Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
300.Gara-gara siaran bola.


__ADS_3

Malam ini makan malam Rian dan Via, terasa sangat bahagia apalagi makan malam di malam ini ada Vano yang menambah kebahagiaan keluarga kecil mereka.


Setelah selesai makan malam, Rian langsung mengajak Anak dan Istrinya untuk segera pulang kerumahnya.


Di dalam mobil.


Rian terus melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, Rian melirik kearah Via lalu bertanya pada Via.


"Kita langsung pulang?" tanya Rian dengan nada lembut.


"Iya, kasian Vano Dia sampai ketiduran gara-gara kelelahan." jawab Via sambil melihat Vano yang sudah tidur pulas dipangkuannya.


Rian menuruti kemauan Via, Rian terus melajukan mobilnya, sesampainya dirumah Rian dan Via langsung turun dari mobilnya.


Melihat Rehan dan Ayu sedang berjalan menuju kerumahnya, Rian langsung menyapanya.


"Hey, Anak ingusan kalian darimana?" tanya Rian sambil bercanda dengan Rehan.


"Dari rumah Kak Rama, Kak Rian darimana, kok tidak tadi tidak datang?" jawab Rehan sambil balik bertanya.


"Kita habis pacaranlah biar seperti anak muda lagi." jawab Rian sambil senyam-senyum.


Via hanya menggelengkan kepalanya, lalu menimpali jawaban dari suaminya.


"Mana ada orang pacaran bawa anak suamiku." timpal Via, yang langsung membuat Ayu dan Rehan saling menahan tawanya.


"Pacaran jaman sekarang Kak, jadinya bawa anak." sambung Ayu sambil nyengir.


"Dasar kalian, sana pulang udah malam! kasian itu Ralin udah tidur." omel Rian sambil menyuruh Ayu dan Rehan pulang kerumahnya.


Rehan langsung mengandeng tangan Ayu, lalu segera menuju pulang kerumahnya.


"Sayang, Kita pacaran juga yuk!" rengek Rehan dengan manja.


Ayu hanya menggelengkan kepalanya, mendengarkan rengekan dari suaminya.


"Kalau Kita pacaran, Ralin diajak ya tapinya." usul Ayu.


"Ralin Kita titipkan ditempat Kak Rama, jadi Kita bisa pacaran seperti anak muda, lagian kalau pacaran bawa anak itu namanya bukan pacaran." jelas Rehan dengan ide liciknya.


Ayu langsung berjalan mendahului Rehan, karena tidak mau mendengarkan ide-ide licik lainnya dari mulut suaminya.


"Dasar Rehan, selalu saja membuat ide-ide licik." kesal Ayu dalam hatinya.


Ayu langsung membuka pintu rumahnya, lalu langsung masuk ke dalam rumahnya, Rehan yang ditinggal dibelakang kini juga sudah masuk sambil menutup pintu rumahnya.


Sesampainya dikamar, Rehan meletakkan paper bag di sofa yang ada dikamarnya lalu Rehan langsung menuju ke ranjang tempat tidurnya.


Ayu langsung membaringkan Ralin di sampingnya, Rehan yang baru datang juga langsung merebahkan tubuhnya kini Ralin sudah ada ditengah-tengah Ayu dan Rehan.


Sambil melihat wajah cantik Ayu, Rehan membelai pipi Ayu dengan tangannya.


"Sayang, Kita punya anak satu lagi ya." pinta Rehan penuh harap.


"Ralin masih terlalu kecil, jangan pikirkan untuk menambah anak lagi!" tolak Ayu dengan nada lembut.


Rehan langsung memasang wajah merenggut, Berharap Ayu mau menuruti keinginannya.

__ADS_1


"Ayolah sayang, Buatkan Adik untuk Ralin." Rehan kembali merengek.


Ayu menggelengkan kepalanya, Karena menurut Ayu saat ini bukan saat yang tepat apalagi Ralin yang masih terlalu untuk punya seorang adik.


"Itukan, menolak suami dosa loh." jelas Rehan sambil melihat kearah Ayu.


"Suamiku, Aku bukannya menolak kalau saat ini tidak tetap apalagi Ralin masih terlalu kecil untuk punya seorang adik." jelas Ayu dengan begitu lembut.


"Kita nanti bisa pengasuh bayi." usul Rehan.


Ayu langsung mendengus kesal, kini rasanya pingin marah tapi takut memperburuk suasana tapi mau tidak marah, Rehan malam ini begitu menyebalkan.


"Suamiku, Kita obrolkan masalah ini lain kali ya! Aku sudah sangat mengantuk sekali." kata Ayu dengan alasan yang tepat.


Ayu terpaksa bilang merasa sudah sangat mengantuk, karena jika Ayu terus meladeni Rehan yang ada nanti malam berdebat dan ujung-ujungnya marahan, makanya Ayu lebih memilih tidur saja.


Ayu langsung memejamkan matanya, lalu Rehan membelai pipi Ayu dengan tangannya.


"Maafkan Aku Istriku karena keinginanku begitu egois, biar bagaimanapun Aku ingin punya anak laki-laki biar anak kita sepasang." gumam Rehan.


Rehan mencium kening Ayu, lalu langsung memejamkan matanya.


Dirumah Bagas dan Alena.


Setelah pulang dari rumah Rama, Alena langsung tidur karena Kenan juga sudah tidur.


Sedangkan Bagas sedang menonton siaran bola, sambil menikmati makan mie instan buatannya sendiri.


"Terus giring Ke kanan, ayo terang biar masuk!" kata Bagas sambil terus memakan mie ke dalam mulutnya.


"Ahhh tidak masuk." kesal Rehan.


Karena Bagas menonton siaran bola di televisi yang ada di kamar, membuat Alena merasa terganggu karena suara suaminya yang begitu berisik.


"Bagas Kamu berisik sekali!" kesal Alena sambil menutup telinganya.


"Bangunlah sayang, temenin Aku nonton bola!" Pinta Bagas yang terus fokus melihat televisi.


Alena bangun dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju ke sofa tempat Bagas tidur.


"Jangan berisik Kenan sedang tidur." omel Alena.


"Lagi nonton siaran bola." jawab Bagas.


"Nonton diruang tengah sana, Aku baru saja merem Kamu mengangguku." kesal Alena.


"Sayang diamlah! Sudah Kita nonton bola bareng saja!" ajak Bagas.


Akhirnya Alena memilih diam, Bagas terus berisik sedangkan Alena lebih memilih makan cemilan yang ada diatas meja.


"Cuma gara-gara nonton bola, Bagas menjadi seperti orang gila teriak-teriak sendiri." gumam Alena yang terus memasukkan cemilan yang ada ditangannya ke dalam mulutnya.


Dirumah Rama dan Ana.


Ana sudah tidur kedua Anaknya juga sudah tidur, tapi Rama berisik sekali ternyata Rama juga menonton siaran bola.


"Goollll....!!!!" Sorak Rama sambil jingkrak-jingkrak.

__ADS_1


Ana bangun dari tidurnya, karena Rama malam ini sangat berisik sekali.


"Kenapa sih berisik sekali?" tanya Ana.


"Jagoan Aku menang sayang." kata Rama yang terus-terusan bersorak.


"Ye ye ye jagoan Aku menang, jagoan Bagas kalah." Sorak Rama layaknya Anak kecil yang habis mendapatkan premen banyak.


Ana hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar Rama gara-gara bola Dia menjadi seperti orang gila." gumam Ana.


"Tidurlah sudah malam, kasian Anak-anak." kata Ana, namun Rama menggelengang kepalanya. kini Rama kembali fokus dengan televisinya.


Akhirnya Ana memilih tidur kembali dan membiarkan suaminya menonton siaran bola.


Dirumah Rian dan Via.


Rian dan Via mereka kompak sama-sama nonton siaran bola, kini keduanya taruhan jika teamnya kalah.


Hukumannya adalah memotong rumput belakang rumahnya.


"Ahhh.... sial." Kesal Rian karena team Via memasukkan bola ke gawang teamnya.


"Yes masuk!!" sorak Via sambil tersenyum pada Rian.


"Siap-siap potong rumput belakang rumah." sindir Via sambil tertawa penuh kemenangan.


"Belum berakhir jangan senang dulu, Siapa tahu nanti diakhir team Kamu yang kalah." jawab Rian sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Via hanya senyum-senyum apalagi teamnya sudah memasukkan satu gol.


Mereka terus fokus dan akhirnya team Via kembali memasukkan bolanya lagi.


"Hore.......!!!!" Sorak Via penuh kemenangan.


Rian langsung memasang wajah frustasinya, sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Sial Aku harus motong rumput belakang rumah." kesal Rian dalam hatinya.


Setelah beberapa menit akhirnya siaran bola berakhir dan team Via lah yang menang dengan skor 2.0.


Via langsung tersenyum pada Rian.


"Tuan Rian, ingat ya hukumannya!" kata Via sambil tertawa penuh kemenangan.


"Iya iya..." jawab Rian kesal.


"Ingat tidak boleh menyewa tukang potong rumput." kata Via sambil senyum-senyum.


Rian langsung mematikan saluran televisinya, lalu meninggalkan Via begitu saja.


"Coba kalau Aku yang kalah pasti Dia sudah girang, untung team Aku yang menang." Gumam Via yang merasa senang.


Tunggu besok pagi ya, Rian mau motong rumput belakang rumahnya.


Bersambung 🙏

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2