Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
388.Percayalah padaku S2.


__ADS_3

David melihat Niah, kali ini tatapannya begitu mesum.


"Kalau kamu menarik perkataanmu, biarkan aku membuatmu tidak marah dan aku akan menunjukkan cintaku padamu!" Kata David.


"Pakai apa?" Tanya Niah.


David langsung naik ke atas tubuh istrinya.


"Dengan ini sayang, aku mau menyiram benihku agar dia semakin subur!" Kata David, ia tersenyum mesum pada istrinya.


"Kamu mau apa?" Tanya Niah, ia pura-pura tidak tahu.


"Aku mau membuat istriku percaya kalau dialah wanita satu-satunya dalam hidupku." David mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya, lalu ia menautkan bibirnya dengan lembut.


Kini David mulai mencium bibir mungil Niah, Niah yang tadinya diam saja ia juga mulai terangsang dan membalas ciuman dari suaminya, ia mengalungkan tangannya ke leher suaminya. David menyangka tubuhnya dengan tangan kekarnya agar tidak sampai menindih tubuh istrinya.


Setelah beberapa lama mereka saling melepaskan ciuman mereka, David tersenyum tambah mesum.


"Tadi marah, apa sekarang mau marah lagi?" Goda David, dan Niah menggelengkan kepalanya ia malah ikut tersenyum mesum pada suaminya.


Rasanya David sungguh bersemangat, apalagi istrinya sudah tidak marah lagi pada dirinya.


"Boleh, aku menyiram benih kita?" Tanya David sebelum melakukannya.


"Boleh, tapi besok pagi kamu harus buatkan aku sarapan!" Jawab Niah dengan manja.


"Siap, jangankan sarapan sayang, produksi anak yang banyak juga aku siap." Kata David, ia sudah kembali memulai aksinya, kini ia sudah membenamkan wajahnya dileher jenjang sang istri.


Sesekali David menciumi leher istrinya, bahkan ia juga memberikan kecupan hingga meninggalkan bekas merah dileher sang istri.


Tangan David mulai sibuk, ia membuka kancing baju Niah satu persatu, Niah juga ikut membantu David melepaskan kancing bajunya.


Setelah sama-sama terlepas, keduanya sama-sama menanggalkan pakaian mereka. Kini keduanya sudah sama-sama sudah melepaskan pakaian mereka, David dari atas tubuh Niah, ia membuka seluruh celananya dan menjatuhkannya dilantai, kini miliknya sudah terlihat tegang, membuat Niah menelan ludahnya dengan kasar.


"Anak mama, malam ini papa kalian akan menyiram kalian biar subur, kalian anteng ya." Niah mengelus perutnya, ia bicara pada bayi kembarnya yang masih ada di dalam perutnya.


David duduk diatas ranjang, ia melepaskan seluruh dalaman milik istrinya hingga sang istri sekarang polos tanpa sehelai benang sedikitpun.


Ia kembali menindih, tubuh sang istri dan sesekali ia menggesek-gesekan miliknya pada milik istrinya, hanya bisa mendesah penuh kenikmatan, kini ia kelimpungan karena suaminya malam ini begitu nakal.


Setelah keduanya sama-sama mencapai puncaknya, David langsung mempercepat goyangannya dan akhirnya cairan hangat David berhasil mengalirin rahim Niah dengan hangat.


David mencabut miliknya, dan langsung menjatuhkan tubuhnya disamping Niah.


"Sayang, aku puas sekali, anak papa sehat-sehat ya diperut mama!" Kata David, ia mengelus-elus perut sang istri, seolah-olah menyapa anaknya masih ada di dalam perut istrinya.


"Iya papa, aku pasti akan sehat selalu, papa juga jangan ketemu mantan papa di belakang mama ya!" Niah senyam-senyum, ia menggoda suaminya dengan jail.

__ADS_1


"Mamamu, hanya salah paham nak!" David mengelus-elus perut istrinya, ia bangun dan sekarang sudah berada diatas Niah kembali.


"Kamu, mau apa?" Tanya Niah dengan lembut.


David tidak menjawab, tapi ia tiba-tiba memegang adik kecilnya lalu meng*coknya dan kembali memasukkan ke dalam goa milik istrinya.


"Ahccc..." desah Niah, merasakan ada benda tumpul yang kembali masuk ke dalam goanya.


David menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan pelan, Niah hanya menikmati permainan suaminya sambil mengeluarkan erangan dan desahan dari dalam mulutnya.


Setelah beberapa lama, David kembali mengeluarkan cairan hangatnya ke dalam rahim istrinya.


"Akhhcc..." David mencabut miliknya dari dalam goa milik istrinya.


Setelah sama-sama lelah, akhirnya mereka berdua tertidur begitu pulas.


.


.


.


Kenan, Ralin, Kevin dan Valin.


Mereka malam ini pulang dari bulan madu mereka, diperjalanan mereka saling mengobrol dengan begitu bahagia.


"Aku tidak Alin, orang suamiku minta mulu tiap malam jadi aku tidak ada niat menunda untuk hamil." Jawab Valin, ia melirik sang suami yang memejamkan matanya sambil bersandar di bahunya.


Biarpun Valin dan Kevin, awalnya pacaran pura-pura. Tapi pada akhirnya mereka menerima satu sama lain dan mereka juga akhirnya saling jatuh cinta.


"Wahh ternyata Kevin kuat juga dalam hal begituan," Kenan tertawa kecil, sambil fokus menyetir.


Mendengar Kenan buka suara, Kevin membuka kedua matanya.


"Kuatlah, oh iya kamu sudah menggunakan sesuatu yang diberikan oleh kakek? Sungguh itu enak banget tahan lama," Bisik Kevin ditelinga Kenan.


"Apa dia sudah menggunakannya? Aku jadi pingin, nanti aku cobalah." Kenan tertawa dalam hatinya.


Dalam hati Kevin, ia sebenarnya cengengesan tidak jelas. Ia membisikkan hal itu pada Kenan ternyata ia berniat mengerjai Kenan saja, karena sebenarnya Kevin juga belum menggunakan yang diberikan oleh sang kakek.


"Kalian bisik-bisik apaan sih?" Tanya Ralin, ia merasa penasaran.


"Ini urusan laki-laki, wanita tidak boleh tahu!" Jawab Kenan, ia tersenyum jail pada sang istri.


"Iya sudah, kalau tidak mau memberitahukan." Ralin memayunkan bibirnya, ia menatap sang suami dengan tatapan kesal.


Kevin tersenyum melihat sang Adik dan suaminya, biarpun mereka sudah menikah tapi Ralin masih tetap manyunan.

__ADS_1


.


.


.


Setelah menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya mereka sampai di depan rumah. Bulan madu mereka memang sederhana mereka pergi juga tanpa supir karena Kevin dan Kenan bergantian dalam menyupir.


Apalagi Kevin dan Kanan tidak mengambil cutti kerja lama, jadi mereka memilih bulan madu yang tidak jauh dari kotanya.


Kenan dan Ralin, mereka pulang kerumah Kenan. Karena mereka juga belum memikirkan untuk tinggal rumah siapa?


Sedangkan Valin, pasti akan tinggal dirumah mertuanya karena memang Kevin tidak mau membeli rumah, dan memilih untuk tinggal bersama kedua orang tuanya.


Valin dan Kevin, mereka langsung istrihat karena mereka sangat lelah.


"Sayang, kamu tidak apa-apakan jika kita tinggal dirumah orang tuaku?" Tanya Kevin, ia membelai pipi Valin dengan lembut.


"Tidak apa-apa, lagian aku juga senang akhirnya aku bisa merasakan punya keluarga." Jawab Valin, ia tersenyum bahagia.


Mengingat Valin dari dulu hanya hidup sebatang kara dan akhirnya setelah menikah dengan Kevin. Valin mempunyai keluarga yang sesungguhnya bahkan ia juga mempunyai kedua mertua yang sangat menyayangi dirinya.


.


.


Kenan juga langsung tidur karena merasa sangat lelah, sedangkan Ralin ia masih terjaga karena malam ini ia pertama kali tidur dikamar Kenan.


"Dulu, aku berharap aku bisa masuk ke dalam kamar Ken dan akhirnya kamar ini menjadi milikku," Ralin tersenyum bahagia, ia merebahkan tubuhnya disamping suaminya.


Ralin membelai-belai pipi suaminya dengan gemas, ia bahagia sekali dengan pernikahan dirinya dan Kenan.


Dirumah David dan Niah.


Pagi menunjukkan pukul 7, David sudah bangun dan saat ini ia sedang sibuk di dapur sesuai permintaan sang istri boleh menyiram benihnya yang penting besok pagi buatkan sarapan.


Dan pagi ini, David sedang sibuk membuat sarapan untuk istri tercintanya.


"Sayang, ini bau apa? Enak sekali." Tanya Niah, ia berjalan menuju ke dapur.


Niah terkejut melihat suaminya sedang sibuk di dapur dengan memakai celemek.


"Dia sedang apa?" Tanya Niah penasaran.


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2