
Bagas ingat banget kejadian tadi, lagi asyik-asyiknya sama Istri, ehh tiba-tiba Kenan menangis, akhirnya gagal.
Keesokkan harinya, dengan raut wajah yang begitu malas, Bagas memasang wajah cemberutnya, Alena yang baru saja selesai memandikan Kenan, merasa bingung kenapa dengan suaminya? karena tidak biasanya Bagas memasang wajah cemberut di pagi hari.
"Kamu kenapa?" tanya Alena yang sudah duduk disamping Bagas, sambil memangku Kenan.
"Kita pakai pengasuh bayi saja ya sayang." kata Bagas sambil melihat wajah Alena.
Alena merasa bingung, kenapa Suaminya memintanya pakai pengasuh bayi, padahal dari dulu saja tidak pernah mempermasalahkan ini semua. apalagi kan Alena memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan perusahaannya begitu saja, bahkan Alena mempercayakan semua pada orang lain, karena ingin fokus mengurus keluarga kecilnya.
"Kenapa, harus pakai pengasuh bayi? Aku juga hanya dirumah saja." jawab Alena yang secara tidak langsung menolak keinginan Bagas.
"Sayang, Aku kan juga butuh Kamu, Aku butuh perhatian Kamu, Aku juga butuh kepuasan dari Kamu." kata Bagas dengan nada agak tinggi.
Alena hanya terdiam, karena tidak biasanya suaminya bersikap seperti ini. apalagi hanya karena urusan ranjang.
"Jangan egois, untuk saat ini Anakmu itu lebih butuh perhatian dariku untuk saat ini, lagian Aku juga tetap menjalankan tugasku sebagai istri dengan baik." jawab Alena yang terus menatap wajah Bagas.
"Tetap saja, setiap kali Aku ingin melakukannya pasti ada-ada saja, Kenan nangislah, Kenan rewellah." protes Bagas yang membuat Alena hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak menyangka, gara-gara urusan ranjang, Kamu jadi seperti ini suamiku." tegas Alena yang langsung pergi meninggalkan Bagas yang masih ada ditempat tidur.
Alena pergi sambil menggendong Bagas, bahkan buliran air mata sudah membasahi pipi mulus Alena.
Bagas langsung berdecak kesal, ntah setan apa yang pagi ini sudah memasuki dirinya hanya karena sebuah nafsu.
Alena diam sendirian dikursi taman halaman belakang rumahnya, kini sambil menangis Alena bergumam.
"Kenapa dengan Bagas? hanya karena nafsu sesaatnya Dia sampai kesal seperti itu." gumam Alena yang terus meneteskan air matanya.
Bagas keluar dari kamarnya, kini Bagas terus mencari keberadaan Alena namun Bagas tidak menemukannya.
"Dimana Alena?" gumam Bagas.
Kini Bagas langsung meremas rambutnya dengan begitu kesal, sambil duduk di pintu depan kamarnya Bagas menyesali perkataan pada Alena.
Dirumah Rama dan Ana.
Setelah selesai sarapan pagi, Ayu dan Rehan langsung berpamitan pada Rama dan Ana untuk pulang kerumah mereka.
Karena semenjak Ayu melahirkan Ayu dan Rehan tinggal dirumah Rama.
"Kak, Rehan sama Ayu pamit pulang ya." Rehan berpamitan pada Rama dan Ana.
"Kamu yakin, tidak disini saja." tanya Rama memastikan.
__ADS_1
"Yakin Kak, kan rumah Kita dekat ini Kak jadi tidak apa-apa Kak, lagian tidak enak juga terus-terusan menumpang dirumah Kakak." jawab Rehan yang berusaha menyakinkan Rama.
Rehan merasa tidak enak dengan Rama dan Ana, apalagi setelah Ayu melahirkan Rehan dan Ayu tinggal dirumah Rama, iya biarpun Rama dan Ana tidak keberatan, tetap saja yang namanya numpang itu tidak enak.
"Baiklah, kalau maumu seperti itu." Akhirnya Rama menyetujui keinginan Rehan untuk pulang kerumahnya pagi ini.
Dipagi yang cerah dan kebetulan hari sabtu Rehan juga sedang libur kerja, Rehan mengajak Anak dan istrinya pulang kerumahnya.
Dirumah Rehan dan Ayu.
Sesampainya dirumah, Rehan dan Ayu langsung masuk ke dalam kamar mereka, tidak usah kawatir karena selama Rehan menginap dirumah Kakak nya. setiap hari ada yang membersihkan rumahnya jadi biarpun ditinggal lama rumahnya masih sangat bersih bahkan tidak ada debu sedikitpun.
"Kok malah rebahan, bantuin Aku membereskan baju-baju ini ke dalam lemari." kata Ayu sambil meminta bantuan pada Rehan untuk merapikan baju ke dalam lemari.
Rehan langsung bangun dari tidurnya, kini Rehan langsung berjalan menuju ke koper bajunya, Rehan mulai merapikan satu persatu baju ke dalam lemari.
Setelah selesai merapikan semua baju-baju, Rehan kembali ke ranjang tempat tidurnya, kini Rehan duduk disamping Ayu.
"Sayang, Aku kok lapar lagi." keluh Rehan.
Padahal Rehan baru saja sarapan dirumah Rama, ini sudah merasa lapar lagi, Ayu hanya tersenyum lalu berkata pada Rehan.
"Kamu jagain Ralin, Aku buatkan Kau mie instan dulu." kata Ayu sambil menyuruh Rehan untuk menjaga Ralin.
Rehan menganggukan kepalanya, sedangkan Ayu langsung menuju ke dapur untuk segera membuatkan mie instan untuk suaminya.
"Apa nafsu makan Rehan bertambah, bayangkan saja jika Dia menjadi gendut." gumam Ayu yang diiringi dengan tawa dihatinya.
Setelah beberapa menit akhirnya mie instan sudah matang, Ayu langsung menaruhnya dalam mangkok, lalu Ayu langsung membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Makanlah dulu." kata Ayu sampai menyodorkan mangkok yang berisi mie pada Rehan.
Rehan langsung menerima mangkok tersebut, lalu Ayu duduk disamping Rehan, gini Ralin sedang tidur diatas ranjang.
Rehan langsung memakan mie buatan Ayu, sedangkan Ayu asik menganggu Ralin agar terbangun dari tidurnya.
"Sayang, bangunlah! kok tidur lamanya." kata Ayu sambil memainkan pipi Ralin dengan tangannya.
Sambil memakan mienya, Rehan mengomeli Ayu karena menganggu Anaknya yang sedang tidur.
"Biarkan Dia tidur sayang ih." omel Rehan sambil mengunyah mie yang di dalam mulutnya.
"Biarkan Dia bangun, Aku kesepian." protes Ayu.
"Daripada Kamu gangguin Anak Kamu tidur, mending Kamu gangguin Bapaknya." goda Rehan sambil mengedipkan satu matanya.
__ADS_1
Ayu menatap kesal pada Rehan, lalu menjulurkan lidahnya.
"Dasar Kamu ini ih, cepat habiskan makannya!" omel Ayu pada Rehan.
Rehan langsung diam dan segera menghabiskan mie instannya. sedangkan Ayu masih terus menganggu Ralin yang sedang tidur.
Via dan Rian.
Pagi ini Via dan Rian ada pergi ke acara pernikahan salah satu temannya, bersama Anak dan Istrinya Rian langsung menuju ke tempat resepsi pernikahan.
Diacara perikanan Rian langsung menemui temannya, lalu mengucapkan selamat padanya, setelah selesai Rian langsung pergi dan langsung menicipi hidangan yang ada.
Via yang sedang menggendong Vano, tiba-tiba ada laki-laki yang kira-kira usianya 30 tahunan menghampiri dirinya.
"Hay Nona." sapa laki-laki tersebut dengan genit, padahal laki-laki itu melihat Via sedang menggendong Anak. tapi laki-laki itu malah genit pada dirinya.
"Maaf, saya permisi." Via tidak menjawab sapaannya, namun Via langsung meminta maaf pada laki-laki itu, lalu berniat pergi meninggalkan laki-laki itu.
Namun laki-laki itu, tiba-tiba menarik tangan Via membuat Via menoleh pada dirinya, lalu dengan tatapan yang begitu kesal Via langsung mengibaskan tangan laki-laki tersebut dari tangannya.
"Dasar, tidak ada akhlak!!" cetus Via sambil mengibaskan tangan laki-laki tersebut dari tangannya.
Karena tangan laki-laki itu begitu kuat, bukannya terlepas malah terus memegang tangan Via dengan begitu kuat.
"Dasar wanita sombong." kata laki-laki itu dengan lirikan genitnya.
Rian yang melihat kejadian tersebut, dengan cepat menghampiri Via dan Anaknya.
"Lepaskan, tangan Istriku!" bentak Rian dengan tatapan mata yang begitu tajam.
Rian langsung mencengkram tangan laki-laki itu, lalu langsung melepaskan dari tangan Via dengan begitu kasar.
Rian langsung berdiri dihadapan Via, kini Via berdiri dibelakang punggung Rian.
"Sekali lagi Kamu memegang Istriku, akan Aku bunuh Kamu!!" kesal Rian yang diiringi dengan ancaman.
Karena Rian, tidak mau menghancurkan pesta pernikahan temannya, dengan cepat Rian langsung membawa Via dan Vano keluar dari ruangan tersebut.
"Apa Kamu tidak apa-apa? maaf tadi Aku meninggalmu agak lama." tanya Rian dengan perasaan yang begitu kawatir dan langsung meminta maaf pada Via.
"Aku tidak apa-apa." jawab Via dengan suara begitu lembut.
Rian langsung mengambil Vano dari gendongan Via, lalu Rian langsung mengecek tangannya Via Karena takut terluka gara-gara cengkraman tangan laki-laki tidak punya Ahklak itu.
Bersambung 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊