Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
368.Harus jujur pada Kevin S2.


__ADS_3

"Ada apa ma?" Tanya Kevin untuk kedua kalinya.


"Mama mau jujur sama kamu nak." Jawab Ana dengan nada agak sedikit sedih.


"Jujur akan hal apa ma?" Tanya Kevin.


Rama berjalan menuju kamar Kevin, karena pintunya sudah terbuka jadi Rama langsung masuk ke dalam.


"Papa?" Sapa Kevin.


"Ini ada apa ya? Tidak biasanya mama dan papa bersama-sama masuk ke dalam kamar aku." Batin Kevin dalam hatinya.


Kevin merasa sangat bingung, apalagi mata Ana juga terlihat berkaca-kaca seperti Ana sedang menahan tangisnya. Rama juga tatapannya beda dari biasanya membuat Kevin berpikiran yang tidak-tidak.


"Apa mama dan papa ada masalah?" Batin Kevin dalam hatinya.


"Anak papa." Rama mengusap rambut Kevin dengan penuh kasih sayang.


Rama duduk di sebelah Kevin, Ana tiba-tiba menggegam tangan Kevin dengan erat dan tiba-tiba meneteskan air matanya.


"Mama kenapa menangis?" Tanya Kevin yang langsung menyeka air mata Ana dengan tangannya yang satunya.


"Nak mama ingin kamu segera menikah dengan Valin." Kata Ana yang membuat Kevin terkejut.


"Menikah? Aku kan pacaran dengan Valin itu pura-pura. Tapi kalau jujur pada mama dan papa pasti mereka akan marah, ya sudahlah kalau Valin harus menjadi jodohku juga aku terima biarin lemot yang penting cantik." Kevin senyam-senyum dalam hatinya.


"Iya ma, aku akan menikah dengan dia." Jawab Kevin.


"Aku akan mencari cara untuk menikahi gadis lemot itu." Batin Kevin dalam hatinya.


"Tapi nak, ada satu yang harus kamu tahu sebelum kamu menikah." Ana menatap Kevin dengan tatapan sorot mata berkaca-kaca.


"Katakan ma!" Pinta Kevin.


"Anak papa, sebelum mama menceritakan semuanya berjanjilah pada papa kamu akan menerimanya dan kamu tidak boleh marah!" Pinta Rama sebelum Ana mengatakan semuanya pada Kevin.


"Iya pa aku janji!" Kevin tersenyum pada mama dan papanya.


"Nak, sebenarnya kamu bukan anak kandung mama dan papa....." kata-kata Ana terpotong.


Kevin menatap Ana dengan tatapan tidak percaya.


"Apa mama sedang berbohong padaku?" Batin Kevin dalam hatinya.


"Maksudnya mama, mama sedang bercanda dengan Kevin kan?" Sambung Kevin.


"Mama tidak berbohong nak, karena kamu sudah besar dan akan menikah jadi mama ingin kamu tahu orang tua kamu yang sebenarnya." Ana memegang kedua pipi Kevin, Kevin juga sudah meneteskan air matanya.


Kevin tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mamanya, dalam hati Kevin kalau Kevin bukan anak dari Ana dan Rama, lalu Kevin anak siapa?


"Mama, papa....." Kevin geleng-geleng tidak percaya dan masih belum bisa menerima kenyataan yang ada saat ini.


"Ikut dengan papa dan mama nak!" Rama menarik tangan Kevin.


"Mau kemana pa?" Tanya Kevin lirih.


"Papa akan memberikan jawaban untuk setiap pertanyaanmu." Jawab Rama.


Rama dan Ana mengajak Kevin ke makam kedua orang tua Kevin yaitu ke makam Kevin dan Siska.

__ADS_1


.


.


Sesampainya dimakam tersebut, Kevin merasa bingung kenapa kedua orang tuanya mengajak dirinya pergi ke sebuah makam.


"Mama, papa kenapa kita kesini?" Tanya Kevin, tapi Rama tidak menjawab dan langsung mengandeng tangan anaknya untuk menuju makam kedua orang tuanya.


Kevin hanya mengikuti langkah kaki papa dan mamanya. Sedangkan Ana terus berusaha menahan air matanya.


"Siska, Kevin, hari ini aku akan mengatakan semua kebenaran pada anak kalian karena anak kalian sudah besar dan akan segera menikah. Jadi anak kalian harus tau siapa orang tuanya sebenarnya." Batin Ana dalam hatinya.


Rama duduk di dekat makam yaitu makam Siska dan Kevin.


Kevin melihat tulisan yang ada di batu nisan makam tersebut.


"Kevin, namanya sama denganku." Kevin semakin bingung, sebenarnya apa yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya sampai Kevin sebesar ini?


"Kevin, dia adalah papa kandung nak dan Siska adalah mama kamu nak." Ana kembali menatap Kevin dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


Hati Kevin sungguh tersentak, ntah dirinya harus bahagia atau tidak mendengar ke jujuran dari Ana dan Rama.


"Mama jangan bercanda!" Pinta Kevin air mata Kevin sudah membasahi pipinya.


"Nak, kita tidak bercanda mama kamu meninggal saat melahirkanmu, papa kamu meninggal waktu dia mau pergi ke rumah sakit, papa kamu mengalami kecelakaan dan sebelum papa kamu pergi untuk selamanya papa kamu menitipkan kamu pada papa dan mama." Rama menceritakan pada Kevin tentang kedua orang tuanya Kevin.


Kevin menangis sejadi-jadinya, sungguh kenyataan ini terlalu menyedihkan untuk dirinya.


Mungkin jika kenyataan yang Kevin terima itu orang tua kandungnya masih hidup Kevin akan bahagia. Tapi Kevin harus menerima kenyataan kalau orang tua kandungnya itu sudah meninggalkan sejak dia lahir ke dunia ini.


"Mama, papa...." Kevin menangis dan Ana langsung memeluknya.


Ana tahu pasti Kevin akan menangis, tapi Ana juga tidak mau kalau Kevin harus tahu semua ini dari orang lain.


"Jadi Kevin adalah anak yatim piatu yang mama dan papa pungut?" Tanya Kevin disela-sela tangisannya.


"Kevin kamu bukan anak pungut, kamu anak mama dan papa. Mama kamu adalah saudara mama dan papa kamu adalah sahabat mama waktu mama kuliah dulu." Jawab Ana dengan nada lembut.


Kevin melepaskan dirinya dari pelukan Ana, Kevin mengusap batu nisan mama dan papanya.


"Mama, papa..." Kevin hanya bisa menangis di pusaran kedua orang tuanya.


Isak tangis Kevin pecah dipusaran makam kedua orang tuanya.


"Jangan menangis nak!" Ana mengusap-usap punggung Kevin.


"Iya nak, kalau kamu menangis nanti mama dan papa kamu akan sedih di surga sana." Rama mengusap-usap punggung Kevin.


"Mama, papa, kalian menitipkan aku pada orang tua yang tepat. Papa Rama dan Mama Ana merawat aku dengan baik, bahkan nama belakangku juga nama Papa Rama. Kalian bahagialah di surga sana, Kevin yakin kalian pasti orang-orang baik walaupun Kevin tidak tahu seperti apa wajah kalian, tapi Kevin akan menyayangi kalian dalam hati Kevin." Kevin mencium batu nisan kedua orang tuanya secara bergantian.


Ana dan Rama berusaha kuat, mereka tidak menangis dihadapan Kevin.


Akhirnya hari ini Rama dan Ana jujur kepada Kevin tentang siapa orang tuanya Kevin yang sebenarnya.


Rama mengajak anak dan istrinya pulang ke rumah.


.


.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, Rama langsung membawa Kevin masuk ke dalam rumah sedangkan Ana pergi kerumah Alena untuk bertemu dengan Kenan.


"Tok...tok..." Ana mengetuk pintu.


Alena dan Kenan yang sedang menonton televisi, Alena menyuruh anaknya membukakan pintu rumahnya.


"Ken, bukakan pintu!"


"Iya ma," Kenan langsung beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu.


"Ceklek..." suara gagang pintu.


"Tante Ana, silahkan masuk tan!" Dengan sopan Kenan menyuruh Ana untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Tidak usah nak, tante cuma mau bilang nanti jemput Ralin dirumah Niah ya nak!" Kata Ana pada Kenan.


"Siap Tante Ana!" Jawab Kenan dengan semangat.


"Ya sudah tante langsung pulang ya nak." Ana berlalu pergi dari hadapan Kenan.


Kenan kembali masuk ke dalam rumahnya, Alena melihat Kenan duduk.


"Siapa yang datang nak?" Tanya Alena.


"Tante Ana, ma." Jawab Kenan.


"Kok tidak disuruh masuk?" Tanya Alena lagi.


"Tidak mau ma, Tante Ana kesini cuma bilang sama Ken untuk jemput Ralin dirumahnya Kak Niah." Jawab Kenan agar mamanya tidak bawel lagi.


.


.


Sesampainya dirumah Ana melihat Kevin duduk sendirian diruang keluarga.


"Nak papa mana?" Tanya Ana dengan nada lembut.


"Papa langsung ke kamar ma, mungkin papa kecapean." Jawab Kevin dengan raut wajah yang begitu lesu.


Ana duduk disamping Kevin, lalu memeluk Kevin dengan penuh kasih sayang sebagai orang tua.


"Mama minta maaf, kalau mama baru jujur sekarang." Niah merasa bersalah, tapi Kevin tersenyum karena tidak mau wanita yang merawatnya dari bayi sampai menangis.


"Mama tidak perlu minta maaf, Kevin bahagia punya mama seperti mama Ana." Kevin Memeluk tubuh mungil sang mama dengan erat.


Ana bersyukur karena akhirnya Kevin bisa menerima kejujurannya.


.


.


Jam menunjukkan pukul 7 malam, Kenan pergi kerumah Niah untuk menjemput Ralin, Kevin juga pergi untuk bertemu dengan Valin.


"Bagaimana cara mengajak Valin untuk menikah denganku tiba-tiba?" Kevin megaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2