
"Minggu depan aku menikah, kalian datanglah!" Jawab Vano dengan kesal.
"Aku akan mempercepat pernikahanku dengan Vina, aku tidak mau menjadi bahan ledekan mereka para cecungkuk brengsek." Batin Vano dalam hatinya.
"Sungguh?!" Kata David dan yang lainnya dengan serentak.
"Sungguh, tunggu saja undangan pernikahan dariku!" Jawab Vano, ia menatap sahabat-sahabatnya dengan tatapan tegas.
Kenan cengengesan tidak jelas.
"Menikahlah kak, menikah itu enak tidur ada yang nemenin." Batin Kenan dalam hati.
Kevin senyam-senyum, ia merasa Vano itu sudah terjerat hasutan dirinya dan Kenan.
"Menikah kak, biar tidak terngiang-ngiang Kak Niah terus." Kevin tertawa dalam hati.
David ia tersenyum bahagia, siapa yang tidak bahagia? Kalau laki-laki yang selama ini suka pada istrinya akhirnya akan menikah dan menurut David itu akan bagus, agar Vano tidak lagi mengganggu istrinya.
"Akhirnya, Vano menikah. Jadi dia tidak akan menganggu Niah lagi," David tertawa bahagia dalam hatinya.
"Baguslah Van jika kamu segera menikah!" Kata David, ia tersenyum melihat Vano.
"Iyalah bagus, karena Kak Vano tidak bisa lagi mengganggu Kak Niah lagi." Batin Kevin, ingin rasanya ia menyahuti perkataan Vano. Tapi ia tidak seberani itu.
"Kak Vano, nanti kalau bingung akan malam pertama bilang saja padaku! Nanti akan aku ajari cara-caranya." Kevin senyam-senyum, ia berasa lebih senior dari Vano.
"Dasar cecungkuk, baru menikah belum ada seumur jagung sok-sokan mau ngajarin." Jawab Kenan, ia juga tertawa lepas.
David hanya diam.
"Dasar kalian itu ya, dimana-mana malam pertama semua laki-laki itu bisa bodoh." Batin David dalam hatinya.
Dalam hati Vano, apa Kevin dan Kenan sedang meledekku? Dasar cecungkuk tanpa kalian ajarin tentang malam pertama, aku juga pasti akan canggih melakukannya. Aku akan buat Vina tepar di atas ranjang nanti.
"Sudahlah! Tanpa kalian ajarkan aku sudah paham semuanya." Jawab Vano, ia berlagak sombong pada para sahabat-sahabatnya itu.
"Kalian tidak perlu mengajarinya, Van nanti aku kasih resep biar tahan lama," Goda David dengan begitu jail.
"Apa kalian bertiga itu, pikirannya sama-sama mesum?" Vano menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya semenjak Kevin dan Kenan menikah otak mereka berdua begitu mesum, David yang belum terlalu kenal mereka pun menjadi lebih akrab.
Kini David, Kenan dan Kevin, mereka sama-sama tertawa. Dan Vano hanya menahan rasa geramnya pada ketiga sahabat-sahabatnya itu.
Obrolan demi obrolan terjadi, tawa canda di antara mereka begitu hangat. David dan Vano juga hari ini terlihat akrab.
.
.
.
__ADS_1
Diruang tamu.
Niah dan yang lainnya sedang asik mengobrol, ia kali ini mereka asik ngobrolin masalah kehamilan Niah.
Valin dan Ralin, mereka juga tidak sabar untuk hamil dan segera punya anak.
Selain Vano yang dikacangi, Vina juga merasakan hal yang sama. Bahkan sekali-kali Valin, Ralin dan Niah juga meledek Vina dengan jail.
"Van, ayo kita segera menikah!" Batin Vina dalam hatinya.
"Kak Niah, waktu kamu hamil, kakak ngidam apa saja?" Tanya Ralin, ia begitu penasaran.
"Banyak Alin, aku juga lupa." Jawab Niah.
"Aku jadi tidak sabar, pingin cepat-cepat hamil." Cetus Ralin dan Valin tiba-tiba.
Vina hanya tersenyum, karena merasa lucu dengan apa yang Ralin dan Valin katakan.
"Nikah saja baru beberapa hari, sudah ngomongin kehamilan. Kalian itu lucu sekali." Vina tertawa dalam hatinya.
"Suruhlah suami-suami kalian berkerja keras, biar adonan kalian cepat jadi." Niah tertawa, sungguh ia begitu bahagia bisa meledek adik dan adik iparnya.
"Tunggu-tunggu, dari tadi kita asik mengobrol tapi Kak Vina hanya diam saja." Ralin melihat kearah Vina, membuat Vina tersenyum manis.
Vina membenarkan posisi duduknya, ia melihat kearah Ralin.
"Aku tidak tahu mau bicara apa? Kalian sudah menikah, sedangkan aku belum jadi aku mau menyambung obrolan kalian aku agak kagok." Kata Vina, ia tersenyum manis pada semuanya.
"Hamil bareng-bareng, iya kita kalau buat adonan janjian dulu ya kak," Jawab Ralin, ia langsung tertawa dengan keras.
"Buat grub chat saja, jadi kalau mau janjian buat adonakan lebih muda." Saran Vina, ia juga ikut tertawa.
Biarpun Vina baru mengenal mereka bertiga beberapa hari, tapi ia sudah terlihat akrab apalagi Valin, Ralin dan Niah, mereka adalah orang-orang yang sangat terbuka jadi itu tidak membuat Vina merasa canggung di antara mereka semua.
.
.
.
Tanpa terasa jam menunjukkan pukul 2 siang, Vano dan yang lainnya berpamitan pada Niah dan David untuk pulang.
Niah dan David mengantarkan mereka semua sampai depan rumahnya, setelah mobil mereka tidak terlihat Niah dan David kembali masuk ke dalam rumah.
Hari ini Kevin dan Kenan akan mengajak istri-istri mereka pergi ke mall, untuk membeli peralatan tempur sedangkan Vano dan Vina langsung pulang menuju kerumahnya.
Di dalam mobil Vano dan Vina.
Vina hanya diam saja, ia merasa agak gimana gitu setelah mengobrol dengan Niah dan yang lainnya tadi.
__ADS_1
"Aku sebenarnya tidak sabar ingin segera menikah, tapi harus menunggu satu bulan lagi." Batin Vina dalam hatinya.
Vano yang sedang fokus menyetir ia sekali-kali melirik kearah Vina, ia bingung karena Vina yang biasanya bawel dari tadi di perjalanan ia hanya diam saja.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Vano dengan nada lembut.
"Aku tidak apa-apa," Jawab Vina malas.
"Apa, ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Vano, ia memperlambat laju mobilnya.
Vina melihat Vano, ia menatap wajah tampan Vano dengan penuh arti.
"Aku pingin pernikahan kita dipercepat!" Kata Vina, sungguh ia malu tapi ia juga sudah tidak sabar, akhirnya ia memberanikan untuk bilang pada Vano.
Tiba-tiba Vano mengeluarkan tawanya, membuat Vina bingung.
"Apa, ada yang lucu?" Tanya Vina kesal.
"Iya, aku akan mempercepat pernikahan kita dan minggu depan kita akan menikah." Jawab Vano, ia tersenyum pada Vina.
"Sungguh?" Vina memastikan.
"Sungguh, calon istriku!" Tegas Vano.
Karena ledek demi ledekan dari para sahabatnya, akhirnya Vano mempercepat pernikahannya yang harusnya bulan depan menjadi minggu depan.
Kenan, Kevin, Valin dan Ralin.
Kini mereka sudah sampai disebuah mall, dan mereka sedang sibuk memilih-milih daleman untuk alat tempur mereka, wajar masih pengantin baru.
Kevin dan Kenan, mereka bercanda bahkan mereka sama-sama mengambil ****** ***** karakter bergambar pisang membuat mereka sama-sama tertawa.
"Vin, kamu jangan gila! Kamu mau Ralin dan Valin menertawakan kita semalaman?" Kenan geleng-geleng kepala, ia merasa jijik dengan ****** ***** bergambar pisang yang Kevin tunjukkan.
Kevin hanya tersenyum, bagi dia ini adalah ****** ***** yang lucu yang ia temui.
"Lihatlah, kamu juga mengambil ****** ***** dengan motif yang sama." Kevin juga ikut tertawa, dan Kenan langsung mengembalikan ****** ***** yang ia pegang pada tempatnya.
Kevin membeli satu ****** ***** bergambar pisang tersebut, sedangkan Kenan tidak mau karena ia tidak mau membuat istrinya menertawakan semalaman.
.
.
Valin dan Ralin.
Mereka membeli beberapa dalaman dan baju tidur, dalam hal seperti ini mereka tidak segila suami-suami mereka.
Setelah selesai berbelanja, akhirnya mereka langsung pulang karena sudah sangat lelah.
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊