
"Mandilah aku akan menunggu diranjang tempat tidur!" Suruh David dengan tatapan mesum.
Niah melangkahkan kakinya ke kamar mandi, "Jangan bilang dia akan menggarapku lagi malam ini." Gumam Niah sambil berjalan.
Sesampainya didalam kamar mandi, Niah menanggalkan pakaiannya satu persatu, Niah melihat dicelana dalam yang dirinya pakai ada bercak darah, Niah mengingat tanggal dan hari ini adalah hari tepat Niah datang bulan.
"Aku datang bulan, Katanya kan kalau sedang datang bulan tidak boleh ehem-ehem." Gumam Niah dengan raut wajah senang.
Bagaimana tidak senang akhirnya malam ini Niah bisa libur dan tidak harus melayani David diatas ranjang.
Niah berendam di bathtub dengan air hangat, Malam ini Niah memakai lulur rasa melon yang biasa dirinya gunakan, Niah mandi dengan begitu lama.
David masih terjaga menunggu istrinya yang sedang mandi, David merasa gusar dan agak kesal karena Niah mandi dengan lama.
"Dia itu mandi apa berendam sih sampai lama sekali didalam kamar mandi sana." Kesal David, David terus mengacak-acak rambutnya sendiri karena rasa kesalnya.
"Niah cepatlah, Keburu malam!" Teriak David dengan suara agak keras.
"Sebentar lagi, Aku sedang pakai handuk." Sahut Niah dari dalam kamar mandi.
"Memangnya mau ngapain? Pakai bilang keburu malam segala." Gerutu Niah.
Setelah selesai memakai handuk, Niah keluar dari dalam kamar mandi.
"Kenapa teriak-teriak sih?" Tanya Niah.
"Kamu lama." Jawab David dengan tatapan kesal, Tapi Niah hanya mengabaikannya saja.
Niah membuka lemari pakaiannya dan mengambil baju tidur yang akan dirinya pakai, David tiba-tiba mendekat kearah Niah membuat Niah kaget.
"Ada apa?" Tanya Niah yang ternyata David sudah ada dibelakangnya.
"Itu dihanduk kamu ada bercak merahnya, Kamu kenapa? Coba aku cek." Jawab David dengan perasaan panik David mengecek bagian handuk yang ada bercak merahnya.
Niah ingat kalau dirinya datang bulan dan lupa memakai pembalut.
"Aduh b*doh sekali aku ini, Aku kan belum pakai pembalut, Pasti ini bocor." Gerutu Niah dalam hatinya.
Niah belum pake pembalut karena memang pembalut Niah habis dan belum membelinya lagi.
"Kamu kenapa? Apa kamu sedang sakit? Kita ke Dokter sekarang ya!" Dengan perasaan paniknya David terlihat lucu sekali, Membuat Niah ingin tertawa tapi tidak sampai hati.
Niah duduk dikursi meja rias, Lalu memegang kedua pipi suaminya.
"Aku tidak sakit, Aku sedang datang bulan dan aku lupa memakai pembalut, Pembalutku juga habis, Apa kamu mau membantu aku membeli pembalut?" Niah berusaha memberikan pengertian pada suaminya, Niah juga meminta tolong pada David untuk membelikan pembalut untuk dirinya.
David mendengarkan apa yang dikatakan Niah dengan baik, Tapi Niah meminta tolong untuk membelikan pembalut David bingung.
"Beli pembalut? Aku saja seumur-umur tidak pernah membeli barang seperti itu." Gumam David dalam hatinya.
"Haruskah memakai pembalut?" Tanya David dengan pelan.
"Iya suamiku, Jika aku tidak memakai pembalut maka darah ini akan bocor kemana-mana." Niah memberikan pengertian pada suaminya, Dengan sorot mata yang begitu lembut membuat David tersenyum tulus.
"Tunggulah, Jangan bergerak! Aku akan pergi ke minimarket dekat komplek untuk membeli pembalut." Dengan lembut David menyuruh Niah menunggunya, David beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi menuju ke minimarket dekat komplek.
Niah hanya duduk terdiam sambil menunggu sang suami pulang dari minimarket.
"Rasanya nyeri sekali." Keluh Niah yang merasakan nyeri dibagian perutnya.
David baru saja sampai diminimarket, David masuk kedalam minimarket.
"Nona, Tempat pembalut disebelah mana ya?" Tanya David pada pegawai minimarket.
"Sebelah situ tuan." Jawab sang pegawai minimarket sambil menunjukkan tempat susunan pembalut pada David.
__ADS_1
David mengangguk pertanda mengerti, David hendak berjalan menuju tempat tersebut tapi David memberhentikan langkah kakinya, Dan kembali bertanya pada sang pegawai minimarket tersebut.
"Nona biasanya wanita pake yang merk apa?" Tanya David yang memang tidak tahu soal pembalut dan ini baru pertama kali dirinya membeli pembalut.
"Kalau bukan demi istri aku pasti tidak mau membeli barang wanita seperti ini, Rasanya malu sekali." Batin David dalam hatinya.
"Setiap wanita memakai merk yang berbeda." Jelas sang pegawai minimarket, David menganggukan kepalanya.
"Laki-laki kalau membeli pembalut lucu ya, Pasti bahagia wanita yang punya suami mau disuruh beli pembalut." Batin sang pegawai minimarket.
"Baiklah nona terimakasih." David mengucapkan terimakasih dan langsung berlalu pergi meninggalkan pegawai minimarket tersebut.
David menuju ketempat susunan berbagai macam pembalut. David tidak tahu harus membeli pembalut yang merk apa? Jadi David memilih 3 macam merk pembalut.
"Aku beli 3 macam dari merk yang berbeda biarkan saja nanti Niah memilihnya sendiri, Lagian dia juga tadi bilang aku harus beli yang merk apa?" Gumam David yang sudah memasukan pembalut pilihannya kedalam keranjang belanjaannya.
Setelah selesai memilih pembalut pilihannya, David membawanya ke kasir. Setelah proses pembayaran selesei David langsung pulang kerumahnya.
Sesampainya dirumah David menuju ke kamar Niah.
"Ceklek...." David membuka pintu kamar Niah.
David tersenyum melihat Niah masih duduk manis dikursi meja rias.
"Istri yang penurut." Kata David sambil mengacak-acak rambut Niah dengan pelan.
David memberikan plastik yang berisi pembalut, Niah menerimanya lalu membuka plastik tersebut.
"Apa dia harus membeli sebanyak ini?" Batin Niah tidak percaya yang melihat David membeli 3 bungkus pembalut yang berukuran besar dengan merk yang berbeda.
Mending David membeli 3 macam merk pembalut, Coba kalau Denis disuruh beli pembalut semua merk dibeli, Disuruh beli testpack semua merk juga dibeli. Buat yang penasaran siapa sih Denis itu? Baca saja novel kedua Author judulnya.
"PERJODOHAN KARENA HUTANG"
"Aku ke kamar mandi dulu." Pamit Niah yang langsung pergi menuju ke kamar mandi.
David berjalan menuju ke tempat tidurnya sambil menunggu Niah David memainkan ponselnya.
"Kasian Niah pasti dia sakit sekali, Lihat saja dihanduknya bercak darahnya tambah banyak." Batin David yang melihat handuk kimono yang Niah pakai bercak darahnya bertambah.
David yang tidak paham akan datang bulan merasa kasian pada istrinya dan juga sangat kawatir pada istrinya.
Setelah beberapa .lama Niah keluar dari kamar mandi, Niah juga sudah berganti dengan pakaian tidur lengan panjang, Melihat Niah keluar dari dalam kamar mandi, David langsung berjalan menghampiri Niah.
"Apa sakit?" Tanya David karena merasa kawatir.
"Iya sedikit nyeri." Jawab Niah yang membuat David menatapnya dengan sorot mata yang begitu kawatir.
David mengangkat tubuh Niah tiba-tiba, Bukannya marah Niah malah mengalungkan tangannya ke leher David.
"Kita ke Dokter saja ya? Atau aku akan menelpon Dokter Yun kesini untuk memeriksamu?" David kembali menghawatirkan Niah, Dengan begitu hati-hati David menaruh Niah diatas ranjang tempat tidurnya dan menyelimuti Niah dengan selimut tebal yang ada diranjang tempat tidur.
"Suamiku ini hanya datang bulan, Nyeri karena datang bulan itu sudah biasa dan kamu jangan terlalu kawatir." Niah berusaha memberikan pengertian pada David agar David tidak kawatir berlebihan pada dirinya.
Melihat raut wajah sang suami begitu kawatir pada dirinya, Membuat Niah senang tapi Niah juga merasa agak kesal karena David khawatirnya sangat berlebihan, Bahkan di jam tengah malam seperti ini David ingin memanggil Dokter pribadinya untuk memeriksa Niah.
"Ini hanya nyeri dapet yang biasa dirasakan oleh seorang wanita." Batin Niah dalam hati.
"Kemarilah tidur disampingku, Aku mau dipeluk sama kamu!" Pinta Niah dengan begitu manja.
Niah sengaja bersikap manja agar David tidak terus kawatir pada dirinya gara-gara Niah sedang datang bulan.
"Apa dia tidak tahu soal datang bulan? Sampai-sampai dia begitu kawatir seperti itu?" Batin Niah dalam hatinya.
David berbaring disamping Niah, Lalu menarik Niah masuk kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Tidurlah jika kamu merasa sakit bilang saja padaku! Nanti aku akan menelpon Dokter agar memeriksamu." Kata David dengan senyum manisnya, David mencium kening Niah dengan lembut.
"Kamu tidak makan malam dulu?" Tanya Niah dengan suara lembut.
"Aku tidak lapar, Sudah kamu tidur saja! Kamu tidak boleh kecapean." Jawab David agar Niah tidak terus bertanya pada dirinya.
Niah membenamkan wajahnya kedalam dada bidang milik David, David mempererat pelukannya sambil mengusap-usap rambut panjang milik Niah.
Merasakan pelukan dan sentuhan dari tangan kekar David membuat Niah tertidur begitu pulas.
"Niah kamu begitu cantik." David memuji Niah dan mencium pipi Niah dengan lembut.
Malam semakin larut, David membenarkan posisi tidurnya dan langsung memejamkan matanya.
Ntahlah biarpun David belum menyatakan cinta pada Niah, Tapi ketulusan itu terlihat dari sorot mata David. Bahkan kesucian Niah pun sudah David renggut.
Keesokan harinya, Ana dan Rama sudah menunggu anak-anaknya dimeja makan untuk sarapan pagi bersama.
"Niah belum bangun ma?" Tanya Rama pada Ana.
"Belum pa, Mungkin semalam mereka habis berkerja keras makanya belum bangun." Jawab Ana dengan senyuman jailnya.
"Jadi pingin muda lagi ya ma, Apa kita buat satu anak lagi ma?" Rama mulai menggoda Ana, Membuat Ana tersenyum simpul.
"Papa, Kita ini sudah berumur daripada buat adonan lagi yang belum tentu jadi mending minta Niah membuatkan cucu untuk kita." Omel Ana pada sang suami.
Sih Rama ini memang hobby buat adonan Bahkan dulu dia pernah menitipkan Niah pada Bagas, Agar dirinya bisa membuat adonan bersama istrinya. Kadang kalau ingat hal itu Rama dan Ana suka tertawa karena menurut mereka, Ternyata mereka dulu sangat lucu.
Kevin baru saja keluar dari kamarnya dan langsung menuju keruang makan.
"Pagi mama,papa." Kevin menyapa kedua orang tuanya.
"Pagi juga nak." Jawab Rama dan Ana secara bersamaan.
Kevin duduk dikursi meja makan, Ana langsung mengambilkan nasi dan berbagi lauk dipiring lalu memberikan pada Kevin.
"Sarapan yang banyak nak, Mama tidak mau kamu sampai sakit." Pinta Ana dengan begitu lembut.
"Iya ma, Oh iya ma Kak Niah mana?" Jawab Kevin yang langsung menanyakan Niah karena Niah tidak ada diruang makan.
"Kak Niah belum bangun, Kamu hari ini libur kerjakan?" Jawab Ana yang berbalik bertanya pada Kevin.
"Iya ma, Apa mama mau Kevin antar jalan-jalan?" Dengan senang hati Kevin menawarkan untuk mengantarkan jalan-jalan sang mama.
"Tidak nak, Tapi mama mau ketemu dengan gadis yang waktu itu kamu bawa ke acara pernikahan Kakakmu." Jawab Ana membuat Kevin hampir tersedak.
"Mama ingin bertemu Valin? Aduh ma aku dan Valin hanya atasan dan bawahan saja." Batin Kevin merasa bingung.
Mengingat Kevin pernah membawa seorang gadis cantik ke acara pernikahan Niah, Membuat Ana berpikir itu adalah kekasih Kevin, Karena Kevin juga tidak jujur pada Ana tentang status Valin. Jadi Ana menganggap Valin adalah kekasihnya Kevin. Dan sekarang Kevin benar-benar bingung harus bagaimana?
"Tapi ma....." Kata-kata Kevin terpotong.
"Tapi apa? Kamu sudah dewasa dan sudah saatnya kamu untuk menikah." Rama memotong kata-kata Kevin.
Salah Kevin waktu itu membawa Valin ke acara pernikahan Niah, Jadi pusing sendirikan ngadepin mama dan papanya.
"Tapi pa.... Valin itu?"
"Valin itu siapa Vin?" Sambung Niah yang baru saja keluar dari kamarnya bersama suaminya.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Baca juga ya karya baru Author Siapa tahu pada suka 🙏
__ADS_1