
Setelah selesai periksa Bagas dan Alena langsung pamit pulang pada Silvia.
"Via, terimakasih ya" kata Alena, dengan senyuman yang begitu bahagia.
"Iya sama-sama, Bagas jaga istrimu baik-baik ya!" pinta Via, sambil melihat kearah Bagas.
"Siap Bu Dokter" jawab Bagas, dengan begitu semangat.
"Ya sudah, kita pamit pulang ya" Alena pamit pulang pada Silvia.
"Iya Kalian, hati-hatilah dijalan!" jawab Silvia.
Setelah berpamitan pulang, Bagas dan Alena langsung keluar dari ruangan Silvia, lalu mereka segera menuju ketempat parkir.
Kini mereka berdua sudah masuk kedalam mobil, Bagas langsung menyalakan mesin mobilnya untuk menuju kerumahnya.
"Bagas, Aku pingin makan siang ditempat Ana nanti" rengkek Alena, dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.
Bagas melihat kearah Alena.
"Sayang, tidak enak kalau makan ditempat mereka terus" jawab Bagas, yang merasa tidak enak karena ini kesekian kalinya Alena meminta makan ditempat Ana.
Tiba-tiba wajah Alena begitu sedih, lalu meneteskan air matanya. Bagas langsung menghentikan mobilnya ketepi jalan.
"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Bagas, sambil menghapus air mata Alena yang sudah membasahi pipinya.
"Aku mau makan ditempat Ana, Aku tidak mau tau" rengkek Alena lagi.
"Baiklah, ayo kita kerumah Ana sekarang" jawab Bagas dengan suara yang begitu lembut.
"Apa ini yang dinamakan ngidam?" gumam Bagas.
"Tapi setidaknya Alena tidak memintaku, untuk memanjat pohon mangga tetangga" gumam Bagas, yang ingat waktu Rian disuruh naik pohon mangga karena permintaan istrinya yang sedang ngidam waktu itu.
Akhirnya Bagas langsung menuju kerumah Ana, tanpa pulang terlebih dahulu.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Bagas sampai dirumah Ana.
Bagas langsung memarkirkan mobilnya, sedangkan Alena langsung turun dari mobilnya lalu langsung menuju Kerumah Ana untuk mengetuk pintu.
"Tok...tok...." Alena mengetuk pintu rumah Ana dengan wajah yang begitu senang.
Setelah memarkirkan mobilnya, Bagas langsung menyusul Alena yang sedang mengetuk pintu rumah Ana.
Bibi yang kerja dirumah Rama, langsung keluar untuk membukakan pintu rumahnya.
"Tunggu..." kata Bibi dari dalam rumah.
"Ceklek.." Bibi membuka pintu.
"Nona Alena, Tuan Bagas, silahkan masuk" Bibi mempersilahkan Bagas dan Alena untuk masuk kedalam rumah.
Alena dan Bagas mengikuti langkah Bibi untuk masuk kedalam rumah.
"Bibi, Ana ada?" tanya Alena.
"Ada, tunggu sebentar Bibi panggilkan ya!" jawab Bibi, yang langsung berjalan menuju ke kamar Bayi. karena Ana dan Ayu sedang ada dikamar Bayi dari tadi.
Bibi sampai didepan kamar Bayi, lalu langsung mengetuk pintunya.
"Tok..tok.. Nona Ana, Nona Ayu, ada tamu" panggil Bibi sambil mengetuk pintu.
Ana dan Ayu yang sedang tertidur, langsung membuka matanya.
"Iya Bi, masuk aja pintunya tidak dikunci!" jawab Ana, dengan nada baru bangun tidur.
__ADS_1
Bibi membuka pintu, lalu masuk kedalam kamar tersebut.
"Dibawah ada Nona Alena dan Tuan Bagas, Nona" kata Bibi, memberitahukan pada Ana dan Ayu.
"Iya Bi, kita akan segera turun" jawab Ana.
Bibi langsung pergi meninggalkan Ana dan Ayu, sedangkan Ana dan Ayu langsung mencuci muka mereka terlebih dahulu, setelah selesai mencuci muka keduanya langsung turun menemui Bagas dan Alena.
Setelah mereka sampai dibawah, langsung memanggil Alena.
"Alena..." panggil Ana dan Ayu secara bersamaan.
"Ana, Ayu" saut Alena, yang langsung menghambur ke pelukan Ana dan Ayu secara bersamaan.
Kini mereka bertiga berpelukan seperti Teletubbies.
"Ada apa, sepertinya Kamu bahagia sekali" tanya Ana, yang melihat wajah Alena sangat bahagia sekali.
Alena melepaskan pelukannya dari Ana dan Ayu.
"Aku sekarang sedang hamil" kata Alena dengan begitu senang.
Ana dan Ayu saling melempar senyum yang begitu bahagia, lalu langsung mengucapkan selamat pada Alena.
"Selamat ya Len, Akhirnya Kamu hamil juga" Ana mengucapkan selamat pada Alena.
"Selamat Alena, Doakan biar Aku cepet nyusul kalian ya" Ayu mengucapkan selamat untuk Alena, sama meminta doa dari Alena.
"Iya Ayu, bilang pada Rehan terus semangat ya" jawab Alena, sambil menyunggingkan senyum manisnya pada Ayu.
Ayu tersenyum malu, tiba-tiba Bagas menimpali perkataan istrinya.
"Bilang pada Rehan, punyaku sudah jadi lebih dulu" timpal Bagas, dengan nada penuh kebanggaan.
"Ayu kan baru nikah belum lama Kak Bagas" protes Ayu pada Bagas.
"Sudahlah Yu, tidak usah mendengarkan Suamiku, Aku kesini karena Aku mau makan siang ditempat kalian" kata Alena, yang langsung berjalan menuju ruang makan.
Ana, Ayu, dan Bagas mengikuti langkah Alena menuju ruang makan.
"Sebenarnya yang tuan rumah disini siapa ya?" tanya Ayu sambil berjalan dibelakang Alena.
Ana melihat kearah Ayu, lalu tersenyum.
"Sudahlah, mungkin Alena sedang ngidam Yu" saut Ana, yang tidak mempermasalahkan semua itu.
"Orang ngidam suka lucu ya" timpal Ayu sambil tertawa, membayangkan jika dirinya hamil nanti.
"Iya Alena saja tiba-tiba minta makan siang dirumah kalian, padahalkan tidak bisanya Dia tidak seperti ini, tapi tadi dijalan Aku menolak malah Dia menangis" cerita Bagas pada Ana dan Ayu.
Kini mereka sudah berada dimeja makan, kebetulan Bibi sudah menyiapkan makan siang, dengan begitu senang Alena langsung mengambil berbagi makanan yang ada, lalu menikmatinya dengan begitu nikmat.
"Alena, pelan-pelan makannya!" pinta Ana.
Melihat Alena makan dengan begitu nikmat, Ayu merasa senang sekali.
"Jika nanti Aku hamil, akan seperti apa ya kalau Aku ngidam nanti?" gumam Ayu.
Bagas melihat kearah Ana dan Ayu.
"Maafkan Istriku ya" Bagas meminta maaf pada Ana dan Ayu karena merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, biarkan Dia makan yang banyak" jawab Ana dan Ayu secara bersamaan.
Alena sudah selesai makan, lalu langsung mengelap mulutnya dengan tissu.
__ADS_1
"Ana, Ayu, maaf ya Aku sudah menghabiskan banyak makanan kalian" kata Alena yang merasa bersalah.
Ana dan Ayu saling melempar senyum.
"Tidak apa-apa, kapanpun Kamu mau makan disini datang saja!" jawab Ana, sambil tersenyum bahagia.
"Iya benar kata Kakak Ipar" saut Ayu.
"Aku juga tidak tau, kenapa Aku selalu pingin makannya dirumah kalian" kata Alena jujur.
"Mungkin ini salah satu ngidamnya Kamu" jawab Ana, sambil membayangkan ngidamnya dirinya dulu waktu hamil muda.
Ana mengerti karena Ana juga pernah hamil muda, bahkan ngindam yang aneh-aneh minta dibeliin make up lengkap, minta cincin kembar, bahkan minta serabi solo namun Ana tidak memakannya akhirnya Rama yang memakannya waktu itu.
"Bagas siap-siap, nanti akan ngidam selanjutnya" kata Ana, yang melihat kearah Bagas.
"Asal jangan suruh Aku manjat pohon mangga tetangga aja Alena sayang" kata Bagas, yang selalu mengingat ngidamnya Via waktu itu.
Ana dan Ayu tertawa mendengar perkataan Bagas.
"Memangnya siapa yang disuruh memanjat pohon mangga?" tanya Ana ingin tau.
"Itu sih Rian, waktu Via hamil muda dan pas itu Aku disuruh Dia nemenin manjat pohon mangga" cerita Bagas, yang diiringi tawanya.
Kini mereka berempat tertawa secara bersamaan.
"Ternyata Via, ngidamnya ngeri juga" kata Ana, sambil tertawa.
"Mungkin Anaknya Via laki-laki" saut Alena, yang sudah menduga-duga.
"Mungkin saja, biarkanlah siapa tau nanti Anakku perempuan kan nanti bisa dijodohkan" timpal Bagas, yang diiringi tawanya.
"Dasar, Anak aja baru jadi kemarin udah mikirin jodoh aja" saut Alena, sambil mencubit lengan tangan Bagas.
Bagas tersenyum pada Alena.
"Setidaknya lebih baik besanan dengan Tuan Rian daripada dengan Rehan" ledek Bagas, yang memang tidak mau besanan dengan Bagas.
Ayu tertawa mendengar ledekan dari Bagas.
"Bayangkan saja Kak, jika kita besanan bukan Anak kita saja yang berdebat setiap hari tapi Bapak-bapaknya pasti tidak kalah ikut ribut juga" saut Ayu, sambil membayangkan bagaimana kalau hal itu sampai terjadi pasti akan lucu.
"Jangan dibayangkan Yu, mudah-mudahan kalian benar-benar besanan nanti" Doa Ana, sambil tersenyum pada Ayu dan Bagas.
Alena hanya menggelengkan kepalanya tanpa melakukan protes, karena hal seperti ini sudah biasa terjadi diantara mereka semua.
Hari sudah semakin sore, akhirnya Alena dan Bagas pamit pulang pada Ayu dan Ana.
"Kita pulang dulu ya, terimakasih untuk hari ini" kata Alena dan Bagas secara bersamaan.
"Iya, Alena kalau mau makan disini datang saja ya kita dirumah setiap hari" jawab Ana, sambil tersenyum pada Alena.
"Sekarang, kita sudah jadi pengangguran" keluh Ayu, dengan nada lesu.
Alena tertawa mendengar keluhan Ayu.
"Aku saja dirumah terus, sekarang masalah perusahaan Aku serahkan pada orang-orang kepercayaanku saja, Aku mau fokus ngurusin rumah tangga Aku saja" jawab Alena.
"Memang sudah sepantasnya, para wanita itu duduk manis dirumah saja! kerjaan mereka hanya meledeni suaminya" saut Bagas, dengan nada begitu lembut.
"Sama ngabisin duit Suami ya sayang" saut Alena, sambil tersenyum jail pada Bagas.
"Dasar kalian" omel Ana, sambil tertawa.
Bagas dan Alena langsung pulang karena tidak mau sampai candaan mereka, jadi panjang lebar.
__ADS_1
Bagas pulang mengendarai mobilnya, sedangkan Alena pulang jalan kaki menuju rumahnya. maklum rumah mereka sangat dekat.
Bersambung 🙏