
Shinta melihat kearah anaknya, ia memasang wajah memohon kepada David. Membuat David tidak tega pada mamanya.
"Suamiku, apa aku boleh tidur dengan mama malam ini?" Tanya Niah.
"Hmmm...."
"Hmmm apa? Hanya satu malam sayang." Sambung Niah, ia tersenyum pada suaminya.
David membalas senyum Niah dengan senyum terpaksa, ia sebenarnya tidak rela istrinya malam ini tidur dengan mamanya.
"Baiklah, hanya satu malam istriku. Mama boleh tidur sama Niah." Kata David, ia tersenyum pada mamanya. Biarpun agak sedikit kesal tapi David paling tidak berani melawan mamanya.
Shinta memeluk menantunya, betapa bahagianya ia bisa tidur dengan menantunya malam ini. Ia memang sangat ingin punya anak perempuan, tapi apalah pernikahannya dengan Dimas sampai sekarang tidak punya anak karena Dimas mandul.
"Terus papa tidur dimana ma?" Tanya Dimas, ia memasang wajah sedih.
"Papa, tidur saja sama David." Shinta tertawa, sambil melihat suami dan anaknya.
"Tidak-tidak, David tidak mau tidur dengan papa. Aku malu ma nanti papa peluk-peluk aku lagi," Tolak David, ia tersenyum pada sang papa dengan senyum meledek.
Dimas hanya tersenyum, ia senang melihat anaknya begitu dekat dengan dirinya.
"Dasar David, kamu itu yang dulu suka sekali tidur sama papa, terus kamu suka ngompol." Batin Dimas dalam hatinya.
"Papa juga tidak mau tidur dengan David ma, nanti David ngompolin papa lagi." Dimana tertawa sambil menjulurkan lidahnya kepada anaknya dengan maksud meledek.
Niah dan Shinta tertawa, sungguh Niah tidak percaya ternyata suaminya suka ngompol.
"Papa, maleslah sama papa. David ke kamar dulu ya," David kesal pada papanya, ia beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Ia menghentikan langkah kakinya, lalu melihat istrinya.
"Malam ini, aku tidur sendirian. Sungguh apakah aku bisa tidur nyenyak?" Batin David merasa piluh.
Mungkin diawal-awal pernikahannya David bisa tidur tanpa Niah, karena memang mereka biarpun satu ranjang tidak melakukan apapun. Tapi setelah semuanya berubah David juga lebih manja pada istrinya, ntahlah apakah malam ini David akan bisa tidur atau tidak saat tanpa istrinya disampingnya.
Niah menatap punggung suaminya sampai tidak terlihat, ia juga sebenarnya tidak tega kalau suaminya harus tidur sendirian tapi mau bagaimana lagi?
"Suamiku, hanya satu malam. Besok kalau dirumah aku akan kasih jatah lebih, untuk menganti malam ini." Batin Niah dalam hatinya.
.
.
.
Setelah David, masuk ke dalam kamar, Dimas juga pergi ke kamar tamu untuk istrihat dan Niah dan Shinta juga langsung pergi menuju ke kamar Shinta.
Dikamar Shinta.
__ADS_1
Shinta dan Niah, mereka sudah sama-sama naik ke atas ranjang tempat tidur. Mereka juga sudah menyelimuti tubuh mereka dengan selimut yang sama.
"Niah.." Shinta mengambil tangan Niah, lalu ia menggenggamnya dengan penuh kasih sayang.
"Iya ma?" Niah menoleh, lalu ia tersenyum pada mama mertuanya.
"Apa, kamu bahagia menikah dengan David?" Tanya Shita, ia menatap Niah dengan tatapan bahagia.
"Bahagia ma, David itu laki-laki yang baik dan dia sangat perhatian." Jawab Niah, dengan raut wajah bahagia.
Shita tersenyum, ia senang mendengar cerita dari anak menantunya itu.
"David, kamu sungguh seperti almarhum papa kamu." Batin Shinta dalam hatinya.
David memang ditinggal mati oleh ayah kandungnya dari kecil, dan setelah akhirnya Shinta menikah lagi dengan Dimas.
Dan sikap perhatian David selain menurun dari ayah kandungnya, itu juga menuruni sifat Dimas laki-laki yang selama ini menjadi ayah sambungnya.
"Katakan pada mama nak, jika David nakal, bandel, atau sampai main wanita lain. Biar nanti omelin dia." Shinta melepaskan tangannya dari tangan Niah, lalu ia memegang pipi mulus anak menantunya itu.
Dalam hati Niah, jika David sampai bermain wanita lain diluar sana. Jangankan mama Niah juga pasti akan menjambaknya ma. Tidak akan Niah kasih ampun, kalau perlu Niah akan pergi dari rumah dan membawa anaknya bersamaku agar David tidak bisa melihat anaknya.
"Iya ma, Niah akan bilang sama mama." Jawab Niah, ia masuk kedalam pelukan mama mertuanya.
Shinta memeluk Niah dengan penuh kasih sayang, bagai Shinta Niah itu bukan menantunya tapi dia adalah putrinya yang harus ia sayangi.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, Shinta dan Niah sama-sama tidur.
David masih terjaga, ia tidak bisa tidur tanpa istrinya disampingnya. Ia berdiri menatap keluar jendela melihat pemandangan indah malam ini.
"Niah, apa kamu sudah tidur? Apa tidurmu nyenyak malam ini?" David bertanya pada dirinya sendiri, ia berjalan ke jendela lalu menutup jendela kamarnya karena angin begitu kencang malam ini.
Setelah menutup jendela, David berjalan menuju ke ranjang tempat tidurnya. Ia duduk ditepi ranjang dengan gelisah. David mengambil bantal guling lalu memeluknya.
"Seandainya ini kamu sayang, pasti aku tidak akan kesepian malam ini." Kata David, dengan nada begitu sedih.
Belum berapa jam ditinggal istrinya tidur dikamar mamanya, David sudah gelisah bahkan tidak bisa tidur malam ini.
.
.
Niah.
Niah terbangun dari tidurnya, ia tiba-tiba ingat dengan suaminya. Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, hembusan angin malam ini yang begitu dingin membuat Niah juga gelisah memikirkan suaminya.
"Apa, kamu sudah tidur suamiku?" Tanya Niah pada dirinya sendiri.
Niah tahu, pasti suaminya tidak bisa tidur dengan nyenyak apalagi tanpa memeluk dirinya dan bermain dengan anaknya yang masih ada di dalam perutnya.
__ADS_1
Niah kembali memejamkan matanya, hingga ia terlelap dengan nyenyak.
.
.
.
Keesokan harinya, Shinta dan Niah bangun dari tidur mereka.
"Mama, Niah ke kamar David dulu ya." Pamit Niah, ia buru-buru pergi ke kamar suaminya.
Shinta menganggukkan kepalanya, ia tersenyum ia tahu pasti anaknya dikamar sana sudah gelisah menunggu istrinya.
"David, baru semalam Niah tidur dengan mama. Pasti kamu tidak bisa tidur nak semalaman." Batin Shinta dalam hatinya.
.
.
Sesampainya dikamar David, Niah melihat suaminya sudah rapi. Lalu ia berjalan menuju suaminya, ia memeluknya dari belakang.
"Suamiku...." panggilnya disela-sela pelukannya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya David, ia membalikkan badannya agar menghadap ke Niah.
"Istriku, kamu tahu aku tidak bisa tidur semalaman. Dan sekarang aku berangkat ke kantor, kamu ikutlah denganku ke kantor!" David membawa Niah masuk ke dalam pelukannya.
"Untuk apa, aku ikut ke kantormu suamiku?" Tanya Niah disela-sela pelukannya.
David melepaskan Niah dari pelukannya, lalu menatap Niah dengan sorot mata lembut.
"Tentu saja, untuk menemani aku di kantor!" David tersenyum mesum, membuat Niah tahu apa maksudnya?
"Dasar, sorot matamu begitu mesum! Jangan bilang kamu akan mengajakku berbuat mesum dikantormu," Niah tersenyum meledek, membuat David menyetil jidatnya dengan pelan.
"Suamiku sakit," rengek Niah dengan manja.
"Kamu yang pikirannya mesum, cepat bersiaplah dan ayo ikut aku ke kantor!" David tersenyum pada Istrinya, dan Niah bergegas untuk bersiap-siap ikut suaminya ke kantor.
.
.
.
Sesampainya dikantor.
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊