
Malam menunjukkan pukul 10 malam, Kevin berpamitan kepada kedua orang tuanya, kakaknya dan kakak iparnya.
Setelah berpamitan, Kevin langsung pergi mengantarkan Valin pulang kerumahnya.
.
.
Di dalam mobil, hanya ada keheningan diantara mereka.Valin juga tidak tahu mau berbicara apa pada laki-laki yang saat ini akan menjadi calon suaminya.
"Valin...." Kevin berusaha memecahkan keheningan yang ada.
"Iya tuan?" Valin menoleh dengan raut wajah malu-malu, membuat Kevin ingin tertawa.
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan tuan, mulai sekarang kamu panggil aku dengan sebutan calon suamiku, eh jangan itu nanti dikata menjiplak Kenan dan Ralin lagi. Kamu Panggil aku sayang saja." Kata Kevin sambil senyam-senyum penuh kejailan.
Valin membulatkan matanya, ia tidak menyangka kalau Kevin akan mengatakan hal seperti itu. Membuat Valin ingin tertawa.
"Apa aku harus memanggil dia sayang? Aish lidahku pasti aku kaku atau mungkin keseleo." Valin cekikikan dalam hati.
"Coba calon istriku, panggil calon suamimu ini dengan sebutan sayang!" Pinta Kevin dengan nada meledek.
"Sayang...." Panggil Valin dengan nada lembut, meskipun sebenarnya ia masih risih memanggil Kevin dengan sebutan sayang tapi Valin melakukannya agar tidak sampai terjadi berdebatan diantara mereka.
"Coba lagi, yang lebih imut!" Kevin semakin menggoda Valin, membuat wajah cantik Valin memerah seperti kepiting rebus.
"Sayang, fokuslah menyetir mobilnya biar cepat sampai rumah. Aku sudah sangat mengantuk." Valin menyadarkan kepalanya dijok mobil, ia memalingkan wajahnya agar tidak terus melihat Kevin. Sekarang Valin menatap ke jendela mobil sambil melihat jalanan yang masih rame.
Dalam hati Kevin, bilang saja kamu masih malu-malu gara-gara aku terus menggodamu. Lagian aku juga tidak salah, karena aku menggoda calon istriku sendiri.
.
.
Sesampainya dirumah Valin, Kevin turun dari mobilnya lebih dulu lalu ia membukakan pintu mobilnya untuk gadis yang akan menjadi calon istrinya itu.
"Turunlah hati-hati!" Kata Kevin dengan senyum manisnya.
"Terimakasih," Valin membalas senyuman Kevin.
"Malam ini dia tersenyum begitu manis." Gumam Valin dalam hatinya.
"Masuklah, aku akan langsung pulang karena besok masih ada yang harus aku urus. Oh iya besok pagi aku jemput ya." Kevin terus membaweli calon istrinya itu.
"Iya sayang." Jawab Valin singkat, Valin hendak berjalan masuk ke dalam rumahnya tapi belum sempat melangkahkan kakinya, Kevin menarik tangannya, kali ini wajah mereka saling bertatapan.
"Ada apa?" Lirih Valin, yang langsung menundukkan kepalanya.
Kevin terus menatap wajah cantik Valin malam ini.
__ADS_1
"Aku yakin gara-gara kamu, aku pasti tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini." Batin Kevin dalam hatinya.
Kevin mengangkat dagu Valin dengan satu tangannya, lalu ia mencium kening Valin dengan hangat membuat hati Valin tiba-tiba merasa bahagia.
"Malam itu dia mencium bibirku, malam ini dia mencium keningku dan setelah menikah pasti dia akan...." Hati Valin terus tersenyum bahagia.
"Tidurlah yang nyenyak, jangan terus memikirkanku!" Kata Kevin sambil melepas ciuman dikening Valin.
.
.
Setelah masuk kedalam rumahnya, Kevin langsung masuk ke mobilnya dan langsung menyalakan mesin mobilnya.
.
.
Dirumah Rehan dan Ayu.
Malam ini keluarga Kenan, juga sedang ada dirumahnya Ralin untuk membicarakan masalah pernikahan yang akan di gelar minggu depan bersamaan dengan pernikahan Kevin dan Valin.
"Ken, kamu sungguh siap menikahkan?" Tanya Bagas pada anak semata wayangnya itu.
"Sungguh pa." Jawab Kenan dengan tegas.
"Alin, apa kamu juga sudah siap menikah?" Rehan menatap Ralin dengan sorot mata serius, Ralin menatap papanya lalu ia tersenyum.
"Alin siap pa." Jawab Ralin dengan nada lembut.
Kali ini giliran Kenan yang senyam-senyum melihat wajah cantik gadis yang akan menjadi calon istrinya itu.
"Yang aku tanya, gadis sepolos kamu itu waktu malam pertama nanti apa yang akan terjadi? Apa aku harus menunda malam pertamaku gara-gara kamu takut." Kenan tertawa dalam hatinya, ia membayangkan akan seperti apa nanti jika mengajak Ralin melakukan malam pertamanya.
"Baiklah, minggu depan kalian menikah dan pernikahan kalian akan dibarengkan dengan Kevin dan Valin." Kata Ayu pada anak dan calon mantunya.
"Iya ma, aku ikuti kalian saja! Yang penting nikah." Kenan senyum-senyum, membuat papa Bagas hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dasar anakku, dia itu sebenarnya ngebet nikah apa udah pingin kawin sih." Batin Bagas dalam hatinya.
Alena dan Ayu saling melempar senyum bahagia mereka, Bagas dan Rehan juga sudah tersenyum bahagia.
"Akhirnya kita besanan ya Yu." Kata Alena dengan senyum bahagianya.
"Iya Len, siapa yang sangka akhirnya anak kita akan menikah." Ayu juga tersenyum bahagia.
Obrolan demi obrolan mereka bicarakan, sampai mereka tidak sadar ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Untung rumah mereka dekat jadi tinggal jalan kaki.
"Sudah malam, kita pulang dulu ya Yu, Rehan, Calon menantu mama, mama pulang dulu ya nak." Alena memeluk Ralin, lalu mencium kedua pipi Ralin dengan gemas.
__ADS_1
"Mama, Ken juga mau cium Ralin." Kenan memasang wajah manja, tapi Bagas langsung menjewer telinga Kenan.
"Ahhh ahk... sakit pa!" Kenan memegangi telinganya yang dijewer oleh sang papa.
"Makanya jangan bandel, enak aja mau cium-cium calon mantu papa. Nikahin dulu baru boleh enak-enak." Bagas mengomeli Kenan sambil berjalan keluar dari rumahnya Rehan.
Ralin tertawa, ia melihat calon suaminya itu begitu menggemaskan.
"Papa...papa, kamu tidak tahu saja apa yang anakmu lakukan dibelakang papa. Bahkan Ken sudah menodai bibir suci Akun dengan ciumannya." Batin Ralin dalam hatinya, ia terus tertawa sambil melihat calon suaminya.
Bagas terus menjewer telinga anaknya, Alena berjalan dibelakangnya sambil tertawa. Dan membuat Kenan menatap mamanya dengan tatapan memelas.
"Makanya jangan bandel di depan papa, jadi di jewerkan." Alena malah mengomeli anak semata wayangnya.
.
.
Sesampainya dirumah, Bagas baru melepaskan telinga anaknya, Kenan terus memegangi telinganya.
"Papa jahat." Kenan memeluk mamanya dengan manja.
"Anak mama, sudah sana masuklah ke kamar atau papamu akan menjewer telingamu lagi." Alena melepaskan Kenan dari pelukannya, lalu Kenan menjulurkan lidahnya pada papanya untuk meledeknya.
Dalam hati Bagas, dasar Kenan sekarang sudah bisa nakal sama anak gadis orang. padahal dulu papanya tidak seperti itu.
Di dalam kamarnya, Kenan senyam-senyum sendiri. Ia tidak sabar menunggu minggu depan.
"Sebentar lagi aku tidurnya ada yang nemenin." Kenan memeluk bantal guling miliknya, yang selalu menemani dia tidur.
.
.
.
Dirumah Ana dan Rama.
Kevin yang baru pulang mengantar Valin pulang kerumahnya, ia senyam-senyum sambil berjalan sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Sesampainya dikamar, Kevin langsung memeluk bantal guling miliknya lalu menciumnya.
"Valin, sebentar lagi aku tidurnya nyiumin kamu dan bantal guling ini sudah tidak berguna lagi." Kevin senyam-senyum dalam hatinya.
Sungguh malam ini, Kevin dan Kenan sedang sama-sama tidak waras mereka sudah tidak sabar lagi menunggu minggu depan, dan mereka akan menganti bantal guling yang selalu menemani mereka tidur dengan bantal guling bernyawa.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1