Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
369.Kevin dan Valin S2.


__ADS_3

Kenan baru saja sampai di depan rumah Niah, setelah memarkirkan mobilnya Kenan berjalan menuju pintu rumah Niah.


"Tok...tok..." Kenan mengetuk pintu.


David yang juga baru pulang dari kantornya, langsung memarkirkan mobilnya.


"Bukankah itu Kenan?" Batin David.


David turun dari mobilnya dan langsung berjalan menuju ke pintu rumahnya.


"Ken?" Cetus David tiba-tiba.


"Ehh Kak David." Kenan terkejut melihat kedatangan David.


"Ceklek," suara gagang pintu.


"Masuk saja, pintunya tidak dikunci!" David dan Kenan masuk bersama kedalam rumah David.


David mencari sosok sang istri tapi tidak ketemu, David melihat ke kamar Niah juga tidak ada dikamar.


"Kemana Niah?" Gumam David.


"Niah, istriku..." David terus memanggil istrinya.


Karena tidak ada jawaban, akhirnya David mengajak Kenan ke ruangan atas dan benar Niah dan Ralin sedang duduk di ayunan sambil melihat indahnya pemandangan malam.


"Suamiku kamu sudah pulang? Maaf aku tidak dibawa jadi tidak mendengar suara mobil kamu." Niah menatap sang suami dengan tatapan merasa bersalah.


"Tidak apa-apa istriku." David mengusap rambut panjang Niah, membuat Niah tersenyum bahagia.


"Ken, pasti disuruh mama menjemput Ralin ya," Niah tersenyum pada Kenan.


"Iya kak, tadi Tante Ana yang menyuruhku menjemput Alin." Jawab Kenan, Kenan melirik kearah Ralin lalu diam-diam tersenyum pada Ralin.


"Rasanya sudah tidak sabar untuk menikahimu calon istriku." Batin Kenan dalam hatinya.


Ralin berjalan menuju ke tempat Kenan berdiri, lalu ia memegang lengan tangan Kenan dengan manja.


"Ayo pulang!" Ajak Ralin dengan manja.


"Kalian mau pulang? Tidak makan malam bersama dulu?" tanya Niah.


Kini mereka berjalan turun keruang bawah, Ken dan Ralin bergandengan, David juga mengandeng tangan Niah karena takut Niah terjatuh.


"Kak Niah, aku mau langsung pulang saja. Soalnya sudah malam." Tolak Ralin dengan halus.


"Malam jam berapa? Orang baru jam setengah 9 malam." Niah melihat jam dinding.


"Ehem-ehem, sayang siapa tahu mereka mau jalan-jalan dulu." David berdehem sambil senyam-senyum melihat Ralin, sungguh pipi mulus Ralin menjadi merah seperti kepiting rebus.


Dalam hati Ralinsyah, aduh Kak David tahu saja otak aku. Iyalah kak aku mau jalan-jalan sama calon suamiku, rasanya jenuh banget nemenin Kak Niah seharian cuma dirumah.


"Kak David bisa saja." cetus Kenan.


.


.


Kenan dan Ralinsyah berpamitan pulang pada Niah dan David. Setelah mereka pulang Niah langsung mengajak sang suami untuk makan malam lebih dulu.


Kini mereka sudah duduk dikursi meja makan.


"Kamu memasak semua ini?" tanya David penasaran.


"Bukan, tapi mama tadi membawa masakan sudah matang dan aku hanya memanaskan saja suamiku." Jawab Niah, Niah mengambil nasi dan berbagi macam lauk lalu memberikannya pada sang suami.


"Makanlah yang banyak!" Pinta Niah dengan nada lembut.


Setelah selesai makan malam Niah mengajak sang suami masuk ke dalam kamarnya.


Kevin dan Valin.


Malam ini Kevin sedang berjuang untuk mengajak Valin menikah dengan dirinya.


Valin keluar dari dalam rumahnya dengan setelan baju tidur lengan panjang.


"Ada apa Tuan Kevin kerumahku malam-malam." Batin Valin dalam hatinya.


"Tuan Kevin?" panggil Valin dengan hati-hati.


"Gadis lemot, aku ingin berbicara sesuatu denganmu." Kata Kevin tanpa basa-basi.

__ADS_1


Dalam hati Valin, ini laki-laki apa tidak ada manis-manisnya sedikit apa? Setiap kali ketemu pasti ingin bicara padaku, salahnya aku sudah berurusan lebih dengan dirinya, dulu kita hanya sebatas bos dan atasan, sekarang aku naik jabatan tapi naik jabatannya menjadi pacar pura-pura bosku.


"Mau bicara apa tuan?" tanya Valin singkat.


"Aku mau kamu menikah denganku!" Jawab Kevin yang lagi-lagi tanpa basa-basi.


"Apa?" Valin terkejut, kini dirinya menatap Kevin dengan tatapan tidak percaya.


"Tuan jangan bergurau!" Valin tertawa agar menghilangkan rasa canggungnya.


Tiba-tiba Kevin menarik tangan Valin, lalu memepetkan Valin ke tembok, membuat Jantung Valin berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Berhentilah berdetak, jangan buat aku malu." Batin Valin dalam hatinya.


Valin berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Kevin. Tapi dengan cepat Kevin mengunci tubuh mungil Valin.


"Tuan..." kata-kata Valin terpotong karena Kevin langsung mendaratkan bibirnya di bibir Mungil Valin, merasakan bibir Kevin menempel di bibirnya. Mata Valin langsung membulat dengan sempurna.


"Emmhh...emhh.." Valin meronta-ronta, dan Kevin melepaskan ciumannya dari bibir Valin.


Valin menatap Kevin dengan tatapan kesal, kini rasanya ingin sekali menapar pipi Kevin tapi tangan Kevin sudah mengunci tangan Valin dengan tangannya.


"Dasar brengsek!!" Valin menatap Kevin dengan sorot mata penuh amarah.


"Ini adalah ciuman pertamaku, tapi kamu sudah mengambilnya." Gumam Valin dalam hatinya.


"Menikahlah denganku!" Kevin hendak mencium bibir Valin lagi, tapi dengan cepat Valin menutup bibirnya dengan tangannya.


Valin menginjak kaki Kevin dengan keras membuat Kevin merintih kesakitan dan langsung memegangi kakinya yang diinjak oleh Valin baru saja.


"B*doh kenapa kamu malah menginjakku?" Kevin menatap Valin dengan tatapan kesal.


"Hey anda bilang kenapa? Anda sudah bersikap kurang ajar pada bibirku ini Anda telah mengambil ciuman pertamaku." Jawab Valin yang juga menatap Kevin dengan kesal.


"Aku tidak perduli, lagian kamu itu akan menjadi istriku." Kevin menjulurkan lidahnya, membuat Valin ingin rasanya menjambak rambut pendek milik Kevin.


Mereka terus melanjutkan perdebatan mereka hingga beberapa lama, setelah kedua sama-sama capek berdebat. Kini mereka berdua duduk berdampingan sambil melihat terangnya bulan malam hari ini.


"Kenapa Tuan Kevin ingin saya menikah dengan anda?" tanya Valin pada Kevin.


"Orang tuaku ingin kita menikah." Jawab Kevin singkat.


Mendengar perkataan Kevin, sungguh hati Valin menjadi baper.


"Tapi kikatan hanya pacaran pura-pura, apa kalau kita menikah itu juga hanya pura-pura juga?" tanya Valin dengan begitu bawel.


Kevin terdiam sejenak, kini dirinya sedang memikirkan perkataan Valin.


"Benar juga kata Valin." Batin Kevin dalam hatinya.


"Tidak, kita menikah suguhan aku akan menjadikanmu sebagai istriku." Jawab Kevin dengan begitu tegas.


Sekarang gantian Valin dibuat terkejut oleh Kevin.


"Apa artinya dia sungguh-sungguh ingin menikahiku?" batin Valin dalam hatinya.


"Mari kita menikah!" Kevin mempertegas perkataannya.


"Tapi Tuan Kevin....." kata-kata Valin terpotong.


"Tapi apa? Aku anggap kamu mau menikah denganku, lagian aku juga sudah mengambil ciuman pertamamu." sambung Kevin, yang membuat Valin sangat kesal.


Tapi dalam hati Valin yang sesungguhnya, Valin juga bahagia diajak menikah oleh sang bos atau laki-laki yang saat ini menjadi pacar pura-pura Valin.


"Iya sudah mari kita menikah!" Valin diam-diam tersenyum disudut bibirnya.


.


.


Akhirnya usaha Kevin mengajak Valin untuk menikah dengan dirinya berhasil. Ya biarpun diiringi dengan sebuah paksaan tapi pada akhirnya Valin juga menerima ajakan Kevin untuk menikah.


Malam menujukan pukul 10 malam, Kevin berpamitan pulang pada Valin.


"Aku pulang dulu, masuklah! Oh iya jangan biarkan laki-laki yang waktu itu datang ke rumahmu lagi! Karena kamu sekarang calon istriku." Kevin menatap Valin dengan tatapan penuh arti.


"Iya Tuan Kevin." Jawab Valin singkat.


"Panggil aku calon suamimu mulai sekarang!!" Pinta Kevin dengan sorot mata tegas, Valin menjadi salah tingkah dihadapan Kevin.


"Calon suamiku...!" Valin mengulang kata-kata Kevin.

__ADS_1


"Iya awas saja jika sampai salah panggil, aku akan menghukummu nanti." Jawab Kevin yang diiringi dengan ancaman.


"Apa hukumnya?" tanya Valin dengan pelan.


"Aku akan menciummu setiap kali kamu salah memanggilku." Jawab Kevin dengan tegas.


Valin menganggukkan kepalanya pertanda dirinya mengerti.


"Masuklah!" pinta Kevin.


"Baik calon suamiku." Valin tersenyum pada Kevin.


"Valin jangan sampai salah panggil atau dia akan memberikan ciuman padamu lagi, ah tapi ciuman Tuan Kevin buat aku ketagihan. Aku jadi pingin dicium lagi." Batin Valin dalam hatinya.


Valin berjalan masuk ke dalam rumahnya, lalu Kevin berlalu pergi dari rumah Valin.


Di dalam kamar Valin senyam-senyum sambil memegangi, bibirnya yang tadi dicium oleh Kevin. Ntahlah malam ini Valin sudah seperti orang gila karena terus senyam-senyum sendirian.


Dimobil...


Diperjalanan menuju kerumahnya, Kevin juga terus menerus membayangkan ciumannya pada Valin.


"Aish dedemit mana yang merasuki, sampai-sampai aku berani menciumnya seperti itu." Batin Kevin dalam hatinya.


Kevin juga tidak kalah gila dari Valin, sambil menyetir mobilnya Kevin terus senyam-senyum sendirian.


.


.


Kenan dan Ralinsyah.


Setelah pulang dari rumah Niah, tadinya Ralin ingin mengajak Kenan untuk pergi ke suatu tempat tapi karena hujan deras jadi Ralin membatalkannya. Dan langsung mengajak Kenan untuk mengantarkan dirinya pulang.


.


.


Sesampainya di depan rumah Ralin, Kenan langsung turun dari dalam mobilnya membawa payung.


"Hati-hati." Kenan membukakan pintu mobilnya untuk Ralinsyah.


Kini mereka payungan berdua, mereka terlihat romantis malam ini karena dengan penuh perhatian Kenan memperlakukan Ralin dengan begitu manis, wanita yang kini berstatus menjadi calon istrinya.


Niah dan David.


Malam semakin larut, hujan semakin lebat Niah tidak membiarkan suaminya melepaskan pelukannya dari tubuhnya.


"Suamiku, aku pingin terus dipeluk sama kamu." Niah membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


David mempererat pelukannya, dan mengelus-elus punggung istrinya.


"Tidurlah, aku tidak akan melepaskan pelukanku." Jawab David dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, kamu seperti ini saja terus aku ingin kamu selalu bersikap manja padaku." Batin David dalam hatinya.


David terkadang takut namanya istrinya sedang hamil, jadi kadang suka mikir takut Niah tiba-tiba tidak mau dekat-dekat dengan dirinya.


.


.


Pagi datang, matahari sudah menyusup ke jendela kamar Niah dan David.


Niah yang sedang tertidur, tiba-tiba beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Hoek...Hoek...." Niah muntah-muntah.


Mendengar istrinya muntah-muntah David langsung bangun dari tidurnya, dan segara menyusulnya ke kamar mandi.


"Kamu tidak apa-apa istriku?" tanya David.


"Suamiku, jangan dekat-dekat denganku!" pinta Niah yang tiba-tiba tidak mau dekat-dekat dengan suaminya.


"Tapi kenapa?"


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Mampir yuk, ke karya teman-teman Author

__ADS_1




__ADS_2