
Dua hari telah berlalu, Kevin, Valin, Kenan dan Ralin, mereka masih bahagia menikmati masa-masa pengantin baru mereka di kota xx yang mereka datangi.
Mereka sedang menikmati liburan bersama, kini mereka sedang bermain di tepi pantai.
Valin dan Ralin, mereka sedang sibuk membuat istana dari pasir yang ada di pinggiran pantai sedangkan Kenan dan Kevin mereka sedang memperhatikan istri-istri mereka yang terlibat seperti anak-anak kecil.
"Lihat, mereka sudah menikah tapi mainnya seperti anak kecil." Kevin menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya melihat tingkah wanita yang baru beberapa hari ini ia nikahi.
"Sudahlah Vin, yang pentingkan mereka anteng dan tidak membuat kita pusing tujuh keliling." Kenan tertawa, ia senang melihat Ralin seperti anak kecil daripada meminta diajakin shopping selain lelah, ia juga pusing kalau istrinya itu sudah mengajaknya berlanja pasti semuanya akan istrinya beli.
Ralin dan Valin, mereka asik bercanda sambil membuat istana dengan pasir.
"Kak Valin, kita seperti anak kecil." Kata Ralin sambil tertawa kecil.
"Daripada dikurung sama suami-suami kita dikamar, mending seperti ini saja." Jawab Valin yang juga ikut tertawa.
Jam menunjukkan 7 pagi, mereka masih asik dengan suasana pantai.
"Vin, aku sudah berhasil." Kata Kenan sambil tersenyum.
Kevin bingung apa yang di maksud oleh Kenan itu?
"Berhasil? Berhasil apaan?" Batin Kevin dalam hatinya.
"Berhasil ehem-ehem sama istriku." Kenan kembali tertawa, ia merasa bahagia sekali.
Kevin menundukkan kepalanya, ia sedang meratapi nasibnya yang tidak dapat jatah malam pertama gara-gara Istrinya sedang datang bulan.
"Sudahlah jangan membahas hal seperti itu!" Elak Kevin dengan raut wajah tidak senang.
"Kenapa? Apa kamu belum berhasil? Awalnya Alin juga takut tapi aku terus merayunya sampai dia akhirnya pasrah." Kenan kembali mengeluarkan tawanya, membuat Kevin merasa sangat kesal.
"Dasar, tukang pamer." Kesal Kevin dalam hatinya.
"Aku belum melakukannya, karena Valin sedang datang bulan." Jawab Kevin, agar Kenan tidak terus bicara.
Dan yang terjadi Kenan malah tambah mengeluarkan tawanya sejadi-jadinya.
"Pantesan, wajahmu terlihat sedih ternyata belum dapat jatah malam pertama." Kata Kenan disela-sela tawanya.
"Sudahlah, kamu berisik sekali!" Kevin merasa kesal pada Kenan, ia pergi meninggalkan Kenan dan ikut bergabung dengan Valin dan Ralin yang sedang asik bermain pasir.
Kenan juga ikut menyusul Kevin, dan akhirnya mereka sama-sama asik bermain pasir. Mereka berlomba membuat istana pasir.
__ADS_1
Vano dan Vina.
Setelah beberapa hari menginap dirumah Vano, dan Vano juga mengajak Vina jalan-jalan di kotanya.
Hari ini Vano dan Vina hanya duduk dirumah Sambil menonton televisi.
"Lihat adegan itu begitu romantis." Kata Vina, yang terus melihat adegan ciuman yang ada di televisi.
"Itu kita lakukan nanti setelah kita sudah sah menjadi suami istri!" Jawab Vano, ia ikut menonton film yang Vina tonton tapi ia tidak seantusias Vina.
Sedang asik menonton televisi, tiba-tiba Rian dan Via datang. Mereka ikut bergabung duduk di sofa ruang keluarga.
"Mama, papa," Sapa Vano dan Vina secara bersamaan.
Vina sudah memanggil sebutan orang tua Vano dengan sebutan mama dan papa, karena mereka yang menyuruhnya.
"Vano, kapan kamu akan menikah dengan Vina? Kalian berdua sangat cocok." Tanya Via, yang kini sudah duduk disebelah Vina.
"Satu bulan lagi ma, biar kita urus semuanya dulu diluar negeri. Soalnya aku sudah putuskan nanti setelah menikah aku ingin menetap disini agar bisa dekat dengan mama dan papa." Jawab Vano, ia tersenyum pada Vina dan Vina juga membalas senyuman Vano.
"Nak Vina, apa kamu sudah siap jika menikah bulan depan?" Tanya Rian, ia menatap Vina dengan sorot mata serius.
"Vina, sudah siap pa." Jawab Vina dengan nada lembut.
Sungguh Via bahagia sekali, akhirnya anak dan calon menantunya sudah sama-sama siap untuk segera menikah.
David dan Niah.
Hari ini David dan Niah baru sempat pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan kehamilan Niah, dan David juga ingin tahu jenis kelamin anaknya laki-laki atau perempuan.
Kini mereka sedang berada diruang dokter, David tidak sabar melihat calon anaknya yang ada di dalam perut sang istri.
Dokter mulai melakukan USG dan betapa bahagianya David melihat pertumbuhan anaknya dalam perut istrinya.
"Sepertinya, anak anda kembar tuan." Kata sang Dokter, yang membuat David tidak percaya.
"Sungguh Dok? Lakukan pemeriksaan lebih teliti lagi dok!" David begitu antusias, ia sungguh bahagia apalagi mendengar calon anaknya itu kembar.
"Sungguh tuan, dan mereka perempuan." Kata Dokter pada David, mata David berkaca-kaca rasanya ia sangat bahagia sekali.
Setelah selesai pemeriksaan, Niah turun dari tempat tidur pasien. Ia tersenyum bahagia dan David langsung memeluknya.
"Istriku, anak kita kembar!" Kata David disela-sela pelukannya.
__ADS_1
"Sungguh, aku tidak menyangka kalau aku akan punya anak kembar." Batin David dalam hatinya.
Dokter yang melihat mereka, juga ikut tersenyum bahagia.
"Iya anak kita kembar." Jawab Niah yang tidak kalah bahagia dari suaminya.
David melepaskan pelukannya, lalu menuntun istrinya untuk duduk dikursi. Dokter juga menyiapkan resep vitamin untuk kandungan Niah dan memberikannya pada David.
Setelah selesai, David dan Niah mengucapkan terimakasih pada dokter. lalu mereka keluar dari ruangan Dokter.
Di dalam mobil, David tidak henti-hentinya menciumi tangan sang istri.
"Suamiku, fokuslah menyetir!" Pinta Niah, David melepaskan tangan Niah lalu kembali fokus menyetir.
Sebelum sampai rumah, David mampir ke Apotek untuk membeli vitamin untuk sang istri. Setelah membeli vitamin David kembali melajukan mobilnya.
"Istriku, katakan kamu mau apa? Hari ini aku milikmu dan aku sudah serahkan semua pekerjaan kantor pada Randi." Tanya David, yang tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
"Bagaimana, kalau kita pergi bertemu dengan Vano dan kekasihnya? Aku sungguh ingin bertemu dengan dia." Jawab Niah, ia memasang wajah memelas pada suaminya.
Sebenarnya David merasa kesal, kenapa mintanya harus kerumah Vano? Kenapa Niah tidak minta beli baju atau tas, lagi-lagi demi sang istri yang sedang hamil David harus sabar. David tahu wanita hamil itu sangat sensitif jadi David tidak berani menolak ke inginan sang istri tercinta.
"Baiklah, ayo kita pergi kerumah Vano." Jawab David dengan penuh semangat.
"Tidak apa-apa kerumah Vano, yang penting diakan sudah punya kekasih jadi dia tidak bisa melirik istriku lagi." David tertawa dalam hatinya.
"Kenapa kamu ingin bertemu Vano? Bukankah waktu itu sudah bertemu di acara pernikahan Kevin?" Tanya David, yang terus fokus menyetir.
"Aku hanya ingin bertemu dengan dia, aku sudah lama tidak bertemu dengannya." Jawab Niah dengan jujur.
Niah hanya ingin bertemu Vano sebagai sahabatnya, ia juga ingin mengenal Vina agar bisa akrab dengan Vina dan bisa menjadi sahabatnya juga.
Sampailah dirumah Vano, David dan Niah turun dari mobil dan langsung berjalan menuju rumah Vano.
"Tok...tok...." Niah mengetuk pintu.
Vano dan keluarganya yang sedang duduk diruang keluarga saling menatap satu sama lain.
"Siapa yang datang?"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1