Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
245. Hukuman untuk Alena.


__ADS_3

Hari semakin sore, akhirnya Rian dan Via pamit untuk pulang lebih dulu, karena rumah mereka jauh dari yang lain jadi pamit pulang lebih dulu.


"Aku pulang dulu ya" pamit Rian pada semua yang ada disitu.


"Baru jam lima sore kak" saut Rehan, sambil melihat kearah jam dinding.


"Badannya pegel Han, pingin main pijit-pijitan sama istri" jawab Rian, dengan wajah mesumnya.


Bagas dan Rama saling menatap Rian dengan tatapan tajam.


"Paling juga sampe rumah nanti ditinggal tidur sama Via" timpal Rama, sambil tersenyum pada Via.


"Apasih Ram?" kesal Via, melihat senyuman Rama.


"Ana, Alena, Ayu, Aku pamit dulu ya! doakan biar Aku bisa cepat dapat rumah didekat kalian biar kita lebih dekat, jadi bisa sering menghibah bareng-bareng nanti" kata Via, yang kini sudah memeluk ketiga sahabatnya secara bersamaan.


"Dasar pingin punya rumah dekat-dekatan tapi biar bisa menghibah bareng-bareng" omel Alena, pada Via.


Via tertawa mendengar Omelan dari Alena, kini Via sudah melepaskan mereka bertiga dari pelukannya.


"Namanya ibu-ibu Len, pasti kerjaannya ngehibah" jawab Via, yang diiringi senyum manisnya.


"Hahaha benar, nanti di depan rumah kita dikasih saung saja lumayankan buat kumpul sambil ngehibah" usul Rehan, sambil mengedipkan matanya.


"Aku buka warung kopi sekalian biar lebih lengkap" saut Ayu yang diiringi dengan tawanya.


"Ayo sayang pulang sekarang" rengkek Rian dengan suara yang begitu manja.


"Aduh Tuan Rian, ini masih terlalu sore sabarlah sebentar lagi" saut Bagas, dengan wajah mesumnya.


Rian menatap Bagas dengan lirikan tajam.


"Biarin masih sore" jawab Rian, sambil menjulurkan lidahnya kearah Bagas.


Karena tidak mau melanjutkan perdebatannya dengan sahabat-sahabatnya, Akhirnya Via dan Rian pulang.


Kini dirumah Rama hanya ada Rama, Bagas, Rehan dan ketiga istri mereka.


Ana, Ayu, dan Alena sedang sibuk memilih-milih baju Bayi disalah satu Aplikasi online sedangkan Rama, Rehan, dan Bagas sedang menonton siaran bola ditelevisi.


"Ana, Apa Kamu sudah tau jenis kelamin Anak Kamu?" tanya Alena, ingin tau.


"Belum Len" jawab Ana.


Alena mengarahkan ponselnya kehadapan Ana, lalu menunjukkan sebuah gaun Anak perempuan yang begitu cantik.


"Lihat ini bagus sekali, pasti akan cantik jika dipakai oleh Anak perempuan" kata Alena, sambil membayangkan jika Anaknya nanti perempuan.


"Iya bayangin aja, Anak kita semua nanti perempuan nanti kita bisa sering-sering membeli baju yang kembaran untuk Anak kita nanti" saut Ayu, yang sama sambil membayangkan hal yang indah.


Ana hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Ayu, Alena, ada baiknya kalian bikin Anaknya lebih dulu" kata Ana.


Ayu dan Alena saling menatap, lalu mereka tertawa secara bersamaan.


"Iya iya Yu, aturan kita bikin Anaknya dulu ini malah berhayal dulu" keluh Alena, dengan penuh kesalahannya.


"Iya aturan, ya sudah nanti kita ajak suami kita bikin saja biar cepat jadi" usul Ayu, yang diiringi dengan tawanya.


"Dasar kalian ini" omel Ana, yang kini juga ikut tertawa mendengar pembicaraan Ayu dan Alena.


Ayu dan Alena, kembali saling menatap kini tatapan mereka tatapan yang serius.


"Ana, beritahukan pada Kami! dulu Rama waktu membuat Anak ini butuh waktu berapa lama?" tanya Alena, yang merasa penasaran.


Ana tersenyum malu.


"Aku lupa Len, kan dulu Aku juga sempat keguguran, Aku hamil itu setengah tahun setelah pernikahan atau berapa itu Aku lupa" jawab Ana, dengan jujur.


"Kamu pernah keguguran?" tanya Alena lagi.


"Iya pernah Len" jawab Ana.

__ADS_1


"Kamu tidak memberi tauku" tanya Ayu.


"Tidak banyak Orang yang tau Yu, Bibi Rani juga tidak tau masalah ini" jawab Ana.


Alena dan Ayu, langsung memeluk Ana secara bersamaan.


"Ayu kapan Kamu, akan pindah rumah kesebelahku?" tanya Alena, yang sudah melepaskan pelukannya dari tubuh Ana.


"Nanti Aku tanya Suamiku dulu, tapi secepatnya Aku akan pindah" jawab Ayu.


"Kakak ipar, Aku ingin segera pindah dari rumah Kak Rama biar bisa mandiri, Rehan juga bisa jadi suami yang bertanggung jawab" kata Ayu pada Ana.


"Aku tunggu Yu" jawab Alena, dengan senang hati.


"Iya Yu, itu bagus. Aku setuju" jawab Ana.


Kini siaran bola sudah selesai, mereka bertiga mengobrol sambil memakan cemilan yang ada dimeja.


"Apa, Alena belum hamil juga?" tanya Rama.


"Belum" jawab Bagas singkat.


"Jangan lesu gitu Kak Bagas, teruslah berusaha" Rehan memberikan semangat pada Bagas.


Bagas tersenyum pada Rama dan Rehan.


"Aku pulang dulu ya" pamit Bagas.


"Lah kok pulang?" tanya Rehan.


"Aku mau bikin adonan, biar cepat jadi" saut Bagas, sambil tersenyum jail pada Rama dan Rehan.


Bagas menghampiri Alena, yang sedang duduk dengan Ana dan Ayu. lalu mengangkat tubuhnya Alena seringan kapas.


"Bagas, kita mau kemana?" tanya Alena.


"Bagas, turunkan Aku" pinta Alena.


"Kita pulang, ayo kita kerja keras agar adonan kita cepat jadi" saut Bagas, yang sudah berjalan menuju rumahnya.


Setelah Bagas dan Alena pulang, Rama, Rehan dan istri mereka langsung masuk ke dalam kamar mereka.


Dirumah Rian dan Via.


Kini Rian dan Via sudah sampai rumah, mereka juga mandi dan kini mereka sudah berada diatas ranjang tempat tidur mereka.


"Sayang, Aku haus" rengkek Rian, dengan suara yang begitu manja.


Via bangun dari tempat tidurnya, lalu mengambilkan air putih untuk suaminya.


"Ini, minumlah!" kata Via, sambil memberikan satu gelas berisi air putih pada suaminya.


Rian langsung meminumnya, lalu kembali memberikan gelas yang sudah kosong pada istrinya, lalu Via kembali menaruh gelas tersebut diatas meja.


"Sayang pijitin Aku ya" kata Rian, dengan suara yang kembali manja.


Via duduk disamping Rian, lalu langsung memijit Rian dengan tangannya.


"Sayang, nanti Aku boleh ya nyiram sebentar" kata Rian.


Via bengong karena merasa bingung, dengan perkataan suaminya.


"Maksudnya?" tanya Silvia.


"Aku mau nyiram benih Aku yang ada dirahimmu, biar makin subur" Rian menggoda Via.


Tanpa mendengarkan jawaban dari istrinya, kini Rian sudah menarik Silvia kehadapannya lalu langsung merebahkan Silvia dihadapan, tanpa melakukan pemanasan lebih dulu, Rian langsung merenggangkan kedua p*ha Silvia agak lebar.


"Kamu mau apa?" tanya Silvia, yang kembali merapatkan p*hanya.


"Sayang, Aku hanya ingin menyiramnya sebentar saja" jawab Rian, yang kini kembali melebarkan p*ha istrinya.


Rian langsung melepaskan cel**a d**am Istrinya lalu membuang kesembarang tempat, lalu Rian membuka sedikit c**nanya yang sedang dirinya pakai.

__ADS_1


ntah mengapa milik Rian, sudah begitu tegang tanpa meminta persetujuan dari istrinya Rian langsung mengarahkan miliknya kebagian sensitif istrinya, lalu langsung memasukannya kali ini lebih mudah karena milik istrinya sudah tidak serapat dulu.


"Eemmhh ahh...!" desahan Silvia.


Rian mulai mengeluar masukan miliknya dengan begitu pelan, karena tidak mau sampai menyakiti janin yang ada didalam kandungan istrinya.


"Ahhhcchhh eemmhh" desahan saling keluar dari mulut mereka.


Sampai akhirnya Rian mencapai puncaknya, lalu mengeluarkan semuanya didalam rahim Istrinya, Rian langsung mencabut miliknya lalu langsung menurun rok yang dipakai oleh istrinya untuk menutupi milik istrinya, tanpa membenarkan celananya lebih dulu, kini Rian sudah merebahkan tubuhnya disamping Silvia.


"Maaf ya sayang, Aku sudah pingin banget dari kemarin" kata Rian yang merasa bersalah.


Via tersenyum pada Rian.


"Kenapa minta maaf, itu sudah tugasku itu juga menjadi kewajibanmu sebagai seorang suami" jawab Via, yang kini sudah membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Dirumah Bagas dan Alena.


Alena dan Bagas sudah sampai rumah, kini mereka sedang mandi bareng, setelah selesai mandi Bagas dan Alena duduk ditepi ranjang.


"Ambilkan baju Aku sayang" rengkek Alena dengan nada manja.


"Tidak usah memakai baju biar lebih gampang nanti" jawab Bagas, dengan tatapan mesumnya.


Alena melihat kearah Bagas, dengan tatapan penuh tanya?


"Memangnya kita mau ngapain?" tanya Alena.


"Membuat adonan biar cepat jadi, memangnya mau apalagi?" jawab Bagas, yang sudah menjatuhkan tubuh Alena diatas ranjang.


Lalu Bagas langsung menindih tubuh Alena dengan tubuhnya yang begitu kekar.


"Sayang, ayo kita bersenang-senang!" ajak Bagas dengan begitu nakalnya.


Alena memegang kedua pipi Bagas dengan tangannya, Bagas langsung mencium bibir Alena, Alena tiba-tiba menggigit bibir Bagas dengan begitu keras.


"Kenapa?" tanya Bagas.


"Turunlah dari atas tubuhku, perutku rasanya tidak enak sekali" kata Alena dengan nada memohon.


Akhirnya Bagas menurunkan tubuhnya dari atas tubuh Alena.


"Kerja kerasku gagal" gumam Bagas.


Alena terus memegangi perutnya dengan kedua tangannya.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Bagas yang mulai merasa kawatir.


"Hanya sedikit merasa tidak enak saja dengan perutku, mungkin ada masalah gara-gara sering telat makan" jawab Alena, sambil membenarkan handuk yang masih melilit tubuhnya.


"Sayang, padahal Aku lah pingin" kata Bagas.


"Kamu seleseikan dikamar mandi saja dulu" ledek Alena, yang diiringi dengan tawanya.


Bagas langsung menarik Alena kedalam pelukannya, lalu menghujaninya dengan banyak ciuman diseluruh wajah Alena.


"Sekarang Kamu sudah pintar ya" omel Bagas, sambil terus menciumi wajah Alena.


"Cup.." ini hukuman untukmu.


"Cup.." ini hukuman lagi untukmu.


"Cup.." ini hukuman lagi untukmu.


"Cup..cup..cup..cup.." ini karena Kamu menyuruhku untuk menyelesaikannya dikamar mandi.


Kini Bagas menghukum Alena dengan menghujani banyak ciuman, diwajah Alena.


"Hukuman macam apa ini?" protes Alena.


"Hukuman dari suami untuk istrinya" jawab Bagas, yang langsung ******* bibir Alena dengan begitu nikmat.


Kini Alena hanya pasrah mendapatkan hukuman dari suaminya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2