
Siang ini Papi Revan pergi menghadiri acara reuni sekolah, sedangkan Mami Diana dirumah dengan kedua menantunya.
"Wanita-wanita cantik Papi, Papi pergi menghadiri acara reuni sekolah dulu ya." pamit Papi Revan pada Mami Diana dan kedua menantunya.
Ana dan Ayu melihat, lalu tersenyum pada Papi Revan.
"Iya Pi, hati-hati ya." jawab Ana dan Ayu secara bersamaan.
"Iya Pi, jangan pulang kemalaman." pinta Mami Diana.
"Siap Istriku." jawab Papi Revan.
Setelah berpamitan Papi Revan, langsung pergi menuju ketempat reuni menggunakan mobilnya.
Via dan Alena mereka sedang menyiram tanaman dihalaman rumahnya.
"Tumben menyiram tanaman sendiri Vi?" tanya Alena pada Via.
"Kamu yang baru melihatnya kali Len, Aku setiap hari memang seperti ini selalu menyiram tanaman sendiri." jawab Via, sambil menyiram tanaman.
"Vi, Kita kerumah Ana yuk Kita main sama Niah." ajak Alena dengan begitu antusias.
Rumah mereka yang saling berhadapan membuat mereka, jadi sangat mudah untuk mereka mengobrol.
"Boleh, tapi Aku seleseikan ini dulu ya." jawab Via yang tidak menolak ajakan dari Alena.
Setelah beberapa lama, akhirnya keduanya sama-sama menyelesaikan pekerjaan mereka, kini Alena dan Via langsung datang kerumah Ana. namun sebelum mereka pergi mereka mengunci pintu rumah mereka lebih dulu.
"Tok...tok..." suara ketukan pintu.
"Siapa jam segini bertamu?" tanya Mami Diana.
"Tidak tahu, Aku lihat kedepan dulu Mi." sahut Ayu.
Ayu langsung menuju kedepan untuk membukakan pintu rumah.
"Ceklek..." suara gagang pintu.
"Via, Alena, ayo masuk." ajak Ayu.
Kini mereka berdua masuk mengikuti langkah kaki Ayu.
"Sepi Yu." kata Alena.
"Kakak Ipar dan Mami ada diruang keluarga." jawab Ayu.
"Tadi Om Revan, mau kemana?" tanya Via yang melihat Papi Revan naik mobil.
"Ngadirin acara reuni sekolah Vi." jawab Ayu.
Kini mereka bertiga sudah sampai diruang tengah, Alena dan Via langsung duduk disamping sebelah Mami Diana yang sedang memangku Niah.
"Tante, Via jadi tidak sabar menunggu Via lahiran." kata Via sambil tersenyum pada Mami Diana.
"Oh iya sebentar lagi, Kamu lahiran ya." Jawab Mami Diana.
"Alena juga Tante, nanti kalau anak Kita udah lahir pasti semuanya rame." kata Alena, sambil membayangkan hal yang belum terjadi.
"Kalian nanti bikin saja taman bermain untuk Anak-anak kalian nanti." saran dari Mami Diana.
"Ide bagus Itu Tan." jawab Via.
"Boleh, nanti kita jadikan Anak-anak Kita sahabat seperti Kita." timpal Alena.
"Membayangkannya saja sudah bahagia." sahut Ana.
"Aku pingin cepet-cepet hamil." kata Ayu dengan nada sedih.
"Semangat Yu, tingkatkan lagi kerja keras kalian." Alena memberikan semangat pada Ayu.
"Nanti malam mau minta jatahlah sama Suami." kata Ayu sambil tersenyum malu.
Alena,Via,dan, Ana, kini mereka sama-sama tertawa mendengar perkataan Ayu, sedangkan Mami Diana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku menantunya.
"Jatah bulanan Yu." tanya Via.
"Jatah apaan Yu?" timpal Alena.
"Jatah dari Rehan." sahut Ana.
"Jatah dari Suami itukan banyak Nak, Ayu mau minta jatah apa?" tanya Mami Diana sambil tersenyum jail pada Ayu.
Sekarang Ayu hanya senyum-senyum sendiri, memikirkan untuk nanti malam.
"Ayu kok malah senyam-senyum seperti itu." kata Mami Diana.
"Itu loh jatah bikin adonan, kalian pasti Taulah." jawab Ayu yang diiringi dengan tawanya.
Mami yang tidak tau maksud Ayu, lalu bertanya pada Ayu.
__ADS_1
"Apa kalian malam-malam mau membuat kue Nak?" tanya Mami Diana.
Kini Ayu dan yang lainnya saling melempar tawa kearah Mami Diana.
"Bukan Mi, itu adonan diranjang Mi sama Suami." jelas Ayu pada Mami.
Karena semuanya yang ada disitu, perempuan jadi Ayu tidak malu untuk mengatakannya.
"Haha jadi itu namanya membuat adonan, ada-ada saja kalian ini." jawab Mami Diana yang diiringi dengan tawanya.
"Aku jadi malu sama Mami." kata Ayu sambil menutup wajahnya dengan tangannya.
"Tidak usah malu Nak, Kita kaya sahabat saja jadi tidak akan canggung, anggap saja Mami ini teman Kamu juga." kata Mami Diana.
Kini Ayu dan Ana langsung menghampiri Mami Diana lalu memeluk mertua mereka dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih Mami." kata Ayu.
"Senangnya punya mertua kaya Mami." kata Ana.
Tiba-tiba Niah menangis.
"Eaakk..eeak..." suara tangisan Niah.
"Ana susui dulu, mungkin Niah haus." kata Mami.
Ayu dan Ana melepaskan pelukannya dari Mami, kini Ana mengambil Niah dari pangkuan Mami Diana.
"Cup...cup.. sayang Anak Mama." kata Ana yang berusaha menenangkan Niah.
Ana langsung menyusui Niah, akhirnya Niah berhenti menangis.
"Senang ya punya mertua seperti Tante Diana." kata Alena.
"Iya kalian beruntung." sahut Via.
"Kalian bisa saja, Kalian juga bisa anggap Tante seperti Mami kalian sendiri." jawab Mami Diana.
"Sungguh Tante." tanya Via dan Alena bersamaan.
"Sungguh." jawab Mami Diana.
Dengan senang hati, Alena dan Via menerima tawaran Mami Diana dengan senang hati.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, hanya saja karena mereka sangking asiknya mengobrol akhirnya mereka lupa waktu untuk pulang, akhirnya Suami mereka langsung nyusulin mereka dirumah Rama. karena pintu rumahnya dikunci oleh Istri-istri mereka.
"Kok tidak jadi masuk Gas." tanya Rama yang melihat Bagas berdiri didepan pintu rumahnya.
"Pintu rumahnya dikunci, Aku lupa membawa kunci cadangan." jawab Bagas.
Rehan juga melihat Rian yang baru saja pulang, hanya berdiri didepan pintu.
"Kak Rian, kenapa tidak masuk?" tanya Rehan.
"Pintunya dikunci, Aku tidak tahu Via kemana?" jawab Rian.
Rehan melangkahkan kakinya, ingin masuk kerumahnya dan melihat sandal Alena dan Via berada dirumahnya.
"Kak Bagas, Kak Rian, sepertinya Aku tahu dimana Istri-istri kalian." kata Rehan.
Bagas dan Rian sedang mengobrol sama Rama diluar halaman rumah.
"Dimana Han." tanya Bagas.
"Paling lagi ngehibah dirumah Kak Ana, ini sandal mereka ada disini." kata Rehan, sambil menujukan sandal Alena dan Via.
Rian dan Bagas langsung menuju Kerumah Rama, kini Rama berjalan dibelakang Rian dan Bagas.
"Mana ada Tuan rumah berjalan dibelakang tamu." kata Rama.
"Diamlah, ini urusan rumah tangga." kata Rian.
"Iya Tuan, bagaimana bisa mereka tidak menunggu kita pulang." omel Bagas.
"Mungkin mereka lagi asik bergosip." jawab Rama.
Kini mereka sudah masuk kedalam rumah Rama, dan langsung melihat Istri-istri mereka sedang asik mengobrol penuh canda tawa.
"Via...." panggil Rian.
"Alena sayang...." panggil Bagas.
"Bagas." jawab Alena dengan nada begitu manja.
"Rian..." jawab Via dengan nada terkejut.
Rian dan Bagas langsung menghampiri Alena, Via kini mereka langsung duduk disamping Istrinya, sedangkan Rama dan Rehan, sudah duduk disebelah Istrinya masing-masing.
"Sayang, Aku kangen." kata Rehan dengan begitu manja.
__ADS_1
"Niah Papa kangen." kata Rama pada Niah.
Ana terdiam, lalu memanyunkan bibirnya kearah Rama.
"Sekarang Niah, sudah menggantikan posisi Mama, sekarang Papa bahkan lebih merindukan Niah." kata Ana sambil memanyunkan bibirnya.
Rama mencubit bibir Ana dengan tangannya.
"Apa Istriku ini sedang cemburu dengan Anaknya sendiri." omel Rama.
Kini Mami hanya tertawa melihat perdebatan Ana dan Rama.
"Sini biar Niah sama Mami tidur dikamar." Mami mengambil Niah dari gendongan Ana.
Ana dan Rama langsung melempar senyum, lalu Rama menggoda Ana.
"Sayang, Aku kangen Kamu." kata Rama.
"Tapi Aku lebih kangen sama Niah." jawab Ana.
"Kan kalian ketemu seharian." protes Rama.
Rian dan Via, melihat kearah Rama dana Ana.
"Hentikanlah perdebatan kalian." omel Rian.
Bagas mengajak Alena pulang karena waktu sudah semakin sore.
"Sayang, ayo pulang sudah sore." ajak Bagas.
"Baiklah, ayo kita pulang." jawab Ana.
"Ana, Ayu, kita pulang Aku pulang dulu ya." pamit Alena.
"Aku juga pulang ya Na." pamit Via.
"Baiklah, kalian hati-hati ya." jawab Ayu dan Ana.
Setelah berpamitan Via, Alena, Bagas dan Rian langsung pulang menuju Kerumahnya.
Ayu dan Rehan langsung masuk kedalam begitu juga Ana dan Rama mereka juga langsung masuk kedalam kamar masing-masing.
Dikamar Rama.
Rama melepaskan jas nya, sedangkan Ana langsung menyiapkan air hangat untuk Rama mandi.
"Sayang, Kamu mandilah dulu." kata Ana.
"Aku ke kamar Mama dulu ya, buat mandiin Niah." pamit Ana.
"Iya, baju Aku sudah Kamu siapkan?" tanya Rama.
"Sudah, nanti nyusul aja ke kamar Mami ya." pinta Ana.
"Iya sayang." jawab Rama.
Ana langsung pergi menuju ke kamar Mami Diana dengan membawa perlengkapan Niah untuk mandi, sedangkan Rama langsung masuk kedalam kamar mandi.
Dikamar Rehan.
Rehan baru saja selesai mandi, sedangkan Ayu sedang duduk dikursi meja rias.
"Kamu sudah selesai," tanya Ayu.
"Sudah, pakaianku mana.?" tanya Rehan.
"Itu diatas ranjang, sayang." jawab Ayu.
Rehan berganti pakaian, setelah berganti pakaian Rehan langsung menghampiri Ayu.
"Kita pulang kerumah Kita ya." ajak Rehan.
"Aku tidak mau, dirumah sepi." Ayu menolak ajakan Rehan.
Rehan duduk dihadapan Ayu.
"Baiklah Kita tetap disini." jawab Rehan.
"Sayang, Aku boleh minta jatah ya." rengkek Ayu.
"Jatah apa? bukannya baru kemarin uang bulanan baru Aku kasih sayang." tanya Rehan.
"Ihh sayang, bukan jatah itu." rengkek Ayu lagi dengan nada lebih manja.
"Katakan sayang, jangan buat Aku kesal." pinta Rehan.
"Setelah makan malam saja sayang, karena kita harus punya banyak tenaga." kata Ayu sambil tersenyum nakal pada Rehan.
Bersambung 🙏
__ADS_1