
Setelah selesai sarapan David berpamitan pada sang istri untuk segera pergi ke kantor.
"Kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri dirumah? Apa kamu mau ikut aku ke kantor saja?" David menatap Niah dengan tatapan penuh kawatir.
"Jika aku ikut ke kantor kamu, maka kamu tidak akan bisa fokus bekerja karena kamu pasti akan terus memperhatikan wajah cantik istrimu ini suamiku," goda Niah dengan begitu menggemaskan.
"Iya bagus jadi bukan kerjaan yang aku kerjakan, tapi istriku yang aku kerjain nanti." David menjulurkan lidahnya pada Niah.
Tiba-tiba Niah pandangan Niah kosong, Rasanya sangat lemas sekali.
Brukkkk.....
Niah jatuh tepat dipelukan sang suami, David merasa sangat kawatir sekali pada sang istri.
"Niah...sayang kamu kenapa?" David langsung membopong tubuh mungil Niah, masuk ke dalam kamarnya.
David membaringkan tubuh Niah diatas kasur, lalu segera menelpon Dokter agar memeriksa sang istri.
Setelah menelpon Dokter, David mengusap-usap kepala Niah.
"Sayang kamu kenapa sih?"
"Tadi katanya tidak apa-apa, sekarang kamu pingsan."
"Iya jangan buat aku takut, Niah bangun!"
David terus berusaha menyadarkan istrinya, sampai akhirnya Dokter datang. Dokter langsung memeriksa Niah dengan teliti.
"Dok, istri saya kenapa?" Tanya David dengan tatapan kawatir.
"Tidak apa-apa, istri Anda sedang hamil dan sekarang usia kandungannya sudah berjalan dua bulan." Jawab sang Dokter.
Ntahlah David tidak tahu harus menjawab apa? Yang jelas saat ini David merasa sangat bahagia lagi.
David langsung memeluk istrinya, kini dirinya sampai meneteskan air matanya mendengar kabar kehamilan istrinya.
"Sayang kamu hamil." Tutur David dengan air mata yang sudah membahasi pipinya.
Sungguh Niah tidak percaya, sang suami sampai meneteskan air matanya mendengar kabar kehamilannya.
"Suamiku aku baru pertama kalinya melihat kamu menangis," Batin Niah dalam hatinya.
"Iya aku hamil." Niah mengusap air mata suaminya.
Dokter yang baru saja memeriksa Niah ikut tersenyum bahagia melihat Niah dan David.
"Tuan ini obat untuk istri anda." Dokter menaruh obat tersebut diatas nakas dekat tempat tidur, lalu menjelaskan untuk apa saja obat yang diberikan pada Niah.
David mengalihkan pandangannya dari wajah Niah, lalu melihat Dokter yang ada dihadapannya.
"Iya Dok, terimakasih ya." David mengangguk mengerti lalu mengucapkan terimakasih pada sang Dokter.
Setelah selesai memeriksa Niah dan memberikan obat pada Niah, sang Dokter pamit pulang.
David mengantar sang Dokter sampai depan rumahnya. setelah mengantar sang Dokter David kembali masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Niah terus mengelus-elus perutnya, kini hati dan perasaannya begitu bahagia. David langsung menghampiri sang istri lalu memeluknya.
"Apa bahagia?" Tanya David disela-sela pelukannya.
"Tentu saja bahagia," Niah tersenyum.
"Waktu itu saja disuruh buat katanya takut, sekarang bahagia giliran hamil." Goda David sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Niah.
"Kan awalnya takut, tapi pas sudah tahu rasanya aku ketagihan," Niah membalas godaan dari sang suami.
Mereka asik bercanda, tiba-tiba bell pintu rumahnya berbunyi.
"Siapa yang datang?" Tanya Niah.
"Aku juga tidak tahu, apa jangan-jangan itu wanita yang waktu itu?" Pikiran Niah sudah traveling kemana-mana.
"Jangan sampai wanita itu datang lagi ke rumah atau aku akan menjambaknya nanti." Batin Niah dalam hatinya.
"Tunggulah, aku buka pintu dulu!" David berlalu keluar dari kamarnya.
David berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang santai.
"Aku takut Shely lagi yang datang." Gumam David.
"Ceklek...." suara gagang pintu.
David langsung mengembangkan senyumnya, karena yang datang ternyata mamanya dan papanya.
"Mama, papa..." David langsung menghambur ke pelukan kedua orang tuanya, sekarang mereka berpelukan seperti Teletubbies.
"Iya nak, lepaskan papa atau papa juga akan ikut sesak nafas!" sambung sang papa.
David dengan cepat melepaskan pelukannya dari tubuh kedua orang tuanya, mungkin karena sudah lama tidak bertemu jadi David juga sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Mana menantu mama?" Tanya Shinta yang mencari-cari sosok Niah.
"Dia ada kamar ma, ayo masuk!" David mengandeng tangan Shinta, dan Dimas juga mengikuti langkah kaki anaknya dan istrinya.
"Kalau sudah bertemu ya seperti ini, dasar anak dan istriku." Batin Dimas yang melihat kemanjaan David pada sang mama.
.
.
Sesampainya dikamar, Shinta melihat Niah sedang berbaring ditempat tidur.
"Sayang anak mama, apa kamu sakit nak?" Shinta memegang kedua pipi Niah dengan tangannya.
wajah Niah yang tampak pucat membuat Shinta kawatir.
"Mama Niah tidak sakit, sekarang Niah sedang hamil muda." Jawab Niah dengan nada lembut.
Shinta menatap Niah dengan tatapan mata yang berbinar-binar, sungguh kali ini Shinta masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Katakan sekali lagi nak!" pinta Shinta.
__ADS_1
"Mama Niah hamil." David mempertegas perkataan Niah.
"Sungguh istrimu hamil! Anak papa ternyata sudah bisa membuat anak," Dimas langsung memeluk David sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Papa lepaskan!" Ronta David.
Dalam hati Dimas, dulu waktu masih kecil kalau aku pulang kerja pasti minta peluk papa. Sekarang sudah dewasa dan punya istri kalau dipeluk papanya tidak mau.
"Niah sayang selamat ya nak, katakan pada Mama kamu minta apa saja mama akan menurutinya," Shinta memeluk Niah kali ini perasaannya begitu bahagia, apalagi akan segera punya cucu.
"Niah katakan pada papa juga jika kamu mau sesuatu, papa pasti akan membelikannya," Dimas juga tidak kalah antusias dari sang istri.
Niah hanya tersenyum, kali ini sungguh hati dan perasaan Niah begitu bahagia. Siapa yang tidak bahagia punya mertua yang sangat menyayangi dirinya.
"Mama, papa, pasti Niah akan mengatakannya jika Niah ingin sesuatu," jawab Niah dengan senyum manisnya.
"Iya nak telpon mama saja!" Shinta tersenyum pada Niah.
Mereka asik mengobrol sambil membicarakan soal kehamilan Niah.
Hari ini Niah dan David sungguh bahagia dengan kabar bahagia ini, David juga langsung menghubungi mertuanya akan kehamilan Niah.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Shinta dan Dimas pamit pulang kepada Niah dan David.
Setelah kedua orang tuanya pulang, Niah dan David duduk diruang tengah sambil menonton flim drama kesukaan mereka.
Kali ini mereka melihat adegan tentang pelakor.
"Dasar pelakor tidak tahu diri, dimana-mana pelakor itu tidak ada ahklak!!"
"Apasih sayang, jangan nyalahin pelakor sepenuhnya istri sah juga salah."
"Oh jadi kamu berpihak pada pelakor itu."
"Niah itukan hanya tayangan televisi, untuk apa kita berdebat?"
"Dasar laki-laki diotaknya hanya ada pelakor saja!!"
Gara-gara drama yang mereka tonton, akhirnya mereka berdebat.
"Sayang beliin rujak dong!" rengek Niah dengan manja.
David menatap Niah dengan tatapan sedikit kesal.
"Tadi berdebat gara-gara adegan film, sekarang minta rujak dimalam hari seperti ini." David geleng-geleng kepala.
"Sayang malam-malam jam segini dimana ada tukang rujak?" Tanya Rama, tapi Niah malah memayunkan bibirnya.
"Ini mau anak kamu!" Niah memasang wajah memelas.
"Baiklah aku cari," David tersenyum dan ntah David akan mencari rujak kemana malam-malam seperti ini?
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1
Maaf ya baru up, baru pulang banget tadi ada acara keluarga 🙏🙏