Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
233. Hadiah dari Papi mertua.


__ADS_3

Rama,Ana,Mami,Papi dan Bibi Rani baru saja rumah, kini semuanya sedang duduk diruang keluarga, sedangkan Ayu dan Rehan baru saja sampai rumah. Ayu dan Rehan langsung ikut gabung duduk di sofa.


"Mami,Papi,Bibi terimakasih ya buat hari ini" ucap Ana dan Rama secara bersamaan.


Mami Diana, Papi Revan dan Bibi Rani saling melempar senyum bahagia mereka.


"Sama-sama Nak, Mami senang sekali sebentar lagi Mami bakal jadi seorang nenek" jawab Mami, dengan nada begitu lembut.


"Sama-sama Nak, Bibi bahagia sekali melihatmu hidup bahagia Nak" jawab Bibi Rani, yang langsung memeluk Ana dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan atas kesalahan Bibi dimasa lalu Nak, Bibi janji sekarang dan seterusnya Bibi akan selalu menyayangimu" gumam Bi Rani, yang sadar akan kesalahannya dimasa lalu.


"Ana, sebentar lagi cucu pertama Papi akan segera lahir. katakan pada Papi hadiah apa yang kamu mau dari Papi?" ucap Papi Revan, dengan penuh kasih sayang.


Ana melepaskan pelukannya dari Bi Rani, sekarang Ana tersenyum pada Papi.


"Papi Ana tidak mau apa-apa, kasih sayang Papi selama ini sudah cukup buat Ana" jawab Ana, dengan senyum manisnya.


"Papi, bagaimana kalau kita ajak belanja Ana membeli perlengkapan bayi" saran Mami Diana, dengan begitu antusias.


"Boleh Mi, sekalian jalan bareng!" saut Papi Revan, dengan senang hati.


"Iya Pi, sekarang kita sudah punya dua menantu yang sangat cantik" ucap Mami, yang langsung berpindah duduk ditengah-tengah Ana dan Ayu.


Ana dan Ayu, langsung memeluk Mami Diana, wanita yang sekarang sudah menjadi mertua mereka meluk Mami Diana dengan penuh kasih sayang.


"Menantu-menantu Mami, Mami sayang kalian" ucap Mami, yang langsung mencium kening Ana dan Ayu secara bergantian.


Bibi Rani begitu bahagia melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Nyonya Diana, Pak Revan, Nak Rama dan Nak Rehan terimakasih kalian semua sudah menyayangi ponakan Bibi,selama ini" ucap Bibi Rani, yang merasa berterimakasih pada keluarga Rama.


"Sama-sama Nyonya Rani, itu sudah jadi kewajiban kami" jawab Mami Diana, dengan begitu senang hati.


Bibi Rani membalas senyuman Mami Diana.


"Ya sudah, Ana, Nak Rama, Nyonya Diana, Pak Revan, Nak Ayu, Nak Rehan. Bibi pamit pulang ya, soalnya Bibi nanti malam ada acara ditempat Bu Jihan" pamit Bibi Rani, pada mereka semuanya.


"Bibi, tidak ikut belanja perlengkapan bayi?" tanya Rama.


"Tidak Nak, soalnya sudah janji dengan Bu Jihan, Bibi mau hadir diacara Bu Jihan" jelas Bibi Rani pada Rama.


"Baiklah Bi, nanti supir Rama yang akan mengantarkan Bibi ya" ucap Rama, dengan begitu sopan.


"Iya Nak, terimakasih" jawab Bibi Rani.

__ADS_1


Ana dan Rama langsung mengantarkan Bi Rani kedepan rumah, setelah Bibi naik mobil dan mobil yang mengantar Bibi sudah tidak terlihat Ana dan Rama kembali masuk ke dalam rumah.


"Ayu, segeralah menyusul kakak iparmu untuk segera hamil!" pinta Mami, dengan nada penuh harap.


"Mami, menikah saja baru satu minggu" timpal Papi Revan.


"Bikin aja baru sekali Mi" celetuk Rehan, dengan tidak tau malunya.


Ayu menggelengkan kepalanya mendengar celetukan dari mulut suaminya.


"Rehan, jangan membuatku malu di depan Mami dan Papi" omel Ayu.


Mami dan Papi saling melempar senyum.


"Tidak apa-apa Nak, Mami dan Papi juga pernah muda" Ledek Papi Revan.


"Mending satu kali Han, Daripada tidak dapat jatah sama sekali" celetuk Rama, yang sebenarnya menyindir istrinya dulu waktu pertama kali mereka menikah.


Ana mencubit lengan suaminya.


"Rama.." panggil Ana, sambil melirikan matanya.


"Auh sakit, sayang ih" rintih Rama, karena Ana mencubit lengan tangannya dengan begitu keras.


Rama tau pasti Ana merasa tersindir, jadi melakukan hal ini pada dirinya.


"Terserah kamu saja, semuanya sudah aku siapkan. kamu hanya perlu membawa baju-bajumu saja" jawab Rama, yang memang sudah menyiapkan semuanya melalui orang suruhannya.


"Rehan, Ayu kalian jangan pindah dulu! Mami dan Papi kan masih disini" ucap Mami, yang memang akan kembali berangkat keluar negeri dengan Papi.


"Rumah Rehan, disamping Bagas Mi jadi Mami tidak perlu kawatir! karena hanya beberapa langkah saja dari rumahku" jelas Rama pada Maminya yang belum tau, kalau Rehan akan pindah dekat dari rumahnya.


"Sungguh!!" jawab Mami dengan begitu antusias.


"Sungguh Mi, Aku sengaja minta hadiah pernikahanku rumah yang satu komplek dengan kak Rama" Rehan memberi taukan pada Maminya, tentang hadiah pernikahannya dari Rama.


Papi yang melihat pemandangan didepannya, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kalian akan terus mengobrol?" tanya Papi Revan.


"Mumpung lagi kumpul Pi" saut Mami Diana.


"Ayu, Ana kemarilah!" pinta Papi Revan.


Ayu dan Ana langsung bangun dari tempat duduknya, untuk menuju ketempat Papi Revan duduk. Kini Ayu dan Ana duduk sebelah Papi Revan. Papi Revan ada ditengah-tengah Ayu dan Ana duduk. sedangkan Mami menggeser duduknya dan kini duduk disamping Rama.

__ADS_1


"Iya Pi" jawab Ana dan Ayu secara bersamaan.


Papi mengeluarkan dua kotak kecil yang begitu imut, lalu Papi Revan memberikan satu pada Ana dan satunya lagi pada Ayu.


"Bukalah, itu hadiah dari papi untuk kalian" ucap Papi, sambil mengacak-acak rambut kedua menantunya.


"Terimakasih ya Pi" jawab Ana dan Ayu secara bersamaan.


Ana dan membuka kotak kecil tersebut dengan begitu hati-hati, ternyata isinya kalung yang sama persis numun hanya berbeda liontin, Ana mendapatkan kalung dengan liontin bunga matahari sedangkan Ayu mendapatkan kalung dengan liontin bulan.


"Ini cantik sekali" puji Ana, yang melihat Kakungnya begitu bersinar.


"Ini sangat indah" puji Ayu, yang melihat Kakungnya juga begitu bersinar.


Ana dan Ayu langsung memeluk Papi mertua mereka secara bersamaan.


"Terimakasih Pi" ucap Ana dan Ayu secara bersamaan.


Papi membalas pelukan kedua menantunya dengan penuh kasih sayang.


"Kalian tau kenapa Papi memberikan kalian Kalung yang sama, namun dengan liontin yang berbeda?" tanya Papi, yang sudah melepaskan pelukannya.


"Tidak tau, Pi. Memangnya kenapa Pi?" tanya Ana dan Ayu secara bersamaan lagi.


Papi tersenyum pada kedua menantunya.


"Kalian kompak"


"Kenapa Papi, memberikan Ana kalung dengan liontin matahari karena dulu Rama suka sekali, melihat matahari terbenam" cerita Papi, dulu Papi sering sekali mengajak Rama mengajak Rama melihat matahari terbenam.


"Lalu kenapa punya Ayu bulan Pi?" tanya Ayu ingin tau.


"Kerena suamimu Rehan, sangat suka melihat rembulan dimalam hari sambil menghitung bintang, Nak" Papi bercerita tentang Rehan pada Ayu.


"Kalung itu, sengaja Papi pesan untuk istri-istri dari anak Papi" ucap Papi, dengan begitu bahagia.


Mami senang sekali melihat pemandangan yang ada didepannya saat ini, Rehan dan Rama juga saling melempar senyum.


"Papi, Mami mana?" goda Mami, yang tidak mendapatkan hadiah dari Papi.


Papi tersenyum pada Mami.


"Mami harus meminta hadiah dari Anak-anak Mami" jawab Papi, dengan tawanya.


"Baiklah Mi, nanti kita akan memberikan hadiah buat Mami" ucap Rama dan Rehan, yang kini sudah memeluk Maminya dengan begitu manja.

__ADS_1


Kini semuanya saling tertawa bahagia, sehingga lupa padahal mereka akan pergi berbelanja perlengkapan bayi, Akhirnya tidak jadi.


Bersambung


__ADS_2