
"Nanti Kamu akan tahu Istriku!" Jawab Rama sambil tersenyum pada Ana.
Setelah selesai mengobrol Rama mengajak Ana ke kamar untuk beristirahat, Karena Anak-anak juga tidak dirumah jadi rumahnya sepi.
Mami Diana dan Papi Revan juga sudah menetap diluar negeri, Karena memang mereka ingin menghabiskan masa tuanya di luar negeri sana.
Setelah selesai berbelanja, Riko mengajak Niah ke bar. Padahal Niah sudah menolak tapi Riko memaksanya.
"Ayo Niah, Kita ke bar sebentar untuk bersenang-senang." Ajak Riko dengan lembut.
"Aku tidak pergi ke tempat seperti itu, Atau Papaku akan membunuhku." Tolak Niah dengan tegas.
"Papamu tidak akan tahu." Sambung Riko.
Pak Ari supir Niah yang mendengar obrolan Niah dan Riko hanya diam saja, Karena mau ikut menimbrung takut salah.
"Kalau Kamu mau ke bar, Kamu pergi saja! Aku mau pulang!" Niah kembali mempertegas perkataannya.
Akhirnya Riko diam sesaat, Lalu berkata pada Niah.
"Aku minta maaf sayang, Kita pulang saja!" Riko langsung meminta maaf pada Niah, Lalu langsung mengajak Niah pulang.
Niah hanya terdiam, Tanpa menjawab permintaan maaf dari Riko.
"Ternyata Riko suka ke bar." Batin Niah.
"Pak, Kita berhenti di depan situ." Riko menyuruh Pak Ari berhenti disebuah depan rumah sederhana milik Riko.
Pak Ari langsung memberhentikan mobilnya, Lalu Riko langsung turun, Sebelum masuk ke dalam rumahnya Riko berpamitan dengan Niah terlebih dahulu.
Pak Ari langsung melajukan mobilnya, Menuju rumah sang majikan.
Sedangkan Riko, Langsung masuk ke dalam rumah lalu langsung menuju ke kamarnya dan langsung menaruh semua belanjaannya diatas ranjang tempat tidurnya.
"Ahh enak sekali, Ada yang belanjain tidak sia-sia Aku memacarinya." Kata Riko sambil membongkar barang belanjaannya.
Riko hanya hidup sebatang kara, Orangtuanya Sudah meninggal sejak Riko masih sekolah dasar.
Sesampainya dirumah Niah langsung masuk kedalam rumah, Kini Ana sudah duduk diruang keluarga sedangkan Rama sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya ke dada.
Melihat Niah yang baru pulang, Rama langsung berdehem seperti biasanya.
"Ehem... Kemarilah Papa mau bicara!" Pinta Rama dengan tegas sambil berdehem.
Dengan perasaan penuh tanda tanya, Niah langsung menghampiri kedua orangtuanya, Lalu Niah langsung duduk di sofa.
"Ada apasih Pa?" Tanya Niah pada Papanya.
"Berapa banyak uang yang Kamu habiskan untuk membelanjakan laki-laki br*ngsek itu!" Tanya Rama dengan suara lantang.
Ana merasa sangat kaget, Bahkan Ana berniat menenangkan ke marahan suaminya. Namun Rama langsung menatap Ana dengan tatapan tajam, Ana kembali duduk dan hanya diam saja.
"Papa..."Kata-kata Niah terpotong.
"Apa? Papa tau semuanya orang suruhan Papa sudah mencari informasi semua tentang laki-laki itu." Tegas Rama yang langsung memotong perkataan Niah.
Niah hanya terdiam, Niah tahu pasti Papanya sudah menyuruh orang suruhannya untuk mengikutinya Kemanapun Niah pergi.
"Niah tinggalkan laki-laki itu! Dan Papa akan menjodohkanmu dengan Anaknya sahabat Mama Kamu!!" Tegas Rama dengan lantang.
Hati Niah bagaikan tersambar petir, Mendengar perkataan dari Rama.Sedangkan Ana hanya terdiam dan berpikir apa yang maksud oleh Rama? Akan menjodohkan Niah dengan Anak sahabatnya.
__ADS_1
"Jika Kamu tidak meninggalkan laki-laki itu! Papa yang akan membuat laki-laki itu meninggalmu!!" Ancam Rama dengan tatapan tajam.
Sebenarnya kalau Riko itu laki-laki baik-baik, Rama pasti akan merestui hubungan putrinya dengan dirinya, Tapi sayangnya Riko adalah laki-laki tidak baik dan suka bermain wanita, Bhakan sering bermain judi.
"Baik Pa, Niah akan meninggalkan Riko." Jawab Niah dengan begitu pasrah.
Niah tidak mau sampai ada apa-apa terjadi pada Riko, Jadi Niah lebih baik meninggalkan Riko sesuai keinginan Papanya.
"Bagus, Papa akan secepatnya mengenalkanmu dengan Anaknya sahabat Mamamu." Kata Rama pada Niah.
Niah langsung bangun dari tempat duduknya, Lalu langsung berlari masuk kedalam kamarnya.
Ana bangun dari tempat duduknya,Lalu mencoba menenangkan Suaminya.
"Suamiku, Duduklah!" Pinta Ana dengan nada lembut.
Kini Rama dan Ana sudah duduk di sofa, Dengan begitu hati-hati Ana mencoba membuka pembicaraan diantara mereka.
"Suamiku," Panggil Ana dengan pelan.
"Pasti Kamu mau bertanya, Siapa yang Aku maksudkan?" Bukannya menyautin panggilan Ana, Rama malah langsung balik bertanya.
Rama tahu pasti Ana sangat penasaran, Dengan apa yang dikatakan padanya pada Niah tadi.
"Iya, Aku ingin tahu siapa laki-laki yang akan Kamu jodohkan dengan Niah?" Tanya Ana lagi dengan tatapan mata yang begitu serius.
"Namanya David Pratama, Dia adalah putra dari Dimas sahabat kuliahmu dulu." Jelas Rama, Sambil memegang tangan Ana.
Ana merasa kaget mendengar penjelasan dari Rama, Kini Ana harus senang atau tidak, Setelah sekian lama tidak kabar tiba-tiba nama Dimas terdengar lagi.
"Putra dari Dimas?" Tanya Ana dengan raut wajah yang begitu kaget.
"Kapan Dimas menikah? Lalu kapan Dia punya Anak?" Tanya Ana lagi, Dengan rasa penasarannya Ana sungguh ingin tahu.
Flashback.
Beberapa bulan lalu, Rama tidak sengaja ada acara kantor dan diacara kantor Rama tidak sengaja melihat sosok Dimas, Lalu Rama langsung menghampirinya.
Rama melangkahkan kakinya menuju ke tempat Dimas berdiri, Awalnya Rama tidak percaya yang dilihatnya itu Dimas. Lalu Rama akhirnya menyapanya.
"Sepertinya kenal." Sapa Rama sambil terus memperhatikan wajah Dimas.
Dimas tersenyum, Lalu langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rama.
"Tentu saja kenal, Saya Dimas sahabatnya Ana waktu kuliah dulu." Jawab Dimas, Yang langsung berjabat tangan dengan Rama.
Rama langsung tersenyum, Lalu menggelengkan kepalanya tidak percaya, Kini mereka sudah saling melepaskan jabat tangan mereka.
Rama dan Dimas langsung mencari tempat duduk, Lalu mereka duduk berdua sambil mengobrol.
"Ana selama ini terus mencari tahu tentang dirimu." Kata Rama pada Dimas.
Iya dulu Ana terus mencari tahu tentang Dimas, Namun Ana tidak pernah mendengar kabarnya bahkan sampai saat ini Ana juga tidak tahu kabar Dimas.
"Ceritanya panjang!" Jawab Dimas.
"Ceritakan padaku!" Pinta Rama.
"Dulu waktu Aku sudah kuliah diluar negeri, Aku mendapat kabar kalau Ayah ku bangkrut dan Aku langsung pulang dari luar negeri, Karena waktu itu hidupku benar-benar terjatuh Akhirnya Aku dan Orangtuaku memilih pulang ke kampung halamanku, Aku dan kedua Orangtuaku hidup sederhana dikampung, Aku juga mengganti no telponku, Aku juga tidak pernah membuka sosial mediaku, Pokoknya Aku menghilang bagaikan ditelan bumi." Cerita Dimas panjang lebar pada Rama.
"Aku juga tidak memberi tahu Kevin dan Ana, Karena Aku tidak mau membuat mereka sedih atau kepikiran tentangku." Jelas Dimas dengan.
__ADS_1
Rama akhirnya mengerti, Kenapa selama ini Dimas menghilang begitu saja bagaikan ditelan bumi, Bahkan tidak pernah ada kabar sama sekali.
"Kenapa Kamu tidak memberitahuku, Pasti Aku akan langsung membantumu." Jawab Rama sambil melihat Dimas.
"Waktu itu, Aku berpikiran kesitu." Jawab Dimas sambil meminum jus jeruk yang ada dihadapannya.
"Lalu sekarang Kamu bagaimana?" Tanya Rama sambil melihat Dimas.
"Hidupku sudah kembali seperti semula, Dengan bantuan rekan bisnis dari Papaku ya dengan cara Aku menikahi Anaknya yang berstatus janda anak satu." Jelas Dimas dengan senyuman dibibirnya.
Sedang asik mengobrol tiba-tiba ada seorang Anak muda yang begitu gagah dan tampan, Menghampiri Dimas dan Rama.
Visual David Pratama.
"Papa..." Panggil laki-laki muda yang tampan itu.
Rama memperhatikan dari kaki sampai atas.
"Papa? Apa itu Anaknya Dimas? Pikir Rama.
"Dim, Apa itu anaknya Kamu?" Tanya Rama ingin tahu.
"Dia anak tiriku,Kalau Aku sendiri tidak punya Anak." Jelas Dimas.
Iya Dimas mungkin mandul, Karena selama ini Dimas belum dikaruniai Anak. Tapi biarpun David adalah Anak tirinya Dimas sangat menyayangi David seperti Anak kandungnya sendiri.
David ditinggal mati oleh Papanya, Waktu David umur sekitar dua tahun.
Hingga setiap hari David selalu bertanya pada Mamanya, Ma Papa mana? Setiap kali mendapatkan petanyaan seperti itu Mamanya David hanya bisa menangis, Sampai akhirnya sebelum Kakek David meninggal Kakek David meminta Dimas untuk menikahi Anak perempuannya yang sudah berstatus janda anak satu, Dengan imbalan Kakeknya David akan menolong keluarga Dimas agar bisa bangkit dari kebangkrutan, Akhirnya Dimas setuju.
"Kemarilah Nak!" Pinta Dimas pada David.
David langsung duduk, Lalu Dimas mengenalkan David pada Rama.
"Kenalkan ini Anakku satu-satunya." Dimas memperkenalkan David pada Rama.
"David Om." David langsung memperkenalkan dirinya, Kini David langsung menjabat tangan Rama lalu mencium punggung tangan Rama dengan sopan.
"Rama." Rama juga langsung memperkenalkan dirinya pada David.
Setelah berkenalan David kembali pergi meninggalkan Rama dan Dimas.
"Sebentar ya Pa, Om Rama, Aku mau menemui seseorang dulu." Pamit David.
David pergi meninggalkan Dimas dan Rama, Lalu akhirnya mereka saling mengobrol tentang Anak-anak mereka, Hingga akhirnya mereka sepakat untuk menjodohkan Anak-anak mereka, Karena memang David susah sekali disuruh menikah. Akhirnya Dimas dan Rama saling setuju untuk menjodohkan Anak-anak mereka.
Namun David sendiri belum tahu, Tentang perjodohan ini.
Of Flashback.
"Seperti itulah ceritanya." Jelas Rama.
"Aku tidak menyangka, Dimas masih hidup dan jika benar-benar anak kita dijodohkan dengan anaknya, Itu berati Dimas akan menjadi calon besanku." Kata Ana dengan begitu antusias.
"Iya Kamu benar." Tegas Rama.
Dalam ini pasti Ana tidak akan menolak, Apalagi Dimas adalah sahabat baiknya, Ana juga yakin biarpun yang dijodohkan dengan Niah itu Anak tiri Dimas, Tapi Ana percaya kalau Dia pasti sebaik Dimas dan selembut Dimas.
Tapi itu hanya pemikiran Ana saja, Aslinya mah Ana tidak tahu David Pratama itu laki-laki yang seperti apa?
__ADS_1
Bersambung ๐
Terimakasih para pembaca setia๐