Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
265. Rama meminta jatah.


__ADS_3

Setelah menitipkan Niah pada Bagas dan Alena, Rama dan Ana langsung pulang.


"Dasar Tuan Rama, sekarang kita harus begadang jagain Niah." kata Bagas.


Alena melihat kearah Bagas, lalu berkata pada Bagas.


"Sayang tidak apa-apa, kan Kita jadi bisa belajar mengurus Anak." kata Alena sambil tersenyum pada Bagas.


Bagas yang sedang memangku Niah, kini menciumi pipi Niah dengan begitu gemas. sampai-sampai Niah menangis.


"Eeeahh.. eeeahh..." suara tangisan Niah.


Alena mengambil Niah dari pangkuan Bagas, lalu Alena mengomeli Bagas.


"Itukan jadi nangis, Kamu sih nyiumi mulu." Alena mengomeli Bagas.


Kini Alena berusaha menenangkan Niah.


"Cup.. cup.. sayang." Alena berusaha menenangkan Niah.


"Sayang, bikinin susu ya." suruh Alena pada Bagas.


"Iya Aku bikinin dulu." jawab Bagas.


Bagas sudah belajar banyak dari internet untuk menjadi seorang Papa yang baik untuk Anaknya, termasuk cara mengganti pampers, cara membuat susu dan cara-cara lainnya dalam mengurus Anak bayi.


Bagas sengaja belajar banyak hal, karena jika nanti Anaknya lahir Bagas bisa siap siaga membantu Alena untuk mengurus bayi mereka.


Bagas sudah selesai membikin susu untuk Niah, lalu langsung memberikan pada Alena.


"Ini sayang susunya." kata Bagas sambil memberikan botol susu pada Alena.


Alena menerima botol susu tersebut, lalu langsung memasukkan ke mulut Niah, Niah langsung meminum susunya dan akhirnya Niah berhenti menangis.


Alena terus mengendong Niah, sambil bernyanyi hingga Niah tertidur. setelah Niah tidur Alena membawa Niah kedalam kamarnya, Bagas mengikuti langkah kaki Alena menuju ke kamarnya.


Alena langsung merebahkan Niah ditengah-tengah Alena dan Bagas tidur.


"Sayang, bayangkan saja jika Anak kita sudah lahir." kata Alena sambil membelai pipi Niah.


"Kalau Anak kita sudah lahir, nanti Aku gantian mau nitip Anak kita pada Tuan Rama, terus kita bikin Anak kedua." bukannya menjawab perkataan Alena, kini Bagas malah melantur kemana-mana.


Alena hanya menggelengkan kepalanya, lalu memejamkan matanya dan tidak menghiraukan perkataan Bagas.


Dirumah Rama dan Ana.


Ana merasa gelisah, memikirkan Niah takut Niah menangis tengah malam.


"Sayang, ayo Kita ambil Niah." rengkek Ana.


"Niah aman sayang sama Bagas dan Alena." jawab Rama.


"Aku tidak tenang, takut Niah nangis." kata Ana dengan wajah yang begitu gelisah.


Rama mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan pada Bagas.


*Pesan untuk Bagas.


"Bagas tolong kirimkan video Niah lagi ngapain sekarang.!" pesan dari Rama*.


Ponsel Bagas berbunyi, lalu Bagas langsung membalas pesan dari Rama.

__ADS_1


Bagas mengirim Video Niah.


Rama langsung membuka video yang dikirim oleh Bagas, lalu menujukan pada Ana.


Ana melihat video tersebut, lalu tersenyum bahagia melihat Niah sedang tidur dengan begitu tenang disamping Alena.


"Maaf ya Alena, Aku jadi merepotkanmu." kata Ana sambil melihat video Anaknya dan Alena sedang tertidur.


Rama menaruh kembali ponselnya ke nakas dekat tempat tidurnya, lalu langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Ana.


"Sayang, Kamu lihatkan Niah anteng sama mereka." kata Rama yang makin memperdekatkan bibirnya ke bibir Ana.


"Cup..." Rama langsung mencium bibir Ana dengan perlahan-lahan, lalu terus memperdalam ciumannya.


Rama melepaskan ciumannya, Ana mengatur nafasnya.


"Sayang, Aku minta jatah malam ini." kata Rama dengan sorotan matanya yang mesum.


Ana menganggukan kepalanya.


"Niah jangan rewel ya, Mama mau ngurusin Papa Kamu dulu." gumam Ana.


Rama langsung merebahkan tubuhnya Ana diatas kasur, lalu Rama menindih tubuh Ana. kini Rama mengangkat kedua tangan Ana keatas.


Rama mulai aksinya, Rama langsung ******* bibir, lalu menelusuri leher Ana, Rama memberikan banyak tanda merah ditubuh Ana.


"Eemmhh.. eemmhh.." desahan Ana.


Rama menghentikan aktivitasnya, lalu mengatur nafasnya.


"Sudah lama sayang kita tidak melakukannya." kata Rama, yang langsung kembali memulai aksinya.


Ana mulai membuka kancing baju Rama, lalu Rama langsung membantunya, kini Rama langsung melempar bajunya kesembarang tempat, Rama juga sudah melepaskan celananya. kini Rama sudah polos tanpa sehelai benang apapun.


Setelah selesai melepaskan pakaiannya sendiri, Rama juga langsung melepaskan pakaian Ana. kini keduanya sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang apapun.


Rama langsung memebanamkan wajahnya, ditengah-tengah gunung kembar Ana.


"Ahh ahhhcchhh..." desahan penuh kenikmatan keluar dari mulut Ana.


Setelah Rama puas bermain-main, kini tinggal tugas terakhir Rama yang itu memuaskan adik kecil yang sudah lama dianggurkan.


"Sekarang Kita tidak perlu bermain dikamar mandi lagi." gumam Rama sambil memegang adik kecilnya.


Rama langsung membuka s**kangan Ana, lalu langsung menggesek-gesekan miliknya terlebih dahulu.


"Ahh biarkan Dia bermain-main dulu sayang." kata Rama yang diiringi dengan desahan.


Ana sudah mulai kelimpungan, karena menikmati permainan dari suaminya.


Setelah puas, Rama langsung memasukkan miliknya kedalam milik Ana, kini sekali tancap milik Rama sudah langsung masuk dengan sempurna kedalam milik Ana.


"Eeemhhh ahh.." desahan dan erangan keluar dari mulut mereka berdua.


Rama mulai mengehentak-hentakan miliknya kedalam milik Ana, kini erangan dan desahan makin keras keluar dari mulut keduanya.


"Tahan sayang." kata Rama sambil mempercepat permainannya.


Kini Rama sudah tidak tahan, sudah ingin mengeluarkan cairan hangatnya.


"Sayang, Aku keluarkan ya." kata Rama.

__ADS_1


"Ahh, diluar sayang jangan didalam." pinta Ana.


Kini Rama terus mempercepat permainannya, sampai akhirnya Rama mencabut miliknya dari dalam milik Ana, lalu mengeluarkan semua cairan hangatnya diluar sesuai keinginan Istrinya.


"Ahh lega sayang, tapi kenapa harus dikeluarkan diluar." tanya Rama sambil mendesah.


Kini Rama merebahkan tubuhnya, disamping Ana.


"Niah masih terlalu kecil sayang, untuk punya seorang adik." jawab Ana.


Rama mengerti dengan jawaban istrinya, biar bagaimanapun Niah masih 3 bulan jadi Rama juga harus sabar, untuk membuatkan adik untuk Niah.


Kini Rama langsung memejamkan matanya sambil memeluk Ana.


Keesokan harinya.


Rehan baru saja selesai mandi, karena ini tanggal merah jadi Rehan tidak masuk ke kantor.


"Sayang, Kamu tidak bangun.?" tanya Rehan yang melihat, Ayu masih tiduran diatas kasur.


"Males, Aku mau diatas kasur saja hari ini." jawab Ayu, yang kembali menarik selimut.


Rehan menghampiri Ayu, lalu bertanya pada Ayu.


"Apa Kamu mau minta jatah lebih hari ini, mumpung Aku libur kerja?" tanya Rehan pada Ayu.


Ayu melihat kearah Rehan, lalu merebahkan kepalanya dipaha Rehan.


"Tidak sayang, Aku cuma merasa lemas saja dari kemarin jadi pingin tiduran saja." jawab Ayu.


Rehan mengusap-usap rambut Ayu dengan tangannya.


"Tidak biasanya Ayu seperti ini." gumam Rehan.


"Baiklah, Kamu istirahat saja." kata Rehan.


"Tapi Aku maunya tidur dipangkuanmu seperti ini." jawab Ayu dengan nada manja.


"Iya sayang, Aku tidak akan kemana-mana dan hanya akan menemanimu dikamar." kata Rehan pada Ayu.


Akhirnya pagi ini, Rehan hanya menemani Ayu dikamar saja sesuai keinginan Ayu.


Dirumah Bagas dan Alena.


Kini mereka sudah bangun, mereka sedang main dihalaman rumah dengan Niah.


Bagas memangku Niah, sedangkan Alena mengajak Niah bercanda.


"Sayang, Tuan Rama kok belum jemput Niah ya.?" tanya Bagas pada Alena.


"Mungkin mereka masih tidur, gara-gara kelelahan." jawab Alena.


"Sudah biarkan saja, lagian Aku senang Niah ada disini jadi rumah kita tidak sepi." kata Alena sambil terus mengajak Niah bercanda.


Alena yang memang suka dengan Anak kecil, merasa senang sekali Niah ada dirumahnya.


Pokoknya Bagas kena senjatah makan tuan, kini Bagas benar-benar harus menjaga Niah sedangkan Rama sedang meminta jatahnya pada Istrinya.


Bersambung 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2