
"Kita lanjutkan nanti." bisik Rama, yang langsung melepaskan pelukannya.
Ana hanya terdiam sambil tersenyum melihat Rama.
"Dasar Kamu ini, lanjutkan nanti! Anak-anak saja kalau malam rewel." gumam Ana.
Rama langsung pergi menuju ke kamar mandi, sedangkan Ana langsung menghampiri Anak-anaknya yang masih tertidur dengan begitu pulas.
"Sayang, lihat Papamu! kadang Dia sangat menyebalkan." kata Ana pada kedua Anaknya.
Setelah selesai mandi, Rama langsung berganti pakaian dengan setelan kaos oblong dan celana pendek.
"Sayang, kapan perpustakaannya selesei dibangun?" tanya Ana sambil melihat kearah Rama.
Rama menghampiri Ana, lalu duduk disamping Ana.
"Sekitar satu bulanan lagi, nanti Aku beritahu padamu kalau sudah selesai pembangunannya." jawab Rama sambil membelai pipi Ana dengan tangannya.
Ana langsung menyandarkan kepalanya di bahu Rama, lalu tangan Ana memegang tangan Rama.
"Kamu kenapa?" tanya Rama karena merasa dari tadi Ana sangat manja pada dirinya.
Rama tidak tahu, jika istrinya ini sedang merasakan baper gara-gara obrolan dengan para sahabatnya.
Ana diam saja, membuat Rama semakin bingung.
"Kamu manja seperti ini, bukan karena Kamu sedang hamil muda kan?" tanya Rama dengan tatapan wajah yang begitu serius.
"Apasih Kamu! tentu saja bukan." jawab Ana sambil memayunkan bibirnya.
"Lalu karena apa?" tanya Rama lagi yang sudah merasa begitu gemas pada istrinya satu ini.
"Aku takut Kamu punya wanita lain dibelakangku." kata Ana dengan suara pelan.
Rama langsung melepaskan tangan Ana dengan begitu kasar, Rama benar-benar tidak menyangka Istrinya bisa berpikir seperti ini.
"Pikiran macam apa ini?" tegas Rama dengan raut wajah yang begitu kesal.
Ana langsung menundukkan kepalanya, Ana tahu apa pertanyaan ini pasti akan membuat suaminya begitu marah, namun karena Ana tidak mau berpikir macam-macam.akhirnya Ana memberanikan bertanya pada suaminya secara langsung.
"Maafkan Aku." Ana meminta maaf pada Rama.
Rama langsung berjongkok dihadapan Rama, lalu Rama memegang tangan Ana dengan kedua tangannya.
"Kenapa Kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Rama sambil menatap mata Ana dengan penuh ketulusan.
"Tadi pagi, Aku mengobrol dengan Via, Alena dan juga Ayu, mereka mengobrolkan tentang wanita lain, lalu Aku terbawa perasaan gitu, jadi Aku kepikiran terus." Ana menjelaskan pada Rama.
Rama tersenyum, lalu mencium tangan Ana, setelah menciumnya Rama menaruh kembali tangan Ana kepangkuannya.
"Buang pikiran itu jauh-jauh, Aku tidak akan macam-macam dibelakangmu, apalagi punya wanita lain itu tidak akan terjadi." tegas Rama pada Ana.
Ana tersenyum pada Rama, Rama juga membalas senyuman Ana.
"Aku tidak mau ada orang ketiga!" pinta Ana dengan begitu polosnya.
"Dasar Kamu ini, itu tidak akan pernah terjadi Istriku." jawab Rama dengan tegas.
__ADS_1
Rama berdiri, lalu kembali duduk disamping Ana, kini Rama langsung menarik Ana ke dalam pelukannya.
"Kamu adalah wanita satu-satunya dalam hidupku sampai kapanpun, sampai maut yang memisahkan Kita." tegas Rama yang sangat mencintainya Ana.
Betapa bahagianya Ana, mempunyai suami seperti Rama, kaya, baik hati, penyayang, perhatian, setia dan sangat mencintainya.
Dikamar Rehan dan Ayu.
Ayu baru saja selesai mandi, kini Rehan sedang membantu Ayu mengeringkan rambut Ayu dengan alat pengering rambut.
"Sayang, ayo kita pulang Kita! Aku tidak enak terus-terusan tinggal dirumah Kak Rama." keluh Ayu pada Rehan.
Iya setelah melahirkan Ayu dan Rehan memang kembali tinggal dirumah, biarpun semua itu tidak masalah buat Rama, namun tetap saja Ayu merasa tidak enak.
"Iya, besok pagi Kita pulang kerumah Kita." jawab Rehan yang sedang mengeringkan rambut Ayu dengan alat pengering rambut.
Setelah selesai mengering rambut Ayu, Rehan dan Ayu, langsung menuju ke tempat tidur untuk segera Istrihat.
"Sepertinya diluar hujan." kata Ayu sambil manatap wajah tampan Rehan.
"Aku coba lihat dulu." jawab Rehan yang langsung bangun, lalu menuju ke jendela kamarnya, Rehan membuka sedikit tirai jendelanya dan ternyata benar hujan.
Rehan kembali ke ranjang tempat tidurnya, lalu membaringkan tubuhnya disamping Ralin.
"Iya malam ini hujan." kata Rehan sambil menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya.
"Hujan-hujan seperti ini, tidur sambil pelukan enak sayang." goda Rehan dengan penuh kejailan.
"Dasar Kamu, nanti Ralin bagaimana?" omel Ayu sambil tersenyum pada Rehan.
Rehan terdiam, sekilas ide licik muncul dalam pikirannya. kini Rehan senyam-senyum sendiri, membuat Ayu bingung.
"Sayang, Kamu kenapa sih?" tanya Ayu tiba-tiba.
Rehan kembali tersenyum, lalu menatap wajah cantik Ayu.
"Kita titipkan Ralin pada Kak Rama dan Kak Ana yuk sayang." Rehan berusaha membujuk Ayu.
Ayu bingung, kenapa Ralin harus dititipkan pada Rama dan Ana.
"Kenapa, nanti Dia rewel." tanya Ayu dengan tatapan mata yang begitu adem.
"Kan biar Kita bisa bermain Istriku." kata Rehan dengan nada menggoda.
Ayu hanya menggelengkan kepalanya, Ayu tahu maksud suaminya itu apa?
"Jangan egois Suamiku, hanya karena hasratmu, Kita sampai harus menitipkan Anak Kita pada Kakak." omel Ayu sambil mengusap-usap pipi Ralin.
"Kan tidak setiap hari." protes Rehan.
Rehan langsung beranjak dari tempat tidurnya, kini Rehan berpindah kesamping Ayu.
"Iya sudah jika Kamu tidak mau, biarkan Aku tidur sambil memelukmu." rengkek Rehan dengan begitu manja.
Ayu hanya diam dan membiarkan suaminya, melakukan apa yang suaminya mau daripada nanti harus menitipkan Niah pada Kakaknya.
Apalagi Niah masih nyusu, jadi ya Ayu juga tidak mungkin tega untuk menitipkan Niah hanya karena ide licik Papanya.
__ADS_1
Dirumah Rian dan Via.
Hujan yang semakin lebat, karena belum bisa tidur akhirnya Via membuat teh hangat dan cemilan untuk dirinya dan Suaminya.
"Hujan-hujan gini Kita ngeteh saja, biar hangat." kata Via sambil menaruh teh diatas meja kecil yang ada di dalam kamarnya.
"Biar hangat itu bobok sambil pelukan sayangku." sambung Rian sambil menyeruput teh hangat buatan Via.
"Dasar Kamu ini, ujung-ujungnya mesum." omel Via, sambil menggelengkan kepalanya.
Dimalam yang dingin ini ditemenin hujan yang begitu lebat, Rian dan Via menghabiskan malamnya dengan mengobrol sambil minum teh.
Dirumah Bagas dan Alena.
Bagas hanya duduk sambil melihat Alena yang sedang nidurin Kenan.
"Kenan, sudah tidur sayang?" tanya Bagas.
"Belum, lagi nyusu." jawab Alena.
Bagas merasa kesal karena mau bermesraan dengan Alena, tiba-tiba Anaknya menangis.
"Bapaknya juga sayang." goda Bagas sambil melihat hujan dari jendela.
"Bapaknya tunggu Anaknya tidur dulu." jawab Alena sambil membelai pipi Kenan dengan tangannya.
Bagas terus menatap hujan yang begitu lebat diluar sana, dalam hatinya berharap malam ini Bagas bisa menghabiskan malam yang dingin diatas ranjang bersama istrinya, tapi karena Kenan rewel jangankan menghabiskan waktu bersama Alena, mau memeluk Alena saja susah.
"Kapan tidurnya?" tanya Bagas.
"Aku tidak tahu, Kamu juga tidurlah sudah malam!" jawab Alena sambil menyuruh Bagas untuk segera tidur.
"Tunggu Kenan tidur, Aku juga mau dimanjain seperti Kenan." jawab Bagas dengan nada jail.
Bagas menutup tirai jendelanya, lalu berjalan menuju ke ranjangnya, kini Bagas langsung membaringkan tubuhnya disamping Kenan.
Kenan yang ada ditengah-tengah Antara Alena dan Bagas sungguh menjadi penghalang Bagas, untuk bermesraan dengan Alena.
"Kenapa terus menatapku?" tanya Alena.
"Iya karena Kamu istriku." tegas Bagas.
Setelah beberapa lama, akhirnya Kenan memejamkan matanya, Bagas langsung bernafas lega.
"Sayang, Kenan sudah tidur." kata Bagas.
"Iya Kamu juga harus tidur, Aku juga sudah mengantuk." jawab Alena sambil tersenyum jail pada suaminya.
Alena tahu suaminya pasti malam ini ingin menghabiskan malam dengannya, apalagi disaat hujan seperti ini.
"Baiklah Aku tidur." jawab Bagas dengan nada lesu.
"Seperti inilah, kalau sudah Anak mau berjumbu sama Istri saja susah, baru mau mulai tiba-tiba Anak menangis." gumam Bagas dalam hatinya.
Bagas ingat banget kejadian tadi, lagi asyik-asyiknya sama Istri, ehh tiba-tiba Kenan menangis, akhirnya gagal.
Bersambung ๐
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia๐