama teman-teman Papi nanti siang, Mami mau ikut dengan Papi tidak." tanya Papi tiba-tiba yang baru keluar dari kamarnya.


Mami Diana melihat kearah Papi Revan, lalu menghampirinya.


"Tidak Pi, Mami mau jagain Cucu Mami saja dirumah. Papi pergi sendiri tidak apa-apakan." jawab Mami, sambil merapikan baju Papi Revan.


"Iya tidak apa-apa Mi," jawab Papi Revan, lalu mencium kening Mami Diana.


Mami Diana tersenyum pada Papi Revan, lalu langsung menuntun Papi ke meja makan.


"Ayo Pi, sarapan dulu." ajak Mami.


Rama dan Ana sudah duduk dikursi meja makan, Ayu dan Rehan baru keluar dari kamar mereka.

__ADS_1


"Selamat pagi semuanya." sapa Ayu dan Rehan pada semuanya.


"Kalian nginep, Mami tidak tahu." kata Mami Diana pada Rehan dan Ayu.


"Pagi juga Nak, kemarilah sarapan dulu." jawab Papi Revan.


"Selamat pagi juga," jawab Ana.


"Iya Mi, kita nginep malas banget mau pulang semalam." jawab Rehan.


Kini Rehan dan Ayu langsung bergabung dimeja makan.


Setelah selesai sarapan, Rehan dan Rama langsung berangkat ke kantor seperti biasanya Rama dan Rehan pamitan dengan Istri-istri mereka, namun pagi ini mereka hanya berpamitan dengan Niah saja.


"Niah sayang, Papa berangkat kerja dulu ya Anak Papa." pamit Rama pada Niah sambil mencium Pipi lembut Niah dengan lembut.


Ana tersenyum bahagia melihat Suaminya, berpamitan dengan Anaknya.


"Iya Pa, hati-hati ya cepat pulang." jawab Ana yang seolah-olah menirukan suara Niah.


"Niah, Papi Rehan juga berangkat dulu ya cantik." pamit Rehan pada Niah.


Setelah berpamitan pada Niah, mereka langsung berangkat tanpa berpamitan dengan Istrinya seperti biasanya.


Mami Diana dan Papi Revan melihat mereka, lalu tersenyum.


"Lihat Pi, mereka berdua hanya berpamitan dengan Putri Kecilnya saja." kata Mami Diana sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa Mi, dulu Papi juga gitu waktu sudah ada Anak-anak lebih perhatiannya ke Anak-anak, tapi tetap cinta Papi hanya untuk Mami seorang kok." jawab Papi Revan, yang tanpa sengaja menggombali Mami Diana.


Mami melirik kearah Papi, lalu mencubit lengan tangan Papi Revan.


"Auh sakit Mi, Papi bicara serius Mi." protes Papi sambil merintih kesakitan karena lengan tangannya dicubit oleh Mami.


Melihat Suami-suami mereka pergi, kini Ana dan Ayu langsung saling menatap.


"Apa mereka berpamitan hanya dengan Niah saja?" tanya Ana, sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya, mereka tadi berpamitan hanya dengan Niah saja Kakak Ipar." jawab Ayu, yang ikut menggelengkan kepalanya karena tidak percaya.


Kini Ayu dan Ana, melihat kearah Niah.


"Niah lihatlah Nak, sekarang Papa Kamu lebih perhatian ke Kamu." kata Ana sambil membelai pipi Niah dengan tangannya.


"Bahkan Papi Rehan pun tidak berpamitan dengan Mami Ayu Nak." sambung Ayu.


Mami Diana dan Papi Revan, menghampiri Ayu dan Ana.


"Menantu-menantu Mami sabar ya sayang." kata Mami Diana, sambil tersenyum pada Ayu dan Ana.


"Iya Mi, tidak apa-apa asalkan bukan wanita lain yang diperhatikan oleh Suamiku Ayu tidak marah Mi." jawab Ayu sambil tersenyum pada Maminya.


"Iya Mi, benar apa kata Ayu." sahut Ana.


"Kalau sampai wanita lain, Aku akan menjambak rambutnya sampai gundul nanti." kata Ayu dengan wajah yang begitu kesal.


"Hahaha benar Yu." sambung Ana yang menyetujui perkataan Ayu.

__ADS_1


Papi Revan mengambil Niah dari dalam Bok Bayi lalu menggendongnya.


"Ana, mandi dulu biar Mami dan Papi yang menjaga Niah." kata Papi pada Ana.


Ana memang belum mandi karena sibuk mengurus Niah dan juga Suaminya.


"Iya Pi, Ana mandi dulu." jawab Ana.


Ana langsung pergi untuk mandi, kini Mami Diana, Papi Revan, dan Ayu, duduk disofa ruang keluarga sambil bercanda dengan Niah.


"Lucu sekali Ya Mi." kata Ayu yang melihat wajah imutnya Niah.


"Iya mirip dengan Rama wajahnya." jawab Mami Diana.


Ayu terdiam sambil memandangi Niah.


"Mudah-mudahan Mami segera hamil ya Nak, biar Niah ada temannya." doa Ayu dalam hatinya.


Dikantor.


Rama dan Rehan baru saja sampai dikantornya, kini mereka sedang jalan menuju ruangan mereka.


"Tuan Rama." panggil Bagas.


"Bagas, iya ada apa?" tanya Rama.


"Pagi ini jam 9 pagi ada metting penting Tuan, Saya sudah menyiapkan semuanya, nanti Tuan tinggal datang saja keruang metting." kata Bagas dengan begitu sopan.


"Baiklah, nanti Aku akan langsung datang keuang metting." jawab Rama.


"Kak Rama, Kak Bagas, Aku keruanganku dulu ya." pamit Rehan pada Rama dan Bagas.


"Iya Han." jawab Rama dan Bagas secara bersamaan.


Rehan langsung menuju keruangannya sedangkan Rama dan Bagas langsung pergi keruangan Rama.


Jam 9 tepat Rama dan Bagas langsung menuju keruangan metting, setelah selesai metting mereka duduk diruang metting sambil berbincang, karena semua karyawan sudah keluar.


"Tuan Rama, bagaimana rasanya jad Orangtua?" tanya Bagas, yang sebentar lagi juga akan jadi Ayah.


"Iya campur aduk Gas, tapi senang kalau malam sebelum tidur kita bisa bermain dulu sama Anak kita, biarpun sama Mamanya harus puasa dulu." kata Rama, sambil memainkan pena ditangannya.


Bagas mencerna kata-kata Rama, lalu bertanya.


"Maksudnya harus puasa dulu bagaimana Tuan." tanya Bagas.


"Puasa menjalankan olahraga malam." jelas Rama.


"Terus nanti kalau puasanya sudah selesai, mau main ada Anak." kata Rama, sambil berpikir keras.


Bagas tertawa mendengar perkataan Rama, lalu menjawabnya.


"Kalau mau olahraga malam, titipkan saja Anak kalian sama Rehan dan Ayu." saran dari Bagas yang diiringi tawanya.


Rama melihat kearah Bagas.


"Benar apa katamu, titipkan saja nanti Niah pada mereka kalau Aku bikin adik buat Niah." jawab Rama dengan rasa penuh semangat.

__ADS_1


Kini keduanya tos penuh kemenangan.


Bersambung 🙏


__ADS_2