Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
375.Bertengkarnya ditunda S2.


__ADS_3

"Siapa yang habis kamu telpon? No ponselmu berada dipanggilan lain terus dari tadi?" Tanya David tanpa bertele-tele.


"Suamiku..."


"Aku harus jawab apa pada David?" Gumam Niah dalam hatinya.


"Nanti kita bicara dirumah saja, cepatlah pulang anak kamu sudah pingin dimanjain sama kamu." Jawab Niah dengan sedikit menggoda suaminya.


"Aku akan segera pulang, kamu mau aku belikan apa?" Tanya David.


"Pingin somay, tapi tidak usah pakai bumbu." Jawab Niah.


"Nanti aku belikan, kamu sudah makan siang?" Tanya David.


"Dasar Niah, mana enak somay tidak pake bumbu." Batin David dalam hatinya.


"Sudah, aku tadi makan sedikit, aku juga minum vitamin yang dokter berikan." Jawab Niah.


"Bagus, kalau gitu aku lanjutkan pekerjaanku dulu ya!" Pamit David, dan langsung mematikan saluran teleponnya.


David menaruh kembali ponselnya diatas meja kerjanya, lalu ia kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Aku harus cepat selesaikan semuanya, aku pingin cepat-cepat pulang." Gumam David.


.


.


Niah merasa sangat lega, setidaknya tadi di telpon ia bisa mengelak coba kalau tidak pasti sudah bertengkar hebat dengan suaminya ditelpon.


"Susahnya kalau punya suami yang suka cemburu berlebihan." Kata Niah pada dirinya sendiri.


"Lalu kita harus punya suami yang seperti apa kak?" Tanya Ralin tiba-tiba, yang ternyata sudah duduk di sebelah Niah tapi Niah tidak sadar.


"Ralin, kamu mengangetkanku saja!" Jawab Niah dengan raut wajah terkejut.


Ralin mengembangkan senyum termanisnya, Niah menyentil jidat Ralin dengan pelan.


"Kak sakit." Ralin memegang jidatnya yang tadi disentil oleh Niah, ia mengerucutkan bibirnya membuat Niah semakin gemas pada dirinya.


"Berhentilah memasang wajah seperti itu, atau aku akan kembali menyentilmu lagi." Niah melihat dengan sorot mata meledek.


Ralin langsung mengubah raut wajahnya, kini ia memeluk sang kakak dengan penuh kasih sayang.


"Katakan padaku kak, apa punya suami yang suka cemburu berlebihan itu tidak enak?" Tanya Ralin dan langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Niah.


Niah mengacak-acak rambut Ralin dengan lembut, ia paham kenapa adiknya ini bertanya seperti itu pada dirinya ya karena ia juga akan segera menikah.


"Katakan padaku, kamu darimana cantik sekali." Niah melihat Ralin memakai dress warna coklat yang begitu cantik, dan memakai sandal hak tinggi yang kira-kira tingginya 3 centi.


"Aku habis dari kantor calon suamiku kak, aku tadi membawakan makan siang untuknya." Ralin tersenyum bahagia, tapi dibalas oleh Niah dengan senyum meledek, membuat Ralin merasa kesal.


"Kakak ih senyummu itu, apa kamu sedang meledekku?" Tanya Ralin dengan manja.


"Aku tidak meledekmu, aku hanya sedang berpikir seperti apa rasa masakan yang kamu buat." Niah tertawa cekikikan, ia tahu kalau Ralin itu tidak bisa memasak.

__ADS_1


"Kata Ken, masakan aku enak kak." Jawab Ralin sambil tersenyum bahagianya.


Dalam hati Niah, aku yakin Ken mengatakan semuanya itu agar kamu senang adikku.


"Iya iya, tapi tidak keasinankan?" Tanya Niah, yang kembali memasang wajah meledek.


"Ntahlah kak, aku tadi tidak boleh mencobanya katanya itu semua punya dia. Oh iya kak jawab pertanyaanku apa punya suami cemburuan itu tidak enak?" Ralin mengulangi pertanyaannya.


Niah menarik nafasnya, lalu membenarkan posisi duduknya menghadap ke Ralin.


"Itu semua tergantung bagaimana orang itu menjalani hidup bersama pasangannya nanti Alin, kalau Kak Niah pribadi kakak merasa tidak enak apalagi Kak David kalau cemburu berlebihan, jadi ya Kak Niah nya yang harus lebih sabar." Jelas Niah dengan nada lembut.


Ralin tersenyum, kini pikiran ia sedang traveling kemana-mana. Ia memikirkan jika ia sudah menikah dengan Kenan nanti.


"Kenan saja cemburuan kak, tapi dia kadang tidak mau jujur. Mungkin setelah menikah nanti semuanya akan berubah." Batin Ralin dalam hatinya.


.


.


Tidak terasa Ralin dan Niah sudah mengobrol hampir dua jam, seperti itulah mereka kalau sedang asik mengobrol suka lupa waktu.


Sedang asik mengobrol, tiba-tiba terdengar langkah kaki dan ternyata David sudah pulang dari kantor.


"Suamiku," sapa Niah dengan lembut, David berjalan menuju ke sofa tempat Niah duduk.


David tersenyum pada Istrinya.


"Lihat senyum Kak David, dia begitu manis." Ralin cekikikan dalam hatinya.


"Kak aku mau pulang, takut aku terpesona sama ketampanan suamimu." Raline beranjak dari tempat duduknya, dan berlalu pergi.


"Ralin, kamu kemana?" Tanya David.


"Aku mau pulang kak, aku tidak mau menganggu kalian berdua." Jawab Ralin yang langsung melanjutkan langkah kakinya.


David menganggukan kepalanya, lalu berjalan menuju istrinya sedang duduk di sofa.


"Ini somay yang kamu pesan." David memberikan tentengan plastik yang berisi somay, yang istrinya pesan tadi waktu iya masih dikantor.


"Terimakasih suamiku." Niah menerima tentengan plastik itu dari suaminya, lalu membukanya.


"Sepertinya enak sekali." Gumam Niah.


"Somay tanpa bumbu, apakah itu enak istriku?" Tanya David yang sedang melihat Niah memakan somay itu dengan lahap.


"Enak, ini anakmu yang mau." Jawab Niah, yang sedang menikmati somay tanpa bumbu itu.


"Mana ponselmu?" Tanya David.


"Itu diatas meja." Jawab Niah yang sedang fokus makan dan tidak memperdulikan ponselnya sama sekali.


David mengambil ponsel milik istrinya, lalu menggeser layar ponselnya. Ia melihat daftar panggilan yang masuk hari ini, matanya langsung terbuka lebar melihat di daftar panggilan Niah hari ini ada tulisan nama Vano.


"Vano menelpon Niah? Dan Niah tidak jujur padaku." Batin David dalam hatinya.

__ADS_1


"Apa Vano, hari menelponmu?" Tanya David membuat Niah terdesak.


"Uhuk....unuk..." Niah terdesak.


"Aduh, aku lupa menghapus daftar panggilan hari ini. Dan aku yakin pasti David sudah melihatnya." Niah menyesal dalam hatinya.


"Iya, tadi Vano menelponku." Jawab Niah dengan suara lirih.


"Kenapa kamu tidak jujur padaku?" Tanya David dengan tatapan kesal.


"Aku takut kamu marah." Niah menundukkan kepalanya, karena takut melihat wajah garang suaminya. Ia tahu pasti suaminya merasa kesal apalagi ia sudah tidak jujur pada suaminya hari ini.


"Bagus, terus saja berbohong pada suamimu." David meletakkan kembali ponsel milik istrinya diatas meja, ia beranjak dari tempat duduknya tapi dengan cepat Niah menaruh somay yang ada ditangannya diatas meja. Lalu Niah menarik tangan suaminya agar tidak sampai pergi dari situ.


David menoleh ke wajah Niah, kali ini wajah tampannya menjadi merah karena ia merasa marah pada istrinya. David bukan marah gara-gara cemburu, tapi ia marah kenapa istrinya tidak jujur pada dirinya.


"Katakan padaku, kenapa kamu berbohong pada suamimu sendiri?" Tanya terus menatap Niah dengan sorot mata tajam.


"Aku bisa....." Kata-kata Niah terpotong.


"Mama dan papa pulang," Ana dan Rama baru pulang ntah darimana mereka itu.


David dan Niah langsung pura-pura tidak terjadi apa-apa, David langsung duduk di sebelah Niah sambil menyuapi Niah somay yang ia beli.


"Bertengkarnya kita tunda dulu suamiku, ada mama dan papa soalnya." Niah tersenyum dengan begitu polos, membuat David yang sedang marah ingin tertawa.


"Dasar Niah-Niah, bisa gitu ya pertengkaran kita ditunda dulu." Gumam David dalam hatinya.


Rama dan Ana menghampiri anak dan menantunya yang sedang duduk di sofa.


"David sudah pulang nak?" Tanya Ana dengan nada lembut.


"Sudah ma, katanya Niah merindukan David jadi aku pulang cepat ma." Jawab David sambil menyuapi somay ke dalam mulut Niah.


Rama melihat Niah memakan somay tanpa bumbu, hanya tersenyum bahagia.


"Putri kecilku sekarang sudah tumbuh dewasa, dan dia akan segera menjadi seorang ibu." Batin Rama dalam hatinya.


"Niah ini manja sekali baru ditinggal sebentar nak." Ana tersenyum pada anaknya, membuat pipi Niah menjadi merah karena malu.


"Sama seperti mamanya manja." Celetuk Rama dengan tawa jailnya.


"Dasar papa ini." Ana senyam-senyum mengingat masa mudanya dulu.


"Oh iya malam ini, kalian menginap lagi ya karena ada yang mama mau bicarakan pada kalian tentang adik kalian." Kata Ana pada anak dan menantunya.


Niah mengalihkan tatapan matanya kearah mamanya.


"Tentang adik? Apa dia membuat masalah?" Tanya Niah penasaran.


"Tidak sayang, tapi harus ada yang kita bahas malam ini." Jawab Ana dengan nada lembut.


"Nanti habis makan malam kita kumpul diruang keluarga ya!" Pinta Ana dengan nada lembut.


David dan Niah saling menatap, lalu menganggukan kepalanya. Ntah apa yang akan Ana bahas nanti malam?

__ADS_1


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2