Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
261. Silvia melahirkan.


__ADS_3

Setelah beberapa bulan kemudian, Via sedang berada dikamarnya sedangkan Rian sedang mandi.


"Ahhh sakit, sayang perutku sakit sekali." teriak Via yang merasakan sakit pada perutnya.


Rian langsung keluar dari kamar mandi, kini Rian masih memakai baju tidur.


"Sayang Kamu kenapa?" tanya Rian dengan nada kawatir.


"Aku mau melahirkan, cepat telpon Ambulan." pinta Via.


Biarpun Rian panik, namun Via tetap tenang apalagi dirinya adalah seorang Dokter kandungan. jadi sudah paham dengan orang mau melahirkan.


Rian sudah selesai menelpon Ambulan, setelah beberapa lama akhirnya Ambulan datang.


Rama dan Yang lainya keluar, karena mendengar suara Ambulan.


"Dirumah Rian ada apa?" tanya Ana.


"Mungkin Via mau melahirkan." sahut Ayu.


Kini semuanya menuju Kerumah Rian, Via sudah dimasukkan kedalam Ambulan, lalu Rama dan yang lainnya bertanya pada Rian.


"Kenapa?" tanya Rama mewakili semuanya.


"Via mau melahirkan." jawab Rian.


"Aku tinggal ya." pamit Rian.


"Baiklah nanti Kita menyusul kerumah sakit." jawab Rama.


Ambulan sudah berjalan menuju kerumah sakit, setelah beberapa lama akhirnya sampai dirumah sakit.


Via langsung dibawa oleh suster menuju keruang persalinan, kini Rian berdiri didepan ruang persalinan dengan perasaan yang begitu campur aduk.


Rama, Ana, Rehan, Ayu, Bagas, dan Alena langsung menuju Kerumah sakit, Ana menitipkan Niah pada Mami Diana dan Papi Revan.


"Mi, Ana titip Niah ya, Ana mau kerumah sakit melihat keadaan Via." kata Ana pada Mami Diana.


"Iya Nak, kalian pergilah hati-hati." jawab Mami Diana.


Skip..


Rama dan yang lainnya langsung menghampiri Rian, lalu menanyakan bagaimana keadaan Via.


"Rian, bagaimana keadaan Via." tanya Rama.


"Masih didalam ruang persalinan." jawab Rian.


Kini mereka sama-sama berdoa untuk keselamatan Via dan Bayinya.


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya suara tangisan bayi terdengar, rasanya Rian langsung lega sekali.


"Eeahh..eeahhh..." suara tangisan bayi.


"Ian, sudah lahir." kata Rama sambil memeluk Rian sebagai sahabatnya.


Kini Rian langsung mengeluarkan tangisan bahagianya.


Dokter yang memegangi Via akhirnya keluar.


"Tuan Rian," panggil Dokter Nissa.


"Iya Dok." sahut Rian, sambil menghapus tangis bahagianya.


"Selamat ya Anak Anda sudah lahir, Bayinya berjenis kelamin laki-laki Anaknya sehat, Mamanya juga sehat, nanti Istri Anda akan segera dipindahkan keruang rawat inap ya." Dokter Nissa menjelaskan pada Rian.


"Iya Dok, terimakasih." Rian mengucapkan terimakasih pada Dokter Nissa.


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Silvia dipindahkan keruang rawat VIV.


Rian dan para sahabatnya duduk disofa sambil menunggu Via yang masih belum sadar.


"Uhuk..uhuk.." Via batuk.

__ADS_1


"Kak Rian, Kak Via sadar." kata Rehan.


Rian langsung menghampiri Via ketempat Via berbaring.


"Sayang, Kamu sudah sadar." kata Rian.


"Mana Anak Aku?" tanya Via.


Suster baru saja datang membawa Anak Via dan Rian.


"Dokter Via, ini Bayi Anda." kata suster sambil memberikan Anak Via pada Via.


Via menerima Anaknya dengan senang hati.


Via melahirkan dirumah sakit tempatnya berkerja, jadi Dokter yang menangani Via juga temannya. suster yang merawat Anaknya juga Suster yang biasa membantu saat ada orang melahirkan.


"Terimakasih ya Sus." Via mengucapkan terimakasih pada suster.


"Iya sama-sama Dokter Via." jawab Suster.


"Saya pamit ya Dok," pamit Suster.


"Iya Sus." jawab Via.


Suster tersebut langsung keluar dari ruangan tersebut.


Ana, Alena, dan Ayu, menghampiri Via.


"Via selamat ya udah jadi Ibu." kata mereka bertiga dengan begitu kompak.


"Terimakasih ya semua sahabatku." jawab Via dengan begitu bahagia.


"Tampan sekali." puji Ayu pada Anak Via.


"Mirip seperti Papanya." kata Ana.


"Tunggu, matanya lebih mirip ke Via." timpal Alena.


Via tersenyum sambil membelai lembut pipi Anak yang baru beberapa jam dilahirkan.


Via terdiam lalu, bertanya pada Rian.


"Sayang nama Anak kita siapa?" tanya Via pada Rian.


"Namanya Revano Hardiyanto." jawab Rian.


"Pangginya Vano, nama yang bagus sayang." kata Via sambil tersenyum pada Rian.


"Aku jadi pingin cepat-cepat melahirkan." kata Alena sambil mengelus-elus perutnya.


"Sabar sebentar lagi, Len." sahut Ana.


Ayu melihat kearah Rehan, lalu Rehan menghampiri Ayu.


Kini Rehan langsung memeluk Ayu.


"Sabar ya sayang." kata Rehan yang tahu bagaimana perasaan Ayu.


Kini semuanya melihat kearah Ayu dan Rehan, lalu mereka sama-sama mendoakan agar Ayu segera hamil.


Ayu tersenyum bahagia, mungkin saat ini dirinya belum diberikan keturunan namun semua keluarga dan semua sahabatnya selalu memberikan dukungan doa untuk Ayu dan Rehan.


"Semangat." kata Alena dan Bagas.


"Ayu Kamu boleh pinjam Anakku dulu." kata Via sambil tersenyum.


"Mami Ayu dan Papi Rehan tidak boleh sedih, kan Niah juga Anak Mami dan Papi." Ana berusaha menghibur Adik Iparnya.


Rama yang masih duduk, akhirnya berdiri lalu menghampiri Ana.


"Ayu, Rehan, semangat." Rama memberikan semangat pada Ayu dan Rehan.


"Terimakasih semuanya." jawab Ayu sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Rehan melepaskan Ayu dari pelukannya, kini Ayu mengambil Vano dari gendongan Via.


"Aku pinjam ya Vi." Ayu meminta izin pada Via.


Dengan senang hati Via langsung memberikan Vano Ayu.


"Vano, kamu tampan sekali." puji Ayu pada Vano.


Rian dan Rama duduk disofa kini mereka saling bercanda.


"Ram, Anak Kamu cewek Anak Aku cowok, kita jodohkan saja ya." kata Rian.


Rama melihat kearah Rian.


"Anak baru brojol udah main jodoh-jodohan saja." sahut Rama.


"Tidak apa-apa lah Ram, biar Kita besanan nanti." kata Rian.


Bagas dan Rian bergabung ikut duduk disofa.


"Kalau Anak Kita mau dijodohkan." jawab Rama.


"Haduh kalian ini, sudah sibuk ngomongin perjodohan Anak saja masih orok." Bagas mengomeli Rian dan Rama.


Rehan hanya menggelengkan kepalanya, Via dan Alena melihat kearah suami-suami mereka duduk.


"Sekarang apalagi yang mereka ributkan?" tanya Alena.


"Ntahlah Len, hanya mereka yang tahu." sahut Via sambil melihat kearah Rian duduk.


Ayu dan Ana sedang asik main dengan Vano.


"Vano, nanti main sama Anaknya Tante Ana ya." kata Ana sambil membelai pipi Vano dengan lembut.


"Iya nanti main sama Niah ya Van." Sambung Ayu.


Ana melihat kearah Rama, lalu memanggilnya.


"Sayang kemarilah!" Ana memanggil Rama.


Rama beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi menuju ketempat Ana duduk.


"Ada apa sayang?" tanya Rama.


"Sayang, Aku mau nanti kita bikin taman bermain dihalaman rumah kita, itukan masih luas." kata Ana sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rama.


Rama tersenyum melihat Ana, seperti biasanya Rama paling tidak bisa menolak keinginan Istrinya.


"Baiklah, nanti Aku suruh Orang untuk membuat taman bermain untuk Anak-anak." jawab Rama dengan senang hati.


"Terimakasih Suamiku." Ana mengucapkan terimakasih pada Rama.


"Iya sama-sama, Apalagi yang Kamu minta Istriku?" tanya Rama pada Ana.


"Sudah hanya itu saja, nanti kalau mau sesuatu lagi Aku akan bilang." jawab Ana.


"Iya, iya sudah Aku gabung dengan yang lainnya dulu ya." pamit Rama.


Ana menganggukan kepalanya, lalu Rama pergi kembali ketempat Rian dan yang lainnya duduk.


"Apa yang Kamu minta pada Suamimu Na?" tanya Alena pada Ana.


"Minta dibuatkan taman bermain, untuk Anak-anak Kita nanti." jawab Ana.


Via dan Alena, saling melempar senyum bahagia mereka, Ayu asik bermain dengan Vano.


"Pasti akan seru nanti." kata Via.


"Membayangkan saja sudah membuatku bahagia" sahut Alena yang kebiasaan suka berhayal.


Hari ini mereka semuanya bahagia, menyambut kelahiran Baby Revano Hardiyanto. Anak pertama dari Rian dan Silvia.


Bersambung 🙏

__ADS_1


Jangan lupa like,komen, vote, dan rate, biar Authornya makin semangat ngetiknya 😊


__ADS_2