
"Kevin kemana? Jangan-jangan dia pergi ke club malam dan tidak pulang, awas saja jika itu benar." Valin sudah mengebu-gebu, dia segera keluar rumah untuk mencari suaminya yang sudah tidak ada di sofa.
Di depan rumah, Vina juga sedang celingak-celinguk tidak jelas. Dia juga sedang mencari-cari sosok suaminya yang juga tidak ada di sofa.
"Aish, kemana suamiku?" Tanya Vina pada dirinya sendiri, raut wajahnya tampak kesal.
Valin berjalan menghampiri Vina yang ada di depan rumahnya.
"Kak Vina, kamu sedang apa?" Tanya Valin pada Vina.
"Aku sedang mencari suamiku Val, kamu tahu tidak sih semalam aku suruh dia tidur di sofa. Tapi aku bangun tidur, dia sudah tidak ada di sofa." Jawab Vina, membuat Valin mengangguk pertanda mengerti.
"Kevin juga tidak ada kak, apa jangan-jangan mereka pergi ke club malam? Dan mereka tidak pulang semalaman." Valin dan Vina sama-sama berteriak histeris, sungguh jika itu benar terjadi maka mereka tidak akan memberikan ampun pada suami-suami mereka.
Mendengar suara teriakan, Vano dan Kevin sama-sama membuka matanya. Sungguh mereka kaget gara-gara teriakan itu.
"Siapa sih pagi-pagi teriak-teriak, menganggu orang tidur saja." Vano ngedumel, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tahu kak, mana suaranya cempreng sekali lagi." Sambung Kevin, dia menguap karena masih merasa mengantuk.
"Kevin, kalau kamu menguap tutuplah mulutmu!" Omel Vano, dia menatap kesal Kevin tapi Kevin malah senyam-senyum.
"Apasih kak? Mulutku baunya wangi." Kevin kembali mengomeli Vano.
Ternyata dari tadi, mata Valin dan mata Vina sudah menatap suami-suami mereka dengan garang.Vano dan Kevin sama-sama terkejut ternyata istri-istri mereka sudah ada di hadapan mereka.
"Valin sayang, kamu sudah bangun sayang?" Tanya Kevin, raut wajahnya agak takut, iya takut Valin ngamuk.
"Istriku, semalaman aku tidur di saung." Vano menatap wajah cantik Vina, berharap Vina tidak marah pada dirinya.
Valin langsung memeluk suaminya, dia tidak marah tapi dia merasa kasian pada suaminya semalaman dia tidur di saung.
__ADS_1
"Apa, aku sudah menjadi istri yang tega? Tapikan aku tidak menyuruh Kevin tidur di saung." Batin Valin dalam hatinya.
"Maaf istriku, aku semalam jenuh tidur di sofa jadi aku pergi ke saung dan ternyata Kak Vano juga ada di saung. Jadi aku dan Kak Vano tidur di saung semalam," Jelas Kevin, dan Valin malah memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku, sekarang ayo kita pulang, pasti kamu kedinginan semalaman tidur di saung." Valin melepaskan pelukannya, lalu dia menggandeng tangan suaminya untuk masuk ke dalam rumah mereka.
"Kak Vina, Kak Vano, kita duluan ya." Pamit Vina dan Kevin, sambil tersenyum pada Vina dan Vano.
"Iya, aku juga mau pulang. Suamiku ayo kita pulang!" Vina menganggukkan kepalanya, lalu menggandeng tangan suaminya masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah, Valin dan Kevin langsung masuk ke dalam kamar mereka.
Di dalam kamar, Valin duduk di kursi meja rias sedangkan Kevin duduk tersungkur di pangkuan Valin.
"Aku minta maaf sayang, aku tidak pergi ke club malam." Kevin memegang tangan Valin, dan Valin tersenyum penuh salah karena hanya masalah sepele dia marah-marah pada suaminya.
"Iya aku maafkan, jangan bandel lagi ya!" Jawab Valin, dia mengusap kepala suaminya.
Vano dan Vina.
Kini mereka berdua sedang duduk di tepi ranjang, keduanya tidak ada yang bicara hingga terjadi suatu keheningan yang agak lama.
"Sayang," Vano memegang tangan Vina, matanya menatap lekat wajah cantik Vina.
Vina hanya diam, dia enggan menjawab perkataan dari suaminya. Vano tahu kalau istrinya sudah ngambek itu sudah sembuhnya.
"Iya sudah, kalau kamu tidak mau bicara padaku, biarkan aku pergi saja." Vano hendak melepaskan tangannya dari tangan Vina, tapi dengan cepat Vina menggenggam tangan suaminya.
"Jangan pergi, minta maaflah padaku!" Cegah Vina, dia begitu manja pada suaminya, Vano kembali duduk lalu dia tersenyum pada sang istri dan langsung memeluknya.
"Aku minta maaf istriku, aku mencintaimu." Kata Vano disela-sela pelukannya.
__ADS_1
Vina tahu, suaminya sangat mencintai dirinya tapi ya namanya wanita kalau sedang ngambek, tidak pernah mau dengar penjelasan dari suaminya.
Akhirnya Vina dan Vano berbaikan, mungkin ini hanya masalah sepele tapi ketika suaminya minta maaf dengan tulus, seketika hatinya bergitu bahagia mempunyai suami seperti Vano.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi, keluarga Ardiyansyah sudah duduk di meja makan untuk menikmati sarapan pagi bersama.
Rama dan Ana tampak bahagia, siapa yang tidak bahagia melihat kedua anaknya akhirnya mempunyai rumah tangga masing-masing.
"Oh iya sayang, aku sudah membeli rumah di dekat sini jadi nanti kita segera pindah ya dari rumah mama dan papa." Kata David pada Niah, Niah terdiam sejenak dia tampak berpikir. Haruskah dia pindah dari rumah kedua orang tuanya?
"David, kalian tinggal disini saja! Rumah ini cukup luas untuk kita tinggal bersama." Kata Ana dengan tutur kata yang begitu lembut.
David juga sebenarnya ingin tinggal dirumah kedua mertuanya. Apalagi disitu ada Kevin dan Valin jadi rumah juga selalu rame, tapi sebagai menantu jika terus menumpang di rumah kedua mertuanya David juga merasa tidak enak.
"Iya ma terimakasih, David juga membeli rumahnya tepat disampingnya rumah Tante Alena kok ma. Katanya orangnya pindah ke luar negeri dan rumahnya di jual. Akhirnya aku membelinya," Tolak David dengan sopan.
David membeli rumah tepat disampingnya Rumah Alena dan Bagas. Ntahlah ini sebuah kebetulan atau tidak? Beberapa waktu lalu David menyuruh Randi mencari rumah dekat rumah kedua mertuanya dan akhirnya dia menemukan rumah yang sangat dekat dengan rumah kedua mertuanya. Waktu tahu orang itu menjual rumahnya dengan cepat Randi mengabari David, dan tanpa menunggu lama David langsung membayar cash rumah itu agar bisa segera di tempati.
Ana bahagia, karena putri satu-satunya mendapatkan suami yang begitu bertanggung jawab dan sangat menyayangi putrinya.
"Baiklah nak, Niah tidak apa-apa pindah nak kan dekat ini kamu bisa kapan saja bermain ke rumah mama." Kata Ana, sorot matanya begitu lembut.
Niah mengangguk-anggukkan kepalanya, dia juga paham jika dia terus menumpang hidup dirumah kedua orang tuanya, pasti David akan merasa tidak enak.
"Iya ma, lagian kan dekat ini ma. Hari ini kita langsung pindah rumah baru atau bagaimana suamiku?" Tanya Niah, dia melihat kearah suaminya.
"Emmhh..?"
BERSAMBUNG🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1