
Setelah beberapa hari dirumah sakit, akhirnya Silvia dan Rian pulang kini semua sahabatnya sudah menunggu kedatangan Silvia dan Rian dari rumah sakit.
Mendengar bunyi mobil Rian, semuanya langsung keluar untuk menyambut kedatangan Via dan Baby Vano.
Via yang baru saja turun dari mobilnya, langsung mengembangkan senyumnya karena melihat semua sahabatnya kompak menyambutnya.
"Terimakasih semuanya, ayo masuk." Via mengucapkan terimakasih pada semua sahabat yang menyambutnya, lalu mengajak semuanya masuk.
Kini semuanya sudah masuk, Rian menggendong Vano, sedangkan Rama juga mengendong Putrinya.
"Ram, ini telur-telur kita sudah menetas." kata Rian sambil melihat wajah Anaknya.
"Dasar, Ayam kali bertelur." omel Rama.
Kini semuanya sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Sayang, bawa Niah kemari." pinta Ana.
"Rian, bawa Vano bawa juga Vano kemari." sambung Via.
Rian dan Rama langsung menuju ke Istri-istri mereka yang sedang duduk, lalu memberikan Anak-anaknya pada Istri mereka.
"Sayang sama Mama dulu ya." kata Rama dan Rian secara bersamaan.
Kini Vano dan Niah sudah ada dipangkuan Ana dan Via, sedangkan Rama dan Rian duduk di karpet dibawa Istri-istrinya.
"Kalian lucu sekali sih." kata Alena sambil melihat dua bayi yang kini sedang digendong oleh Via dan Ana.
Ayu menyandarkan kepalanya dibahu Rehan, sambil memegang tangan Rehan.
"Sayang, lihat Kak Ana dan Kak Via senyum mereka bahagia sekali." kata Rehan yang melihat kebahagiaan terpancar di wajah Via dan Ana.
"Iya, Aku juga senang melihat mereka bahagia." sambung Ayu.
Rian melihat kearah Bagas, lalu bertanya pada Bagas.
"Istrimu kapan melahirkan Gas?" tanya Rian.
"Beberapa bulan lagi, tidak nyangka ya akhirnya kita akan menjadi Orangtua." jawab Bagas.
"Iya tapi kalian masih suka berdebat tidak jelas." kata Via.
"Mudah-mudahan Anak-anak kita tidak mewarisi sifat-sifat Bapak mereka." doa Ana.
"Jangan nanti pikiran mereka mesum semuanya, jika mewarisi sifat-sifat Bapaknya." protes Alena.
Jelas dalam hal ini Alena paling menentang, karena Alena tahu Bagas dan yang lainnya sering banget ngobrolin hal mesum kalau lagi berkumpul.
"Biar bagaimanapun Kita yang kerja keras, ya wajar kalau Anak mewarisi sifat-sifat Bapaknya." Kata Rian.
"Iya mereka kan tinggal enaknya doang, kita yang yang kerja keras tiap malam." sambung Bagas.
Alena,Ana,dan Via menatap kearah Bagas dengan lirikan yang begitu kesal.
"Kamu bilang kita tinggal enaknya doang." kata mereka bertiga dengan begitu kompak.
Akhirnya Via, melakukan protes karena tidak terima dengan perkataan Bagas.
__ADS_1
"Kalian enak, kita yang mengandung, kita yang melahirkan." protes Silvia yang tidak terima dengan perkataan Bagas.
mereka berdebat gara-gara anaknya tidak boleh mewarisi sifat-sifat Bapaknya mereka.
Ibu-ibu mereka tahu seperti apa Bapaknya mereka, makanya mereka berharap Anak-anaknya nanti tidak menuruni sifat-sifat Bapak mereka atau Anak-anak mereka juga akan terus berdebat jika sedang berkumpul.
"Sudah-sudahlah, jangan berdebat lagi." lerei Ana.
"Kalian itu seperti Anak Kecil yang sedang rebutan permen." sambung Rehan.
"Iya Han benar, kesal banget Aku dari tadi lihatnya." sahut Alena.
"Siram aja Len, ambil air dibelakang." sambung Ayu.
Tiba-tiba Niah dan Vano menangis bersamaan.
"Eahh eaahh..." tangisan Niah dan Vano.
"Itukan Anak kalian jadi sedih gara-gara kalian berdebat terus." Rehan mulai mengomel.
Ana dan Via berusaha menenangkan Anak-anak mereka agar diam.
"Cup..cup.. Mama tahu Papa Kamu menyebalkan, Dia sudah biasa seperti itu Nak." kata Via pada Baby Vano.
"Hahaha Vano, nangis gara-gara Bapaknya." kata Rehan yang diiringi dengan tawanya.
"Kok Kamu nyalahin Aku sih sayang." tanya Rian pada Via.
namun diabaikan oleh Via, kini Via fokus menenangkan Anaknya.
Ana ikut tertawa mendengar cara Via menenangkan Anaknya.
"Sayang, pulanglah ambil perlengkapan Niah dirumah sekalian pampres juga ya." Ana menyuruh Rama untuk pulang.
Rama beranjak dari tempat duduknya, namun Via mecenggahnya.
"Tidak usah pulang, pake saja punya Vano kan ukuran pampresnya juga masih sama." Via menyuruh Ana menyuruh untuk memakai perlengkapan punya Vano.
Rian langsung mengambilkan perlengkapan Vano, termasuk pampres juga, lalu memberikan pada Rama.
Kini Ana langsung melepaskan pempresnya, lalu membersihkan bagian sensitif Anaknya. setelah dibersihkan Ana langsung mengantinya dengan pampres yang baru.
Kini Ana memberikan Niah pada Alena.
"Alena, Aku titip Niah dulu." kata Ana sambil memberikan Niah pada Alena.
Alena dengan senang hati, menerima Niah lalu memangkunya.
"Sayang, bayangkan saja jika ini Anak kita." kata Alena sambil tersenyum.
Ana langsung membersihkan bekas pampres, lalu merapikan semuanya perlengkapan Vano ketempatnya.
"Alena, kita punya Anaknya harus lebih dari satu ya, biar rame rumah kita nanti." jawab Bagas.
"Kenapa tidak sekalian beranak 5 saja Gas, biar cepat banyak."sambung Rian.
"Hahaha Kucing kali kak Rian." sambung Rehan sambil ngakak.
__ADS_1
Alena melirik Bagas dengan tatapan kesal.
"Gedek banget sama Rehan ih," kata Alena.
Bukannya marah, Ayu malah meledek Alena dengan begitu jail.
"Hati-hati Len, nanti Anaknya mirip sama Suamiku loh." Ayu meledek Alena.
Kalau kata orang Jaman dulu, kalau lagi hamil terus kesal dengan seseorang berlebihan, itu Anaknya nanti katanya mirip.
"Tidak apa-apa Yu, setidaknya Rehan kan tampan." sambung Via.
"Aku tidak rela kalau Anakku, harus mirip dengan Anak ingusan itu." jawab Bagas sambil melirik kearah Rehan.
Kini Rehan dan yang lainnya akhirnya sama-sama menertawakan Bagas.
Hari sudah semakin siang, kali ini mereka makan siang bersama dirumah Rian.
Rian juga sudah memesan berbagai makan dari Aplikasi yang ada diponselnya, untuk dirinya, Istrinya, dan untuk para semua sahabatnya.
"Kalian makan siang disini ya, Aku sudah memesan macam-macam makanan untuk kita semuanya." kata Rian.
"Siappp..." jawab mereka semua dengan begitu kompak.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya makanan sampai, kini Istri-istri mereka langsung menyiapkan makanannya kecuali Via, Via hanya duduk saja karena belum boleh terlalu banyak gerak apalagi habis melahirkan.
Rama dan Rian sedang memangku Anak mereka masing-masing, kini Bagas dan Rehan fokus melihat Rama dan Rian.
"Kak Rian, Aku boleh mengajak Vano tidak." Rehan meminta izin pada Rian.
Rian melihat kearah arah Rehan, lalu menjawab pertanyaan Rehan.
"Dengan senang hati," jawab Rian.
Rian langsung memberikan Vano pada Rehan, kini Rehan memangku Vano dengan begitu bahagia.
"Rasanya sudah tidak sabar, pingin gendong Anak sendiri. tapi sayangnya adonannya belum jadi-jadi." gumam Rehan.
Setelah beberapa lama, akhirnya makan siang untuk mereka sudah siap kini mereka makan tidak dimeja makan, namun mereka makan dilantai yang digelari dengan krapet.
Semuanya menikmati makan siang dengan penuh nikmat, sedangkan Vano dan Niah ditaruh di BOK bayi didekat tempat mereka makan.
"Bahagia sekali." kata Bagas.
"Iya, rasanya senang punya sahabat seperti kalian semua." sambung Rian.
"Siapa yang tahu, pertemuan yang tidak sengaja akhirnya menjadi sebuah persahabatan yang begitu indah." timpal Rehan.
Ana dan Ayu saling menatap, dengan penuh rasa syukur.
Mereka sadar, jika mereka tidak bertemu dengan Rama dan Rehan pasti kehidupan mereka tidak akan sebahagia seperti sekarang ini.
"Iya Kamu benar Han, jika Aku tidak bertemu dengan Bagas dan tidak menikah dengan Bagas makan Aku tidak akan mendapatkan semua kebahagiaan ini." kata Alena.
Hari ini hanya ada kebahagiaan diantara mereka, biarpun mereka sering berdebat namun mereka tetaplah sahabat.
***Bersambung 🙏
__ADS_1
Jangan lupa like,komen,vote, dan rate 😊
Terimakasih pembaca setia 😊🙏***